NovelToon NovelToon
LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗

Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.

Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.

Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.

Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalvin khawatir

Perlahan kelopak mata Safira mulai terbuka. Pandangannya mengedar, menilik penjuru ruangan yang terasa asing baginya.

Susah payah Safira berusaha untuk duduk, sebab ia merasa punggung dan lehernya begitu nyeri.

Secepat kilat ingatan Safira kembali saat ia tengah berada di tengah hutan. Dan kini ia tidak tahu berada di mana.

Safira mulai panik saat mengingat Kaluna. Wanita itu berteriak menyerukan nama sahabatnya.

“Lun... Luna...” Safira berusaha melepas jarum infus yang menempel di lengannya, sebelum aksinya terhenti karena kehadiran Nakara.

“Kamu apa-apaan sih, Fir?” protes Nakara seraya menahan tangan rekannya itu.

“Lettu Nakara? Lettu Nakara, di mana Kaluna?” tanya Safira panik. Sedikit demi sedikit ia mulai merangkai apa yang ada dalam bayangannya.

Mungkinkah telah terjadi sesuatu pada ia dan Kaluna? Apakah Yohanes dan teman-temannya sudah memperkosa mereka? Berbagai spekulasi bermunculan dalam benak Safira, membuatnya semakin panik tak karuan.

Safira bergegas turun dari ranjang perawatan, membuat Nakara dengan sigap menahannya. Pria itu memeluk tubuh Safira, guna menahannya tetap berada di sana.

“Jangan ke mana-mana, Fira! Kaluna baik-baik saja,” jelas Nakara kemudian.

“Bohong, Lettu bicara begitu hanya untuk menenangkan saya, kan? Pasti orang-orang itu telah melakukan sesuatu pada saya dan Kaluna, kan? Di mana Kaluna?” cecar Safira.

Air mata mengalir membasahi pipinya. Masih tergambar jelas ketegangan yang ia dan Kaluna rasakan tadi. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri setelah seseorang menghantam area tengkuknya dengan benda tumpul.

Nakara memejamkan mata. Nyatanya tidak semudah itu menenangkan Safira. Wanita itu terus saja memberontak, membuatnya tidak nyaman, sebab ia harus lebih mengeratkan pelukannya.

Nakara membaringkan Safira di atas ranjang. Ia berusaha menahan tubuh wanita mungil itu agar tetap tenang.

“Tolong tenang, Fira! Mereka tidak melakukan apa pun padamu. Jika kamu tidak mau diam, maka bisa jadi saya yang akan melakukan sesuatu,” ancam Nakara.

Safira tertegun. Di tengah kondisinya seperti ini, bisa-bisanya Nakara malah mengancamnya. Kini pria itu menatap tajam ke arahnya, membuat Safira mau tak mau diam seribu bahasa.

“Hufttt...” Nakara membuang napas secara perlahan, lantas kembali menatap Safira. Entah mengapa di saat seperti ini kepalanya malah membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.

Menyadari arah pandangan Nakara yang tertuju pada dadanya, membuat Safira menyilangkan kedua lengannya, menatap sengit pada Nakara.

“Memang kurang ajar,” maki Safira geram.

“Syuttt... jangan berisik, dan jangan terlalu PD,” ucap Nakara menginterupsi. Hampir saja ia mengatakan sesuatu yang akan membuat Safira syok. Untung saja mulutnya masih bisa menahan.

“Di mana Kaluna?” tanya Safira lagi.

“Ada di ruang sebelah, dia belum sadar. Jadi kamu jangan berisik!” tekan Nakara.

Buru-buru Safira bangkit lagi dari ranjang, membuat Nakara mengernyitkan dahi.

“Tetap di sini, Safira! Biarkan Kaluna istirahat. Nanti jika dia sudah sadar baru kamu ke sana. Lebih baik kamu memulihkan kondisimu dulu,” pinta Nakara.

Mau tidak mau akhirnya Safira menurut, kembali berbaring di atas ranjang tanpa memedulikan keberadaan Nakara.

Jujur, ia masih sangat takut jika telah terjadi sesuatu pada dirinya dan Kaluna. Sebab kini Kaluna belum sadar, padahal ia mengingat dengan jelas jika Kaluna masih berkelahi saat ia mulai kehilangan kesadaran.

Safira berusaha menggerak-gerakkan kakinya. Jika Yohanes dan teman-temannya memang telah melakukan sesuatu, seharusnya area intinya terasa nyeri. Namun Safira tidak merasakan apa pun.

...****************...

Sedangkan di ruangan lain, Kaluna masih terpejam. Wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata.

Beruntung mereka segera menemukan klinik terdekat. Meski kecil, namun klinik itu cukup untuk sementara merawat Kaluna dan Safira.

Dokter yang ada di klinik itu pun mengatakan jika kondisi Kaluna dan Safira baik-baik saja. Namun mereka harus melakukan rontgen dalam waktu dekat, sebab dokter itu khawatir keduanya mengalami retak pada tulang leher mereka.

Mungkin sekarang tidak terasa, namun dokter tidak menjamin kondisi keduanya beberapa tahun mendatang.

Maka dari itu dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh setelah keduanya sadar.

Dengan setia Kalvin duduk di samping Kaluna. Beberapa jam berlalu, namun tidak sekali pun ia berniat beranjak meninggalkan wanita itu.

Entah mengapa Kalvin merasa tak tenang jika belum melihat Kaluna sadar. Meski sering beradu pendapat, namun hati kecilnya tidak tega melihat keadaan Kaluna saat ini.

“Sadar, Luna. Aku yakin kamu kuat,” ucap Kalvin.

Tangannya terulur mengusap sudut bibir Kaluna yang terdapat bekas tamparan dengan sisa darah membeku di sudutnya.

“Ini pasti sakit banget ya?”

Terus saja pria tampan itu bicara seorang diri. Sikap yang sangat jauh dari karakternya selama ini. Belum pernah Kalvin perhatian, apalagi sampai sebegitu khawatirnya pada seorang wanita.

Hanya terhadap Kaluna lah Kalvin seperti itu. Dan ia pun tidak mengerti apa maksud perasaannya ini.

Kalvin terus menampik dan meyakinkan dirinya jika ia hanya tengah mengkhawatirkan anggotanya.

Kalvin menghela napas. Masih saja ia tak terima jika mengingat keadaan Kaluna dan Safira tadi. Andai masih ada kesempatan, ingin sekali Kalvin menghabisi pria-pria bajingan itu.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan menyadarkan Kalvin. Buru-buru ia menarik tangannya, lantas berbalik menatap arah pintu.

Terlihat Anton berdiri di ambang pintu dengan membawa handbag milik Kaluna dan Safira.

“Boleh saya masuk, Komandan?” izin Anton.

Kalvin hanya mengangguk, enggan membuka suara atau bertanya pada Anton. Karena jujur, ia masih sangat kesal dengan kelalaian pria itu.

Entah apa jadinya jika dia dan Nakara tidak tiba tepat waktu. Membayangkannya saja sudah membuat tangan Kalvin terkepal.

Bayangan Kaluna yang hampir ditelanjangi terus saja berputar dalam kepala Kalvin, membuat amarahnya naik ke ubun-ubun.

“Saya keluar sebentar, Ton,” pamit Kalvin kemudian.

Anton hanya mengangguk. Pria itu berganti duduk di tempat Kalvin tadi, memandangi Kaluna yang masih terpejam.

“Maafin aku, Kaluna. Seharusnya aku bisa lindungi kamu dan Safira. Seharusnya aku setia kawan dan ikut kalian turun,” sesal Anton.

Tidak ada yang bisa dilakukan selain menyesali waktu yang telah berlalu, meski terkadang tak sesuai yang diharapkan.

“Aku harap kamu segera sadar, Lun,” doa Anton tulus.

Kalvin duduk di kursi tunggu. Sialnya, jika memejamkan mata ia akan terbayang kondisi Kaluna.

Dan akhirnya Kalvin memutuskan tetap membuka mata, hingga ia dikejutkan dengan keberadaan Anton yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya.

“Komandan lelah ya?” tanya Anton lirih.

Kalvin menyipitkan mata. Entah apa tujuan Anton bertanya demikian. “Tidak,” jawabnya singkat, lantas kembali masuk ke dalam ruang rawat Kaluna.

Anton hanya bisa menghela napas. Akhirnya ia memutuskan menemui Safira di ruangannya.

Sedangkan Kalvin kembali duduk di kursi semula. Matanya begitu mengantuk, tubuhnya pun terasa lelah. Akhir-akhir ini jadwalnya begitu padat hingga tak ada waktu untuk beristirahat.

Kembali Kalvin menatap wajah cantik Kaluna yang tengah terpejam. Ia menggenggam lengannya, menilik luka memar di area pergelangan tangan Kaluna.

“Semoga kamu cepat sadar, Lun,” ucapnya seraya menggenggam tangan Kaluna.

Jarum jam menunjukkan angka delapan malam saat Kaluna membuka matanya.

Suasana di luar sudah terlihat gelap. Pandangan Kaluna mengedar. Ruangan bercat putih dengan pencahayaan temaram sedikit membuatnya kaget.

Keterkejutannya menghilang kala netranya menangkap keberadaan seseorang yang tengah menggenggam tangannya dengan erat.

Deg!

Sungguh keberadaannya di sana membuat degup jantung Kaluna berdebar, apalagi saat tangan itu digenggam dengan erat. Nampak pria itu tertidur pulas di sisi ranjangnya.

1
MayAyunda
keren 👍👍
Alfatia🌷
Udah mulai mau ngobrol sedikit lebih banyak nih yaaa🤣
Alfatia🌷
Gak bayangin kalau Kaluna tau itu calon iparnya, terus masih ngira Kalvin penyuka sesama jenis😭🤣
Laela Kurnia
bagus bgt 👌💯
Alfatia🌷
Udah senyum-senyum tipis nihh. Curiga lama-lama ngajak ketawa bareng🤣🤣
Alfatia🌷
Kalvin😭 aku aduin bapakmu loh.
Mutia Kim🍑: Jangan gitu kak, nanti Kalvin malah nggak mau balik ke Jakarta😭🤣
total 1 replies
Alfatia🌷
Kaluna, itu calon iparmu loh😭
Mutia Kim🍑: Kan dia nggak tau kak😆
total 1 replies
Alfatia🌷
Yang ngasih nama anaknya siapa😭 kenapa inisial nya ngikut bapaknya semua🤣
Mutia Kim🍑: Authornya😎
total 1 replies
Alfatia🌷
Anton nyari kesempatan banget🤣
Alfatia🌷
Kalvin😭 jangan gitu lah. Nanti malah kepincut loh😌
Alfatia🌷
Luna, dia anak camer mu lohh!!😭
Alfatia🌷
Kalvin kayak Bapaknya banget kayaknya, bodo amatan😭
Mutia Kim🍑: Bener. Dua anak laki-laki Kaivan itu sama persis kayak bapaknya yg anti cewek🥲
total 1 replies
Alfatia🌷
Ahhhh😭 sedih banget bawaannya kalau lihat Raynand🥹 sehat-sehat Om Duda tua❤
Alfatia🌷
Raynand pasti kehilangan banget ya, trauma juga. Makanannya butuh waktu lama buat izinin Kaluna😌
Alfatia🌷
Huwaaa... aku juga sedih Kirana jadi gak ada😭😭
Aril Chan
Sangat luar biasa
Alfatia🌷
Kevan ngikut jejak Bapaknya, kah🤣 jangan sampai pas masih pengantin ditinggal tugas juga🤣
Mutia Kim🍑: Tapi dia kan belum mau nikah, katanya mau PDKT dulu😆
total 1 replies
Alfatia🌷
Masih nyimak, tapi... ini Kirana sahabatnya Ravela, kan? Hah... dia gak lihat anaknya nikah dong😭🥹
Mutia Kim🍑: Iya Kirana meninggal 😭😭
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
keren terus semangat ya/Drool/
Mayraa_Tapaa
semangat ka, aku mampir ya💪
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!