Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, membentuk garis-garis cahaya yang memanjang di sepanjang jalan. Udara malam terasa lebih sejuk, kontras dengan suasana di dalam mobil Evelyn yang justru ramai oleh suara kecil yang tak pernah berhenti.
Malam pun tiba, Evelyn mengendarai mobilnya menuju mall bersama keponakannya. Di kursi penumpang, Azzura duduk dengan sabuk pengaman yang sedikit miring, kakinya bergoyang-goyang tanpa ritme yang jelas. Mulut mungilnya tak henti berceloteh, mulai dari cerita kartun favoritnya, sampai lagu yang ia nyanyikan dengan lirik setengah benar.
"Balonku ada limaaa… lupa-lupa walnanyaaa…" nyanyinya penuh semangat, meskipun nadanya melenceng ke mana-mana.
Evelyn hanya menggeleng kecil, sesekali tersenyum tipis. Ia bahkan sudah terbiasa dengan konser dadakan seperti ini. Baginya, keheningan justru terasa aneh jika Azzura tidak bersuara.
Namun, di tengah celoteh tanpa jeda itu, tiba-tiba Azzura berhenti bernyanyi. Gadis kecil itu menoleh ke arah Evelyn, matanya berbinar penuh rasa penasaran.
"Onty, om ganteng macih di lumah cakit nda?" tanyanya polos.
Evelyn menghela napas pelan, tetap fokus pada jalan di depannya.
"Tidak tahu. Lagian untuk apa kamu tanya-tanya orang asing itu," sahutnya datar.
Azzura mengerucutkan bibirnya, tampak berpikir keras dengan ekspresi serius yang justru terlihat menggemaskan.
"Jula juga nda tahu. Pelacaan Jula lacanya ada yang kocong. Cepelti hampa, tanpa om ganteng," katanya sambil menghela napas panjang, menirukan gaya orang dewasa.
Evelyn yang mendengar itu langsung menoleh sekilas, hampir saja menginjak rem mendadak kalau saja refleksnya tidak cepat kembali fokus ke jalan.
"Ha?" gumamnya tak percaya.
Ia melongo beberapa detik, otaknya mencoba mencerna kalimat barusan. Alisnya mengerut, lalu ia melirik Azzura lagi yang kini sudah kembali santai, bahkan sibuk memainkan ujung sabuk pengamannya.
"Kamu… ngomong apa tadi?" tanya Evelyn, sedikit menahan tawa sekaligus heran.
Azzura mengangkat bahunya.
"Itu… pelacaan Jula lacanya kocong. Cepelti… umm… gelas nda ada cucunya," jelasnya dengan logika versi anak-anak.
Evelyn menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak.
"Kosong? Hampa? Kamu dapat kata-kata itu dari mana?" tanyanya curiga.
Azzura berpikir sejenak, lalu menjawab dengan santai,
"Dali tok tok. Cama dali cinetlon ikan telbang itu loh, Onty. Yang nangis-nangis telus."
Evelyn langsung menghela napas panjang.
"Tuh kan… sinetron lagi," gumamnya pelan.
Ia menggeleng, setengah pasrah.
"Mulai besok, kamu nonton kartun saja. Tidak boleh ikut-ikut yang begituan," tegasnya.
Azzura cemberut sedikit.
"Tapi yang itu celu, Onty. Ada om gantengnya juga," protesnya.
Evelyn mendengus kecil.
"Om ganteng, om ganteng… kamu masih kecil, tahu apa soal ganteng."
Azzura langsung menyeringai lebar.
"Tahu dong! Kayak Onty kalau lihatin om itu kemalin," balasnya cepat.
Evelyn tersedak udara sendiri.
"A-apa?!" serunya, kali ini benar-benar terkejut.
Wajahnya langsung memerah, bukan karena malu semata, tapi juga karena merasa “tertangkap basah” oleh makhluk kecil di sebelahnya.
"Kamu ini ngawur!" bantahnya, meski nada suaranya terdengar tidak seyakin biasanya.
Azzura malah tertawa kecil, puas karena berhasil menggoda tantenya. "Ih, Onty malu yaa…"
Evelyn menggeleng cepat, berusaha kembali menjaga wibawanya. "Tidak. Onty tidak malu. Onty cuma… heran, kamu ini kecil-kecil sudah cerewet sekali."
"Hehe…" Azzura kembali tertawa, lalu bersandar nyaman di kursinya.
Mobil mereka akhirnya memasuki area parkir mall. Lampu-lampu terang menyambut, dan keramaian mulai terasa bahkan sebelum mereka turun dari kendaraan.
Evelyn mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Azzura yang masih tersenyum lebar.
"Sudah, ayo turun. Kita ke mall, bukan ke rumah sakit cari ‘om ganteng’," ucapnya sambil melepas sabuk pengaman.
Azzura mengangguk semangat, namun sebelum membuka pintu, ia sempat berbisik pelan,
"Tapi kalau ketemu di mall gimana, Onty?"
Evelyn berhenti sejenak, lalu menghela napas panjang. "Ya sudah… kalau ketemu, pura-pura tidak kenal," jawabnya cepat.
Azzura memiringkan kepala, lalu tersenyum nakal."Onty yang pula-pula, ya. Jula mah mau kenalan."
Evelyn langsung menatapnya tajam, tapi sudut bibirnya tak bisa menahan senyum.
"Dasar bocil…"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mall itu begitu terang dan ramai. Aroma popcorn, parfum, dan makanan cepat saji bercampur menjadi satu, menyambut setiap pengunjung yang datang. Evelyn berjalan santai sambil menggandeng tangan kecil Azzura yang tampak begitu antusias melihat sekeliling.
Matanya ke sana kemari, seperti tidak ingin melewatkan satu pun hal menarik.
"Kita ke mana dulu?" tanya Evelyn sambil melirik ke bawah, memastikan keponakannya tidak tiba-tiba kabur sendiri.
"Ke playglound, Onty!" jawab Azzura dengan mata berbinar, bahkan kakinya sudah sedikit meloncat-loncat tidak sabar.
Evelyn langsung berhenti melangkah. Wajahnya berubah datar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat tidak ia sukai.
"Malas ah," ucapnya jujur tanpa basa-basi. "Bagaimana kalau beli mainan saja?"
Azzura yang tadi semangat langsung berhenti juga. Wajahnya berubah sedikit murung, bibirnya mengerucut. Ia menatap Evelyn dengan ekspresi memelas yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan hati orang dewasa.
Evelyn tahu tatapan itu. Sangat tahu, malah. Tapi kali ini ia memilih untuk pura-pura tidak peka.
"Aduh… kalau ke playground, Onty harus nunggu lama. Kamu mainnya juga tidak sebentar," lanjut Evelyn sambil menyilangkan tangan di dada.
Azzura menghela napas panjang, seperti orang dewasa yang sedang menghadapi kenyataan pahit.
"Ya cudah deh… dalipada di buang nanti Jula," ucapnya pasrah.
Evelyn mengernyit. "Dibuang? Maksudnya apa?" tanyanya heran.
Azzura mengangkat bahu kecilnya. "Itu loh… kalau Jula nangis, nanti Onty bilang ‘yaudah kita pulang aja’. Kan jadi dibuang waktunya," jelasnya dengan logika khas anak-anak.
Evelyn terdiam sejenak, lalu menghela napas sambil menggeleng."Kamu ini… pintar sekali ya memelintir keadaan," gumamnya.
Namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia tidak benar-benar tega, hanya saja bayangan duduk berjam-jam menunggu di pinggir playground sambil mendengar teriakan anak-anak lain sudah cukup membuat kepalanya pening duluan.
"Ya sudah, kita ke toko mainan saja. Kamu pilih satu, tapi tidak boleh lebih," tegas Evelyn akhirnya.
Mata Azzura langsung berbinar kembali, seolah rasa sedihnya tadi hanya sandiwara sesaat.
"Benelan? catu aja?" tanyanya memastikan.
"Iya. Satu saja. Tidak pakai nego," jawab Evelyn cepat sebelum keponakannya mulai berulah.
Azzura mengangguk cepat, lalu menarik tangan Evelyn dengan semangat.
"Ayo Onty! Nanti Jula pilih yang paling gede!"
Evelyn langsung menahan langkahnya.
"Eh, eh… tidak bisa begitu. Satu itu bukan berarti paling besar," bantahnya.
"Tapi kan Onty nda bilang nda boleh gede," balas Azzura polos, membuat Evelyn terdiam sesaat.
Ia menatap keponakannya itu dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu ini… kecil-kecil sudah pintar cari celah ya," ucap Evelyn sambil menyipitkan mata.
Azzura hanya tersenyum manis, senyum yang jelas-jelas menyimpan niat terselubung.
Mereka pun akhirnya berjalan menuju toko mainan yang berada tidak jauh dari area tengah mall. Dari kejauhan saja, warna-warni mainan sudah terlihat mencolok, boneka besar, mobil-mobilan, hingga berbagai permainan edukasi tersusun rapi di etalase.
Begitu masuk, Azzura langsung melepaskan genggaman tangan Evelyn dan berlari kecil ke dalam.
"Pelan-pelan!" seru Evelyn, refleks.
Namun tentu saja, peringatan itu hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Azzura sudah berdiri di depan rak boneka besar, matanya berbinar seperti menemukan harta karun.
"Onty! Ini lucuuu!" teriaknya sambil memeluk boneka beruang yang ukurannya hampir setengah tubuhnya.
Evelyn mendekat, lalu menatap boneka itu sekilas."Lucu sih… tapi itu hampir sebesar kamu," komentarnya datar.
"Kan Jula bilang mau yang gede," jawab Azzura cepat.
Evelyn menghela napas panjang, merasa kalah sebelum berperang.
Ia menatap sekeliling, lalu kembali pada Azzura yang masih memeluk boneka itu dengan penuh cinta.
"Kalau kamu ambil itu, nanti Onty yang capek bawa," ucapnya mencoba strategi lain.
Azzura langsung berpikir sejenak, lalu menjawab,
"Ya udah, Onty aja yang gendong Jula. Bonekanya bial Jula yang bawa."
Evelyn terdiam. Lalu ia menutup wajahnya dengan satu tangan, menahan tawa sekaligus keputusasaan. "Kamu ini benar-benar ya…"
Namun pada akhirnya, ia tidak benar-benar marah. Bagaimanapun, melihat Azzura sebahagia itu membuat rasa malasnya sedikit berkurang.
Ia menghela napas lagi, kali ini lebih ringan.
"Ya sudah… tapi setelah ini tidak ada tambahan lagi. Kita langsung pulang," ucapnya tegas.
Azzura mengangguk cepat, senyumnya begitu lebar hingga matanya hampir hilang.
"Ciap, Onty!"
Evelyn hanya bisa menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis.
Malam yang awalnya ia bayangkan santai, kini berubah menjadi petualangan kecil yang penuh tawar-menawar dengan bocah cerewet yang tidak pernah kehabisan akal.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba alarm di dalam mall itu berbunyi nyaring. Seketika suara teriakan memenuhi area mall.
"KEBAKARAN....KEBAKARAN"
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐