Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
BAB 25: KEPURA-PURAAN
"Kami berdua sama-sama berpura-pura. Dia berpura-pura menjadi istri yang lemah dan tertekan, aku berpura-pura menjadi suami yang polos dan percaya begitu saja. Di antara kami, terbentuk kesepakatan diam-diam: membiarkan orang ketiga itu merasa paling pintar, sementara kami saling mengirim pesan rahasia lewat setiap tatapan dan senyum yang dipaksakan."
Ruangan itu hening sejenak, hanya diisi oleh suara musik klasik yang masih mengalun pelan dari sudut ruangan, seolah menjadi latar belakang drama besar yang sedang dimainkan tiga manusia dengan niat yang saling bertentangan. Adrian duduk bersandar di sofa seberang, segelas minuman sudah dituangkan untuk setiap orang di atas meja kaca besar di tengah. Wajahnya tenang, senyumnya lebar dan ramah, namun matanya tak pernah berhenti mengawasi setiap gerakan, seolah ia adalah sutradara yang yakin penuh bahwa naskah drama ini berjalan persis sesuai keinginannya.
Di sebelah Arka, Claire duduk diam, kedua tangannya diletakkan di pangkuan, jari-jarinya saling mencengkeram erat. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa air mata, raut wajahnya campuran antara rasa bersalah, ketakutan, dan kelegaan yang dibuat-buat dengan sangat sempurna. Namun bagi Arka yang kini sudah tahu segalanya, kepura-puraan itu terlihat begitu jelas, meski bagi orang lain wanita itu tampak sebagai istri yang sedang terguncang oleh rahasia masa lalu yang berat.
"Silakan diminum, Pak Arka," ucap Adrian ramah, mengisyaratkan gelas berisi cairan keemasan di depan Arka. "Anggap saja sebagai penenang suasana. Saya tahu kedatangan Bapak di sini pasti menimbulkan banyak tanya, banyak rasa curiga. Dan saya mengerti sepenuhnya posisi Bapak. Sebagai suami, wajar sekali kalau merasa cemas, marah, atau bingung melihat istrinya merahasiakan sesuatu."
Arka mengangguk pelan, tangannya bergerak perlahan mendekati gelas itu namun tidak mengangkatnya. Ia menatap Adrian tepat di mata, dengan ekspresi bingung yang ia buat sedemikian rupa, persis seperti seorang suami yang hatinya sedang kacau balau antara rasa cinta dan rasa curiga.
"Memang saya bingung, Pak Adrian," jawab Arka dengan nada suara yang berat dan jujur—namun kejujuran itu hanya kulit luarnya saja. Di dalam hati, ia sedang menahan tawa pahit melihat betapa mudahnya membalas kepura-puraan dengan kepura-puraan lain. "Dua tahun kami menikah. Saya kira saya tahu segalanya tentang istri saya. Saya kira tidak ada rahasia di antara kami. Tapi ternyata... ada begitu banyak hal yang tidak saya ketahui. Ada teman lama seperti Bapak. Ada urusan warisan yang rumit. Ada tempat ini... tempat yang ternyata begitu akrab baginya, tapi asing bagi saya."
Arka menoleh ke arah Claire, menatap istrinya dengan tatapan sedih dan terluka yang mendalam. Tatapan yang konon bisa meluluhlantakkan hati wanita mana pun.
"Le... kenapa kamu tidak pernah cerita? Kamu pikir saya ini apa? Saya suamimu. Saya teman hidupmu. Kamu pikir saya tidak mampu memikul beban bersamamu? Kamu pikir saya akan menilai kamu buruk kalau tahu ada masalah berat dari masa lalu orang tuamu?"
Claire mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca kembali, bibirnya gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, menahan isak tangis yang seolah siap meledak kapan saja. Penampilan yang sangat meyakinkan. Bahkan Arka sendiri sempat terpaku sejenak, hampir saja terhanyut kembali ke dalam perasaan lama, lupa bahwa semua ini adalah akting.
"Maafkan aku, Mas... Maafkan aku..." bisik Claire lirih, suaranya pecah. Ia mengulurkan tangan gemetar menyentuh lengan Arka, sentuhan yang terasa dingin namun memohon pengertian. "Aku cuma... aku cuma malu. Dan takut. Takut Mas salah paham. Takut Mas berpikir aku wanita yang buruk, yang masih punya urusan berantakan, yang membawa masalah ke dalam hidup Mas. Aku ingin menjadi istri yang baik, yang bersih, yang tidak menyusahkan Mas sedikit pun. Itu sebabnya aku berusaha membereskan semuanya sendiri. Aku pikir aku bisa."
Claire menunduk kembali, bahunya berguncang pelan. "Tapi ternyata aku lemah, Mas. Aku tidak sanggup. Semakin aku berusaha sembunyikan, semakin rumit jadinya. Aku minta maaf ya... maafkan aku yang bodoh ini."
Di seberang meja, Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh simpati, wajahnya terlihat sangat tersentuh.
"Begitulah kelemahan Ibu Elena, Pak Arka. Dia terlalu baik. Dia terlalu memikirkan perasaan orang lain sampai-sampai dia menyakiti dirinya sendiri. Saya sudah berkali-kali menasihatinya, bilang bahwa Bapak adalah suami yang bijaksana, yang pasti akan mengerti dan mau membantu. Tapi dia keras kepala. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mandiri, dia bisa menjaga nama baik keluarganya, dia bisa menjaga kehormatannya di mata suaminya."
Adrian meneguk minumannya sedikit, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius dan meyakinkan.
"Dan sebenarnya, Pak... apa yang kami lakukan ini tidak salah. Tidak ada hal buruk. Tidak ada hal yang mencurigakan. Saya hanya membantu membereskan dokumen-dokumen peninggalan orang tuanya. Ada tanah yang batasnya tidak jelas, ada saham yang belum dicairkan, ada hutang-piutang lama. Semuanya butuh waktu, butuh kerahasiaan, butuh perjalanan ke sini ke sana. Itulah sebabnya Ibu Elena sering pergi, sering pulang telat, sering terlihat sibuk dengan hal yang tidak saya mengerti."
Adrian tersenyum pasrah.
"Kesalahan kami cuma satu: tidak jujur sejak awal. Kami takut Bapak akan menganggap kami berlebihan, atau menganggap urusan ini akan mengganggu kehidupan rumah tangga Bapak berdua. Itu saja, Pak. Tidak ada yang lain. Saya bersumpah."
Arka mendengarkan semuanya dengan wajah yang berubah-ubah. Kadang terlihat marah, kadang bingung, kadang mulai terlihat luluh dan mengerti. Padahal di dalam kepalanya, setiap kata yang keluar dari mulut Adrian dicatat, ditimbang, dan dibandingkan dengan apa yang didengarnya dari balik jendela tadi.
Tidak ada hal buruk? batin Arka mengejek. Kecuali pembunuhan, pencurian identitas, dan rencana meracuniku malam ini.
Namun di luar, Arka hanya menghela napas panjang, lalu perlahan mengangkat gelas di depannya. Ia menatap cairan bening di dalamnya, lalu menatap Claire yang tiba-tiba menegang hebat di sampingnya.
"Jadi... semua ini cuma karena urusan dokumen dan rasa gengsi?" tanya Arka pelan, seolah tidak percaya namun mulai mau menerima penjelasan itu.
"Benar sekali, Pak," jawab Adrian cepat, matanya berbinar puas melihat Arka mulai mengangkat gelas itu. "Hanya itu saja. Dan sekarang, karena Bapak sudah ada di sini, sudah tahu kebenarannya... semuanya selesai. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi ketakutan. Kita bertiga bisa bekerja sama membereskan sisanya. Dan nanti, Ibu Elena bisa kembali menjadi istri yang tenang, yang tidak perlu lagi bersembunyi atau menderita sendirian."
Arka mengangguk pelan. Ia mengarahkan gelas itu ke bibirnya, tapi berhenti tepat sebelum cairan itu menyentuh kulitnya. Ia menoleh ke arah Claire, menatap mata istrinya lekat-lekat.
Dan di sanalah pertunjukan kepura-puraan itu mencapai puncaknya.
Claire menatapnya kembali. Di matanya, ada ketakutan yang nyata—bukan takut ketahuan, tapi takut Arka benar-benar meminum cairan itu. Ada pesan yang teriak tanpa suara: Jangan minum, Mas! Itu racun! Itu yang aku simpan di sakuku! Jangan!
Namun di wajahnya, Claire tetap memasang ekspresi istri yang lega, yang senang akhirnya masalah selesai, yang tersenyum manis sambil berkata dengan suara lembut dan mendayu:
"Minumlah, Mas... Anggap saja tanda damai di antara kita. Maafkan aku ya sudah bikin Mas pusing dan sedih selama ini. Mulai sekarang, aku janji... tidak akan ada lagi rahasia di antara kita. Kita akan selalu bersama, apa pun yang terjadi."
Kata-kata itu terdengar indah, terdengar penuh janji setia. Tapi bagi Arka, kalimat terakhir itu adalah pesan paling jujur yang pernah diucapkan Claire malam ini. Kita akan selalu bersama, apa pun yang terjadi... baik itu selamat, atau sama-sama hancur.
Arka tersenyum balik. Senyum yang sama manisnya, senyum yang sama penuh makna gandanya.
"Terima kasih, Le," jawab Arka lembut. "Aku senang akhirnya semuanya jelas. Aku senang akhirnya kamu percaya padaku. Dan aku percaya padamu... sepenuhnya."
Arka memiringkan gelas itu sedikit, seolah hendak meneguknya, namun dengan gerakan cepat namun halus, ia sengaja menyenggol sisi gelas hingga sedikit cairan tumpah ke atas taplak meja.
"Ah, maaf..." ucap Arka santai, meletakkan gelas itu kembali ke meja. "Terlalu terharu sampai gemetar tanganku. Nanti saja aku minumnya. Biar aku nikmati dulu momen lega ini. Rasanya beban berat baru saja terangkat dari dada."
Adrian mengerutkan keningnya sedikit, kecewa namun tidak berani protes. Claire menghembuskan napas pelan, bahunya turun lega, namun raut wajahnya tetap terjaga dalam peran.
Di dalam ruangan itu, ketiganya diam sejenak, saling menatap dengan senyum yang terkembang di bibir, namun dengan kebencian, ketakutan, dan pengertian yang bergolak di dalam dada.
Mereka semua berpura-pura.
Adrian berpura-pura menjadi teman baik dan penasihat jujur.
Claire berpura-pura menjadi istri yang bersalah namun polos.
Dan Arka... Arka berpura-pura menjadi orang bodoh yang akhirnya percaya pada kebohongan paling besar seumur hidupnya.
Namun di balik kepura-puraan itu, ada satu hal yang berubah total.
Dulu, kepura-puraan hanya ada di antara Elena dan Arka, di mana satu berbohong dan satu lagi percaya.
Malam ini, kepura-puraan ada di antara mereka bertiga.
Dan di sini, di ruangan ini, Arka dan Claire diam-diam bersekutu. Bukan bersekutu dalam kejahatan, tapi bersekutu dalam permainan untuk menjatuhkan orang yang selama ini mengendalikan hidup mereka berdua.
Arka menatap Adrian dengan pandangan yang kini jauh lebih tajam.
"Pak Adrian..." ucap Arka pelan namun tegas. "Karena sekarang saya sudah tahu semuanya... saya ingin ikut serta. Saya ingin melihat dokumen-dokumen itu. Saya ingin tahu mana tanah, mana saham, mana hutang. Saya suaminya. Saya berhak tahu, dan saya berhak ikut mengurus. Mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan istri saya mengurus ini semua sendirian lagi. Dan saya tidak akan membiarkan dia bertemu Bapak sendirian lagi."
Adrian terdiam, senyumnya sedikit memudar. Ia menatap Arka dengan pandangan baru, pandangan yang mulai menyadari bahwa mungkin pria di depannya ini tidak sepolos yang ia kira.
"Te... tentu saja, Pak Arka. Itu hak Bapak sepenuhnya," jawab Adrian agak terpaksa.
Arka tersenyum puas. Senyum kemenangan yang nyata, bukan kepura-puraan lagi.
"Bagus. Kalau begitu... mari kita bicara serius. Dari awal sampai akhir. Tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Karena malam ini, saya ingin tahu... segalanya."
Dan di sebelahnya, Claire menundukkan wajahnya menyembunyikan kilatan air mata yang kali ini benar-benar tulus. Air mata haru, air mata lega, air mata karena tahu bahwa di ujung kepura-puraan yang panjang ini... ada cahaya kecil yang mulai menyelinap masuk.
Permainan kata telah berlalu.
Kepura-puraan sedang berjalan sepenuhnya.
Dan sekarang, saatnya masuk ke babak terakhir:
Membongkar semuanya, satu per satu, sampai ke akar yang paling dalam.
— BERSAMBUNG.......