Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Hush Hush
"Semenjak dua jam yang lalu, hak akses serta legalitas kalian untuk memasuki seluruh area kediaman utama keluarga Darmawan telah resmi dicabut secara hukum."
"Apa?!" pekik Tania histeris. Wajahnya yang tadi tertutup bedak tebal mendadak berubah pucat pasi, bagai kehilangan seluruh pasokan darah. "Jangan membual banci kaleng! Apa kalian tidak tahu bicara dengan siapa?! Saya ini istri sah dari Charless Darmawan! Berani sekali kalian melarang saya masuk?!"
Tania kembali mencengkeram besi gerbang dengan amarah yang telah memuncak. Dengan semua kekuatan yang dimiliki, mengguncang besi kokoh itu.
Pengawal pingky itu semakin semangat menggoda dan menepuk bok0ng beberapa kali ke hadapan mereka. Setelah merasa puas melihat dua wanita di sana merah padam, salah satu mereka merogoh jas sempit yang dipakai, mengeluarkan sebuah dokumen berlogo resmi notaris keluarga Darmawan yang lama, lalu memperlihatkannya tepat di depan wajah Tania yang sedang panik.
"Sorry yeeeiiyy ... Rumah ini, beserta seluruh unit bisnis dan aset yang ada di dalamnya, milik Tuan Besar Charless Darmawan. Ente jangan sekate-kate mengikrarkan sembarangan, ye!" ucapnya menunjuk Tania, bibirnya meruncing mirip paruh
"Sejak pukul enam sore tadi, seluruh kuasa, pengawasan, serta kepemilikan aset telah dialihkan secara sah kepada pewaris tunggal keluarga ini, Tuan Arnoldy Darmawan," jawab pengawal itu dengan nada cemooh.
"Jadi, nyonya-nyonya sekalian, silakan angkat kaki dari sini, yeee! Hush ... Hush ... Nanti Tuan Besar malah nggak jadi sembuh kalau kalian di sini." Kedua tangannya melambai dengan lentik mengusir kedua ular itu bagai mengusir ayam yang numpang berak di rumah orang.
Mendengar nama Arnold diucapkan dengan begitu mutlak, raut wajah Tania menegang seketika.
"A-Arnold?" bisik Tania dengan bibir yang mendadak kelu.
"Ke-kenapa dia ke sini? Jangan-jangan wanita tua itu telah ... Ah, sial! Kenapa kita sampai lengah? Harusnya kita tak boleh percaya diri 100% dia tidak akan mungkin datang ke sini lagi. Bahkan, sampai merebut semua milik kita," rintihnya tersandar pada pagar.
Salah satu pria berbaju *pink* yang tadinya melenggok, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Sudut bibirnya terangkat, menampilkan seringai yang cukup mengerikan.
"Yei tau ga sih? Tuan Besar Charless udah nggak sekarat lagi, Nyonya Tua," ucapnya masih mengalun.
"Tadi, berkat Tuan Arnold, Beliau perlahan sembuh karena penanganan yang benar. Kalian gak takut dosa apa ya? Memanipulasi obat membuat Tuan Besar sampai tak sadarkan diri. Siap-siap deh, penjara itu menyeramkan, Ciyyn!"
Leticya memekik, wajahnya ikut pucat pasi hingga bedak tebalnya terlihat kontras dengan kulitnya yang mendingin. "Ma ... mereka tahu soal obat itu? Bagaimana ini?! Kita harus segera kabur!" Leticya mengguncang bahu Tania yang masih mematung bagai kehilangan kesadaran. "Ma! Sadar, Ma! Kita harus kabur sekarang juga?!"
Tania dengan tangan gemetar segera menyambar tasnya yang terjatuh di atas aspal, merogoh ponselnya dengan panik mencari penerbangan paling cepat. Dengan napas yang memburu, ia mencoba membayar dengan mobile banking miliknya.
Akses Ditolak. Silakan hubungi bank penyedia.
Rahang Tania mengeras. Firasat lain mulai menghantuinya. Ia pun mencoba kartu kredit limit tertingginya untuk memeriksa status. Ternyata, hasilnya diblokir total. Dan, di sana lah ia baru menyadari, seluruh kekayaan yang ia kumpulkan lewat kelicikan selama tiga puluh tahun ini, menguap begitu saja dalam hitungan jam.
"Harusnya anak itu kuhabisi saja!" desisnya penuh kebencian. Lalu, tatapannya beralih menghunus kedua pengawal utusan Arnold.
"Cepat buka gerbangnya! Kalian telah berbuat semena-mena! Saya ini istri si Tua Penyakitan itu!" teriaknya membabi buta, menendang-nendang bagian bawah gerbang besi dengan sepatu hak tingginya hingga salah satu hak sepatunya patah.
Ia terhuyung, penampilannya yang semula anggun dan berkelas kini terlihat kusut dan menyedihkan.
Kedua om pinky di dalam halaman hanya menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan mencemooh. "Hush... sudah dibilang jangan berisik, Tante. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami memanggil pihak kepolisian untuk menyerahkan bukti manipulasi medis yang kalian lakukan terhadap Tuan Besar," ucap salah satu dari mereka, kembali menggunakan nada cempreng yang mengejek sambil melambaikan tangan mengusir.
"Leticya... sebelum mereka yang melapor, kita harus lebih dahulu melaporkan mereka ... atau kita datangi kantor notaris Darmawan... Pak Anwar pasti tahu sesuatu!" racau Tania, suaranya parau mulai putus asa. Ia membalikkan badannya dengan pincang karena sepatu yang rusak, menyeret Leticya untuk kembali masuk ke dalam mobil sedan hitam mereka.
Di dalam mobil, Leticya langsung menangis histeris, memukul-mukul setir mobil dengan frustrasi. "Kita miskin, Ma? Kita tidak punya apa-apa lagi sekarang?! Bagaimana dengan rencana kita dengan Teddy?!"
Tania tersentak dan menegakkan badan. "Kita masih memiliki pion yang akan kita mainkan."
Krek
Krek
Terdengar suara pintu gerbang itu dibuka dari dalam membuat kedua ibu dan anak itu menegakkan kepala. Senyuman seketika menghiasi bibir Tania.
"Nah, kalian? Ternyata kalian sedang mengerjai kami, ya?" Tania dan Leticya keluar dari mobil menyambut kehadiran dua pria setengah jadi itu.
Namun, dengan lenggokan, salah satunya seolah tak peduli dan membuak pintu kendaraan tanpa permisi. Dengan cekatan, ia menarik kunci mobil menutupnya.
Klik
Terdengar suara mobil itu terkunci membuat ibu dan anak itu melongo tak berkedip. Sedangkan dua pria pinky tersebut lari terbirit-birit kembali masuk ke dalam gerbang.
Tania dan Leticya sadar, mereka tal bisa masuk ke dalam mobil. Dan di saat kesadaran itu datang, pagar kokoh itu kembali terkunci.
"Apa yang kalian lakukan? Kembalikan kuncinya sialan!"
...****************...
Setelah memastikan seluruh urusan pemblokiran aset Tania berjalan tanpa ada satu pun yang tertinggal, Arnold memerintahkan para lekong tobat itu untuk menjaga rumah dari dua manusia yang berbisa itu. Setelah itu, ia memutuskan kembali ke penthouse, karena Lova dan ibunya telah duluan pulang bersama Dev.
Namun, perjalanan pulang kali ini diselimuti keheningan yang pekat. Arnold hanya diam menatap jalanan dengan rahang mengeras, menaiki motor yang dibawa oleh Dev tadi.
Begitu melangkah masuk ke dalam penthouse, suasana sunyi langsung menyambutnya. Hanya terdengar bisikan antara Lova dan ibunya di dalam kamar.
Arnold menyusuri ruangan menuju ruang tengah. Namun, baru beberapa langkah melewati sofa, gerakan pria itu tiba-tiba melambat. Langkahnya tampak goyah, tidak lagi tegas seperti beberapa jam yang lalu. Tangan Arnold memegang kedua pelipisnya, pandangan mulai kabur, dan ...
Bruk!
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣