Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yiwa kerasukan
Malam itu, suasana rumah setelah makan malam terasa sangat santai. Di dapur, Nara baru saja meletakkan gelas yang sudah di cucinya ke atas rak. Pria itu berjalan kembali ke ruang tengah dengan pembawaan yang tenang seperti biasanya, berwibawa tapi selalu penuh perhatian.
Langkah kakinya mendadak terhenti begitu melihat ke arah ruang tengah.
Di sana, Yiwa duduk dengan posisi yang sangat kaku, mirip boneka pajangan. Kedua tangannya ditaruh di atas lutut, wajahnya lurus menatap televisi yang menayangkan kartun anak-anak, dan senyumnya lebar sekali.
Mungkin bagi orang lain itu adalah hal biasa, tapi tidak untuk Nara. Karena Nara punya kepekaan yang cukup tinggi. Dia berjalan mendekat.
"Yiwa?"
Tidak ada jawaban. Yiwa masih bergeming dengan senyum aneh itu.
Nara meraih jemari Yiwa, terasa agak dingin. "Kamu kenapa?"
Tiba-tiba, kepala Yiwa bergerak patah-patah ke atas. Begitu sepasang mata mereka bertemu, Nara langsung sadar ada yang berbeda. Sorot mata dewasa dan cerdas milik Yiwa hilang, digantikan oleh binar mata yang bulat, polos, dan sangat kekanak-kanakan.
Puk! Puk!
Yiwa tiba-tiba menjulurkan kedua tangannya dan menepuk-nepuk pipi Nara dengan gemas.
"Ayah! Gendong!" seru Yiwa. Suaranya berubah jadi agak cempreng, melengking tinggi, dan sedikit cadel.
Nara berkedip beberapa kali, mencoba mencerna situasi dengan kepala dingin. "Ayah?"
"Ihh, Ayah pelit! Ndak mau gendong Adek!" Yiwa langsung cemberut. Kedua kakinya mulai dihentak-hentakkan ke lantai karpet.
Dug! Dug! Dug!
"Mau gendong, Ayah! Gendong!"
Nara mengusap rambut Yiwa dengan sabar. Dalam sekejap Nara langsung menyadari bahwa yang sekarang di dalam tubuh istrinya adalah roh anak-anak.
Ia pun mencoba menenangkan balita yang sedang meminjam raga Yiwa itu. "Iya, iya, nanti Ayah gendong. Tapi duduk yang baik dulu, ya. Sekarang Ayah mau tanya, Adek umur berapa?"
Roh di dalam tubuh Yiwa itu langsung mendongak. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, mencoba memamerkan jari-jarinya. Jari telunjuk dan jari tengahnya berdiri tegak, sementara jari manisnya ditekuk setengah dengan muka yang dibuat sefokus mungkin.
"Dua... t'ngah! Dua t'ngah taun!" serunya dengan nada sangat bangga.
Nara menahan senyum tipisnya. "Oh, dua setengah tahun. Pantesan bicaranya masih lucu. Terus, Tante yang punya badan ini ke mana?"
"Mama lagi bobo di dalem," jawab anak itu sambil menepuk dadanya sendiri. "Adek kangen Mama, makanya Adek main ke sini!"
"Adek namanya siapa?"
"Tidak punya. Adek anak Mama." Tangan Yiwa kembali menepuk dadanya sendiri.
Belum sempat Nara membalas, atmosfer di ruang tengah mendadak berubah. Angin dingin berembus agak kencang dari arah jendela, membawa aroma hutan yang pekat. Di dekat rak buku, asap putihu memadat dengan cepat dan memunculkan sosok Mregapati.
Siluman harimau itu muncul dalam wujud manusianya—pria tinggi tegap berwajah tampan, lengkap dengan jubah bulu tebal motif harimau putih yang tersampir di pundaknya.
"Raden," Mregapati bersuara, nadanya rendah penuh hormat. "Ada roh penyusup yang lancang memakai raga Yiwa. Izinkan aku menyeretnya keluar sekarang juga. mungkin akan ku beri pelajaran roh kecil ini." Mregapati menatap sengit pada roh yang mendiami tubuh Yiwa.
Nara hanya mengangkat satu tangannya pelan, memberi isyarat agar Mregapati tidak bertindak gegabah. "Tidak perlu, Mregapati. Dia cuma hantu anak kecil, usianya baru dua setengah tahun."
"Tapi Raden, dia telah—"
"Wah!!! Mpuss!!!"
Kalimat Mregapati terputus total. Roh anak kecil di dalam tubuh Yiwa tiba-tiba menjerit heboh. Matanya melotot lebar, berbinar-binar penuh kelaparan akan mainan baru begitu melihat jubah bulu yang dipakai Mregapati. Rasa takut sama sekali tidak ada di wajahnya.
"Mpuss gedeee! Ada mpuss belang-belang putih!" Suara Yiwa terdengar seperti suara anak kecil yang kegirangan.
Tanpa memedulikan wajah garang Mregapati, tubuh Yiwa langsung melompat dari sofa. Dengan gaya berjalan yang agak terhuyung-huyung, sedikit jinjit, dan canggung khas balita, dia berlari kecil menerjang ke arah jubah yang di pakai Mregapati.
Nara langsung bangkit berdiri untuk berjaga-jaga di belakang tubuh istrinya.
Grep!
Yiwa sukses melakukan tackle maut. Dia langsung memeluk erat bagian bawah jubah bulu Mregapati, lalu duduk bersimpuh di lantai karpet.
"Halus banget! Mpuss-nya empuk, anget!" Anak itu tertawa cekikikan sambil menggosok-gosokkan pipi Yiwa ke bulu putih jubah tersebut. Jari-jari lentiknya mulai sibuk meraba-raba motif garis hitam di sana. "Adek mau main sama mpuss!"
Mregapati seketika kaku bak patung batu. Siluman harimau yang biasanya ditakuti makhluk halus itu kini melongo dengan ekspresi luar biasa canggung. Dia menoleh perlahan ke arah Nara dengan tatapan minta tolong.
"Raden Nara... apa-apaan ini? Kenapa dia tidak takut padaku? Dia... dia meraba-raba jubah kesaktianku seperti keset."
Nara tidak bisa menahan tawa ringannya melihat pemandangan langka tersebut. "Sudah kubilang, di matanya kamu itu bukan siluman harimau yang menyeramkan, Mregapati. Kamu cuma kucing raksasa yang lucu."
"Hamba adalah harimau gaib, Raden! Bukan mainan balita!" protes Mregapati dengan suara berbisik, mencoba menarik ujung jubahnya pelan-pelan.
Tapi begitu jubahnya bergeser sedikit, roh anak kecil itu langsung merengek melengking. Wajah Yiwa ditekuk, matanya mulai berkaca-kaca siap menangis tantrum. "Ndak mau! Punya Adek! Jangan diambil mpuss-nya! Ayah... om galak ini mau ambil mpuss Adek! Usir, Ayah, usiiir!"
Melihat mata Yiwa yang mulai berkaca-kaca, naluri perhatian Nara langsung keluar. Dia menatap Mregapati dengan pandangan tegas yang tidak menerima bantahan. "Mregapati, jangan bikin dia menangis pakai mata istriku. Lepaskan jubahmu."
Mregapati tertegun. "Istriku?" lalu menghembuskan napas pelan. "Astaga, Raden? Melepas jubahku? Tapi ini—"
"Lepaskan saja, berikan padanya," titah Nara, santai tapi penuh wibawa.
Mregapati menghela napas pasrah. Dengan harga diri yang agak runtuh, dia melepas ikatan tali di lehernya dan membiarkan jubah bulu putih itu jatuh sepenuhnya ke lantai, membungkus tubuh Yiwa.
Begitu jubah itu lepas, roh anak kecil itu langsung berhenti merengek. Dia tertawa riang, memeluk gumpalan bulu tebal itu seperti guling raksasa. Efek magis yang hangat dan menenangkan dari jubah tersebut rupanya membuat energi anak kecil itu perlahan habis. Kelopak mata Yiwa mulai berkedip lambat, mengantuk karena kelelahan bermain.
"Anget... Adek mau bobo sama mpuss..." gumam anak itu dengan suara yang semakin mengecil, sebelum akhirnya kedua matanya terpejam sepenuhnya.
Tubuh Yiwa terkulai lemas, tertidur pulas di atas lantai dalam balutan jubah.
"Kamu tahu kenapa aku tidak mengusirnya, Mregapati?" tanya Nara
Mregapati menggeleng. "Ada apa, Raden?"
Nara melihat Yiwa lekat-lekat. "Karena roh anak kecil ini memiliki tali merah yang mengikat di pergelangan tangannya. Dan ujung tali itu terikat pada pergelangan tangan Yiwa."
Mregapati tidak menyela,
"Dulu aku memang sempat melihat sekilas ada tali merah di pergelangan tangan Yiwa, tapi semakin lama semakin memudar dan hilang. Sekarang tali itu semakin terlihat jelas. Bagaimana menurutmu, Mregapati? "
"Secara tidak langsung anak ini ada hubungannya dengan Yiwa?"
"Kau ingat aku pernah bilang bahwa ada suara anak kecil yang memintaku menyelamatkan Yiwa saat itu? roh inilah yang melakukannya."
"Mungkin sebaiknya setelah Yiwa sadar, Raden harus menanyakannya pelan-pelan."
"Ada beberapa hal yang akan sulit di ceritakan, jika memang terlalu menyakitkan, Mregapati."
Nara segera bergerak. Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, dia menyelipkan kedua tangannya di bawah tubuh Yiwa, mengangkat istrinya ke dalam gendongan yang kokoh. Jubah bulu milik Mregapati dibiarkan tetap membungkus tubuh Yiwa seperti selimut tebal.
Nara menatap Mregapati yang kini berdiri tanpa jubah kebesarannya. "Terima kasih, Mregapati. Kamu boleh kembali beristirahat."
Mregapati membungkuk hormat, meski wajahnya masih kelihatan sedikit dongkol. "Sudah menjadi kewajibanku, Raden. Kalau begitu aku pamit." Sosok Mregapati pun memudar dan kembali ke tempatnya yang tidak lain di kamar tamu.
Nara kemudian melangkah perlahan menuju kamar tidur, membawa Yiwa yang masih terlelap nyaman. Dengan gerakan yang sangat lembut, Nara membaringkan tubuh istrinya di atas kasur.
Dia merapikan jubah bulu harimau putih yang membungkus Yiwa, memastikannya benar-benar hangat.
Nara ikut berbaring di sampingnya. Tangannya terulur untuk mengusap kening Yiwa, menyingkirkan beberapa helai rambut yang berantakan.
"Tidurlah yang nyenyak," bisik Nara lembut. Dia mendaratkan kecukan hangat di kening Yiwa, lalu ikut memejamkan mata sambil memeluk Yiwa erat di dalam kehangatan jubah milik Mregapati.
...♡Bersambung ♡...
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile saya. Terima kasih /Smirk/