NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka luar dalam 2

Tanpa berfikir lama. Tanpa peduli dengan aku yang tidak bisa berenang. Yang ku pikirkan hanyalah menolong sandrina.

Byurrr....

Aku sudah menyelami kolam berenang sedalam dua meter itu.

Mataku terus memejam karena perih.

Dimana sandrina....

"blubup blubup..."

Aku hampir kehabisan nafas. Namun tanganku masih belum menemukan keberadaan sandrina.

Badanku terus tenggelam ke dasar kolam. Aku tidak bisa berenang.

Kak Satya...

Dimana drina...

Tolong.... Aku sudah pengap.

JEDUK..

Seseorang yang mendorong punggungku keras.

lagi lagi dahiku menghantam pinggir kolam. Lebih perih dari yang tadi pagi. Kepalaku berdenyut bercampur perih...

Seseorang tolong..

Aku tidak tahu lagi, badanku terus menyusuri kebawah. persediaan nafasku hampir habis.

Aku tidak tahan lagi.

Kak Satya...

Nafas ku habis, kaki ku mulai keram.

Byur....

Lengan kokoh itu meraih pinggangku. Aku tidak tahu siapa, karena aku masih memejamkan mata.

"Ndra.... Kenapa kamu nyelam. Kamu kan tau ga bisa berenang."

Kak Satya yang menolongku. Aku tidak menjawab, yang ku fokuskan sekarang hanyalah bagaimana caranya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Dahiku masih berdenyut perih. Dah.. Ternyata berdarah.

"tim kes... tolong..!" Kak Satya berteriak.

Tangan kak Satya menekan dahiku, aku hanya terdiam. Badanku lemas melihat darah yang banyak sekali di kemeja kak Satya.

Beberapa tim kes datang menghampiriku. Kemudian mengecek luka di jidatku.

"aw.. Perih.."

"Sebentar ya mbak... Kita harus membersihkan lukanya terlebih dahulu". Ujar seorang perawat sambil mengorek ngorek luka di jidatku.

Kak Satya hanya terdiam dia bertugas memegang bahuku agar aku tidak banyak bergerak.

"Lukanya kecil, namun sedikit dalam. Tidak perlu di jahit. oh iya mbak. Sebelum tidur perbannya wajib di ganti ya". ucap seorang perawat perempuan berbadan gempal. Ia tersenyum ramah. Tangannya cekatan membereskan segala peralatan yang tadi digunakan.

"Mama.. Ndra..." drina berjalan menghampiriku. Ia memeluk erat.

"drina. Sayang..." aku balas memeluknya erat.

Aku bernafas lega kala mendapati drina yng baik baik saja.

"Drina di tolong pelatih" ujar kak Satya pelan di belakangku.

Aku di bantu kak Satya untuk berdiri, kemudian duduk di bangku sekitar kolam.

Kak Satya pergi untuk mengantar sandrina berganti baju. Aku sedikit celingukan, kepala masih sakit dan berdenyut. bajuku basah dan hawa dingin makin menusuk di tubuhku.

"Nih..." tangan kak Satya menyodorkan handuk kecil milik sandrina.

"Pake! baju kamu basah"

"Baju kak Satya juga basah" aku melirik kemejanya. Banyak bekas darah di bagian dadanya.

"Sementara pake handuk ini dulu ndra, di mobil ada jaket kamu bisa ganti pake itu".

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Drina menghampiriku dan menggenggam tanganku.

"Mama ndra... maafin drina ya." aku melihat bulir air mata di wajahnya.

"Bukan salah drina sayang..." aku mengusap pipinya pelan.

"Ayo. kita pulang"

***

Setelah berganti baju, aku sandrina dan kak Satya menikmati makan malam sederhana. Hanya nasi ayam suwir bikinan kak Satya. walaupun agak asin dikit tapi kami menikmatinya.

"Mama ndra. Papah... Drina langsung tidur ya ga kuat ngantuk."

Aku melirik kak Satya, karena izin yang paling utama adalah dari kak Satya.

"Boleh untuk malam ini saja, besok-besok drina harus belajar dulu sebelum tidur"

"Oke pah...." gadis itu ceria.

"jangan lupa gosok gigi dulu ya na" ucapku, yang seraya di respon dengan anggukan oleh sandrina.

Hening

Kini tinggalah aku dan kak Satya berdua.

"Tambah lagi kak?"

"Udah cukup" katanya seraya meneguk segelas air putih.

Aku membereskan bekas piring piring yang tadi digunakan, menumpuknya kemudian akan di cuci.

"Istirahat aja!" kak Satya mencekal pergelangan tanganku.

sebenarnya aku tidak enak, namun melihat tatapan kak Satya, aku memilih untuk pergi ke kamar.

Setelah di kamar.

Aku menyalakan televisi agar suasana kamar tidak terlalu hening. Aku memilih milih Chanel yang cocok. Namun sepertinya tidak ada. pada akhirnya aku meneruskan tontonanku yang sering tertunda.

Tidak lama.

Pintu kamar terbuka. Menampilkan pria berkaos navy berjalan menghampiriku dengan kotak p3k di tangannya.

Mataku tidak lepas darinya.

Sosoknya semakin dekat denganku. Kemudian menghempaskan bokongnya di kasur.

Tanpa banyak kata, ia mengeluarkan alkohol dan Betadine dan beberapa kain kasa.

"Aku bisa sendiri kok kak"

"yakin?" ucapnya seraya. Mulai membuka perban.

Perih mulai terasa. Aku harus menahannya menggigit bibir dan berpegangan pada pinggir kasur. Malu kalau harus menjerit di depan wajah kak Satya. Yang kini posisinya sangat dekat wajahku.

Bahkan hembusan nafasnya sangat terasa di wajahku. Hangat, tercium aroma mint menyegarkan. Sesekali aku mencuri pandang pada wajahnya.

Rahangnya yang tegas dan di tumbuhi bulu bulu jambang, hidungnya yang mancung, alis tebal dan rapi serta sorot mata yang tajam. wajahnya nyaris sempurna. Tidak heran sejak dulu kak Satya sudah menjadi incaran banyak wanita di sekolah maupun masa kuliah.

Sesekali tatapan kita bertemu, namun kak Satya cepat kembali fokus membersihkan luka ku.

Aku melihat bibirnya yang sedikit terbuka. tidak aku tidak boleh melihatnya, aku takut hilap.

Namun, benda kenyal di depanku itu terus menggodaku.

Dan.... Cup.

Singkat namun membuatku malu. Aku telah mencium bibirnya. Ah malu sekali.

Kak Satya menatap tajam ke arahku. rasanya aku ingin mengeluarkan wajahku. Mungkin wajahku sudah memerah karena menahan malu.

Aku membalas tatapan tajam itu. apakah di ashock?

Sesekali aku melihat jakunnya yang naik turun.

"Kak....".

Belum sempat aku menarik diri.

ia membalas

Hap....

Tanpa ku sangka, kak Satya membalas kecupanku. Jantungku berdebar tidak karuan.

Apakah ini saatnya?

Lengan kokohnya sudah mendorong tengkuk ku untuk lebih mendekat. Pagutannya cukup kuat.

Aku hampir kehabisan nafas. Namun ini candu.

Lenganku sudah melingkar di lehernya.

dengan perlahan kak Satya merebahkan tubuhku. Ciuman beralih pada setiap inci wajahku.

Jantungku makin berdebar tak karuan.

Aku menikmati setiap sentuhannya.

lengan kokohnya sudah berada di dadaku, memainkan dua benda kenyal. Rasanya geli. Namun, bikin nagih.

Satu persatu. Kancing bajuku mulai terbuka..

"Kak..." ucapku sangat pelan.

Dan saat itu...

Ia berhenti.

Seolah dia tersadar oleh panggilanku. Pria itu menghentikan aksinya. Di menatapku nanar, nafasnya yang memburu mereda dalam sekejap.

Kenapa?

"Maaf... Ndra" ucapnya seraya kembali mengancingkan piyamaku.

"Kenapa kak, kita sudah sah. Kita halal untuk melakukannya" ucapku, air mataku mulai berjatuhan.

"Ini belum saatnya" ucapnya seraya beranjak dari kasur.

"Ia sampai kapan kak?"

Dia sudah berdiri dan membelakangiku.

"Sampai rasa bersalah ini benar-benar hilang" ucapnya pelan namun aku masih bisa mendengarnya.

"Bersalah?, Raisya yang menyuruh kita menikah kak... Dia sudah bahagia di sana"

"Kak.. Kamu menganggap pernikahan ini permainan... "

"Bersabarlah Sandra!" ucapnya.

"Sampai kapan, kita hampir menikah setengah tahun kak, tapi kamu masih belum benar-benar menganggapku istri. bahkan hal kecil saja kamu melupakannya. Kak," jeda sedikit. "Bahkan cincin tanda pernikahan pun kamu melupakannya kak..".

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia pergi begitu saja meninggalkanku.

Tangisku mulai menjadi. Tidak tahan dengan kehidupan rumah tangga seperti ini.

Dukung terus novel pertamaku. Dengan like, komen, subscribe. Itu sangat berarti untuku. Terimakasih🙏🏻

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!