Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Ketakutan yang Tidak Bisa Dijelaskan
Bab 19 — Ketakutan yang Tidak Bisa Dijelaskan
Asap hitam masih membumbung dari depan rumah kecil Nenek Hana.
Bau kayu terbakar bercampur dengan aroma darah dan mesiu memenuhi udara desa yang sebelumnya damai. Warga sekitar hanya berani melihat dari kejauhan dengan wajah ketakutan.
Tak ada yang berani mendekat.
Karena pria-pria bersenjata dan mayat yang tergeletak di sekitar rumah membuat suasana terasa seperti medan perang.
Amelia berdiri membeku di belakang Marco.
Tubuhnya gemetar hebat.
Tatapannya tidak bisa lepas dari Lorenzo Moretti.
Pria itu berdiri di tengah halaman dengan pistol di tangan, jas hitamnya penuh bercak darah, sementara tatapan abu-abunya terlihat sangat dingin.
Terlalu dingin.
Seolah membunuh orang hanyalah bagian biasa dari hidupnya.
Dan itu membuat Amelia takut.
Benar-benar takut.
Lorenzo perlahan berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Namun setiap langkah justru membuat Amelia semakin menegang.
“Amelia.”
Suara rendah pria itu terdengar pelan di tengah kekacauan.
Namun Amelia refleks mundur satu langkah.
Gerakan kecil itu membuat Lorenzo langsung berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya…
Lorenzo melihat ketakutan murni di mata Amelia.
Bukan gugup kecil seperti biasanya.
Bukan rasa takut biasa.
Tetapi ketakutan pada dirinya.
Hal itu membuat sesuatu terasa menekan di dada Lorenzo.
“Aku…” Amelia mencoba bicara, namun suaranya gemetar. “Aku ingin melihat nenek…”
Marco langsung mengerti situasi itu mulai buruk.
“Nenekmu aman,” ucapnya cepat. “Raka sedang membawa beliau menjauh dari sini.”
Amelia mengangguk pelan.
Namun tatapannya masih terus tertuju pada darah di tangan Lorenzo.
Darah yang bahkan belum sempat dibersihkan.
Lorenzo menyadari itu.
Pria tersebut perlahan menurunkan pistolnya lalu memberikannya pada Marco.
“Aku akan menyelesaikan sisanya.”
Marco langsung mengangguk.
“Baik, Bos.”
Namun sebelum Lorenzo sempat bicara lagi—
“Apa semua ini akan terus terjadi?”
Suara Amelia terdengar lirih.
Pria itu terdiam.
“Apa hidupmu selalu seperti ini…?” lanjut Amelia pelan. “Tembakan… darah… dan kematian…”
Sunyi.
Angin sore berhembus pelan di antara mereka.
Lalu Lorenzo akhirnya menjawab,
“Iya.”
Jawaban jujur itu justru membuat mata Amelia memanas.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar memahami betapa gelap kehidupan pria tersebut.
“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa hidup seperti ini…” bisik Amelia.
Tatapan Lorenzo sedikit berubah.
“Karena aku tidak punya pilihan.”
Kalimat itu membuat Amelia perlahan terdiam.
Ia ingin membenci dunia Lorenzo.
Namun saat melihat mata pria itu…
ia justru melihat kesepian yang sangat dalam.
Tak lama kemudian, suara sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan.
Marco langsung mengumpat pelan.
“Kita harus pergi sekarang.”
Lorenzo menatap Amelia beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Kau ikut denganku.”
Amelia menggigit bibir pelan.
Jujur…
saat ini dirinya sangat bingung.
Sebagian dari dirinya ingin menjauh dari Lorenzo.
Namun bagian lain justru takut meninggalkan pria itu sendirian dalam dunia gelapnya.
“Aku ingin bicara dengan nenek dulu,” ucap Amelia pelan.
Lorenzo mengangguk kecil.
Tak lama kemudian, Raka kembali bersama Nenek Hana yang terlihat sangat khawatir.
Begitu melihat Amelia baik-baik saja, wanita tua itu langsung memeluk cucunya erat.
“Syukurlah…”
Air mata Amelia kembali jatuh.
“Maaf, Nek…”
Nenek Hana mengusap rambut cucunya lembut.
“Kau tidak salah…”
Namun saat tatapan wanita tua itu beralih pada Lorenzo…
ekspresinya berubah sedih.
Ia akhirnya mengerti.
Bahaya yang mengikuti pria itu terlalu besar.
“Bawalah Amelia pergi dari sini,” ucap Nenek Hana pelan.
Amelia langsung menoleh kaget.
“Nenek?”
“Kalau dia tetap di desa…” suara Nenek Hana mulai bergetar, “orang-orang itu akan terus datang.”
Amelia menggenggam tangan neneknya erat.
“Tapi aku tidak ingin meninggalkan Nenek lagi…”
“Kau harus hidup.”
Kalimat itu membuat Amelia menangis semakin keras.
Sementara Lorenzo berdiri diam beberapa langkah dari mereka.
Entah kenapa…
pemandangan itu membuat dadanya terasa berat.
Karena dirinya sadar—
semua kekacauan ini terjadi akibat dunianya.
Raka yang berdiri di dekat pintu mengepalkan tangan kuat-kuat.
Ia benci harus mengakui ini…
tetapi Nenek Hana benar.
Selama Amelia dekat dengan Lorenzo, musuh-musuh pria itu akan terus memburunya.
Namun ironisnya…
satu-satunya tempat paling aman untuk Amelia juga berada di dekat Lorenzo sendiri.
“Aku akan menjaga Amelia,” ucap Lorenzo akhirnya.
Tatapan Raka langsung tajam.
“Dan apa kau yakin bisa melakukannya?”
“Aku selalu menepati janjiku.”
“Aku tidak percaya pada mafia.”
Suasana kembali menegang.
Namun kali ini Lorenzo tidak terpancing.
Tatapannya justru tetap tenang.
“Kalau aku ingin mencelakai Amelia,” ucap Lorenzo dingin, “aku tidak perlu mempertaruhkan nyawaku untuk melindunginya tadi.”
Raka langsung terdiam.
Karena ia tidak bisa membantah itu.
Tadi Lorenzo memang melindungi Amelia tanpa ragu sedikit pun.
Bahkan berdiri sendirian menghadapi puluhan orang bersenjata.
Sore itu akhirnya Amelia harus kembali ke Palermo.
Sebelum pergi, ia memeluk Nenek Hana erat sambil menangis.
“Aku akan kembali…”
Nenek Hana mengangguk sambil mengusap wajah cucunya.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Raka berdiri tidak jauh sambil memandang Amelia dengan wajah muram.
“Aku akan menghubungimu kalau ada apa-apa di desa,” ucapnya pelan.
“Terima kasih…”
Tatapan Raka lalu beralih pada Lorenzo.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak lagi melihat pria itu hanya sebagai monster.
Tetapi juga seseorang yang benar-benar berusaha melindungi Amelia.
Meski caranya sangat berbahaya.
Perjalanan kembali ke Palermo berlangsung sangat sunyi.
Amelia duduk dekat jendela mobil sambil terus melamun.
Sementara Lorenzo duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.
Marco yang berada di depan bahkan memilih diam karena bisa merasakan suasana aneh di antara mereka.
Beberapa kali Lorenzo melirik Amelia diam-diam.
Wajah gadis itu terlihat pucat dan lelah.
Matanya sembab karena menangis terlalu banyak.
Dan hal itu membuat Lorenzo merasa tidak nyaman.
“Amelia.”
Gadis itu perlahan menoleh.
“Apa?”
“Kau takut padaku sekarang?”
Pertanyaan itu membuat Amelia membeku.
Karena dirinya sendiri belum tahu jawabannya.
Ia takut pada dunia Lorenzo.
Takut melihat pria itu membunuh tanpa ragu.
Namun anehnya…
ia tidak bisa benar-benar takut pada Lorenzo sepenuhnya.
Karena pria itu juga yang terus melindunginya.
“Aku tidak tahu…” jawab Amelia jujur.
Tatapan Lorenzo sedikit turun.
Dan entah kenapa…
jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada peluru.
“Aku hanya…” Amelia menggenggam ujung bajunya pelan, “aku tidak terbiasa melihat semua itu…”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Lorenzo berkata pelan,
“Kau tidak perlu terbiasa.”
Amelia mengernyit kecil.
“Apa?”
“Dunia ini tidak pantas untukmu.”
Kalimat itu terdengar begitu jujur hingga membuat Amelia perlahan menatap Lorenzo lebih lama.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat kelelahan dalam mata pria tersebut.
Seolah Lorenzo sendiri membenci dunia tempatnya hidup.
Mobil akhirnya memasuki area mansion keluarga Moretti menjelang malam.
Begitu mereka turun, Clara langsung panik melihat pakaian Lorenzo penuh darah.
“Tuan Lorenzo!”
“Aku baik-baik saja.”
Namun Clara justru lebih terkejut melihat Amelia yang terlihat sangat diam.
“Nona Amelia…?”
Amelia hanya tersenyum kecil lemah.
“Aku lelah…”
Clara langsung mengerti ada sesuatu yang terjadi.
“Ayo, saya siapkan air hangat.”
Amelia mengangguk pelan lalu berjalan masuk ke mansion.
Namun sebelum naik tangga…
langkahnya perlahan berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Lorenzo masih berdiri di halaman mansion sambil berbicara dengan Marco mengenai urusan organisasi.
Tatapan pria itu kembali dingin seperti biasanya.
Seolah kelembutan kecil yang Amelia lihat sebelumnya tidak pernah ada.
Namun entah kenapa…
saat melihat Lorenzo seperti itu, hati Amelia justru terasa sesak.
Dan tanpa ia sadari…
ketakutan dalam dirinya perlahan mulai bercampur dengan perasaan lain yang jauh lebih rumit.