Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI ATAS LAUT
Gelombang laut lepas menghantam lambung perahu nelayan kecil itu dengan dentuman yang memekakkan telinga. Air garam yang dingin memercik masuk, membasahi wajah Keyra yang kini pucat pasi. Di pangkuannya, Ghazali tidak lagi mengerang. Tubuhnya mendingin, napasnya dangkal, dan hasil kauterisasi darurat tadi meninggalkan luka bakar yang harus segera ditangani agar tidak menjadi sumber infeksi baru.
Bastian berjuang keras mengendalikan kemudi di tengah badai yang tiba-tiba datang menyergap jalur pelarian mereka.
---
"Key! Pegangan! Ombaknya semakin tinggi!" teriak Bastian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin dan mesin perahu yang terbatuk-batuk.
Keyra tidak peduli. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai agar Ghazali tidak terbentur dinding kayu perahu. Ia meraba tas medisnya kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada lagi kasa, tidak ada antibiotik, bahkan antiseptik pun sudah habis.
"Yudha! Bantu aku menahan tubuhnya!" seru Keyra.
Yudha merangkak dari buritan, wajahnya yang penuh lumpur kini tersapu air laut. Ia menatap Kaptennya yang tak berdaya dengan tatapan hancur. "Dokter, denyut nadinya... sangat lemah."
Keyra menempelkan telinganya ke dada tegap Ghazali. Lemah sekali. Detak jantung itu seolah sedang berjuang menembus dinding kelelahan yang luar biasa. Keyra menggenggam tangan kanan Ghazali, merasakan cincin kabel tembaga di jarinya beradu dengan kulit dingin pria itu.
"Ghaz... kamu sudah berjanji. Jangan berani-berani menyerah di tengah laut ini," bisik Keyra, air matanya jatuh menyatu dengan air garam di pipi Ghazali. "Kamu bilang aku satu-satunya alasanmu untuk tetap hidup. Buktikan, Ghazali Atharrazka!"
Tiba-tiba, mesin perahu mati total.
Uhuk... pet...
Keheningan yang mencekam menyergap, hanya menyisakan suara deburan ombak yang ganas. Perahu mereka kini terombang-ambing tanpa arah di tengah kegelapan samudera.
"Sial! Mesinnya kemasukan air!" Bastian memukul kemudi dengan frustrasi. "Kita berada di zona buta radar, tapi kalau kita tidak segera bergerak, arus akan membawa kita kembali ke wilayah patroli Aditama!"
"Bastian, perbaiki mesinnya! Sekarang!" perintah Keyra, suaranya mendadak tenang namun tajam. Ia mengambil syal rajut pink soft miliknya yang ia bawa di dalam tas—satu-satunya benda kering yang tersisa. Ia merobeknya menjadi lembaran panjang.
"Apa yang kamu lakukan, Key?" tanya Yudha bingung.
"Menjaga suhu tubuhnya tetap stabil. Dia mengalami hipotermia berat," Keyra melilitkan kain rajut itu ke dada dan bahu Ghazali, lalu ia memeluk tubuh pria itu erat-erat, mencoba membagikan panas tubuhnya sendiri. "Yudha, cari apapun yang bisa digunakan untuk menimba air. Kita tidak boleh tenggelam sebelum fajar."
Di tengah badai yang mengamuk, Keyra mulai membisikkan doa-doa yang selama ini ia lupakan karena kesibukan medisnya. Ia teringat janji mereka di hutan. Pertunangan ini tidak boleh berakhir di dasar laut.
Tiba-tiba, mata Ghazali terbuka sedikit. Sangat tipis. Ia menatap Keyra dengan pandangan kabur, lalu tangannya yang gemetar bergerak mencari wajah Keyra.
"Key... ra..." suaranya hanya berupa embusan napas.
"Aku di sini, Ghaz. Aku di sini," Keyra mencium keningnya yang panas karena demam namun kulitnya dingin karena air laut.
"Jangan... lepaskan... cincin itu," bisik Ghazali sebelum matanya kembali terpejam.
"Tidak akan pernah," jawab Keyra tegas.
Tepat saat itu, Bastian berhasil menghidupkan kembali mesin perahu.
Vroom!
Suaranya terdengar seperti melodi surgawi di tengah badai. Namun, kegembiraan mereka hanya bertahan sesaat.
Dari arah cakrawala, sebuah lampu sorot besar berwarna biru terang membelah kegelapan. Itu bukan helikopter militer, melainkan kapal patroli penjaga pantai yang sedang melakukan penyisiran besar-besaran.
"Itu pihak otoritas, Kapten!" seru Yudha. "Tapi kita tidak tahu mereka di pihak siapa. Apakah mereka orang-orang suruhan Aditama atau unit netral?"
Keyra menatap lampu itu dengan penuh pertaruhan. Jika mereka mendekat, Ghazali bisa mendapatkan bantuan medis profesional, tapi mereka juga bisa langsung dijebloskan ke penjara bawah tanah milik Aditama sebelum sempat memberikan bukti chip tersebut.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....