Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia justru menjadi seperti mimpi terburuk yang pernah datang. Di tinggal pergi oleh calon suaminya sendiri tepat di hari pernikahan. Sehingga mau tidak mau Kanaya harus menikah dengan calon kakak iparnya yang terkenal arogan dan juga dingin. Demi menjaga nama baik keluarga, Andreas bersedia menggantikan adiknya yang kabur dan menikahi calon adik iparnya.
Bagaimanakah perjalanan pernikahan mereka? Akan kah pernikahan itu bisa membuat keduanya saling mencintai? Ikuti kisahnya, Ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten direktur
Setelah cukup lama menunggu giliran, Akhirnya sudah tiba saatnya Kanaya untuk melakukan interview dengan HRD. Rasanya cukup degdegan dengan interview pertama ini, karna memang sebelumnya Kanaya belum ada pengalaman sedikitpun.
"bismillah, semoga semuanya lancar" ujar Kanaya sebelum masuk ke ruangan HRD.
dengan langkah pelan Kanaya masuk ke ruangan itu setelah pintu terbuka, di sana ternyata ada seorang pria paruh baya yang akan melakukan interview pada Kanaya.
"Permisi, pak" gadis itu masih berdiri sambil menundukkan wajahnya
"Silahkan duduk, apa kamu orang yang di rekomendasikan oleh nona Yuna?" tanya pria itu pada Kanaya.
Kanaya mengangguk"Benar, pak, saya datang kesini atas permintaan dari Yuna" Kanaya berusaha menetralkan perasaannya yang sangat gugup.
"Coba saya lihat CV kamu"
Kanaya tak menjawab, dia hanya langsung memberikan Cv yang sudah dia siapkan tadi di warnet.
Setelah cukup lama memperhatikan cv milik Kanaya, pri itu pun hanya mengangguk lalu meminta Kanaya untuk datang ke ruangan direktur, karna dia diterima menjadi sebagai sekertaris direktur.
"Silahkan anda langsung ke ruangan direktur, mulai hari ini anda di terima menjadi asisten pribadi direktur perusahaan ini. Anda tenang saja Nona, disebelah ruangan direktur ada ruangan sekertaris, nanti dia yang akan mengarahkan anda dan mengatakan apa saja yang harus anda lakukan" kata pria itu pada Kanaya.
Pria itu menarik kedua bibirnya serta menatap Kanaya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Bahkan bukan hanya pria itu, seorang wanita yang sejak tadi menemani pria itu mengambil nafas dalam, membuat Kanaya merasa ada keanehan. Ada apa dengan mereka? Pikirnya. Namun Kanaya tak mau memperdulikan akan hal itu, mungkin saja ini hanyalah perasaan Kanaya saja.
"Berhati-hatilah, nona. Semoga keberuntungan menyertaimu" ujar wanita itu serta menatap pada Kanaya. "Tentu, saya permisi"
Kanaya keluar dari ruangan Hrd dengan membawa rasa penasaran. "Ada apa dengan mereka" ujar Kanaya sembari terus melangkahkan kakinya.
Gadis itu yang memang belum tau dimana letak ruangan direktur akhirnya memutuskan untuk bertanya pada salah satu karyawan yang kebetulan sedang berpapasan dengannya, namun lagi dan lagi Kanaya melihat ekspresi yang sama dari karyawan itu.
Hal itu tentu saja semakin membuat Kanaya merasa sangat penasaran, sebenarnya ada apa dengan mereka semua. Hingga rass keponya pun meronta, Kanaya memutuskan untuk menanyakan hal yang sejak tadi sangat mengganggu pikirannya.
"Maaf, sebelumnya kalau boleh tau kenapa ekspresi kamu seperti itu saat mendengar jika aku adalah asisten baru direktur perusahaan ini?" tanya Kanaya yang memang sudah merasa sangat penasaran.
Wanita itu menatap pada Kanaya"memangnya kamu tidak tau tentang ceo kita?" bukannya menjawab justru wanita itu mengajukan pertanyaan padanya. Kanaya yang memang belum tau apa-apa menggelengkan kepalanya.
"tidak, aku kan baru bekerja di sini hari ini, jadi bagaimana bisa aku tau tentang ceo perusahaan ini, aku saja belum bertemu dengannya"balas Kanaya pelan
Sebelum menjawab wanita itu menepuk pundak Kanaya"yang sabar ya, semoga kamu bisa melewati semuanya. Semangat! ruangan direktur ada di lantai 17, kamu langsung saja naik lif yang itu" wanita itu menunjuk lift yang tak jauh dari tempat mereka.
Mendengar jawabannya saja semakin membuat Kanaya tidak paham, sebenarnya apa maksudnya? Kanaya pun memutuskan untuk segera menuju lantai 17 agar segera mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"kalau begitu aku duluan ya, makasih informasinya" Kanaya melangkah dengan langkan lebarnya menuju lift, sudah tidak sabar rasanya ingi mengetahui fakta yang belum dia ketahui.
Memang selama ini tidak pernah ada asisten yang betah bekerja dengan ceo Pt sejahtera, sikapnya yang dingin membuat mereka hanya mampu bertahan paling lama dalam satu minggu.
Saat sudah sampai di lantai 17, Kanaya sedikit mengerutkan keningnya saat melihat keberadaan adik Arabella di sana. "Alvaro" ucap Kanaya serta menghampiri pria yang bernama Alvaro.
Alvaro yang mendengar namanya di panggil menoleh ke arah sumber suara. "loh, kak Naya, ngapain disini?" tanya Alvaro sembari mendekat pada Kanaya
"Aku kerja disini sebagai asisten ceo, kalau boleh tau ruangannya yang mana ya?" tanya Kanaya pada Al
Alvaro yang mendengar jika Kanaya bekerja sebagai asisten ceo membuka lebar kedua matanya"Kamu yakin mau jadi asisten ceo?" Al menatap wajah Kanaya seakan meyakinkan saudara sepupunya ini. "Ya yakinlah, memangnya kenapa?" Kanaya ikut menatap pada Alvaro.
Pria itu mendekat lalu membisik pada Kanaya"hati-hati. Karna ceo kita orangnya galak, dingin, angkuh. Makanya selama ini tidak pernah ada yang bisa betah bekerja dengannya, asal kamu tau, kak Naya sudah asisten yang ke 127 yang sebentar lagi akan menjadi mantan asisten. Aku sangat kasian denganmu" terang Alvaro.
Setelah mendengar penuturan itu membuat Kanaya seketika paham maksud dari ekspresi wajah yang selalu menatap iba padanya.
"ternyata ini jawabannya" ucap Kanaya pelan.
"Tidak perlu menatap kasihan seperti itu padaku, akan aku pastikan jika angka 127 itu tidak akan tergeser" balas Kanaya pada Alvaro. karna setelah dia memutuskan untuk bekerja, Kanaya akan melewati semua rintangannya, termasuk memiliki direktur yang modelan seperti cerita Alvaro. Andreas saja bisa Kanaya hadapi.
"Eh, kamu masih kuliah kenapa bekerja?" Alvaro memang masih kuliah semester satu,"ya mau bagaimana lagi, aku kuliah sambil kerja, soalnya aku sudah memutuskan pergi dari rumah setelah lulus SMA" terang Alvaro
Kanaya mendengar itu mengerutkan keningnya, pasalnya memang Kanaya tidak pernah tau perihal masalah yang terjadi di keluarga Arabella.
"Apa, kamu pergi dari rumah? Kenapa memangnya?"
"Panjang ceritanya, tapi intinya aku pergi dari rumah karna kak Bella, dia sudah membuat papa dan mama menyalahkan ku atas satu hal, nanti kalau ada waktu akan aku ceritakan" Alvaro membuang nafasnya.
"Kak Naya, bagi uang dong, aku gak ada uang nih" bisiknya tepat di telinga Kanaya. "selalu saja begitu kalau ketemu" Kanaya mengangkat sebelah sudut bibirnya namun masih memberikan dua uang lembar berwarna merah pada Alvaro.
"Kau memang kakak terbaikku, sudah sana segera ke ruangan ceo, sebelum kamu di pecat karna telat datang" Alvaro terkekeh sembari berlalu dari hadapan Kanaya. "Hei Al, nanti jam makan siang temui aku di kantin" teriak Kanaya dan membuat beberapa Karyawan menoleh ke arahnya. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal lalu kembali melangkah menuju ruangan yang sudah di tunjukkan oleh Alvaro tadi.
"Seperti apa sih ceo nya, kenapa sampai tidak ada asisten yang betah, sampek 126 orang yang gagal. Jadi penasaran" gumam Kanaya dan langsung masuk ke dalam ruangan direktur yang ada di paling ujung.