NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Kehidupan di Berlin memberi Pearl sesuatu yang tidak ia sangka akan ia temukan secepat ini.

Kestabilan.

Pearl's Bloom sudah cukup dikenal di kawasan Prenzlauer Berg, antrian kecil di pagi hari, pesanan korporat yang mulai rutin masuk, dan Greta yang sudah hafal selera hampir semua pelanggan tetap. Hubungan Pearl dengan Lorcan berkembang dengan cara yang tidak tergesa-gesa, tidak ada paksaan, tidak ada kontrak, hanya dua orang yang pelan-pelan belajar bagaimana caranya berada di ruangan yang sama tanpa membawa semua masa lalu itu masuk bersama mereka.

Lorcan masih hadir setiap pagi di kursi pojoknya.

Pearl masih berpura-pura tidak terlalu memperhatikan itu.

Tapi keduanya tahu.

**

Suatu sore, saat Pearl sedang memeriksa pembukuan di meja kecilnya di sudut belakang toko, lonceng pintu berdenting dengan cara yang berbeda dari biasanya terlalu keras, terlalu terburu-buru, seperti seseorang yang tidak terbiasa menunggu.

Pearl mengangkat kepalanya.

Seorang perempuan masuk.

Pakaian desainer yang mencolok. Kacamata hitam besar. Cara berjalan yang membawa serta keyakinan bahwa ruangan apa pun yang ia masuki otomatis menjadi miliknya.

Pearl tidak perlu melihat wajahnya untuk mengenalinya.

Aura itu sudah cukup.

Ia meletakkan penanya, menarik napas sekali, dan berdiri.

"Toko yang cukup bagus," suara Orla menggema di antara rak-rak roti, nadanya menyisipkan penghinaan yang sudah Pearl hafal sejak kecil. Kacamata hitamnya dilepas, matanya menyapu ruangan dengan pandangan seorang tamu yang menilai hotel bintang tiga. "Untuk ukuran seseorang yang lari ke Berlin."

Pearl berdiri di balik konter, mempertahankan jarak meja etalase di antara mereka.

"Apa yang kamu mau, Orla?"

"Langsung ke intinya." Orla tersenyum tipis. "Kamu selalu begitu. Tidak pernah bisa santai." Ia berjalan menyusuri etalase, jarinya hampir menyentuh kaca. "Aku melihat namamu di artikel tentang pengusaha muda di Berlin. Pearl's Bloom. Manis sekali. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi bagianku."

"Bagianmu," ulang Pearl datar.

"Ya."Orla menatapnya langsung. "Aku yang seharusnya menikahi Lorcan. Aku yang seharusnya mendapat semua fasilitas itu. Tapi kamu, entah bagaimana, berhasil memakai posisi itu untuk membangun hidupmu. Dan sekarang Lorcan mengejar kamu seperti orang yang kehilangan arah." Sudut bibirnya terangkat. "Aku ingin bagian dari itu. Dan aku ingin Lorcan kembali."

Pearl merasakan sesuatu bergerak di dadanya, bukan ketakutan, bukan juga amarah yang meledak. Sesuatu yang lebih dingin dan lebih stabil dari keduanya.

"Kamu sudah mengambil segalanya yang bisa kamu ambil dari keluargaku, Orla. Ayah. Nama. Tahun-tahun yang tidak bisa dikembalikan." Suaranya tidak naik. "Tidak ada lagi yang tersisa untukmu di sini."

"Oh, masih ada." Orla melangkah lebih dekat. "Lorcan. Dan bisnis kecilmu yang manis ini sebagai kompensasi atas semua yang aku korbankan dengan meninggalkan posisi itu untukmu."

Pearl hampir tertawa.

"Korbankan."

"Coba saja usir aku," potong Orla, nada suaranya berubah. "Aku bisa berteriak kepada semua pelangganmu bahwa pemilik toko ini adalah penipu yang mencuri identitas kakaknya untuk menikahi pria kaya. Mari kita lihat apakah bisnis mungilmu ini bisa bertahan setelah itu."

Lonceng pintu berdenting lagi.

Pearl tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk, langkah itu sudah cukup. Tapi ketika ia melihat Lorcan berdiri di ambang pintu dengan seikat bunga di tangannya, ekspresinya berubah dalam hitungan detik saat matanya menemukan Orla.

"Lorcan!" Orla berseru dengan nada yang dibuat-buat manis, bergerak cepat ke arahnya. "Kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu. Aku terjebak dalam situasi yang sangat buruk di luar negeri, itu semua demi keselamatan kita--"

Lorcan melangkah ke samping.

Satu langkah kecil yang membuat Orla kehilangan targetnya dan hampir tersandung.

Ia tidak menyentuhnya. Tidak menatapnya. Matanya langsung mencari Pearl di balik konter, memastikan, menilai, dengan ekspresi yang Pearl baru beberapa bulan belakangan mulai berani percayai.

"Pearl, apa dia menyakitimu?"

Pearl menggeleng pelan. "Dia hanya ingin uang. Seperti biasa."

Baru setelah itu Lorcan menoleh ke arah Orla.

Dan Pearl melihat perubahan itu, tatapan yang bergeser, menjadi sesuatu yang jauh dan dingin, jenis dingin yang dulu pernah membuat Pearl sendiri tidak bisa bernapas dengan benar.

"Orla" Suaranya rendah. "Kamu punya nyali yang luar biasa untuk muncul di sini."

"Lorcan, dengarkan aku--"

"Tidak ada yang perlu didengar." Ia memotong dengan cara yang tidak meninggalkan celah. "Setahun lalu aku mungkin masih bisa menghabiskan energi untuk marah padamu. Tapi sekarang, kamu bahkan tidak cukup berarti untuk itu."

"Aku istrimu yang asli!" suara Orla naik, frustrasi meretakkan lapisan manisnya. "Dia hanya pengganti!"

"Perempuan yang berdiri di sana," kata Lorcan, tanpa drama, tanpa nada tinggi, "Menanggung semua yang seharusnya tidak pernah ia tanggung. Dia membangun hidupnya sendiri dari awal, dengan tangannya sendiri, tanpa menipu siapa pun." Ia menatap Orla. "Kamu? Kamu hanya bagian dari masa lalu yang datang kembali karena mengira masih ada celah. Tidak ada."

Ia meraih ponselnya.

"Hubungi pihak berwenang," katanya singkat ke telepon. "Ada informasi tentang kasus pemerasan dan penipuan atas nama Orla. Pastikan ia tidak bisa meninggalkan kota sebelum ada tindakan lebih lanjut."

Wajah Orla berubah, warna meninggalkannya, digantikan oleh sesuatu yang akhirnya terlihat seperti ketakutan yang nyata, bukan yang dibuat-buat.

"Kamu akan menyesal--"

"Satu-satunya penyesalanku," potong Lorcan, "Adalah tidak mengenal Pearl lebih awal."

Orla memutar badannya dan keluar dengan langkah yang tidak lagi angkuh, terburu-buru, hampir lari, kacamata hitam besarnya kembali terpasang seolah bisa menyembunyikan dirinya dari apa pun yang menunggunya di luar.

Lonceng pintu berdenting untuk terakhir kalinya.

Sunyi.

Lorcan meletakkan buket bunganya di atas konter.

Ia mendekati Pearl, berdiri di depannya, dan memegang kedua bahunya dengan cara yang berbeda dari semua cara tangannya pernah memegang bahu Pearl sebelumnya, tidak mencengkeram, tidak menahan, hanya ada.

"Maafkan aku," katanya. "Masa laluku masih mengikuti kita."

Pearl menatap bunga itu sebentar, lili putih, aroma yang dulu terasa seperti duka di ruang rias yang megah itu, lalu menatap Lorcan.

Dan menyadari sesuatu.

Aroma yang sama, tapi ia tidak lagi merasa sesak karenanya.

"Ini bukan salahmu," kata Pearl. "Tapi terima kasih karena tidak membiarkannya menang."

Lorcan menariknya ke dalam pelukannya pelan, memberi ruang untuk Pearl memutuskan apakah ia mau atau tidak.

Pearl memilih untuk tidak mundur.

Ia membiarkan dirinya bersandar, hanya sebentar, hanya cukup untuk merasakan bahwa ini berbeda dari semua pelukan yang pernah ada di antara mereka sebelumnya. Bukan pelukan yang mengurung. Bukan pelukan yang mengendalikan.

Hanya hangat.

Di antara aroma roti dan lili putih, Pearl Rowan menyadari satu hal yang sudah lama tidak berani ia akui kepada dirinya sendiri.

Bayangan yang selama ini ia takuti ternyata tidak punya kuasa sebesar yang ia bayangkan.

Bukan karena Orla sudah pergi.

Tapi karena Pearl sudah tidak lagi menjadi orang yang sama dengan yang pernah berdiri ketakutan di balik bayangan itu.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!