"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."
Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.
Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Keheningan di Balik Rak Buku
Jam istirahat tiba. Karline berusaha bersikap sealami mungkin. Ia berjalan menuju kantin bersama rombongan "bodyguard" pribadinya Bimo, Faras, dan Andi. Saat mereka melewati koridor kelas 12, suasana mendadak senyap. Para senior laki-laki yang tadinya heboh di grup WA kini hanya bisa melongo melihat Karline lewat. Kecantikan Karline saat berjalan dengan rambut tergerai dan langkah tegas benar-benar membungkam mereka.
Namun, di ujung koridor, Clarissa sudah menunggu dengan mata sembap. Ia tidak berani mendekat karena melihat ada Bimo dan Faras di samping Karline, tapi tatapan matanya tetap memancarkan kebencian yang mendalam.
Karline tidak memperdulikan Clarissa. Fokusnya teralih saat ia melihat Dean berdiri di dekat mading sekolah, sedang berbicara dengan guru olahraga. Dean menoleh tepat saat Karline lewat. Dean tidak tersenyum, tapi ia mengangkat tangan kirinya sedikit menunjukkan gelang hitam dengan bintang di tengahnya yang melingkar di sana. Sebuah kode rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.
Karline mendengus pelan, membuang muka agar teman-temannya tidak curiga.
"Dasar pria aneh," batin Karline.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia bohongi, ia tidak melepas gelang itu. Padahal, ia bisa saja membuangnya ke tempat sampah tadi pagi. Karline merasa ada sesuatu yang berbeda dari Dean kali ini. Saat Dean membelanya di depan Clarissa tadi pagi, ada nada ketulusan yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Karl, kita duduk di sana aja, yuk!" ajak Bimo sambil menunjuk meja kosong.
Saat Karline hendak duduk, sebuah tangan menaruh sebuah botol susu stroberi dingin di depannya. Itu bukan dari teman sekelasnya. Itu dari seorang siswa kelas 12 yang merupakan anak buah Dean di tim voli.
Sore itu, suasana sekolah mulai melenggang. Sebagian besar siswa sudah pulang, menyisakan beberapa anak ekstrakurikuler di lapangan. Karline memilih untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ketenangan untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas setelah rentetan kejadian hari ini. Dengan langkah anggun, ia menuju perpustakaan pusat yang terletak di lantai dua gedung utama.
Di area parkiran, Dean sedang bersiap di atas motornya bersama Raka dan Rio. Namun, matanya menangkap sosok tinggi semampai dengan rambut tergerai yang masuk ke dalam gedung perpustakaan.
"Kalian duluan aja," ucap Dean tiba-tiba sambil mematikan mesin motornya.
Raka mengernyitkan dahi. "Lho, bukannya kita mau latihan voli tambahan, De?"
"Gue ada urusan sebentar. Rio, lo balik aja, jagain adik lo di rumah," perintah Dean dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Rio dan Raka saling pandang, bingung dengan perubahan sikap Dean yang mendadak, namun mereka hanya bisa mengangguk dan melaju pergi meninggalkan area sekolah. Begitu mereka menghilang dari pandangan, Dean langsung melangkah cepat menuju perpustakaan.
Suasana di dalam perpustakaan sangat sunyi. Hanya ada aroma buku tua dan hembusan AC yang dingin. Karline sedang duduk di meja paling pojok, dikelilingi oleh rak-rak buku referensi yang tinggi. Ia sedang serius membaca sebuah buku biografi tokoh dunia.
Tap. Tap.
Suara langkah kaki mendekat membuat Karline mendongak. Ia tersentak saat melihat Dean sudah berdiri di depannya, lalu tanpa izin duduk tepat di hadapannya. Dean menopang dagunya dengan tangan, menatap Karline dengan tatapan intens yang seolah sedang memandangi miliknya yang paling berharga.
"Gimana, Tuan Putri mungil? Apa permintaan maafku tadi sudah diterima dengan tulus?" tanya Dean dengan nada menggoda.
Karline mendengus, mencoba mengabaikan debaran aneh di dadanya. "Mungil? Tinggi badanku ini 170 sentimeter, Dean. Jangan asal bicara."
Dean terkekeh pelan. "Bagiku, kamu tetap mungil dan menggemaskan kalau lagi marah."
Karline tidak membalas. Ia kembali menundukkan kepalanya ke buku, berusaha fokus. Meski diam, bibirnya bergerak-gerak kecil membaca kalimat demi kalimat dalam hati tanpa mengeluarkan suara. Dean yang melihat itu merasa terpesona. Secara diam-diam, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan cekrek! Ia mengambil gambar Karline.
"Dean! Hapus nggak!" Karline langsung sadar dan mencoba merebut ponsel itu.
"Nggak mau. Bagus kok, buat wallpaper," goda Dean sambil menjauhkan ponselnya ke atas.
Terjadilah aksi rebut-rebutan ponsel di antara mereka. Karline berdiri dan berusaha meraih tangan Dean yang tinggi. Beruntung perpustakaan itu kosong, hanya ada mereka berdua di pojokan itu. Namun, karena gerakan yang terlalu tiba-tiba, kaki Karline tersangkut kaki meja.
"Eh!"
Karline kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke belakang. Dengan gerak refleks yang cepat sebagai atlet voli, Dean menangkap pinggang ramping Karline sebelum punggung gadis itu menghantam lantai. Jarak mereka menjadi sangat dekat. Tangan Dean mendekap erat pinggang Karline, sementara tangan Karline mencengkeram bahu Dean untuk tumpuan.
Mereka terdiam untuk sejenak, saling menatap dalam keheningan yang menyesakkan. Napas mereka saling bersahutan. Dean menatap mata Karline dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan penyesalan yang tertahan.
"Karl... aku bener-bener minta maaf. Berkali-kali pun aku bilang, rasanya nggak akan cukup buat hapus ucapan kasarku waktu itu," bisik Dean parau.
Karline hanya diam, matanya mulai berkaca-kaca namun ia tetap berusaha terlihat kuat. Dean perlahan memajukan wajahnya, matanya tertuju pada bibir tipis Karline yang ranum. Ia mencoba untuk menciumnya, seolah ingin menyegel permintaan maafnya di sana.
Namun, dengan cepat Karline menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri dan memalingkan wajah. "Jangan macam-macam, Dean. Ini sekolah."
Dean menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis sambil melepaskan pelukannya perlahan. "Oh, jadi kalau bukan di sekolah boleh, ya?" godanya untuk mencairkan suasana.
Karline merapikan seragamnya yang sedikit berantakan dan kembali duduk dengan wajah memerah. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menatap Dean kembali.
"Iya, aku maafkan," ucap Karline pelan namun tegas.
Mata Dean berbinar. "Beneran?"
"Tapi ada satu syarat," lanjut Karline dengan tatapan yang sangat serius, membuat senyum di wajah Dean sedikit memudar karena penasaran.