NovelToon NovelToon
Petualangan Bintang ( Han Le)

Petualangan Bintang ( Han Le)

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurus Pedang Terbang

 Di luar Kuil Shaolin, Biksu Dalai Lama semakin banyak terlihat. Walau pergerakan mereka sangat rapi, tetapi dengan jumlah mereka yang semakin banyak tentu saja mengundang kecurigaan para tetua Kuil Shaolin.

Siang itu, Han Le dipanggil oleh sang Guru, Biksu Kong Hui.

"Wu Kong, di kuil Shaolin nama panggilan harus memakai nama gelar. Katakan padaku, apa para Dalai Lama itu ada hubungan denganmu?" tanya Biksu Kong Hui.

Han Le terdiam, lalu ia mengeluarkan satu bungkus obat peluntur samarannya.

"Guru, aku akan berterus terang."

Han Le melumurkan obat itu ke sekujur tubuhnya. Saat obat itu beraksi, Biksu Kong Hui terbelalak kaget.

"Amitaba... Ilmu samaran Han An?" gumam Biksu Kong Hui di tengah kekagetannya.

Han Le mengambil sapu tangan dari kantungnya dan menyeka seluruh wajah serta kulit luar yang tak tertutupi baju. Kini tampak jelas kulit kuning langsat dan wajah khas orang Jawa Dwipa.

"Guru, namaku sebenarnya Bintang. Aku berasal dari sebrang lautan. Aku ke sini karena dibawa paksa oleh para Biksu Dalai Lama yang menginginkan pusaka Pedang Pelangi milik ayahku," ucap Bintang.

Ia lalu menuturkan kisahnya dari awal hingga sampai di kuil Shaolin. Ia juga menceritakan tentang ilmu samaran yang didapat dari kakek Han An, serta alasan ia memakai marga Han saat menolong Kakek An yang terluka.

"Amitaba, berarti benar kedatangan para biksu Dalai Lama itu karena dirimu," sahut Biksu Kong Hui. Ia berpikir sejenak.

"Wu Kong, bukankah kau mencari buah Ling Ce untuk kedua orang tuamu yang terkena serangan gabungan Biksu Dalai Lama?" tanya Kong Hui.

"Benar, Guru. Aku pernah sedikit belajar pengobatan, aku tahu khasiatnya dari sana," sahut Han Le.

"Hanya yang berjodoh maka akan mendapatkan buah langka itu. Kemarin pun, setelah kau terpukul jatuh oleh Iblis Bayangan, tak satu pun dari kami yang mendapatkan buah itu," ujar Biksu Kong Hui.

"Maksud Guru, buah itu menghilang?" tanya Han Le heran.

"Bukan menghilang, tetapi dimakan oleh Ular Es," jawab sang Guru.

"Sayang sekali..." gumam Han Le lemas.

Jika manusia yang mendapatkannya, ia berani membayar mahal untuk daun dan akar pohon Ling Ce itu. Sebab, obat untuk mengobati luka bakar hanya memerlukan daun dan akarnya saja, sedangkan buahnya hanya berfungsi untuk meningkatkan tenaga dalam.

"Wu Kong, apa rencanamu sekarang menghadapi para Biksu Dalai Lama itu?" tanya sang Guru.

"Guru, aku tak mau menyulitkan kuil Shaolin. Biarlah aku akan pergi berkelana sambil mencari ilmu yang mampu mengatasi mereka," ucap Han Le tegas.

"Amitaba, aku sudah menduga kau akan berkata seperti itu. Kau pelajari ini dulu di ruang tertutup di belakang. Tapi sesekali kau keluar berlatih Jurus Lohan di tempat terbuka di mana mereka bisa melihatmu, tetapi pakailah samaran lamamu," ujar Biksu Kong Hui sambil menyerahkan tiga kitab pada Han Le.

"Terima kasih, Guru," dengan sopan Han Le mengambil kitab itu.

Ternyata itu adalah tiga kitab jurus: Jurus Tongkat, Jurus Tangan Kosong, dan Jurus Pedang.

Biksu Kong Hui menunjuk ruang di bagian paling belakang kuil yang tertutup. Ruang itu bersebelahan langsung dengan jurang, hanya dihalangi pagar tembok setinggi tiga meter, sehingga orang luar tak mungkin bisa mencapai tempat itu kecuali mereka yang mampu "terbang".

Han Le berlatih dari siang hingga malam mempelajari kitab-kitab itu. Pagi harinya, ia berlatih Jurus Lohan di pelataran luar dekat batas wilayah kuil, di mana para Biksu Dalai Lama bisa melihat dirinya.

"Sepertinya ia sedang mendalami Jurus Lohan," kata seorang biksu Dalai Lama saat melihat Han Le berlatih.

"Tak perlu kita takuti. Walau Jurus Lohan sangat kuat dalam bertahan, tetapi dengan jumlah kita, ia akan kesulitan," jawab salah satu biksu Dalai Lama.

"Aku pikir dengan diangkat menjadi murid Kong Hui, ia akan diberi jurus-jurus sakti. Tak tahunya hanya disuruh mempelajari Jurus Lohan saja," sahut yang lainnya.

"Kita tunggu saja sampai ia keluar dari Kuil Shaolin, di sanalah kita akan menghadangnya!" seru pemimpin rombongan itu.

Semakin hari, tenaga dan pemahaman jurus Han Le meningkat terus. Ia juga sudah menguasai Jurus Tapak dan Jurus Tongkat dengan baik. Hanya saat ingin menguasai Jurus Pedang Terbang, ia selalu gagal di jurus keempat.

Han Le menatap kitab terakhir di tangannya dengan kening berkerut. Meskipun ia telah menguasai dasar-dasar dari dua kitab sebelumnya, kitab ketiga ini, Ilmu Pedang Terbang, memiliki kerumitan yang jauh melampaui nalar manusia biasa.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan aliran chi yang bergejolak di dadanya. Di hadapannya, tiga kitab pemberian Biksu Kong Hui tergeletak dengan nama-nama yang menggetarkan jiwa jika didengar di dunia persilatan:

Kitab Jurus Tangan Kosong: Tapak Delapan Penjuru

Sebuah ilmu yang mengandalkan kelembutan untuk menghancurkan kekerasan, sangat efektif untuk menghadapi kepungan banyak orang.

Kitab Jurus Tongkat: Tongkat Gemuruh Langit

Gerakan yang meniru sambaran petir, mengutamakan kecepatan dan daya ledak yang mampu mematahkan tulang lawan dalam sekali hantam.

Kitab Ilmu Pedang Terbang: Pedang Roh Pencabut Bayangan

Yang merupakan puncak dari segala ilmu pedang, di mana pedang tidak lagi digenggam, melainkan digerakkan oleh niat dan energi murni.

Han Le bangkit, mencoba mempraktikkan jurus keempat dari ilmu pedang tersebut yang dinamakan "Tarian Awan Membelah Bulan". Ia melempar pedang kayunya ke udara, mencoba menyalurkan energinya agar pedang itu tetap melayang dan menyerang sasaran sesuai keinginan hatinya. Namun, baru saja pedang itu berputar sekali, energinya terputus. Pedang kayu itu jatuh berdentang di lantai batu.

"Gagal lagi," bisik Han Le. Keringat membasahi pelipisnya.

Masalahnya bukan pada tenaga dalamnya, melainkan pada titik fokus. Untuk menggerakkan pedang tanpa sentuhan, seseorang harus memiliki pikiran yang benar-benar kosong namun tajam; ia harus menyatu dengan pedangnya. Sedangkan untuk saat ini, pikiran Han Le masih terbebani oleh bayangan orang tuanya di Jawa Dwipa dan kepungan Biksu Dalai Lama yang kian merapat di gerbang kuil.

Tiba-tiba, suara langkah kaki pelan terdengar. Biksu Kong Hui muncul dari balik bayang-bayang pilar ruang tertutup itu.

"Wu Kong, pedang itu tidak bergerak karena kemauanmu, melainkan karena jiwamu. Jika jiwamu gelisah, pedang itu akan kehilangan arah," ujar sang Guru dengan tenang.

"Guru, aku tidak bisa menghilangkan rasa khawatirku. Para Biksu Dalai Lama itu mengganggu konsentrasiku," jawab Han Le sambil memberi hormat.

Biksu Kong Hui tersenyum tipis. "Mereka melihatmu berlatih Jurus Lohan di depan, dan mereka meremehkanmu. Itulah senjatamu yang paling kuat," ucap Biksu Kong Hui sambil tersenyum.

Mendengar ucapan gurunya, hati Han Le menjadi lebih tenang. Kegelisahan yang menghilang tergantikan tekad kuat untuk mencari obat bagi kesembuhan kedua orang tuanya.

Ia kembali giat berlatih setelah sang guru pergi.

"Hiaaaat!"

"Wusss..."

Pedang kayunya tiba-tiba terangkat perlahan. Tanpa suara, pedang itu melesat memutar, membelah udara dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Jurus keempat Pedang Roh Pencabut Bayangan akhirnya terkuasai.

"Akhirnya aku berhasil juga," gumam Han Le tersenyum bahagia.

Namun ia tak berhenti sampai di sana, ia kembali berlatih agar ilmu pedang terbangnya semakin sempurna.

Setelah hampir satu bulan dan ketiga kitab itu telah ia pelajari dengan sempurna, ia berniat berkelana mencari obat untuk kedua orang tuanya.

Pagi itu, Aula Bodhidharma dipenuhi oleh seluruh murid Shaolin dari semua angkatan, kecuali para sesepuh. Karena para sesepuh tak akan keluar jika tak ada bahaya yang mengancam keselamatan kuil; mereka berfokus pada penggemblengan batin dengan tapa semedi di ruang tertutup.

Kong Hui mendesah panjang.

"Amitaba."

"Aku tahu hari ini akan datang. Tapi sebelum itu, kau harus menyelesaikan satu ujian terakhir. Kau harus melewati Lorong Delapan Belas Manusia Perunggu," sahut Biksu Kong Hui saat Han Le berpamitan.

Lim Hao yang mendengar itu hampir saja menjatuhkan sapu yang dipegangnya. "Susiok! Itu ujian yang sangat berat! Bahkan murid angkatan kedua saja banyak yang gagal!" bisik Lim Hao cemas.

Han Le tersenyum tipis ke arah sahabatnya. "Jika aku tidak bisa melewati Manusia Perunggu, mana mungkin aku bisa melawan Biksu Dalai Lama, Twako?" bisik Han Le.

"Aku siap, Guru," tegas Han Le.

"Bersiaplah, di hari ketiga kau akan memasuki lorong Manusia Perunggu," ujar Biksu Kong Zhi.

"Baik, Susiok," sahut Han Le.

Selama tiga hari itu, Lim Hao tidak membiarkan "Susiok"-nya itu beristirahat sendiri. Ia membawakan makanan terbaik, bakpao isi sayuran yang paling segar, dan membantu Han Le berlatih jurus-jurus dasar.

"Dengar, Susiok," bisik Lim Hao saat mereka berlatih di belakang paviliun. "Manusia Perunggu itu bukan manusia biasa. Mereka adalah boneka kuno yang digerakkan oleh tenaga dalam para tetua. Mereka tidak punya rasa sakit, dan setiap gerakan mereka sempurna secara teknis. Kau harus berhati-hati," pesan Lim Hao cemas.

Han Le mengangguk. "Aku mengerti," sahut Han Le.

Keesokan paginya, seluruh penghuni Shaolin berkumpul di depan pintu batu besar yang menuju ke Lorong Manusia Perunggu. Han Le berdiri di sana, hanya mengenakan celana latihan dan jubah luar yang tipis. Di pinggangnya terselip sebuah tongkat kayu sederhana, tongkat yang sama yang ia gunakan saat pertama kali mengambil air.

"Wu Kong," panggil Kong Zhi. "Di dalam sana, tidak ada yang bisa menolongmu. Jika kau tidak kuat, tekanlah tombol di lantai untuk menyerah. Pintu akan terbuka, tapi kau akan kehilangan hakmu sebagai murid Shaolin."

"Terima kasih, Tetua. Aku akan ingat pesanmu," jawab Han Le. Namun dalam hatinya, ia tak akan menyerah; ia akan berjuang sekuat tenaga walau nyawa menjadi taruhannya.

Drrrrrrt...

Pintu batu terbuka dengan suara gemuruh yang berat. Han Le melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong, dan pintu itu tertutup rapat setelah ia masuk. Di luar, Lim Hao mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, berdoa agar sahabat sekaligus paman gurunya itu bisa keluar dengan selamat.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!