NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Jamuan - 1

Perubahan dalam hidup Yinjia tidak datang dengan suara besar. Tidak ada momen dramatis. Tidak ada sesuatu yang benar-benar terasa berbeda secara langsung.

Namun pagi itu, saat ia duduk di kursinya dan membuka komputer kantor, ia sadar satu hal, Ia tidak lagi setakut kemarin. Tangannya masih sedikit kaku. Pikirannya masih berhati-hati. Tapi tidak lagi panik.

Dokumen kontrak yang kemarin terasa seperti beban kini hanya terasa… pekerjaan. Ia masih harus teliti. Masih harus fokus. Tapi ia mulai tahu harus mulai dari mana. Dan itu cukup.

Di meja depannya, sebuah amplop diletakkan dengan rapi. Yinjia sempat mengira itu dokumen kerja. Namun ketika ia membukanya, isinya bukan angka atau kontrak. Sebuah kartu undangan. Kertasnya tebal, berwarna putih dengan tulisan emas yang sederhana tapi elegan.

Jamuan makan malam perusahaan. Untuk seluruh karyawan dan peserta magang. Yinjia membaca ulang isi kartu itu. Tempatnya di hotel bintang lima. Waktu malam hari. Dress code formal.

Tangannya sedikit menegang saat membaca bagian terakhir. Formal. Ia tidak memiliki banyak pakaian seperti itu. Bahkan bisa dibilang, tidak ada yang benar-benar cocok.

Ia menutup kartu itu perlahan. Di sekitarnya, beberapa magang lain sudah mulai membicarakan hal yang sama.

“Ini acara besar…”

“Aku dengar Direktur Guo juga akan datang.”

“Aku harus beli gaun baru…”

Suara mereka terdengar ringan. Berbeda dengan Yinjia yang justru diam. Ia tidak ikut dalam percakapan itu. Pikirannya melayang ke hal lain. Biaya rumah sakit. Obat. Kebutuhan sehari-hari.

Satu malam makan di hotel mewah terasa seperti dunia yang terlalu jauh dari hidupnya. Namun ia tetap menyimpan kartu itu di dalam tas. Ia tahu, Ia harus datang.

Siang hari di kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Setelah beberapa hari fokus pada magang, Yinjia akhirnya kembali duduk di kelas. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Penjelasan dosen terdengar seperti lewat begitu saja. Tangannya mencatat. Tapi otaknya memikirkan hal lain.

Di kursi sebelahnya, Xu Yara duduk seperti biasa. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ia masih tersenyum. Masih berbicara dengan nada yang sama. Tapi ada jarak yang tidak terlihat. “Kamu dapat undangan makan malam perusahaan, kan?” Yara bertanya santai.

“Iya.”

“Wah… enak ya. Bisa masuk ke acara seperti itu.” Nada suaranya ringan. Tapi ada sesuatu di dalamnya. Tipis. Hampir tidak terasa.

Yinjia menoleh sedikit. “Kamu juga bisa kalau kamu daftar magang di sana.”

Yara tersenyum. “Terlambat. Lagipula… aku tidak punya koneksi seperti kamu.”

Kalimat itu membuat Yinjia berhenti menulis. Ia tidak langsung menjawab. Ia tahu maksudnya. Dan ia tidak menyukainya. “Itu bukan karena koneksi.”

Yara mengangkat bahu. “Iya, iya… aku cuma bercanda.”

Namun senyumnya tidak benar-benar terasa seperti candaan.Percakapan itu berhenti di situ. Dan untuk pertama kalinya—

Yinjia merasa lelah bukan karena pekerjaan. Tapi karena orang.

Sore hari, ia kembali ke rumah sakit. Bau antiseptik yang familiar langsung menyambutnya. Langkahnya otomatis melambat saat memasuki ruang rawat. Adiknya masih terbaring di tempat tidur.

Tidak berubah. Masih diam. Masih bergantung pada alat. Yinjia duduk di kursi samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan adiknya. Dingin. Seperti biasa. “Aku dapat undangan makan malam hari ini…” Suaranya pelan. Hampir seperti bicara sendiri. “Aneh ya… aku bahkan tidak tahu harus pakai apa.” Ia tersenyum kecil. Namun matanya tidak benar-benar tersenyum.

Ibunya masuk beberapa menit kemudian membawa kantong kecil berisi makanan. “Kamu pulang telat lagi.”

“Iya, Ma.”

Ibunya duduk di sisi lain ranjang. Tatapannya lembut. “Kamu capek?”

Yinjia menggeleng. “Tidak.” Itu jawaban yang sudah ia biasakan. Padahal sebenarnya…

Ia lelah. Tapi bukan lelah yang bisa diistirahatkan.

Malam hari, Yinjia berdiri di depan lemari kecil di kamarnya. Isinya tidak banyak. Beberapa pakaian kampus. Beberapa pakaian rumah. Dan satu gaun sederhana yang sudah lama tidak ia pakai. Ia mengambil gaun itu. Warnanya putih polos. Tidak terlalu mewah. Tidak mencolok. Namun bersih.

Ia menatapnya cukup lama. Lalu menarik napas pelan. “Cukup.” Hari jamuan tiba lebih cepat dari yang ia kira. Hotel tempat acara itu diadakan jauh lebih mewah dari yang pernah ia datangi sebelumnya. Lampu gantung besar di lobi memantulkan cahaya ke segala arah. Lantai marmer mengkilap. Orang-orang datang dengan pakaian rapi. Gaun mahal. Jas yang terlihat sempurna.

Yinjia berdiri beberapa detik di depan pintu masuk. Tangannya sedikit menggenggam tas kecilnya. Ia merasa… tidak cocok di tempat ini. Namun ia tetap melangkah masuk. Pelan. Hati-hati.

Di dalam ruangan, suasana lebih ramai. Suara percakapan bercampur dengan musik lembut. Meja-meja bundar tertata rapi. Beberapa karyawan sudah berkumpul dalam kelompok kecil. Yinjia berdiri di dekat pintu, sedikit bingung harus ke mana. Sampai seseorang memanggilnya. “Lin Yinjia.” Ia menoleh.

Song Jian berdiri tidak jauh darinya. Seperti biasa—rapi, tenang, dan tanpa ekspresi berlebihan. “Ke sini.”

Yinjia berjalan mendekat. “Duduk di meja tim kontrak.”

“Baik, Pak.” Ia mengikuti arah yang ditunjuk. Meja itu sudah diisi beberapa orang yang ia kenal dari kantor. Mereka menyambutnya dengan ramah. Namun Yinjia tetap duduk dengan tenang. Tidak terlalu banyak bicara. Matanya sesekali mengamati ruangan. Sampai tiba-tiba—

Suasana berubah. Tidak ada yang mengatakan apa pun. Namun semua orang tahu. Seseorang baru saja datang. Langkah sepatu terdengar pelan di lantai. Dan tanpa perlu melihat pun, Yinjia sudah tahu siapa itu.

Guo Linghe.

Ia tidak langsung menoleh. Namun tubuhnya sedikit menegang. Linghe berjalan masuk dengan langkah tenang. Jas hitamnya terlihat lebih formal dari biasanya. Tatapannya menyapu ruangan dengan singkat. Tidak mencari siapa pun. Namun tetap memperhatikan semuanya.

Beberapa orang langsung berdiri. Beberapa lainnya memberi salam. Ia hanya mengangguk kecil. Seperti biasa. Tenang. Dingin. Terkontrol.

Yinjia akhirnya menoleh. Hanya sekilas. Namun cukup. Tatapan mereka bertemu. Singkat. Sangat singkat. Namun cukup untuk membuat napas Yinjia sedikit terhenti.

Linghe tidak berhenti. Ia hanya melihat. Lalu mengalihkan pandangannya. Seolah itu bukan apa-apa. Namun entah kenapa— Yinjia merasa itu bukan sekadar kebetulan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!