NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 diskusi

Raut wajah sedu-sedan Han Ruo langsung membuat hati Yan Shong meleleh sekaligus dongkol. Pria itu menoleh tajam ke arah adiknya, Yan Ming.

"Yan Ming, dia ini kakak iparmu! Berani sekali kamu bicara tidak sopan begitu?" tegur Yan Shong dengan nada tidak senang.

Yan Ming hanya melirik malas lalu mendengus pelan. Dia benar-benar heran melihat kebodohan kakak sulungnya yang begitu gampang dikelabui oleh tangisan palsu Han Ruo.

Di mata Yan Ming, Han Ruo justru jauh lebih menyebalkan dibanding Nyonya Mu. Wanita itu selalu bertingkah anggun sok ningrat, padahal statusnya cuma istri petani di desa terpencil.

"Abah, ucapan Han Ruo ada benarnya. Si Nara itu sekarang beneran menyeramkan, mungkin ramalan Mbah Kusno kemarin memang terbukti," ujar Yan Shong, beralih menatap Kakek Yan.

"Abah, menurut Abah apa sebaiknya kita...?" Yan Shong menggantung kalimatnya, memberi isyarat kejam.

Kakek Yan mengisap dalam-dalam pipa tembakau di mulutnya, lalu menyipitkan mata menatap anak sulungnya.

"Lalu kamu mau apa? Benaran mau membakar dia sampai mati?" tanya Kakek Yan dingin.

"Dia itu darah dagingmu sendiri. Kalau kamu nekat berbuat sekejam itu, apa kamu tidak takut kena kutukan dan kualat seumur hidup?" skak Kakek Yan membuat Yan Shong terdiam.

Han Ruo yang mendengar itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia menundukkan kepala semakin dalam untuk menyembunyikan kilatan kecewa di matanya.

"Betul kata Abah, Mas. Mas Shong sudah punya dua istri, sementara aku sampai sekarang belum pernah dekat dengan wanita mana pun," timpal Yan Ming acuh tak acuh.

"Kalau sampai tersebar rumor kalau Kakak Sulung di keluarga ini tega membantai anak kandungnya sendiri, apa aku harus melajang seumur hidup karena tidak ada gadis yang mau?" cetus Yan Ming tajam.

Jika aib mengerikan itu sampai bocor, orang-orang luar mungkin akan menyebutnya sebagai tindakan tegas. Namun, kenyataannya hal itu pasti akan membuat warga desa ngeri dan menjaga jarak.

Keluarga mana yang sudi menyerahkan anak gadis mereka ke dalam rumah tangga yang berisi pembunuh?

"Kalau begitu, aku juga bakal jadi perawan tua seumur hidup dong?!" seru Yan Ling panik dari sudut ruangan. "Emak, aku tidak mau berakhir tragis begitu!"

Nenek Lou adalah orang yang paling sensitif jika sudah menyangkut masa depan kedua anak bungsunya itu. Mendengar kata melajang dan perawan tua seketika membuat hatinya bagai ditusuk belati.

Wajah tua Nenek Lou langsung mengeras. Dia menatap Yan Shong dengan pandangan menusuk.

"Shong! Apa kamu merasa reputasi keluarga kita sekarang masih kurang hancur, hah? Kenapa kamu malah sengaja memicu keributan di saat-saat genting seperti ini?!" bentak Nenek Lou dengan suara berat berwibawa.

"Kalau tindakan bodohmu sampai merusak prospek pernikahan Yan Ming dan Yan Ling, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu!" ancam Nenek Lou tanpa ampun.

Aksi Nara yang nekat memotong jarinya sendiri kemarin sudah menjadi bahan gunjingan hangat di Desa Wu, ditambah lagi dengan drama kedatangan Mbah Kusno.

Jika sekarang ditambah rumor baru kalau Yan Shong berniat melenyapkan anaknya sendiri, maka nama baik Keluarga Yan beneran akan hancur lebur sampai ke dasar tanah.

"Tapi, Mak," bantah Yan Shong yang merasa tidak terima dengan sikap pilih kasih ibunya. "Apa kita diam saja membiarkan anak pembawa sial itu melunjak dan menginjak harga diriku?!"

"Apa pun rencana yang ada di dalam kepalamu, tahan dulu sampai urusan pernikahan adik-adikmu selesai!" potong Nenek Lou tegas, tidak mau dibantah.

"Setelah mereka berdua resmi menikah, terserah kamu mau berbuat apa, aku tidak akan ikut campur. Intinya, untuk saat ini, tidak boleh ada masalah sekecil apa pun di rumah ini!" tegas Nenek Lou penuh otoritas.

Nenek Lou kemudian mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Han Ruo yang sejak tadi duduk merunduk.

"Han Ruo, kamu juga harus bisa menahan diri," tegur Nenek Lou dengan nada dingin yang menekan.

"Fokus saja mendidik Yan Ran dan anak-anakmu dengan benar. Jangan malah hobi memancing keributan di tempat lain. Siapa pun yang berani mengacaukan rencana pernikahan Yan Ming, tidak akan kulepaskan!" gertak Nenek Lou memperingatkan.

Tabiat Han Ruo sebenarnya jauh dari kata penurut jika dibandingkan dengan Nyonya Mu yang selalu pasrah. Seandainya dulu ayah Han Ruo bukan pemilik toko kelontong kecil di kota, Nenek Lou tidak akan pernah memberikan muka atau menghormati menantunya yang satu ini.

Di dalam rumah Keluarga Yan ini, Nenek Lou adalah pemegang kekuasaan tertinggi yang mutlak.

Dia sama sekali tidak berta ataupun tuli. Nenek Lou tahu persis seberapa banyak manipulasi dan hasutan yang sering dibisikkan Han Ruo di balik punggungnya, hanya saja selama ini dia memilih pura-pura tidak tahu demi menjaga kedamaian.

Mendengar teguran keras dari mertuanya, Han Ruo mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik kain bajunya, memendam rasa dongkol yang luar biasa.

Wanita tua bangka ini benar-benar bermuka dua. Waktu menerima uang hantaran dan hadiah mewah darinya dulu, sikapnya manis sekali, tapi sekarang malah berbalik menekannya.

Meskipun hatinya mengumpat kasar, Han Ruo tetap memasang wajah ketakutan yang polos di depan semua orang.

"Emak, mana mungkin aku berani berbuat begitu? Nyawa harus dibayar nyawa, Mas Shong juga pasti tidak akan tega melakukan hal sekejam itu pada anaknya sendiri," kilas Han Ruo dengan suara bergetar.

"Cuma... bukankah kemarin Mbah Kusno sempat bilang kalau kita bisa memakai cara sumpit untuk..."

"Yan Ning! Sedang apa kamu mengintip di situ, hah?!"

Belum sempat Han Ruo menyelesaikan siasatnya, suara teriakan melengking dari Yan Ran mendadak terdengar kencang dari balik jendela luar rumah utama.

Detik berikutnya, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari tunggang-langgang menjauhi area jendela, membuat seluruh orang di dalam ruangan seketika kompak mengernyitkan dahi.

"Yan Ning!" raung Yan Shong dengan urat leher menonjol, emosinya seketika beralih penuh kemurkaan.

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!