Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Skakmat Sang Ratu dan Reuni di Balik Jeruji
Video yang diputar di layar proyektor raksasa ruang kerjaku itu tidak memiliki kualitas resolusi tinggi, namun isinya lebih dari cukup untuk mencabut nyawa karier seorang Haris Mulyadi.
Itu adalah rekaman tangkapan layar ( screen-record ) dari laptop pribadi Haris sendiri, yang diam-diam direkam oleh Bumi melalui backdoor yang ia tanam beberapa hari lalu.
Di dalam video itu, tampak Haris sedang melakukan panggilan video dengan seorang wanita muda yang berpakaian sangat minim—simpanan rahasianya yang selama ini ia sembunyikan dari istri sahnya.
"Sayang, kamu tenang saja," suara Haris dari dalam video itu terdengar jemawa, disusul tawa serakah yang memuakkan. "Bulan depan kita pindah ke apartemen baru di Senopati. Janda sombong itu sudah tamat. Aku baru saja memalsukan rekam medisnya dan menandatangani surat penahanan untuk suami miskinnya itu. Rendra mentransfer lima puluh miliar ke rekening rahasiaku di Cayman Island sebagai bonus."
Lalu, di layar video itu, Haris dengan bangga membuka tab browser-nya, memamerkan saldo rekening luar negerinya yang fantastis kepada si wanita.
Namun, di detik berikutnya dalam rekaman itu, layar Haris tiba-tiba glitch (berkedip rusak). Angka saldo lima puluh miliar rupiah itu bergulir mundur dengan kecepatan kilat, menyusut, hingga akhirnya berhenti pada angka: Rp. 0,00.
Sebuah kotak dialog hitam muncul di tengah layar video dengan tulisan merah menyala:
[UANG KOTOR INI KAMI SITA SEBAGAI JAMINAN. SENTUH ISTRIKU, DAN BUKAN HANYA UANG INI YANG LENYAP, TAPI SELURUH HIDUPMU. – B.A]
Video berakhir. Layar proyektor kembali menjadi hitam.
Kini, satu-satunya suara di ruangan itu hanyalah napas Haris yang memburu layaknya orang yang terkena serangan asma. Pria buncit itu terjerembap di atas karpet, wajahnya sepucat kertas HVS. Keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya hingga kerah kemejanya basah kuyup.
Dua orang kroni direksi yang berdiri di belakangnya perlahan melangkah mundur, menjauh dari Haris seolah pria itu baru saja divonis mengidap wabah mematikan.
Aku berdiri tegap di balik meja, menatap Haris dengan kedinginan yang bisa membekukan lautan. Suamiku benar-benar jenius. Bumi tidak hanya menyelamatkan delapan puluh miliar uangku; dalam waktu tiga jam yang sempit semalam, pria itu sempat meretas balik rekening rahasia Haris dan menguras habis uang suapnya.
"Kau..." Haris menunjuk layar dengan jari gemetar hebat. "Kalian meretas rekeningku! Itu kejahatan siber! Aku bisa memenjarakan kalian berdua!"
Aku tertawa. Sebuah tawa renyah yang sarkastis, bergema menakutkan di ruang kedap suara itu.
"Laporkan saja, Haris," tantangku, mencondongkan tubuhku ke depan, menumpukan kedua tanganku di atas meja kayu jati itu. "Silakan lapor polisi bahwa ada peretas yang mencuri lima puluh miliar uang dari rekening luar negerimu yang tidak terdaftar di laporan pajakamu. Uang yang kau dapatkan dari Rendra Daniswara sebagai imbalan memalsukan audit perusahaan dan menyewa pembunuh bayaran untuk menyerang keluargaku."
Aku memiringkan kepalaku, menatapnya seperti menatap seekor kecoak yang siap kuinjak. "Pertanyaannya, siapa yang akan dipenjara lebih lama? Suamiku yang meretas uang tak bertuan, atau kau... yang akan dijerat pasal pencucian uang, penggelapan pajak, pemalsuan dokumen korporat, dan percobaan pembunuhan berencana?"
Haris menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan air. Ia menyadari posisinya. Ia berada di dasar jurang, dan aku yang memegang tali satu-satunya.
"A-apa yang kau inginkan, Aruna?" bisiknya parau, seluruh sisa arogansinya menguap tanpa sisa.
Aku menegakkan tubuhku, membetulkan letak jas merahku dengan elegan.
"Pertama, tarik laporan kepolisianmu terhadap Bumi Arkan detik ini juga," perintahku dengan nada mutlak. "Telepon Direktur Bareskrim. Katakan padanya bahwa transfer delapan puluh miliar itu adalah instruksi resmi dariku untuk mengamankan aset perusahaan dari serangan peretas asing, dan Bumi hanya menjalankan tugasku. Katakan bahwa ini adalah kesalahpahaman internal, dan kau mencabut semua tuntutan."
Haris ragu sejenak. "J-jika aku mencabutnya, Rendra akan membunuhku."
"Dan jika kau tidak mencabutnya," aku mengangkat flash disk hitam itu, mengayunkannya pelan di udara, "video ini akan berada di meja kerja istrimu, di seluruh grup WhatsApp direksi, dan di meja redaksi stasiun TV nasional dalam waktu sepuluh menit. Kau tidak akan dibunuh Rendra, kau akan membusuk di penjara dengan status miskin dan diceraikan. Pilih mana?"
Tubuh Haris bergetar hebat. Keputusasaan menelan sisa logikanya. Dengan tangan gemetar yang menyedihkan, ia merogoh ponsel di saku jasnya, mencari kontak perwira kepolisian yang ia suap semalam, lalu menekan tombol panggil.
Aku berdiri dalam diam, mendengarkan setiap kebohongan yang keluar dari mulut Haris, saat ia menjelaskan kesalahpahaman itu kepada pihak kepolisian. Haris memohon agar Bumi dibebaskan segera tanpa syarat.
Begitu panggilan itu ditutup, Haris menatapku dengan mata memerah. "Sudah. Sudah kulakukan. Tuntutan dicabut. Berikan flash disk itu padaku."
"Kedua," lanjutku dingin, mengabaikan permintaannya. "Kemasi barang-barangmu dari ruanganku sekarang. Surat pengunduran dirimu secara permanen karena alasan kesehatan harus sudah ada di mejaku sebelum makan siang. Kau tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di lantai eksekutif ini, Haris. Paham?"
Haris mengangguk cepat, pasrah. Pria itu bangkit berdiri dengan susah payah, menyeret langkahnya keluar dari ruanganku tanpa berani menatap mataku lagi. Kedua kroninya berlari mengikutinya dari belakang seperti anjing yang ketakutan.
Begitu pintu ruanganku kembali tertutup, keheningan menyelimutiku.
Zirah merah darah yang kukenakan seolah mencair. Kakiku mendadak lemas. Aku berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh. Napasku terengah-engah.
Aku berhasil. Perusahaan kembali ke tanganku, dan tuntutan terhadap Bumi dibatalkan. Bumi-ku membekaliku dengan senjata yang sempurna.
"Nyonya Aruna," Garda melangkah mendekat, suaranya dipenuhi rasa hormat yang mendalam. "Lantai ini sudah berhasil kita amankan kembali. Apa instruksi Anda selanjutnya?"
Aku menatap Garda. Air mata yang sejak tadi kutahan dengan kekuatan baja, akhirnya menggenang di pelupuk mataku.
"Siapkan mobil, Garda," bisikku, suaraku bergetar menahan rindu dan rasa bersalah yang menggunung. "Kita jemput suamiku."
Aroma khas kantor kepolisian—campuran antara debu basah, keringat, dan asap rokok yang menempel di dinding—langsung menyergap indra penciumanku saat aku melangkah memasuki lobi Markas Bareskrim Polri.
Penampilanku yang mencolok dengan jas merah menyala dan kacamata hitam membuat beberapa petugas yang berjaga langsung menoleh. Garda dan satu pengawalku berjalan di belakangku, membukakan jalan menuju meja petugas jaga.
"Saya Aruna Wiratmadja. Saya datang untuk menjemput suami saya, Bumi Arkan. Laporannya sudah dicabut setengah jam yang lalu," ucapku tegas pada petugas berpangkat Briptu di balik meja kaca.
Petugas itu mengecek komputernya sejenak, lalu mengangguk sopan. "Benar, Ibu Aruna. Berkas pencabutan laporannya baru saja diproses oleh atasan kami. Silakan ikuti saya ke area tahanan sementara."
Jantungku berdetak menyakitkan saat aku mengikuti langkah petugas itu menyusuri lorong yang temaram dan dingin. Di kiri kanan lorong, terdapat sel-sel berjeruji besi tebal. Udara di sini terasa sangat pengap. Membayangkan Bumi—pria yang selalu menjaga wudunya dan memastikan ibadahnya tepat waktu—harus menghabiskan malam di tempat kotor seperti ini membuat dadaku sesak bukan main.
Langkah petugas terhenti di depan sel nomor tiga.
Aku menahan napas. Mataku langsung menangkap sosoknya.
Di sudut sel yang suram, duduk beralaskan lantai semen yang dingin, Bumi bersandar pada dinding beton yang mengelupas. Kemeja birunya kotor oleh noda debu hitam, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat luar biasa lelah.
Namun, yang membuatku tak bisa menahan air mata adalah apa yang sedang ia lakukan.
Mata Bumi terpejam damai. Jari telunjuk kanannya bergerak pelan dengan ritme yang konstan di atas lututnya. Bibirnya menggumamkan sesuatu tanpa suara.
Ia sedang berzikir.
Di tengah neraka sel tahanan, pria ini menemukan ketenangannya sendiri.
"Bumi..." panggilku. Suaraku pecah, bergetar oleh rindu dan kepedihan yang meluap-luap.
Mata cokelat gelap itu perlahan terbuka. Gerakan jarinya terhenti. Saat ia melihatku berdiri di balik jeruji besi, sebuah senyuman—senyuman yang paling tulus, lega, dan hangat yang pernah kulihat—merekah di bibirnya.
Ia bangkit berdiri perlahan, sedikit meringis saat menahan berat tubuhnya menggunakan lengan kiri yang masih terluka. Ia berjalan mendekati jeruji.
"Kamu datang," bisiknya pelan, suaranya serak.
Aku mencengkeram jeruji besi yang dingin itu dengan kedua tangan, air mataku menetes membasahi pipi. Zirah merah yang kukenakan tak ada artinya di sini. Aku bukanlah seorang CEO di hadapannya; aku hanyalah seorang wanita yang nyaris gila karena kehilangan tempat pulangnya.
"Tentu saja aku datang, dasar pria keras kepala," isakku, memaksakan senyum di sela tangisanku. "Kamu pikir aku akan membiarkan rajaku dikurung di tempat ini?"
Mata Bumi berkaca-kaca mendengar sebutan 'rajaku'. Ia mengangkat tangannya, menyelipkan jemarinya melalui celah jeruji, dan mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Sentuhannya yang kasar namun familier itu mengirimkan gelombang kehangatan yang langsung menyembuhkan seluruh luka di hatiku.
"Tolong buka selnya, Pak," pintaku pada petugas di sebelahku dengan suara yang tak sabar.
Petugas itu mengangguk, memasukkan kunci besar ke dalam lubang, dan memutar kenopnya. Bunyi dentingan besi yang berat terdengar saat pintu sel ditarik terbuka.
Tidak ada kecanggungan. Tidak ada batasan kontrak.
Begitu ruang di antara kami tak lagi terhalang besi, aku melangkah maju dan menabrakkan tubuhku ke dada bidangnya. Aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya, memeluknya sekuat tenaga seolah hidupku bergantung pada pelukan itu. Aku membenamkan wajahku di perpotongan bahu dan lehernya, menghirup aroma tubuhnya yang mengalahkan bau pengap sel ini.
Bumi terkesiap pelan, tubuhnya sedikit kaku karena keterkejutan. Namun dalam hitungan detik, kedua lengannya yang besar dan kokoh balas merengkuh pinggangku, mendekapku sangat erat hingga kakiku nyaris terangkat dari lantai.
Ia membenamkan wajahnya di rambutku, mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan absolut.
"Alhamdulillah," bisik Bumi tepat di telingaku. "Kamu berhasil, Aruna. Ratuku telah memenangkan pertarungannya."
Kami berdiri di sana, saling berpelukan di lorong sel tahanan yang suram, mengabaikan tatapan petugas dan pengawalku. Di pelukan ini, tidak ada ketakutan. Kami telah mengalahkan Haris. Kami memutarbalikkan keadaan. Kami membuktikan bahwa pernikahan kami lebih kuat dari intrik murahan mereka.
Setelah beberapa saat, Bumi mengurai pelukannya dengan lembut, meski tangannya masih menahan pinggangku. Ia menatap wajahku, mengusap anak rambutku yang sedikit berantakan karena pelukan tadi.
"Ayo kita pulang," ajak Bumi, tersenyum manis. "Aku berutang penjelasan pada Ibu."
Aku mengangguk cepat, menggenggam tangannya erat-erat. "Garda sudah menyiapkan mobil di depan. Sifa dan Ibumu aman. Kita akan pulang."
Kami berjalan menyusuri lorong Bareskrim, keluar menuju lobi utama yang bermandikan cahaya matahari pagi. Tanganku bertaut dengan tangannya, menolak untuk dilepaskan barang sedetik pun. Aku merasa tak terkalahkan. Dengan Bumi di sisiku, aku siap menghadapi apa pun.
Namun, saat kami melangkah keluar dari lobi menuju area pelataran parkir, langkah kami serentak terhenti.
Udara pagi yang segar mendadak terasa mencekik.
Di depan mobil SUV kami, bersandar dengan santai layaknya seorang bangsawan yang sedang menikmati pertunjukan teater, berdirilah Rendra Daniswara.
Ia tidak sendirian. Di belakangnya, berdiri tiga orang pria berjas rapi yang membawa koper dokumen—barisan pengacara elite Jakarta yang bayarannya bisa membeli sebuah pulau kecil.
Rendra menatap kami yang berjalan bergandengan tangan. Pria aristokrat itu tidak terlihat marah karena Haris telah dikalahkan. Sebaliknya, ia tersenyum lambat. Senyuman predator yang sudah mengepung mangsanya dari segala arah.
Prok. Prok. Prok.
Rendra bertepuk tangan pelan, memecah keheningan pelataran Bareskrim.
"Pertunjukan yang sangat luar biasa, Aruna," sapa Rendra dengan suara beludrunya yang memuakkan. Matanya menatap tajam ke arah tautan tangan kami. "Kau mengorbankan anjing peliharaanku, Haris, untuk membebaskan suamimu. Strategi yang cukup cerdas untuk ukuran seorang janda yang sedang putus asa."
Bumi langsung menarikku sedikit ke belakang tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai tameng. Rahangnya mengeras. "Minggir, Rendra. Haris sudah bernyanyi tentang keterlibatanmu. Hanya masalah waktu sebelum bukti itu membawamu ke sel yang baru saja aku tinggalkan."
Rendra terkekeh pelan. Ia menjentikkan jarinya. Salah satu pengacara di belakangnya maju, menyodorkan sebuah map tebal berwarna merah ke arah kami.
"Kalian terlalu sibuk bermain hacker semalaman, sampai kalian lupa pada celah terbesar dalam kerajaan kalian," ucap Rendra dingin. "Silakan dibaca, Bumi. Jika kau masih bisa membaca."
Garda melangkah maju dengan sigap, mengambil map itu, lalu membukanya dan memperlihatkannya padaku dan Bumi.
Mataku menyapu barisan kalimat berstempel resmi pengadilan agama dan negeri di kertas itu. Jantungku yang tadinya sudah tenang, kini seolah dihantam martil raksasa hingga hancur berkeping-keping.
Itu adalah Gugatan Pembatalan Perkawinan.
"Menurut Hukum Perkawinan di negara ini," suara Rendra mengalun kejam, "sebuah pernikahan dapat dibatalkan oleh pihak yang memiliki kepentingan langsung, jika pernikahan itu terbukti dilakukan dengan unsur penipuan, paksaan, atau perjanjian materiil yang melanggar asas perkawinan ( Nikah Kontrak/Mut'ah )."
Rendra tersenyum sinis. "Sebagai pemegang saham mayoritas Wiratmadja Tech, aku memiliki hak hukum untuk memastikan CEO perusahaanku tidak melanggar 'Klausul Moral'. Apalagi jika pernikahannya ternyata hanya sandiwara untuk memanipulasi pemegang saham."
"Kau tidak punya bukti, Rendra!" desisku tajam, meski tanganku mulai gemetar di dalam genggaman Bumi.
Rendra menoleh ke arah salah satu mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana. Kaca jendela mobil hitam itu perlahan turun.
Di kursi belakang mobil itu, duduklah Sarah. Mantan sekretarisku. Mataku membelalak melihatnya. Wajah wanita itu lebam, dan ia memeluk koper dengan tubuh gemetar hebat. Rendra tidak membayarnya... Rendra menyanderanya lagi. Bajingan ini pasti kembali menyekap anak atau suami Sarah untuk memaksanya bersaksi menjatuhkanku!.
"Oh, Sayangku, aku punya sesuatu yang jauh lebih baik dari sekadar bukti," kekeh Rendra, kembali menatap kami dengan sorot mata iblis. "Aku punya saksi kunci. Asisten pribadimu sendiri yang mencetak draf 'Kontrak Dua Miliar' itu. Dia bersedia bersaksi di bawah sumpah di Pengadilan Agama besok pagi."
Duniaku runtuh seketika. Rendra tidak lagi menyerang aset atau nyawa kami; dia menyerang inti dari pertahanan kami. Keabsahan pernikahan kami. Rendra mendekat satu langkah, menatap tepat ke mata Bumi. "Begitu ketukan palu hakim membatalkan pernikahan kalian karena unsur kontrak, Aruna akan melanggar Klausul Moral. Dia akan dipecat dengan tidak hormat, sahamnya akan disita, dan kau, anak kampung... kau akan kembali menjadi orang miskin yang tidak punya hak apa pun untuk berdiri di sebelahnya. Waktu bermain kalian sudah habis."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘