ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV—{Chapter 2}
“Guys, kemari!” Villy berseru, memanggil para anggotanya yang tengah menjadi penonton di kamar sebelah. “Kubilang kemari!” Suara lantangnya bercampur dengan sedikit getaran galak. Barulah keempat anggotanya langsung berbalik badan menghampirinya.
“Oi, kau tahu? Tim kamar sebelah ternyata lebih payah dari kita.” Ayaa mencari tempat ternyaman untuk mendaratkan pantatnya, menempel pada Villy guna memulai gosip ringan. “Sungguhan di antara mereka berlima tidak ada yang tahu siapa istri keempat Raja Henry VIII.”
Villy menolehkan kepalanya, bukan karena ingin memberi reaksi pada si sobat masa kecilnya yang suka sekali mencibir itu, melainkan untuk bertanya, “Siapa?”
“..Hu? Kau bertanya padaku? Aih, bocah kunyuk ini, kau meremehkanku. Tentu saja aku tahu. Itu pengetahuan umum di level termudah. Istri keempat dari Raja Henry VIII adalah Catherine Howard.” Ayaa menambahkan tawa sombong di akhir ucapannya, menunjukkan kepercayaan diri tingkat tinggi.
Villy berbalik badan, seperti mencari sesuatu di antara kursi. Kotak berwarna coklat berisikan headphone adalah milik gedung asrama, diberikan sebagai fasilitas secara khusus hanya untuk Permainan Kelompok. Jadi pada saat pertukaran kamar, kotak itu tidak pindah bersama anggotanya. Villy mengambilnya, kemudian mengeluarkan satu per satu headphone untuk dibagikan. Setelah itu, gerakan yang dilakukannya masih tidak jelas. Dia bangkit dan pergi ke dalam kamar, lanjut mencari sesuatu yang sepertinya tidak ditemukannya di kotak headphone. Dalam keadaan Ayaa masih bereaksi bingung karena tidak mengerti mengapa dirinya tidak digubris apa-apa oleh si sobat masa kecilnya itu, Erica pun mendekatinya.
Dia berbisik, “Belum terlambat bila kau mau kabur sekarang, kak.”
Ayaa mengernyitkan dahi, lantas menolehkan kepalanya dengan tatapan mencurigakan. “Apa maksudmu?”
Karinn yang kala itu kebetulan datang bersama Irene atas panggilan si ketua kamar, menyahut, “Catherine Howard adalah istri kelima.”
Irene melanjutkan, “Istri keempatnya adalah Anne of Cleves.”
Sreet..! Terdengar bunyi tarikan selotip dari arah dalam kamar. Tanpa aba-aba, tahu-tahu saja Villy sudah berada di sebelah Ayaa sambil menunjukkan selotip bening berukuran besar ke depan wajahnya. Ayaa bergidik ngeri, hanya bisa tersenyum palsu atau lebih tepatnya menertawakan keselamatan dirinya.
“Baiklah, semuanya dengarkan dan simak dengan baik.” Villy angkat suara, membuka sesi diskusi dengan nada agak rendah. “Aku tidak akan menjelaskan secara bertele-tele karena kita semua pasti sudah memainkan permainan ini berkali-kali. Dan dari semua waktu itu, kita seharusnya bisa mengembangkan strategi lebih baik untuk meminimalisir kegagalan. Kali ini, strategi yang akan kita pakai adalah strategi dua atau tiga kata.” Suaranya terdengar mantap, menyeruak masuk ke dalam telinga para anggota yang duduk melingkar di depan jejeran kursi. Penjelasannya belum berakhir di sana, jadi dia melanjutkan, “Setiap orang memberikan informasi ke lawannya hanya dengan mengucapkan dua atau tiga kata. Tidak boleh lebih, dan pastikan semua kata yang dikirim sesuai.”
Erica mengacungkan tangan, mengajukan sebuah pertanyaan bagus. “Bagaimana cara memastikannya bila telinga kita ditutup oleh musik dengan volume super kencang?”
“Ada satu cara paling berguna. Tapi pada situasi seperti ini kadang-kadang tidak efektif karena perasaan panik pasti mendahului.”
Ketiga junior kompak mengajukan pertanyaan yang sama. “Apa itu?”
Villy menjawab, “Membaca gerakan bibir.”
Para anggota ber-oh lirih, termasuk Ayaa yang kala itu tidak dapat bicara karena selotip bening menyita hak berbicaranya. Dia hanya dapat merespon dengan satu anggukan kepala. Baru setelah itu, kelimanya pun bubar dan kembali duduk di kursi masing-masing. Sebentar lagi akan tiba giliran kamar mereka untuk bermain, maka satu per satu anggota sudah memasang headphone di kepala. Kepala mereka menari-nari mengikuti irama lagu sambil berkomat-kamit menyanyikan liriknya.
“Girls, kita bertemu lagi.” Bu Kaila melambaikan tangan. Dia datang bersama Pak Sion, segera mengambil posisi sebagai juri. “Bagaimana dengan strategi kalian?”
Musik bervolume kencang sudah mengunci indra pendengaran para anggota. Jadi tak satu pun dari mereka memberikan jawaban. Bu Kaila tersenyum, itu artinya headphone dalam keadaan baik dan para anggota sudah siap untuk memulai permainan. Para gadis dari kamar sebelah datang berbondong-bondong, segera merapat membentuk kerumunan penonton.
Ting.. Bu Kaila menyalakan bel berwarna hijau, tanda bahwa permainan telah dimulai dan waktu terus berjalan. Erica sebagai orang pertama berbalik badan, mendapati Pak Sion telah menunjukkan selembar kertas bertuliskan kata yang harus tim mereka tebak.
Karinn menepuk bahu Villy, lalu menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya—aturan permainan; tidak boleh menggunakan gerakan tubuh termasuk bahasa isyarat. Dia mulai menyampaikan informasi sesuai strategi, berkata dengan sepatah-patah. “I-bu Ko-ta Ka-na-da.”
Villy mengernyitkan dahi, berusaha menangkap setiap kata yang terucap. Hampir tiga detik waktu baginya untuk menerima informasi, dia akhirnya tahu setiap kata yang dikirim. Dia pun melanjutkannya ke anggota berikutnya, Irene. Begitu seterusnya hingga ke orang terakhir, Ayaa.
Bu Kaila menyalakan bel berwarna merah. Batas waktu pada soal putaran pertama dianggap selesai. “Nah, Ayaa. Apa jawabannya?”
Ayaa mengusap-usap hidungnya, menunjukkan reaksi sombong kepada para penonton. Soal yang harus ditebaknya sangatlah mudah. Ditambah dengan strategi ulung dari Villy, persentase keberhasilan makin tampak jelas di depan mata. Ayaa berseru penuh semangat, “Ottawa! Ibu kota negara Kanada adalah Ottawa!”
Bu Kaila menyalakan bel berwarna hijau, jawaban benar. Para penonton bersorak sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Sembari Pak Sion mengambil lembar kertas kedua, para anggota kamar bergegas pindah tempat. Pada Permainan Whisper, memang tidak ada posisi tetap selama permainan berlangsung. Sebaliknya, para anggota akan terus berpindah sampai semuanya mendapat giliran sebagai orang pertama yang menyampaikan informasi, meneruskan informasi, dan orang terakhir yang menebak. Dengan begitu, gelombang ketegangan yang tercipta akan terus makin membesar.
Irene menepuk bahu Ayaa, mulai menyampaikan informasi terkait soal. “He-wan.. Cang-kang.. Lam-bat..”
“..Hu? Sebentar! Ulang sekali lagi!” Kedua alis Ayaa nyaris tampak menyatu, dia kesulitan memahami gerakan bibir Irene. Terlebih anak itu tidak ekspresif, jadi wajahnya yang datar dan kaku sama sekali tidak membantu.
Beruntungnya Irene peka. Melihat semburat kebingungan di seluruh bahasa tubuh Ayaa, ia pun segera berinisiatif mengulang setiap kata dengan tekanan lebih pelan. Setelah kali kedua memastikan Ayaa mengangguk mantap dan informasi yang terkirim benar sampai ke anggota terakhir, maka sekarang tibalah saat bagi Karinn untuk menjawabnya.
“Siput! Jawabannya adalah siput!” Karinn berseru lantang, seolah setiap ucapan yang dilontarkannya disertai rasa percaya diri yang besar.
Namun siapa sangka, tepat setelah Karinn meloncat girang sambil menjawab, keempat anggotanya secara serempak bangkit dengan ekspresi wajah yang nyaris sama—kecewa bercampur sedikit marah.
“Ada apa ini? Ada apa dengan mata kalian? Kenapa kalian menatapku begitu?” Karinn bergidik ngeri, jantungnya berdebar cepat bersamaan hawa dingin yang menyeruak masuk ke dalam dirinya. Saat ia mengalihkan atensinya ke arah penonton, penonton pun bereaksi demikian.
Bu Kaila menyalakan bel berwarna merah, jawaban salah.
“Tunggu!” Karinn mundur beberapa langkah sambil mengulurkan kedua telapak tangannya, mencegah keempat anggotanya berjalan mendekati dirinya. “Kenapa bisa salah? Bukankah benar hewan yang memiliki cangkang dan berjalan lambat adalah siput?”
“Pegang dia.” Ucapan Irene yang singkat berpadu sempurna dengan wajahnya yang dingin. Cukup untuk menumbuhkan perasaan takut.
Ayaa dan Villy saling bersitatap, saling memberi kode melalui kontak mata untuk maju melakukan perintah Irene. Namun sebelum keduanya memutuskan, Erica berjalan menghampiri. Dia menyentuh kedua bahu Karinn, tanpa mengucapkan sepatah kata, hanya diam seperti robot yang dikendalikan dari jauh.
“Oi, Erica. Kau serius?” Karinn mendongakkan kepalanya, mencari sepasang mata si pemilik nama. “Sejak kapan kau menurut pada si beruang laser itu?”
Irene semakin mendekatkan jarak di antara mereka. Dengan nada bicara yang dingin seperti sebelumnya, dia berkata, “Tiga kata kunci yang kuberikan adalah hewan, cangkang, dan lambat. Kau tidak tahu bahwa ada hewan lain yang memiliki cangkang dan berjalan lambat?”
Karinn menegak ludah. Otaknya mendadak buntu sehingga tak dapat mencerna dengan baik apa yang baru saja dikatakan Irene.
Erica pun membantu menjelaskan. “Kerang dan tiram juga memiliki cangkang. Cangkang mereka berfungsi untuk melindungi abdomen agar tidak mengalami kekeringan saat air laut surut. Begitu pula dengan kepiting kelapa, dan kelomang. Mereka semua punya eksoskeleton atau kerangka luar tubuh yang keras. Nah, kembali pada soal. Kalau hewannya adalah kerang, lebih masuk akal kalau Irene mengatakan ‘laut’ sebagai kata kunci terakhir, kan? Begitu juga dengan siput. Kata lendir lebih spesifik daripada kata lambat.”
Karinn merasakan rahangnya dingin karena sentuhan jemari seseorang. Rupanya Irene membawa kembali wajahnya untuk kembali menatap dirinya.
Dia bertanya. “Jadi, hewan apa itu?”
Karinn menegak ludah. Permukaan pipinya dapat merasakan dengan jelas napasnya yang dingin dari jarak hanya sebatas satu jengkal dari ujung hidungnya. Berapa kali pun keinginan kuatnya untuk mengalihkan kontak mata, dia tak pernah benar-benar bisa melakukannya. Sebaliknya, kini dia sedang memaksakan diri untuk berpikir sejenak, mencoba menemukan jawaban dengan menghubungkan semua kata kunci si gadis garang. Dengan nada lirih dan sedikit gugup, dia berkata, “...Kura-kura.”
Irene tersenyum tipis, “Benar, itu dia,” lalu menepuk bahu Karinn sebanyak tiga kali—seolah sedang memberi peringatan untuk lebih berhati-hati.
“Ah..” Karinn mengangguk-angguk, tertawa palsu.
Permainan pun kembali berlanjut. Para anggota segera bangkit untuk memilih kursi yang belum mereka tempati. Pak Sion membuka lembar ketiga. Erica berbalik badan dan menepuk bahu Karinn. Dia mulai menyampaikan informasi yang didapatnya dari orang pertama; Irene. Begitulah kemudian informasi tersebut diteruskan sampai ke anggota terakhir; Villy.
Bu Kaila mulai menghitung, “Satu.. dua..” hampir mencapai batas sebelum hitungan kesepuluh.
Villy tidak langsung menjawab, masih berpikir sejenak dengan hati-hati. Informasi yang didapatnya berupa tiga unsur Kimia; Kalsium, Karbon, dan Oksigen. Ketiganya jelas mengacu pada rumus pembentuk suatu senyawa. Namun yang tidak dimengertinya adalah pada bagian Ayaa mengedipkan mata kirinya sebanyak tiga kali. Ia yakin seratus persen, sobat masa kecilnya itu tak pernah bisa melakukan wink walaupun dicoba sampai bumi berubah menjadi datar. Tapi pada permainan Whisper kali ini, dia melakukannya. Pikirnya pasti ada makna tersirat.
“..Tiga.. Empat..” Bu Kaila terus menghitung maju, hampir mendekati batas.
Sementara itu, Villy masih berurusan dengan isi kepalanya. Sedikit pun ia tak merasa panik seperti halnya keempat anggota dan para penonton yang lekat menatapnya dengan khawatir. Kalau dipikir-pikir lagi, Irene-lah yang menciptakan kata kunci—termasuk bagian mengedipkan mata sebanyak tiga kali. Villy tersenyum cerah, dia berhasil menemukan jawabannya. Ia pun mengangkat tangannya. “CaCO3! Kalsium karbonat!”
Tepat pada hitungan kesepuluh, Bu Kaila membunyikan bel berwarna hijau, jawaban benar. Para penonton bersama anjing-anjingnya yang menggemaskan pun kompak bersorak. Kelimanya secara spontan saling merangkul pundak dan meloncat-loncat.
Sejauh ini, tim kamar 55 adalah tim yang paling unggul dalam hal kekompakan. Mereka mampu memahami satu sama lain, seperti gema yang menjawab di ruang sunyi. Kata kunci yang dibuat kemudian dioper dari anggota ke anggota lain mengalir dengan mulus, sampai-sampai membuat para penonton merasa iri dan bertanya-tanya: bagaimana bisa mereka memiliki chemistry yang bagus padahal belum lama menjadi teman sekamar? Tentu saja itu karena mereka saling melengkapi. Bila orang pertama telah membuat kata kunci yang cukup jelas dan mudah untuk dilafalkan, maka pastinya akan ada orang terakhir yang langsung menebak tanpa pikir dua kali.
“Benar, kan? Kendaraan, darat, cepat, adalah ciri-ciri dari roller coaster?” Ayaa merentangkan tangannya ke kanan dan kiri, mencegah Erica dan Villy melangkah lebih dekat. Sementara itu di depannya, Irene berdiri dengan tatapan dingin sembari berjalan secara perlahan ke arahnya. Ayaa hanya membekuk takut, tidak bisa meminta bantuan kepada siapa pun. Ia tidak mengerti mengapa para anggotanya serempak memasang wajah masam tepat setelah ia berseru dengan penuh semangat saat menjawab soal. Para penonton pun bereaksi serupa, namun ia masih terus menyangkal karena pikirnya ia yakin jawabannya benar seratus persen.
Bu Kaila membunyikan bel berwarna merah, jawaban salah.
Setelah jarak di antara mereka hanya berkisar satu jengkal, Villy memegang kerah kemeja Ayaa di dua sisi. Dia tersenyum ganjil sebelum kemudian bertanya sarkas, “Pernahkah kau melihat roller coaster melintas di jalan raya?” Wajah kelamnya tampak menyatu dengan udara dingin di sekitarnya.
Ayaa menegak ludah, lalu menggelengkan kepalanya dengan ragu-ragu.
Ironinya, kesalahan seperti ini tidaklah berakhir sampai di sini. Pada putaran-putaran berikutnya, total ada tujuh soal yang salah dijawab. Oleh sebab itu, para anggota harus merelakan ketujuh menu bahan makanan lenyap dalam satu waktu. Mereka melengos sambil menekuk muka, pasrah saja saat salah seorang penonton merekam mereka dan membagikannya ke forum obrolan anonim. Macam-macam komentar pun mulai bermunculan, dari kalimat berisikan simpati yang menenangkan, sampai kalimat ejekan yang diikuti tawa menyebalkan.
“Setelah ini apa?” Villy tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Keempat anggotanya yang kebetulan duduk di sisi kanan dan kiri menoleh secara serempak.
“Tantangan memasak,” sahut Karinn.
“..Guys,” Ayaa ikut angkat suara sambil mengangkat tangannya—meminta haknya untuk berbicara. “Sebenarnya aku paling payah dalam memasak. Aku dapat julukan si tangan ajaib karena benda dapur apa pun yang kupegang pasti selalu berakhir hancur.” Dia menundukkan kepalanya, memelas.
“Baiklah..” Erica bangkit dari kursi sembari menepuk tangan sekali—meminta perhatian, kemudian berbalik badan menghadap para anggota. “Pada permainan kali ini, aku yang akan memimpin.” Dia berkata dengan penuh percaya diri, membalikkan semangat yang hampir tak tersisa di tim mereka.
“Bagaimana caramu melakukannya?” Villy menatap dengan lekat, mengajukan pertanyaan bagus.
Erica menjentikkan jarinya ke udara. “Sederhana. Kalian hanya perlu menurut atas apa yang kuperintahkan. Lakukan semua tanpa bertanya dan sebagai balasannya akan kupastikan tim kita tidak mendapatkan poin minus. Setuju?”
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara riak-riuh para gadis yang sedang menonton tim kamar sebelah.
Villy menepuk tangan sekali, kemudian mengangkat tangan kanannya sembari berkata, “Lakukanlah. Hanya untuk malam ini ... kuserahkan jabatanku sebagai ketua kamar padamu, Erica.”
Suara moderator dari klub penyiaran bergema lewat pengeras suara yang tersebar di beberapa penjuru, mengumumkan bahwa waktu untuk Tantangan Whisper telah resmi berakhir. Para gadis diberi jeda istirahat selama sepuluh menit sebelum permainan berikutnya dimulai. Begitu arahan selesai diumumkan, mereka pun langsung bergerak secara berbondong-bondong. Ada yang berlari kecil, ada juga yang berjalan santai sambil tertawa-tawa. Semua kembali ke kamar masing-masing, lalu—seolah sudah jadi kebiasaan—mereka berkumpul di koridor, duduk melingkar untuk membahas strategi selanjutnya sambil memakan camilan.
Permainan berikutnya adalah Tantangan Memasak, tantangan di mana tidak ada tempat bagi spesialis. Semua anggota kamar wajib ikut serta, tanpa terkecuali mereka yang punya tangan untuk menghancurkan dapur. Ada yang mengaduk adonan, memotong bahan, menakar bumbu, atau menghias makanan dengan keterampilan darurat—semuanya dituntut untuk mengambil bagian masing-masing.
Menariknya, tema masakan tidak ditentukan sejak awal, melainkan dipilih lewat undian. Para juri dari setiap bagiannya akan maju untuk mewakili, mengambil satu gulungan kertas dari dalam toples kaca bening. Karena ini salah satu momen krusial yang akan menentukan nasib tim kedepannya, maka tak heran para gadis selalu berdesakan saat setiap kali juri hendak mengumumkan hasil undian. Beberapa dari mereka saling menggenggam tangan, berharap yang keluar bukanlah tema nyeleneh seperti...
“Ibu tahu ini berat, maka itu ibu meminta maaf sebesar-besarnya.” Bu Kaila menundukkan kepala di hadapan para gadis. Pak Sion di sebelahnya bereaksi bingung, namun sebelum sempat ada yang bertanya, ia lebih dulu menundukkan kepala.
“Bu Kaila, kau pasti bercanda.”
“Apakah mengerikan? Apakah itu tidak baik untuk kita?”
“Sial, sekarang aku tidak ingin tahu apa isinya.”
Perasaan resah mulai menyebar cepat di antara para gadis. Semangat mereka perlahan memudar, juga ambisi untuk menang—atau setidaknya mempertahankan menu bahan makanan untuk acara api unggun.
“Bagaimana hasilnya?” Begitu bayangan seorang gadis berambut pendek berjalan mendekatinya, Karinn langsung mendongakkan kepalanya dan mengajukan sebuah pertanyaan.
Erica mendaratkan pantatnya di tempatnya semula. Wajahnya tampak datar seolah sedang memikirkan sesuatu. “Tidak buruk. Aku punya cukup pengalaman dalam memanggang.”
“Jadi kita akan membuat kue?” Irene bertanya langsung ke inti.
“Itu saja? Oi, sepertinya tidak sulit. Tapi kenapa mereka bereaksi begitu?” Atensi Ayaa teralih kepada para gadis yang berangsur-angsur bubar dari kerumunan. Dan reaksi yang dimaksudnya adalah beberapa dari mereka mengeluarkan bunyi hhoek..! seperti orang yang hendak muntah.
“Apa temanya?” tanya Villy.
“Menjijikan.”
Karinn menyahut, “Kau tidak sedang mengumpat pada kami, kan?”
“Maksudku temanya adalah kue menjijikan.”