Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 PASUKAN DUA DUNIA
Tiga hari berlalu bagaikan sekejap mata. Namun bagi setiap orang yang berjalan menuju kaki Gunung Roh Cemara, setiap detik terasa berat bagaikan berjalan di atas pisau tajam.
Langit di wilayah Shenying Shan tidak pernah cerah. Awan hitam tebal menggantung rendah, seolah menekan bumi. Suasana di udara terasa kental, penuh dengan aura membunuh yang bercampur aduk dari ribuan orang yang berkumpul.
Di satu sisi, di lereng barat yang berbatu tandus, berkumpullah Pasukan Aliansi Keadilan.
Mereka bukan pasukan kerajaan yang seragam dan rapi. Mereka adalah gabungan dari berbagai aliran bela diri, petarung jalanan, hingga petani yang memegang sabit dan garpu tala demi membela tanah air mereka. Namun, meski penampilan mereka beragam, mata mereka menyala dengan semangat yang sama.
Di barisan paling depan, berdiri Chen Fengyin.
Pemuda berusia dua puluh tahun itu mengenakan jubah putih yang disulam motif awan biru. Angin kencang menerpa tubuhnya, membuat kain jubahnya berkibar kencang bagaikan sayap burung raksasa. Di sebelah kirinya berdiri Lin Yuelan dengan pakaian tempur biru muda, tangannya sudah siap memanggil aliran air dari sungai di sekitar gunung. Di sebelah kanannya, Master Wei Chenghao berdiri dengan tongkat kayu tua yang kini bercahaya lembut, wajahnya penuh wibawa.
"Lihatlah ke seberang sana, Fengyin," kata Master Wei pelan, menunjuk ke arah lereng timur.
Di sana, di dataran yang lebih luas dan rata, pasukan Dinasti Wuji Chao telah membentuk formasi yang menakutkan.
Ribuan prajurit elit berdiri rapat bagaikan tembok besi. Mereka mengenakan baju zirah hitam mengkilap, membawa tombak dan pedang yang sama panjang. Di belakang mereka, berdiri para ahli bela diri tingkat tinggi dari Sekte Naga Hitam dengan aura yang gelap dan menyeramkan.
Dan di posisi paling tinggi, duduk di atas singgasana yang terbuat dari batu hitam, adalah sosok yang membuat jantung semua orang berdegup kencang.
Kaisar Di Xuancheng.
Dia tidak mengenakan baju perang, melainkan jubah kekaisaran berwarna kuning keemasan yang disulam naga sembilan cakar. Wajahnya tampak awet muda, namun matanya... matanya sedingin es dan sedalam lautan yang gelap. Di sampingnya, berdiri tegak Xie Wuyou dengan mata merah menyala, menatap ke arah Fengyin dengan penuh kebencian.
"Ini bukan sekadar perang, Fengyin," bisik Yuelan di sampingnya. Gadis itu bisa merasakan getaran energi yang begitu besar hingga membuat udara terasa panas. "Jumlah mereka tiga kali lipat lebih banyak dari kita. Dan energi mereka..."
"Energi mereka dipompa oleh ambisi dan ketakutan," potong Fengyin tenang. Ia tidak sedikit pun terguncang melihat jumlah musuh yang luar biasa itu. "Sedangkan energi kita... dipompa oleh kebenaran dan keinginan untuk melindungi. Jangan pernah ragukan api semangat, Yuelan. Api kecil bisa membakar hutan luas."
Tiba-tiba, suara genderang perang bergemuruh!
DUNG! DUNG! DUNG!
Suaranya bukan sekadar suara, melainkan gelombang suara yang dipadatkan dengan energi dalam, membuat tanah bergetar dan batu-batu kecil melompat-lompat. Ribuan prajurit Dinasti menghentakkan tombak mereka ke tanah serentak.
TRANG!
"HUAAAAAA!"
Terompet perang berbunyi nyaring, memecah langit.
"Pasukan Iblis sudah siap!" seru seorang jenderal musuh dengan suara menggelegar. "Kalian para pemberontak, berlututlah sebelum Kaisar Agung! Atau hancur bersama tanah ini!"
Suara ejekan dan teriakan intimidasi dari pasukan musuh meledak bagaikan ombak besar. Banyak anggota aliansi yang mulai gemetar, bukan karena takut mati, tapi karena tekanan mental yang begitu dahsyat.
Melihat hal itu, Fengyin melangkah maju selangkah. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.
Wushhh!
Tiba-tiba, angin bertiup kencang dari arah mereka. Angin itu bukan angin biasa, melainkan angin yang membawa aura membebaskan, meniup balik teriakan musuh hingga terdengar samar.
"Dengar aku, saudaraku!" Suara Fengyin tidak terlalu keras, namun menggunakan teknik pengiriman suara dengan energi, sehingga terdengar jelas di telinga setiap orang di pasukan aliansi, bahkan sampai ke telinga musuh.
"Mereka memiliki baju zirah yang tebal! Mereka memiliki jumlah yang banyak! Tapi apa yang mereka lindungi? Hanya ambisi buta seorang tiran! Hanya kekuasaan yang didapat dari darah dan air mata!"
Fengyin memutar tubuhnya, menatap teman-temannya.
"Kita mungkin sedikit! Kita mungkin tidak memiliki perbekalan mewah! Tapi kita berjuang untuk rumah kita! Untuk orang tua kita! Untuk anak-anak yang ingin hidup damai! Hari ini, kita bukan hanya bertarung untuk menang... kita bertarung untuk mengubah sejarah!"
"SEKARAT HIDUP, TETAP BERJAYA!!" teriak Fengyin dengan segenap tenaga.
"HUAAAAAA!!"
Semangat pasukan aliansi meledak! Ratusan bahkan ribuan suara berteriak serentak, menyatu menjadi satu raungan singa yang menantang langit. Ketakutan hilang seketika, digantikan oleh keberanian yang membara.
Di singgasana, Kaisar Xuancheng mengerutkan kening sedikit. Ia tidak menyangka bocah itu memiliki karisma sedemikian rupa.
"Omong kosong," desis Kaisar itu pelan. "Biarkan aksi yang berbicara."
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu menunjuk ke arah pasukan aliansi dengan jari telunjuk.
"Hancurkan mereka. Jangan biarkan satu pun hidup untuk menceritakan kisah kekalahan ini."
WUSH!
Seolah-olah baru saja mendapat izin dari neraka, pasukan depan Sekte Naga Hitam langsung bergerak.
"MAJU!!"
Ribuan prajurit berlari kencang. Tanah berguncang hebat bagaikan gempa bumi. Debu beterbangan menutupi pandangan, bercampur dengan aura hitam pekat yang dipancarkan pasukan musuh.
"SIAPKAN DIRI!!" teriak Master Wei Chenghao. "Formasi Lima Elemen! Lindungi pusat!"
Pertempuran besar pun dimulai!
TRANG!!!
Dua gelombang manusia itu bertabrakan dengan dahsyatnya. Suara benturan baja, teriakan perang, dan ledakan energi bergema menjadi satu simfoni kematian yang mengerikan namun megah.
Di mana-mana terjadi pertarungan sengit. Api meledak, air membentuk cambuk tajam, tanah menjelma menjadi duri-duri mematikan, dan angin menyayat kulit bagaikan pisau cukur.
Fengyin berdiri di tengah pusaran perang. Matanya menyapu medan perang dengan cepat. Ia melihat bagaimana pasukan musuh begitu terlatih dan kejam. Mereka tidak segan membunuh, dan teknik mereka sangat mematikan.
"Fengyin, kiri!" teriak Yuelan.
Syuut!
Tiga orang ahli elemen Api menyerang secara bersamaan, menembakkan bola api raksasa.
"Angin Pembalik!"
Fengyin mengibaskan tangannya. Sebuah pusaran angin terbentuk di depannya, membalikkan arah serangan api itu tepat ke arah penyerangnya sendiri.
DOR!
Ledakan terjadi, menghantam musuh-musuh itu hingga terpental.
"Kalian jaga sayap kanan dan kiri! Aku akan mencoba menerobos ke tengah!" perintah Fengyin.
"Pergi! Kami akan menahan mereka!" jawab para senior Cānglóng Pài serentak.
Fengyin mengangguk. Ia menendang tanah, tubuhnya melesat bagaikan anak panah. Ia tidak menggunakan pedang, hanya tangan kosong yang diselimuti energi Angin yang padat. Setiap kali ada yang menghalangi jalan, hanya dengan satu sentuhan atau satu tendangan, musuh-musuh itu terpental jauh, pingsan atau terluka parah.
Kecepatannya sekarang sudah mencapai level yang sulit dilihat mata telanjang. Ia bergerak di antara ribuan pasukan bagaikan hantu, meninggalkan jejak angin yang menumbangkan siapa saja yang mendekat.
Namun, pasukan musuh tidak main-main.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia mendekat ke Yang Mulia Kaisar!" teriak Komandan Hei Yao yang kini muncul dengan baju zirah baru.
Puluhan ahli tingkat atas langsung mengepung Fengyin. Mereka menyerang dengan kombinasi elemen Tanah dan Logam, menciptakan penjara besi dan tembok batu untuk menjebak pemuda itu.
"Yuelan! Sedikit bantuan!" teriak Fengyin.
Syuuuu...
Air muncul entah dari mana, membentuk naga air yang melilit dan menghancurkan tembok batu itu seketika. Yuelan muncul di samping Fengyin, napasnya sedikit memburu namun matanya tetap tajam.
"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," kata Yuelan cepat. "Pasukan kita mulai terdesak. Mereka menggunakan teknik pengorbanan diri untuk meningkatkan kekuatan!"
Fengyin menggeram kesal. Kaisar itu benar-benar kejam, membuang nyawa anak buahnya seenak jidat.
"Kalau begitu... kita percepat saja."
Fengyin menatap ke atas, ke arah singgasana di mana Di Xuancheng duduk dengan tenang seolah sedang menonton pertunjukan. Dan di depan singgasana itu, sosok Xie Wuyou sudah siap dengan senyum miring yang mengerikan.
"Xie Wuyou... Kaisar Tua... Tunggu aku."
"Serangan Gabungan: Badai Air Mengamuk!"
Fengyin dan Yuelan menggerakkan tangan mereka serentak. Angin bertiup kencang memutar air, membentuk tornado raksasa yang menyapu bersih musuh-musuh di depan mereka, membuka jalan lebar menuju puncak.
"Jalan sudah terbuka! Mari kita akhiri sandiwara ini!"
Medan perang semakin kacau. Api membubung tinggi ke langit, menodai awan hitam dengan warna kelabu. Pertarungan antara keadilan dan tirani telah mencapai puncaknya, dan hanya yang terkuat yang akan berdiri tegak di akhir pertempuran ini.
[ Bersambung... ]