NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 25: Sianida dalam Secangkir Ketenangan

​Sudah setahun Elena menukar pistolnya dengan cangkul.

Jemarinya yang dulu lincah meretas server perbankan Swiss kini penuh dengan kapalan akibat memanen lili.

Kehidupan di lereng Merapi ini benar-benar membuatnya hampir lupa kalau ia pernah menjadi wanita paling diburu di tiga benua.

​Sore itu, langit berwarna jingga busuk.

Paman Han sedang asyik memperbaiki antena parabola, sementara Reza sedang mandi di pancuran belakang.

Elena sedang duduk di teras, menyesap teh melati buatan Ibunya.

​"Tehnya agak pahit ya, Bu?" gumam Elena sambil menatap cangkir porselennya.

​Sarah, yang sedang merajut di kursi goyang, tidak menjawab.

Ia hanya diam, matanya menatap kosong ke arah hutan pinus.

​"Bu?" Elena menyentuh bahu ibunya.

​Tubuh Sarah merosot.

Di lehernya, Elena melihat sebuah titik merah kecil, bekas suntikan mikroskopis.

Jantung Elena berdegup kencang.

Ia segera memeriksa denyut nadi ibunya. Masih ada, tapi sangat lemah.

​"PAMAN HAN! REZA!" teriak Elena. Suaranya membelah kesunyian bukit.

​Detik berikutnya, sebuah anak panah kecil—dart penenang—meluncur dari arah kegelapan hutan dan menancap tepat di meja kayu, hanya beberapa sentimeter dari tangan Elena.

​Predator yang Bosan

​Elena berguling di lantai, insting pembunuhnya yang sempat "hibernasi" meledak seketika.

Ia menarik laci rahasia di bawah meja teras dan mengeluarkan sebuah Glock-19 yang selalu ia jaga agar tetap berminyak.

​"Jangan bergerak, Elena. Atau Ibu tercintamu akan mendapatkan dosis kedua yang permanen."

​Suara itu datang dari arah kegelapan di balik pohon beringin besar. Seorang pria keluar.

Ia tidak memakai setelan jas mahal, melainkan jaket tactical berwarna pasir.

Wajahnya penuh bekas luka bakar, namun matanya... mata itu adalah mata orang yang sudah melihat neraka dan memutuskan untuk tinggal di sana.

​"Siapa kau?" desis Elena.

​"Namaku tidak penting. Tapi orang-orang di 'The Origin' yang kau bangkrutkan itu memanggilku The Eraser," pria itu tersenyum, memperlihatkan gigi yang tidak beraturan.

"Kau pikir dengan menghapus data digital mereka, kau sudah menang? Kau cuma membuat mereka marah, El. Dan orang kaya yang marah biasanya menyewa orang sepertiku untuk membereskan 'sampah'."

​Reza muncul dari samping rumah, telanjang dada dengan handuk masih melilit di pinggang, tapi tangannya sudah memegang senapan serbu. "Lepaskan dia, brengsek!"

​"Ah, sang pendamping ratu," The Eraser tertawa.

"Reza Mahendra. Kau tahu, kepalamu dihargai lebih mahal daripada seluruh kebun lili ini."

​Baku Hantam di Antara Lili

​Tanpa aba-aba, The Eraser melempar sebuah granat asap.

BOOM!

Ruangan seketika putih pekat.

​Elena bergerak berdasarkan memori. Ia tahu setiap jengkal teras ini.

Ia melompat ke arah kursi goyang ibunya, mencoba menyeret Sarah ke dalam rumah.

Namun, sebuah tendangan keras menghantam rusuknya.

Elena terpental, menabrak pot-pot lili hingga hancur.

​"Kau sudah tumpul, Elena!" The Eraser muncul dari balik asap, mengayunkan pisau komando dengan kecepatan gila.

​Elena menangkis dengan tangan kosong, mengunci pergelangan tangan pria itu, lalu menghantamkan sikunya ke rahang sang pembunuh.

Tapi pria ini seperti tidak punya rasa sakit.

Ia justru menyeruduk Elena hingga mereka berdua jatuh ke halaman yang becek.

​Di sisi lain, Reza terlibat baku tembak dengan dua rekan The Eraser yang muncul dari kegelapan.

Suara tembakan menyalak, memecah kesunyian desa yang damai.

Paman Han, yang meski sudah tua tetap tangguh, menggunakan antena parabolanya sebagai tameng darurat sambil melemparkan bom molotov rakitan dari atap.

​"Kita harus bawa Ibu keluar dari sini!" teriak Elena di sela-sela pergulatannya.

​Jakarta yang Tidak Pernah Tidur

​Ternyata, serangan di bukit hanyalah umpan.

Tujuan sebenarnya adalah membawa Elena kembali ke Jakarta, ke tempat di mana kekuatannya bisa diredam oleh hukum dan sorotan media.

​Dua hari kemudian, Elena terbangun di sebuah ruangan serba putih. Tangannya diborgol ke tempat tidur besi.

Ini bukan laboratorium 'The Origin', melainkan sebuah fasilitas penahanan rahasia di bawah gedung Kejaksaan Agung.

​Di depannya, berdiri seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai emas. Dia adalah Jaksa Agung Muda, Miranda.

​"Elena Adiguna. Atau Alana. Atau apa pun kau menyebut dirimu sekarang," Miranda meletakkan sebuah map tebal di meja.

"Kau pikir kau pahlawan karena meruntuhkan 'The Origin'? Kau baru saja menciptakan lubang hitam di ekonomi dunia. Dan sekarang, pemerintah butuh kambing hitam untuk menenangkan para investor global."

​"Kau bekerja untuk mereka," ucap Elena, suaranya parah.

​"Aku bekerja untuk stabilitas. Dan stabilitas artinya kau harus menghilang," Miranda mendekat, suaranya merendah.

"Ibumu ada di lantai atas, di bawah perawatan medis kami. Reza dan Paman Han sedang dalam pengejaran internasional. Kau sendirian sekarang."

​Rencana Pelarian Gila

​Elena tersenyum miring. Miranda tidak tahu bahwa Elena sudah mengantisipasi hal ini.

Di dalam salah satu giginya yang sudah dimodifikasi sejak di Swiss, terdapat sebuah micro-chip yang memancarkan sinyal frekuensi sangat rendah.

​Di luar gedung, di dalam sebuah mobil boks yang menyamar sebagai pengantar laundry, Reza (yang sekarang sudah berpakaian rapi) dan Dante duduk di depan monitor.

​"Dia sudah masuk ke posisi, Rez," ujar Dante. "Sinyalnya stabil di blok C."

​"Oke, aktifkan 'Protokol Gerhana'," perintah Reza.

​Tiba-tiba, seluruh listrik di gedung Kejaksaan Agung padam total.

Bukan sekadar mati lampu, tapi seluruh sistem digitalnya hangus terkena serangan EMP (denyut elektromagnetik) yang dilepaskan Dante dari jarak dekat.

​Di dalam sel, Elena menggunakan keahliannya.

Ia melepaskan borgolnya menggunakan kawat kecil yang ia sembunyikan di balik plester luka di bahunya.

Saat pintu sel terbuka secara manual oleh penjaga yang panik, Elena sudah menunggu di balik pintu.

​Satu pukulan di tenggorokan, satu tendangan di lutut.

Penjaga itu tumbang tanpa sempat berteriak.

​Reuni Berdarah di Atas Atap

​Elena berlari menuju lantai atas, tempat ibunya ditahan.

Di koridor, ia harus berhadapan dengan The Eraser lagi.

Kali ini, pria itu memegang dua pistol otomatis.

​"Kau benar-benar susah mati, ya?" The Eraser menyeringai.

​"Aku sudah pernah mati sekali. Rasanya membosankan," balas Elena.

​Mereka bertempur di koridor sempit.

Elena menggunakan detektor panas di kacamata taktisnya yang baru saja ia ambil dari penjaga.

Ia menembak pipa pemadam kebakaran, menciptakan uap panas yang mengaburkan pandangan The Eraser.

​Dalam kekacauan itu, Elena muncul dari atas plafon, menjatuhkan tubuhnya tepat di atas punggung sang pembunuh, dan menusukkan jarum suntik berisi obat penenang dosis tinggi (yang ia ambil dari lab lantai bawah) tepat ke leher pria itu.

​"Tidur yang nyenyak, anjing," bisik Elena.

​Kebebasan yang Dibeli dengan Api

​Elena menemukan ibunya dan membopongnya ke atap gedung.

Di sana, sebuah helikopter tanpa tanda pengenal sudah menunggu.

Reza melompat turun, menyambut Elena dan Sarah dengan pelukan yang singkat namun penuh emosi.

​"Kita ke mana?" tanya Elena saat helikopter mulai naik, meninggalkan Jakarta yang kacau di bawah mereka.

​"Ke tempat di mana mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi," jawab Reza.

"Dante sudah mengatur semuanya. Kita akan punya identitas baru, di negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan siapa pun."

​Elena menatap ke bawah, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang mulai mengecil.

Ia melihat tato di tangannya yang kini sudah tertutup bekas luka baru.

​"Rez," panggil Elena.

​"Ya?"

​"Jangan ganti namaku lagi. Aku bosan jadi orang lain."

​Reza tertawa, lalu mencium tangan Elena yang kasar.

"Oke. Elena tetap Elena. Tapi mungkin... Elena Mahendra terdengar lebih bagus?"

​Elena tersenyum untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

Di pangkuannya, Sarah mulai membuka mata, meski masih lemah.

​Perjalanan ini mungkin tidak pernah benar-benar berakhir.

Selama masih ada orang-orang serakah seperti 'The Origin' atau Miranda, Elena akan selalu punya musuh.

Namun, malam ini, di atas langit Jakarta, ia menyadari satu hal: ia tidak lagi takut pada bayang-bayang.

Karena sekarang, ia adalah orang yang mengendalikan kegelapan itu sendiri.

​Sang Nyonya yang Terbuang tidak akan pernah terbuang lagi.

Karena ia telah membangun kerajaannya sendiri—bukan dari uang atau kekuasaan, tapi dari kesetiaan orang-orang yang mencintainya.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!