NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.Tekad

Keheningan di dalam ruang Klub Ilmu Gaib terasa begitu padat, seolah-olah udara telah berubah menjadi raksa yang menghimpit dada siapa pun yang bernapas di dalamnya. Rias Gremory meletakkan cangkir porselennya ke atas meja dengan denting yang halus namun tajam, memecah kesunyian yang mencekam. Matanya yang biru kehijauan menatap lurus ke arah Bibi Dong, mencoba mencari celah di balik wajah cantik yang tampak seperti pahatan batu giok yang dingin itu.

"Investasi?" Rias mengulang kata-kata Ren dengan nada yang sedikit bergetar. "Kau bicara seolah-olah nyawa Issei adalah komoditas yang bisa kau tukar tambah, Saiba Ren. Dia adalah anggota keluargaku sekarang. Di bawah hukum iblis, dia berada dalam perlindunganku."

Bibi Dong menyilangkan kakinya dengan anggun. Rok seragamnya tersingkap sedikit, memperlihatkan garis kaki yang sempurna, namun tidak ada satu pun pria di ruangan itu—termasuk Issei—yang berani melirik dengan nafsu. Aura yang terpancar dari wanita itu terlalu suci sekaligus terlalu mematikan.

"Perlindungan?" Bibi Dong terkekeh, sebuah suara yang terdengar merdu namun mengandung penghinaan yang sangat dalam. "Iblis Kecil, kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri dari tekanan mentalku saat ini. Bagaimana kau bisa mengklaim perlindungan atas nyawa orang lain?"

Bibi Dong sedikit memajukan tubuhnya. Seketika, bayangan di bawah sofa Rias seolah-olah hidup, merayap naik dan menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Akeno Himejima segera melangkah maju, tangannya mulai memercikkan petir kuning samar sebagai bentuk pertahanan insting, namun Bibi Dong hanya meliriknya sekilas.

"Jangan bergerak, Gadis Petir," bisik Bibi Dong. "Satu inci saja kau melepaskan energimu, aku akan memastikan ruangan ini menjadi kuburan yang sangat indah bagi majikanmu."

Akeno membeku. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Sebagai seorang ratu di papan catur Rias, ia belum pernah merasakan ketakutan yang begitu murni. Di depannya bukan hanya seorang pengguna kekuatan, melainkan sebuah entitas yang memegang kendali atas hidup dan mati.

Ren, yang masih berdiri di dekat jendela, hanya memperhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis. Ia menikmati bagaimana Bibi Dong mulai terbiasa dengan "permainan" di dunia ini. Ia tahu istrinya merindukan rasa hormat yang mutlak, dan di sini, ia memberikannya panggung.

"Rias," Ren memanggil dengan suara bariton yang tenang, menetralkan sebagian tekanan di ruangan itu agar Issei tidak jatuh pingsan. "Jangan salah paham. Aku tidak berniat merebut Issei darimu saat ini. Aku hanya ingin memastikan kau tahu bahwa ada kekuatan di dunia ini yang tidak bisa kau ikat dengan kontrak darah atau kesetiaan iblis."

Issei, yang duduk di sofa kecil di sudut, menatap mereka semua dengan mata membelalak. Ia merasa seperti seekor semut di antara para raksasa. "Saiba-kun... Bibi Dong-san... sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku?"

Bibi Dong menoleh ke arah Issei. Tatapannya melembut hanya sepersekian persen, namun tetap penuh wibawa. "Apa yang kami inginkan? Kami ingin melihat seberapa jauh potensi naga di dalam dirimu bisa berevolusi di bawah asuhan Iblis-iblis ini. Jangan mengecewakan suamiku, Issei. Jika kau tetap menjadi sampah yang lemah, maka ramuan yang ia berikan semalam akan menjadi kutukan bagimu."

Rias mengerutkan kening. "Ramuan? Jadi kau benar-benar memberinya sesuatu sebelum aku sampai di taman?"

"Hanya sedikit penguat jiwa agar jiwanya tidak hancur saat kau memasukkan bidak Pawn itu ke dalam tubuhnya yang rapuh," Ren menjawab sambil berjalan mendekat ke arah meja. Ia mengambil sebuah biskuit dari piring di atas meja, menggigitnya sedikit, lalu melemparkannya kembali. "Terlalu manis. Sama seperti caramu memandang dunia ini, Rias."

Ren berdiri tepat di belakang Bibi Dong, meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya. Kehadiran mereka berdua bersama-sama menciptakan resonansi energi yang membuat lampu gantung di ruangan itu bergetar hebat.

"Kami datang ke sini bukan untuk bernegosiasi," lanjut Ren. "Kami datang untuk menetapkan batasan. Issei akan tetap di klubmu, dia akan melakukan tugas-tugas iblisnya. Tapi, jika kau mencoba menggunakannya untuk rencana yang bisa membahayakan ketenanganku atau Bibi Dong... maka aku akan mengambilnya kembali dengan cara yang tidak akan kau sukai."

Rias mengepalkan tinjunya di bawah meja. Ia merasa sangat terhina, namun logika di kepalanya memberitahunya bahwa melawan Ren dan Bibi Dong sekarang adalah tindakan bunuh diri. Kekuatan yang mereka tunjukkan hanyalah puncak dari gunung es.

[SISTEM: Deteksi gejolak emosi pada Rias Gremory. Tingkat frustrasi: 85%. Ia mulai menyadari posisi tawar-menawarnya yang lemah.]

[SISTEM: Kemistri antara Anda dan Bibi Dong dalam sesi intimidasi ini meningkatkan sinkronisasi energi sebesar 5%.]

"Baiklah," ucap Rias akhirnya, suaranya terdengar sangat berat. "Aku menerima batasan itu. Selama kau tidak mengganggu operasional klubku, aku akan membiarkanmu melakukan apa pun yang kau mau terhadap 'investasimu'."

Bibi Dong berdiri, diikuti oleh Ren. Ia merapikan rok seragamnya dan menatap Rias untuk terakhir kalinya sore itu. "Pilihan yang bijaksana, Iblis Kecil. Pertahankan kebijaksanaan itu jika kau ingin rambut merahmu tetap berkilau di bawah sinar matahari besok."

Bibi Dong menggandeng tangan Ren, dan tanpa sepatah kata lagi, mereka berjalan menuju pintu. Issei hanya bisa menatap punggung mereka dengan rasa hormat yang kini bercampur dengan rasa takut yang abadi. Ia menyadari bahwa di sekolah ini, ada aturan yang tertulis oleh Rias Gremory, namun ada hukum tak tertulis yang dijaga oleh Saiba Ren.

Begitu pintu tertutup, Rias menghela napas panjang, bahunya merosot. "Akeno... siapkan laporan untuk kakakku. Kita tidak bisa menangani mereka sendirian. Mereka... mereka bukan bagian dari sistem dunia ini."

Akeno hanya mengangguk kaku, tangannya masih sedikit gemetar saat ia mulai merapikan set teh yang kini terasa sangat dingin.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!