NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Waktu di jam tangan Han sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Bunker di bawah pelabuhan itu kini jauh lebih sunyi dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Setelah semua pengakuan, foto-foto, dan cerita tentang Alina, tidak ada lagi yang benar-benar punya tenaga untuk berbicara. Bahkan Arga sekalipun,  itu saja sudah cukup untuk menunjukkan betapa berat malam ini.

Damar membuka sebuah pintu gudang kecil yang terdapat di sisi ruangan. Dari dalam ia menarik keluar empat buah tempat tidur lipat model militer yangmasih terbungkus kain pembungkusnya.

“Ini masih bagus?” tanya Nara.

Damar menepuk salah satunya dan mengangguk kecil.

“Ini dulu dipakai buat orang-orangku, jaga malam di sini.”

Ia mendorong satu tempat tidur ke arah Arga.

“Bantu pasangin.”

Arga menangkapnya dengan ekspresi wajah yang tersiksa.

“Gue ini lagi trauma eksistensial.”

“Pasangin!.”

Arga menghela napas dalam lalu mulai membuka rangka besi tempat tidur itu. Gerakannya cepat. Terlalu cepat malah, kurang dari dua menit, tempat tidurnya sendiri sudah berdiri sempurna. Dan Ia langsung menjatuhkan tubuh ke atasnya.

“Ah..akhirnya.”

Damar menatap kea rah tiga tempat tidur lain yang masih tergeletak di lantai. Lalu menatap Arga datar.

“…kenapa cuma punya lu aja yang dipasang?”

Arga membuka satu mata.

“Karena gue sedang pucat pasi, lemah tak berdaya, dan nyaris putus hubungan dengan realita.”

“Pasangin yang lainnya juga dong.”

Arga menggeleng lemah.

“Lu ngga lihat apa, kalau gue habis lihat isi neraka dalam bentuk foto?”

Damar melipat tangannya di dada.

“Arga!.”

“Ini sudah lewat tengah malam.”

“Arga!”

“Kalau gue terlambat tidur, biaya mimpi buruknya pasti mahal.”

Damar menaikkan alisnya kesal tapi Arga tetap cuek sambil menutup matanya dan berkata dengan sangat serius,

“Gue bisa ngompol.”

Sunyi.

Nara terkekeh mendengar debat kecil itu. Han yang sedang memeriksa terminal lama di sudut ruangan bahkan sempat berhenti. Damar menatap Arga selama beberapa detik, lalu menghela napas kesal

“Lu manusia paling ngga guna yang pernah gue tolong.”

“Terima kasih. Gue anggap itu pujian.”

Akhirnya Damar sendiri yang memasang tiga ranjang lainnya. Nara sempat membantu membuka pengunci rangka, sementara Han hanya sesekali melirik sebelum kembali fokus pada komputer tua di sudut ruangan.

Ruangan itu perlahan mulai terasa seperti tempat tinggal darurat. Tidak nyaman, tidak hangat, tapi  setidaknya cukup aman. Setelah semuanya selesai dipasang, Damar berdiri sambil meregangkan bahu.

“Kalian istirahatlah, besok kita mulai pikirkan lagi langkah berikutnya.”

Han mengangguk kecil.

“Anak-anakmu?”

“Masih jaga di atas.”

Damar menatap Han sejenak.

“Lu yakin mau tetap di sini?”

Han melirik sekeliling bunker. Tatapannya berhenti di salah satu sudut kosong di dekat meja kerja. Seolah pernah ada sesuatu di sana.

“Aku harus.”

Damar mengangguk paham dan tidak bertanya lagi, lalu ia berpamitan keluar dari ruangan.

“Gue balik dulu. Kalau ada apa-apa, kontak gue pakai radio di atas meja.”

Han mengambil alat komunikasi kecil itu.

“Terima kasih.”

Damar tersenyum tipis.

“Kalau mau berterima kasih, hiduplah cukup lama buat menghancurkan mereka.”

Setelah itu ia pergi dan pintu besi tertutup kembali, menyisakan mereka bertiga dalam ruangan itu.

Sunyi.

Arga sudah tertidur lelap di ranjang lipatnya. Laptopnya tergeletak di samping bantal seperti benda paling berharga di dunia. Nara memperhatikannya lalu menggeleng kecil.

“Dia benar-benar bisa tidur setelah semua tadi?”

Han melirik sekilas, tersenyum kecil, “...mungkin itu cara tubuhnya untuk bertahan.”

“Setelah muntah dua kali?”

“Terutama setelah muntah dua kali.”

Nara tersenyum tipis sambil duduk di ranjang lipat miliknya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya sangat penuh. Bayangan foto-foto tadi masih berputar di kepalanya.

Eksperimen.

Altar.

Alina.

Dan fakta kalau Han pernah hidup di tengah semua itu.

Di sudut ruangan, Han masih berdiri di depan komputer tua. Ia menyalakan monitor tabung usang itu. Layar berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala dengan cahaya hijau redup.

Nara memperhatikannya.

“Apa itu masih bisa dipakai?”

“Kalau sistemnya tidak rusak.”

Jari Han bergerak menekan beberapa tombol. Layar menampilkan deretan kode – kode, kemudian muncul permintaan autentikasi.

Han terdiam.

Matanya menatap layar cukup lama. Seolah sesuatu di sana menyeretnya jauh ke masa lalu.

Nara berjalan mendekat.

“Masalah?”

Han tidak menjawab tapi ia mengetik sebuah nama.

A.L. DEVIANA

Sistemnya langsung terbuka. Nara melihat perubahan kecil di wajah Han yang nyaris tak terlihat. Namun cukup untuk membuat dadanya menjadi sesak.

“Itu nama Alina?”

Han mengangguk , “ …iya, ini akunnya.”

Sunyi beberapa detik, lalu layar mulai memunculkan folder-folder lama. Sebagian terenkripsi dan ada sebagian lainnya yang rusak.

Di salah satu sudut layar, sebuah nama file berkedip samar.

ORISON // ARCHIVE 01

Nara menatapnya, “Apa itu?”

“Project Orison.” Jawab Han dengan nada suara yang berubah.

Dingin dan waspada.

“Kamu pernah dengar?” tanya Nara lagi.

Han diam cukup lama. Dan untuk sesaat, matanya kehilangan fokus. Potongan memori tiba tiba menyeruak tanpa diundang.

Ruangan putih yang dingin.

Langkah kaki yang berbaris. Anak-anak laki-laki berusia belasan tahun berdiri tegak. Seorang pria berseragam hitam berjalan di depan mereka. Suara beratnya menggema.

“Mulai hari ini, kalian tidak punya nama.”

Han kecil berdiri di barisan itu. Tubuh kurus dengan tatapan wajah yang kosong. Tangannya mengepal dengan kuat.

Di atas pintu ruangan terpampang tulisan:

ORISON TRAINING SECTOR

“Han?”

“HAN?”

Suara Nara menariknya kembali ke realita. Ia berkedip dan napasnya sedikit tersendat. Nara menatapnya dengan rasa cemas.

“Kamu kenapa?”

Han memalingkan pandangan dari layar.

“…aku pernah ada di sana.”

Kalimat itu membuat udara di ruangan itu terasa lebih dingin. Nara menatap file itu lagi ; Project Orison.

Bukan sekadar data eksperimen tapi itu bagian dari masa lalu Han. Di belakang mereka, suara dengkuran kecil Arga mulai terdengar.

Nara melirik ke arah ranjangnya lalu tersenyum tipis.

“Cepat juga dia tumbang.”

Han menatap Arga sekilas.

“Tubuhnya sudah menyerah duluan.”

Nara terkekeh pelan. Lalu ia menatap Han.

“Kamu  juga harus istirahat.”

Han menggeleng, “Aku akan berjaga.”

“Kamu tidak tidur?”

“Sudah biasa.”

Nara terdiam lalu duduk di kursi dekat komputer tua itu.

“Aku temani ya.”

Han menoleh ke arah Nara. Tatapan mereka bertemu, untuk sesaat tak ada yang bicara. Di bawah cahaya monitor hijau redup itu, wajah Nara terlihat lelah tapi matanya masih tetap tegas.

Han mengangguk. Dan malam pertama di bunker itu berlalu dalam kesunyian, sementara di layar monitr tua di hadapan mereka, folder PROJECT ORISON masih terus berkedip pelan, seolah menunggu untuk dibuka.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!