Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Salah Mencari Lawan
"Ada apa ini?" Baru pulang sudah disuguhkan dengan pemandangan yang kurang menyenangkan. Wiryo datang ke rumahnya dan membuat keributan dengan istrinya. Hermawan tidak tahu apa yang membuat mereka bertengkar, tapi ia sangat yakin, ada sesuatu hal yang membuat mereka berdebat.
"Papa! Cepat usir dia dari sini! Aku tidak ingin melihatnya lagi!"
Hermawan bingung, tidak mungkin ia tiba-tiba mengusir tamu yang datang ke rumahnya tanpa alasan yang jelas.
"Ma, tenanglah." Hermawan meminta istrinya untuk duduk dengan tenang. Ia ingin tahu mengapa istrinya begitu emosi terhadap tamunya. Di situ Wiryo hanya diam tak bergeming dengan wajah menunduk. "Bisa Mama jelaskan sekarang? Apa yang membuat Mama marah sama Pak Wiryo."
Telunjuk Widya mengarah tepat ke muka Wiryo dengan raut wajah penuh dengan emosi. Tak peduli kalaupun hubungannya dengan Wiryo diketahui oleh suaminya. "Dia datang ke sini untuk mengusikku."
Bola mata Hermawan terbelalak. "Apa?" Dia menoleh pada sosok pria seumuran dengannya yang duduk terhalang oleh meja. "Benarkah begitu pak Wiryo?"
Wiryo masih juga tak bergeming. Seolah-olah mulutnya terbungkam rapat.
"Pak Wiryo, saya sedang bicara dengan anda. Kalau boleh tahu kedatangan anda ke sini dengan maksud apa?"
Dengan perasaan yang tak tenang pria itu mendongak, menatap pria bertubuh jangkung yang duduk bersebelahan dengan mantan istrinya.
"Kedatangan saya kemari ingin menemui istri saya. Maaf pak Hermawan, jika kedatangan saya sudah mengusik ketenangan anda."
'Istri' apa maksudnya?' Hermawan masih juga tidak menyadari bahwa pria itu masih menganggap Widya sebagai istrinya.
"Maaf pak Wiryo, istri anda tidak ada di sini, bahkan beliau tidak terlalu dekat dengan istri saya. Anda salah alamat."
"Tidak Pak Hermawan, saya tidak salah alamat, dia memang benar berada di rumah ini. Dia hanya tidak ingin menemui saya, jadi dia marah-marah."
Hermawan mengerutkan keningnya. "Maksud anda apa? Di sini saya tinggal bersama istri dan anak-anak saya, nggak ada orang lain. Tidak mungkin istri anda asisten rumah tangga di sini kan?"
Wiryo diam memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan pada Hermawan mengenai istri yang dimaksudnya. Ia hanya ingin mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya, sekalipun harus merusak rumah tangga orang lain.
"Sebaiknya pak Wiryo pergi saja dari sini. Diantara kita tak lagi ada hubungan kerjasama. Selain itu anda sudah membuat kegaduhan di rumah saya."
Tak ingin membuat suasana semakin memanas Hermawan memintanya untuk meninggalkan rumahnya. Ia tidak ingin meladeni orang dianggapnya tidak begitu penting.
"Tapi pak Hermawan, saya hanya ingin ~~
"Pak Wiryo, tolong mengertilah. Saya sangat lelah. Tolong hargai saya."
Dengan menarik nafas kasar Wiryo pun beranjak. "Baiklah, saya akan pergi sekarang, tapi saya bakalan datang lagi untuk mendapatkan penjelasan."
Wiryo menoleh pada Widya sebelum memutuskan untuk pergi dari rumah itu. "Ingat Widya, urusan kita belum selesai."
Pria itu langsung beranjak tanpa basa-basi lagi.
Setelah kepergiannya Hermawan meminta Widya untuk memberikan penjelasan terkait istri yang dimaksud oleh Wiryo. Ia paling tidak suka ada orang lain masuk ke kandangnya dan membuat kericuhan.
"Bisa dijelaskan padaku ma?"
Widya mengangguk. "Aku akan jelaskan pa, tapi tidak di sini."
Widya langsung melenggang pergi menuju kamarnya diikuti oleh Hermawan. Nina yang sedari tadi berdiri di balik pintu dibuat penasaran dengan permasalahan yang dialami oleh orang tuanya.
"Sebenarnya siapa Om Wiryo itu? Kenapa dia terlihat begitu marah pada Mama? Mungkinkah Mama mengenalinya?"
Sayang sekali. Ingin mendengar pembicaraan orang tuanya tapi ruangannya kedap suara, dia putuskan untuk kembali ke dapur dan melanjutkan acara memasaknya.
Di dalam kamar Widya duduk di sofa. Ditatapnya suami yang tengah melepas jas kerjanya. Dia memang berniat untuk memberikan penjelasan mengenai pria itu. Dia berharap Hermawan bisa mengerti dengan kondisinya.
"Ma, bisa dijelaskan sekarang?"
Setelah melepas pakaiannya Hermawan mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Iya, aku memang ingin memberitahumu mengenai pria itu." Tanpa adanya keraguan Widya langsung menceritakan tentang masa lalunya bersama Wiryo. "Wiryo itu mantan suamiku, dia ayahnya Nina."
Deg,, "Apa?" Hermawan terkejut bukan main. "Jadi istri yang dimaksud itu kamu?"
Widya mengangguk. "Iya."
Tangan Hermawan mengepal dengan menggumam kesal. "Kurang ajar! Aku bahkan tidak menyadarinya. Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sewaktu dia ada di sini ma!"
"Ya kan aku rencananya mau bilang gitu, tapi papa keburu mengusirnya," jawab Widya.
"Terus mama nggak tunjukkan surat cerainya?"
Widya menggeleng." Belum sempat keburu Papa datang. Dia ngotot kalau aku ini masih berstatus sebagai istrinya, bahkan berniat ingin menuntutku."
Hermawan terkekeh. "Menuntut? Mau cari mati dia?"
Hermawan masih teringat bagaimana perjuangan Widya saat ditelantarkan dan ditinggalkan di rumah kecil di pinggiran sungai. Ia yang tidak sengaja bertemu dengan wanita itu menaruh rasa simpati. Dengan ketulusannya ia langsung membawanya pulang hingga wanita itu melahirkan, setelah itu Ia membantu mengurus surat perceraian dibantu oleh rekan pengacaranya. Setelah resmi mendapatkan surat cerai baru menikahinya dan memberikan status kepada putrinya.
"Suruh saja dia menuntut, Aku pastikan dia bakalan menjadi gembel di jalanan," cicit Hermawan. "Salah cari lawan dia!"
"Aku juga bilang seperti itu Pa. Kalau dia memang berani menuntut, aku pasti akan menuntut balik atas perbuatannya kepadaku. Bahkan disaat aku hamil sampai melahirkan Dia tidak memiliki kepedulian sama sekali. Sekarang setelah kembali bertemu dia berniat ingin menuntutku karena sudah menikah denganmu."
Dermawan menyesal sudah memberinya maaf dan masih memberinya jalan untuk mengais rezeki. Kalau saja waktu itu dia tidak memiliki perasaan dan memblacklist perusahaannya mungkin kehidupannya sudah hancur. Ia pikir Wiryo orang yang bermartabat baik, ternyata kelakukannya seperti hewan.
"Kalau misalnya dia masih berani datang kemari kalau nggak ada aku di rumah jangan pernah membukakan pintu. Aku tidak bisa menerima tamu seperti itu. Kalau dia masih tetap ngotot ingin menuntutmu, suruh temui aku di kantor, aku sendiri yang akan menyelesaikannya."
Widya mengangguk. Dia bersyukur mendapatkan suami yang benar-benar mensupportnya. Dia bahkan berpikir suaminya bakalan marah setelah tahu kebenarannya, tapi memang semua itu sudah direncanakan oleh Hermawan semenjak membantunya keluar dari kemiskinan.
"Baik Pa, aku tidak akan pernah membuktikan pintu untuknya. Semoga saja ini terakhir kalinya dia datang ke rumah ini."
"Lalu bagaimana dengan Nina? Apakah dia tahu kalau Wiryo itu Ayah kandungnya?"
"Tidak, dia tidak tahu kalau pria itu Ayah kandungnya. Aku rasa Nina memang tidak perlu mengetahuinya. Belum tentu juga dia bisa menerimanya dengan baik."
Hermawan manggut-manggut setuju dengan pemikiran Widya. Dia bahkan tidak akan pernah rela jika sampai anak perempuannya itu jatuh ke tangan yang salah.
"Iya, memang lebih baik kalau Nina tidak akan pernah tahu siapa Ayah kandungnya. Semenjak dia lahir akulah yang menggendongnya, dan akulah yang paling berhak untuk mengakuinya sebagai anak. Meskipun dia bukan anak biologisku, tapi aku Ayah yang selalu ada untuk melindunginya."