Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 23
Menjelang siang, mobil hitam mewah milik Dipta meluncur membelah jalanan Yogyakarta menuju pusat kota.
Tak lama, bangunan megah bergaya Jawa modern itu terlihat berdiri anggun.
Hotel Tentrem Yogyakarta.
Hotel bintang lima yang terkenal akan kemewahannya itu memadukan nuansa tradisional Jawa dengan sentuhan modern yang elegan, lobi luas dengan aroma khas rempah lembut, interior kayu bernuansa hangat, ukiran artistik yang anggun, serta atmosfer tenang yang sesuai dengan makna kata tentrem; damai dan tenteram. Di tengah hiruk-pikuk kota, hotel itu terasa seperti oase yang menenangkan.
Begitu mobil berhenti di porte- cochere megahnya, Alaric langsung menempel ke jendela.
"Waaahhh...bundaaaa....udah lama Mas Al ndak ke sini..." seru Alaric riang.
Masayu ikut berseru riang. "Ayu suka...cantiiik."
"Nanti habis makan siang, kita berenang di sana, ya." Seru Rana.
"Horeeeee!!!" kedua anak itu mengangkat kedua tangan mereka penuh semangat.
Rana menatap kedua anaknya penuh antusias, lalu melirik sekilas ke arah Dipta yang masih fokus menyetir mobil.
Lelaki itu masih sama, memasang wajah tenang, rahang tegas, sorot mata sulit di baca dalam balutan black suit dan waistcoat yang membuat auranya terlihat semakin berwibawa.
Tak terasa mereka sudah sampai di area parkir hotel tentrem, Rana keluar sembari menggendong Masayu dan di ikuti Alaric di belakang . Lalu Dipta keluar dari mobil menuntun Alaric dan berjalan berdampingan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu bergulir, malam turun perlahan di Hotel Tentrem Yogyakarta.
Jarum jam menunjukkan pukul 19:30 WIB.
Di luar, hujan turun cukup deras, menimpa kaca-kaca besar hotel dengan ritme yang menenangkan. Kilat sesekali menyala samar di balik langit kelam, di susul gemuruh kecil yang terdengar jauh. Lampu-lampu kota Yogyakarta berpendar temaram, terlihat seperti lukisan malam yang basah oleh hujan.
Di dalam kamar suit yang hangat, Alaric dan Masayu telah lebih dulu terlelap setelah beberapa jam lalu bermain dan berenang. Kedua bocah itu tidur pulas di balik selimut tebal, wajah mereka damai, napas kecil mereka teratur, seolah kebahagiaan siang tadi masih tersisa hingga terbawa mimpi.
Akan tetapi tidak dengan kedua orang tuanya. Rana masih terjaga. Perempuan itu duduk di tepi ranjang, memperhatikan Masayu dan Alaric yang terlelap tidur setelah kenyang bermain bersama.
Sementara itu, Dipta duduk diam di sofa memperhatikan ponsel. Balutan kemeja putihnya kini tanpa blazer, dua kancing teratas terbuka, membuat penampilannya terlihat lebih santai, namun aura dinginnya tetap ada.
Tatapannya beberapa kali jatuh pada Rana. Lama. Diam-diam mencuri pandang. Padahal pikirinnya sedang mencari cara untuk memulai percakapan dengan Rana.
"Anak-anak sudah tidur, Ran?" tanya Dipta memecah hening.
Rana menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. "Sudah." Jawabnya pendek.
Jarak itu masih terasa di antara mereka. Ekor mata Dipta memperhatikan langkah istrinya yang berjalan pelan-pelan menuju jendela kaca. Wanita itu berdiri memperhatikan hujan di luar dari dalam.
Tak lama, Dipta bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Rana yang berdiri disana. Jantungnya berdegup kencang tidak seperti biasanya, takut-takut Rana menolak usahanya untuk mendekatinya lagi.
Lalu dengan penuh keyakinan, lengan kekar miliknya ia lingkarkan pada pinggang ramping sang istri. Lalu dengan gerakan cepat, Dipta memeluknya erat membuat Rana tertegun. Tubuh tegapnya ia tempelkan pada punggung hangat milik Rana, dangunya bahkan nyaris menyentuh bahu istrinya. Napas hangat pria itu perlahan menyapu lembut sisi wajah Rana lalu berpindah pada tengkuknya.
"Maaf," ujarnya.
Suara bariton milik Dipta kini terdengar pelan dan lebih halus. Dada Rana terasa sesak saat ia mendengar kata maaf.
"Seharusnya aku tidak membentakmu malam itu." Lanjut Dipta lirih. "Dan seharusnya aku tidak pergi meninggalkan rumah, maaf selama aku pergi aku nggak ngasih kabar."
Dipta memeluk istrinya semakin erat, seolah ia tidak mau kehilangan istri yang sangat setia mengurusi dirinya dan rumah serta anak-anaknya.
Beberapa detik suasana itu menjadi hening.
Lalu dengan keputusannya, Dipta kembali berbicara. "Tentang aku ke Jakarta, aku memang ada kerjaan disana. Bahkan manajer kita juga ikut. Lalu tentang aku dan Laras.."
Rana terdengar menghela napas pelan.
"Aku sama dia memang satu kamar." Dipta mengaku dengan jujur. "Tapi beneran, nggak ada hal yang terjadi seperti yang kamu pikirkan, sayang."
Kata Sayang membuat Rana tetap diam, Rana tetap memilih mendengarkan.
"Waktu kita sampai di hotel, itu udah malem banget. Hampir semua hotel penuh karena waktu itu ada acara besar. Resepsionis juga bilang cuma tersisa satu kamar suite. Waktu aku mau nyari hotel lagi, resepsionis itu bilang semua hotel di area itu hampir penuh. Kondisinya sangat mendesak. Itu saja, aku nggak melebih-lebihkan, Ran."
Suara hujan di luar seolah menjadi jeda di antara kalimat-kalimat mereka. Rana menunduk pelan, lama, merasa bersalah dengan keegoisannya.
"Aku juga minta maaf, Mas." Ucapnya hampir berbisik.
Dipta diam mendengarkan. Memberikan kesempatan untuk Rana mencurahkan isi hatinya.
"Aku percaya sama kamu, tapi waktu itu aku marah, aku kecewa, dan aku seharusnya tidak menginginkan suaraku kepadamu, Mas."
Ucapan Rana barusan seperti tali simpul yang selama ini menjerat mereka. Dipta memutar tubuh Rana perlahan sehingga mereka saling berhadapan. Tatapan mereka akhirnya saling bertemu. Tatapan yang awalnya dingin dan gengsi akhirnya melebur menjadi tatapan rindu yang membuncah.
Rindu itu diam-diam tumbuh di sela-sela pertengkaran mereka. Dipta perlahan mengusap pipi kanan istrinya pelan, ibu jarinya menyapu sudut mata istrinya dengan lembut, dan berlabuh pada kedua bibir Rana yang merona.
Rindu yang diam-diam tumbuh di sela pertengkaran. Rindu yang selama seminggu mereka tahan masing-masing.
"I miss you." Ucapnya pelan, hampir berbisik.
Tiga kata itu membuat pertahanan Rana runtuh seketika. Tanpa aba-aba, Rana memeluk tubuh suaminya erat, menyandarkan wajah cantiknya pada dada bidang pria itu. Tanpa ragu, Dipta membalas pelukan itu lebih erat lagi, membuat suasana berubah romantis.
Di bawah lampu temaram kamar hotel, kehangatan di antara mereka kembali tumbuh, Dipta mengecup kening Rana lama, lalu perlahan tapi pasti bibirnya singgah secara singkat di pelipis istrinya, penuh kelembutan.
Rana tahu memejamkan matanya, mengerti dengan maksud suaminya yang kini bibir lembut itu mengecup perlahan ke arah leher jenjangnya, dadanya bergemuruh, prempuan itu tenggelam dalam sensasi kehangatan yang satu Minggu ini ia rindukan.
Dipta meraih istrinya ke arah sofa, perlahan tapi pasti bibir mereka saling bertemu, mengecap romantis dengan suara hujan di luar.
Dipta perlahan membuka kancing baju istrinya, lalu memberikan gerakan kecil membuat Rana sedikit mendesah kecil.
"Mas, jangan keras-keras. Nanti kedengeran sama anak-anak." Gumamnya membuat gairah suaminya meningkat.
Dipta berdiri, kedua bola matanya masih tertuju pada senyum manis istrinya. Pria itu menggendong Rana dan berbisik. "Kalau begitu, kita ke kamar mandi saja."
Rana tersenyum manis, merangkulkan kedua tangannya di leher sang suami yang membawanya kearah kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rana turun dari mobil dengan langkah tenang di pelataran Siloam hospital Yogyakarta. Tangannya membawa sebuket bunga lili putih dan satu kantong buah-buahan segar untuk Nuri yang sedang di rawat sejak dua hari lalu akibat tifus.
Hari itu Rana datang seorang diri. Ia mengenakan blouse putih lengan panjang dengan rok span warna moka, sederhana namun tetap anggun. Rambut hitam panjangnya di ikat rendah, memperlihatkan wajah teduh yang hari itu tampak sedikit pucat karena kurang istirahat.
Usai menjenguk Nuri selama hampir satu jam, Rana pamit keluar dari kamar rawat inap VIP menuju lift.
Lorong rumah sakit siang hari itu cukup ramai, beberapa perawat berlalu-lalang, suara roda brankar sesekali terdengar, aroma antiseptik bercampur wangi ruangan memenuhi udara.
Saat pintu lift terbuka, langkahnya terhenti.
jantungnya terasa seperti di pukul sesuatu yang keras. Ketiak netranya mendapati suaminya, Adhikara Pradipta Mahendra berdiri tegap dengan kemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku, dasinya hitamnya terlihat longgar, wajahnya terlihat tegang akan tetapi penuh perhatian.
Di pelukannya, seorang bocah laki-laki yang mungkin seusia dengan Alaric tertidur lemah dengan pipi merah mungkin karena demam.
Di sisi Dipta, Laras berdiri dengan tampang rapuh, rambutnya berantakan, wajahnya pucat, kedua bola matanya sembab mungkin karena menangis. kedua tangan wanita itu memegang tangan Dipta erat.
Dari kejauhan, mereka tampak seperti keluarga yang lengkap dan utuh. Sedangkan Rana yang berdiri tak jauh dari mereka seperti orang asing.
Rana menelan ludah, menggenggam tali tasnya erat, dadanya sesak, telapak tangannya terasa dingin. Dan yang lebih menyakitkannya lagi ketika ia melihat Dipta menunduk, berkata sesuatu yang mungkin menenangkan Laras, lalu dengan ringan, tangan Dipta menyeka air mata perempuan itu dengan lembut.
Gerakan itu memang sederhana, namun mampu membuat Rana seperti di toreh oleh sebilah pisau.
Laras yang semula menusuk perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menangkap sosok Rana yang berdiri memperhatikan. Beberapa detik Rana dan Laras saling menatap. Laras terlihat tersenyum kecil, seolah sedang mengolok pada Rana jika ia tengah ada pada kemenangan.
Tapi sedikit kemudian, ekspresinya berubah. Kembali seperti wanita rapuh dan terlihat lemah. Siapa pun yang melihat Laras, mungkin saja merasa kasihan.
"Ra-Rana?" ucapnya lirih, pura-pura terkejut. "Kamu...di sini juga?"
Dipta spontan menoleh. Begitu dirinya melihat Rana berdiri beberapa langkah dari mereka, wajah lembut suaminya itu berubah menegang, seolah seperti orang yang tengah tertangkap basah.
Rana memutuskan melangkahkan kakinya mendekat, lalu tersenyum. "Aku habis jenguk teman." Jawab Rana ringan, ia berusaha terdengar biasa saja.
Rana menoleh ke arah suaminya yang juga menatapnya. Keduanya bersitatap, dengan cepat Rana memalingkan pandangannya ke arah Raka yang ada pada pelukan Dipta.
"Dia demam, barusan Laras telpon aku...dan..."
Rana mendekat, lalu menekan kening anak itu, naluri keibuannya langsung berbicara. "Biar aku panggilkan dokter anak, kebetulan sepupu suamiku dokter di sini." Ucap Rana seraya melirik ke arah Laras.
Laras memperhatikan raut wajah rasa bersalahnya. "Maaf Rana...aku tidak bermaksud merepotkan suamimu. Tapi, waktu itu aku benar-benar panik dan langsung menghubungi suamimu."
Rana mendelik, menatap sekejap suaminya. "Tidak perlu sungkan, toh...suamiku memang baik ke semua orang. Apalagi teman lama harus di bantu, bukan begitu, Mas?"
Dipta terlihat ingin menjelaskan, tapi kata-katanya tertahan karena seorang perawat menghampiri mereka.
"Mari, ikut saya pak, Bu." Ucap perawat itu kepada Dipta dan Laras.
Perawatan itu mendekat ke arah Dipta. "Pak, biar saya bantu." Ucapnya seraya membawa Raka dari pelukan Dipta.
"Rana..." panggil Dipta setelah anak itu di tangani.
Rana melirik jam tangannya, "maaf, aku harus pergi sekarang. Putraku sudah saatnya pulang." Ujar Rana.
Laras meraih pergelangan tangan Rana, menghentikan langkah itu seketika dan meminta maaf seolah-olah dirinya menyesal.
"Maaf ya, aku benar-benar tidak bermaksud mengganggu rumah tanggamu. Aku hanya takut kehilangan Raka." Ucapnya, air matanya jatuh.
Rana tidak bisa menjawab, ia menatap Laras. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Seolah mengatakan lihat! Bahkan bahkan dalam terpuruk apa pun, Dipta akan tetap datang padaku.
Rana melepaskan genggaman Laras, menoleh ke arah suaminya.
"Aku pulang dulu, jangan lupa makan siang." Gumam Rana seraya menyentuh pipi Dipta, seolah memperlihatkan siapa dirinya disini.
...****************...
Hallo jangan loncat bab ya, bantu yehppee dalam karya ini.
Kira-kira perempuan kaya Laras ini enaknya di apain ya??? Jawab di kolom komentar ya☺️☺️☺️
Jangan lupa vote, like dan bintang limanya ya. Boleh juga kok ngasih setangkai bunganya buat yehppee heheh