Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Membahagiakan
Arka duduk bersandar pada kepala ranjang king size mereka dengan kedua kaki yang diselonjorkan santai. Naura berjalan mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat natural dan penuh kedekatan domestik, ia merebahkan tubuh mungilnya di samping Arka, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas dada bidang suaminya yang kokoh. Lengan kekar Arka secara refleks langsung bergerak melingkar protektif di sekeliling pinggang Naura, mengunci tubuh sang istri dalam dekapan hangatnya.
Jari-jari besar Arka bergerak perlahan, menyusup di antara helai rambut panjang Naura yang halus, mengusapnya dengan kelembutan yang selalu berhasil membuat Naura merasa menjadi wanita paling aman di seluruh dunia.
"Kak Arka," panggil Naura lembut, suaranya terdengar seperti bisikan di tengah kamar tidur mereka yang temaram.
"Ya, Naura? Ada apa?" tanya Arka, menundukkan kepalanya sedikit agar bisa menatap wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat. Senyum kecil terukir di bibirnya, mata elangnya menyipit penuh arti saat melihat pipi Naura yang sedikit merona.
Naura menarik napas pendek, jantungnya berdegup kencang. Berita itu,kehamilan yang baru diketahuinya pagi tadi,masih bergolak di dalam pikirannya. Ia bingung harus memulai dari mana. Tangan kanannya menyentuh dada bidang Arka, tepat di atas jantung yang berdetak kuat. Tapi sebelum ia sempat melanjutkan, Arka sudah salah paham.
Dengan gerakan yang lembut namun penuh hasrat, Arka menarik tubuh Naura lebih dekat. Tangannya yang besar turun perlahan dari pinggang ke punggung bawah, menekan ringan dengan sentuhan yang intim. "Hm ... panggilanku malam ini begitu manja," bisik Arka dengan suara bariton yang serak, napas hangatnya menyapu telinga Naura. "Kamu merayuku ya, Sayang? Setelah seharian capek di butik, sekarang mau minta hakmu sebagai istri?"
Wajah Naura memanas seketika. Ia menggeleng pelan, tapi Arka sudah tertawa kecil, suaranya dalam dan menggoda. Pria itu menunduk lebih dalam, bibirnya menyentuh cuping telinga Naura dengan ringan, kemudian bergerak ke leher putih istrinya. Ciuman kecil, hangat, dan penuh godaan mulai mendarat di sana. "Aku suka kalau kamu seperti ini. Langsung bilang saja kalau kamu menginginkannya. Malam ini aku sepenuhnya milikmu."
"Kak Arka ... tunggu," ucap Naura dengan suara yang agak gemetar. Tubuhnya menegang sedikit dalam pelukan suaminya. Rasa mual yang tadi sempat reda kini kembali muncul pelan, bercampur dengan kegugupan yang luar biasa. Ia ingin memberitahu tentang bayi mereka, tapi cara Arka yang tiba-tiba penuh gairah ini membuatnya bingung. Tangan Naura mendorong pelan dada Arka, mencoba memberi jarak meski hatinya tetap hangat oleh sentuhan suaminya.
Arka tidak langsung mundur. Ia malah tersenyum lebar, binar jenaka dan hasrat bercampur di matanya yang tajam. "Menolak? Wah, ini baru. Biasanya istriku yang pemalu ini malah lebih berani di saat seperti ini." Jari-jarinya menyusuri lengan Naura dengan gerakan lambat yang disengaja, meninggalkan jejak hangat di kulit istrinya. Ia menarik Naura kembali ke dalam pelukannya, dada bidangnya menekan lembut tubuh mungil sang istri. "Jangan malu-malu, Naura. Kita sudah menikah. Hakmu adalah hakku juga. Biarkan aku memanjakanmu malam ini."
Naura menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar campur aduk. Di satu sisi, ia merindukan keintiman ini,kehangatan Arka yang selalu membuatnya merasa dicintai sepenuhnya. Tapi sekarang, dengan rahasia kehamilan yang masih segar di pikirannya, ia ragu. Dokter bilang minggu pertama sangat sensitif. Ia takut aktivitas fisik yang terlalu intens bisa berisiko, meski ia sendiri belum sepenuhnya yakin. "Bukan begitu, Kak ... Aku ... aku ada yang ingin bicarakan dulu," katanya pelan, suaranya hampir hilang ditelan rasa malu dan kegembiraan yang tertahan.
Tapi Arka, yang sedang dalam suasana ber hasrat mengira penolakan lembut itu hanya bagian dari permainan. Ia tertawa rendah, suaranya bergema lembut di kamar yang hanya diterangi lampu tidur kuning keemasan. "Bicarakan nanti saja, Sayang. Sekarang biarkan suamimu ini menyayangimu dulu." Tangannya naik ke punggung Naura, membelai dengan gerakan yang semakin intim. Ia membalikkan posisi sedikit sehingga Naura hampir terbaring di bawahnya, mata mereka bertemu dalam jarak sangat dekat. Bibir Arka hampir menyentuh bibir ranum Naura. "Kamu tahu kan, aku tidak pernah bisa menolakmu. Dari hari pertama kita menyatu, setiap sentuhanmu selalu membuatku gila."
Naura merasa pipinya semakin panas. Ia mendorong dada Arka lagi, kali ini dengan sedikit lebih kuat, meski tangannya gemetar. "Kak Arka, serius ... Aku tidak sedang merayu. Badanku ... badanku agak tidak enak seharian ini." Suaranya terdengar ragu, bingung antara ingin langsung mengungkapkan kebahagiaan itu atau menunggu momen yang lebih tepat.
Air mata haru hampir merebak di matanya, tapi ia tahan. Rasa mual kembali datang pelan, membuat perutnya bergolak. Ia takut kalau melanjutkan, nanti Arka akan khawatir berlebihan atau justru terlalu hati-hati.
Arka menghentikan gerakannya sejenak, alisnya terangkat. Tapi senyum godanya masih belum hilang sepenuhnya. "Tidak enak badan? Itu alasan klasik untuk membuat suami semakin ingin memelukmu lebih erat." Ia menciumi kening Naura, kemudian turun ke hidung kecil istrinya, dan hampir ke bibir lagi. "Kalau capek, biarkan aku yang mengurus semuanya. Kamu tinggal menikmati saja. Aku janji akan lembut ... seperti yang kamu suka."
"Kak!" Naura akhirnya protes kecil, tangannya menahan bahu Arka. Wajahnya memerah hebat, campuran antara malu, bahagia, dan kebingungan yang semakin besar. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang satu sisi ingin menyerah pada godaan suaminya yang begitu memikat, sisi lain ingin segera berbagi kabar paling indah dalam hidup mereka. "Aku benar-benar ada yang penting. Bukan ... bukan itu dulu."
Arka akhirnya mundur sedikit, tapi tangannya masih tetap melingkar di pinggang Naura, jari-jarinya mengusap kulit di balik kain satin dengan gerakan lambat yang menggoda. Ia menatap istrinya dengan pandangan penuh cinta dan sedikit penasaran. "Baiklah, kalau begitu ceritakan. Tapi setelah itu ... aku tetap akan menagih hakku sebagai suami yang sudah ditantang tadi," godanya lagi, suaranya rendah dan penuh janji.
Naura menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ia menyentuh perut ratanya sendiri dengan tangan yang gemetar, lalu menggenggam tangan Arka dan membawanya ke sana. "Kak Arka ... sebenarnya hari ini aku ke dokter bersama Bi Minah. Aku ... kita ..."
Kata-kata itu masih tertahan di ujung lidah. Arka menatapnya intens, godaan di matanya perlahan berganti dengan perhatian penuh. Ruangan terasa semakin hangat, hujan kecil di luar jendela Jakarta menambah suasana intim yang tegang. Naura merasa dunia berputar pelan,pusing pagi tadi, mual yang disembunyikan, dan sekarang godaan Arka yang membuat semuanya semakin rumit tapi indah.
Arka menunggu, jari-jarinya masih menyentuh perut Naura dengan lembut, tanpa sadar sudah berada di tempat di mana kehidupan baru mereka sedang tumbuh. "Apa, Naura? Kamu membuatku penasaran sekarang," bisiknya, kali ini tanpa godaan berlebih, tapi masih ada nada hangat yang penuh kasih.
Naura menarik napas dalam-dalam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kejutan itu hampir terungkap, tapi momen salah paham tadi membuat hatinya berbunga-bunga sekaligus gugup. Cinta mereka memang selalu seperti ini,penuh kejutan, godaan, dan kehangatan yang tak terduga
"Kak Arka," panggil Naura lembut, suaranya terdengar seperti bisikan di tengah kamar tidur mereka.
"Ya, Naura? Ada apa? Jangan membuat aku khawatir" tanya Arka, menundukkan kepalanya sedikit agar bisa menatap wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat,namun pancaran kekhwartiran jelas nampak di matanya.
Naura menarik napas pendek, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh dada bidang Arka, tepat di atas posisi jantung suaminya yang berdetak dengan ritme yang teratur dan kuat.
"Sebenarnya ... ada satu kejutan kecil lagi yang belum sempat aku sampaikan kepada Kakak hari ini."
Arka mengerutkan keningnya dengan binar jenaka yang tampan di wajahnya. "Kejutan apa lagi, hm? Apakah kamu diam-diam menjahitkan kemeja baru lagi untukku di studio?"
Naura menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah senyuman misterius namun dipenuhi oleh letupan kebahagiaan yang teramat masif terukir di bibir ranumnya. Ia meraih tangan kanan Arka yang berada di pinggangnya, lalu membawa telapak tangan besar suaminya itu turun ke bawah, meletakkannya tepat di atas perut ratanya yang terbalut kain satin halus.
"Ini bukan tentang kemeja baru, Kak Arka," lirih Naura, sepasang matanya kini berkaca-kaca sepenuhnya oleh air mata haru yang tak lagi bisa ia bendung. "Tadi pagi, sebelum pergi ke butik ... aku sudah memeriksa ke dokter kandungan bersama Bi Minah. Dan ... dokter bilang, saat ini di dalam sini ... sudah ada kehidupan baru yang sedang tumbuh. Usianya baru memasuki minggu keenam."
Seketika, seluruh pergerakan tubuh Arka membeku sempurna. Udara di dalam kamar tidur mewah itu seolah berhenti mengalir selama beberapa detik berikutnya. Sepasang mata elang sang CEO muda yang biasanya selalu tajam, dingin, dan penuh dengan kalkulasi bisnis yang cepat, kini melebar sempurna karena rasa terkejut dan takjub yang teramat sangat yang belum pernah ia rasakan sepanjang tiga puluh tahun hidupnya di dunia.
"Naura ... kamu ... apa yang kamu katakan tadi?" tanya Arka, suara baritonnya mendadak bergetar hebat penuh dengan emosi yang meledak-ledak di dalam dadanya. Ia menjauhkan tubuhnya sedikit, memegang kedua bahu Naura dengan jemari yang gemetar, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya untuk mencari kepastian.
Naura mengangguk mantap, membiarkan air mata kebahagiaannya menetes perlahan membasahi pipi halusnya. "Iya, Kak Arka. Aku sedang mengandung anak kita. Kakak akan segera menjadi seorang ayah."
Mendengar konfirmasi yang begitu tulus dari bibir Naura, Arka tidak mampu lagi menahan buncahan kebahagiaan dan rasa syukur yang luar biasa masif yang menghantam seluruh dinding dadanya. Air mata haru akhirnya menetes membasahi wajah tampan pria itu,sebuah pemandangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia ini sebelumnya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arka langsung menarik tubuh mungil Naura masuk ke dalam pelukan yang teramat sangat erat, mendekap wanita itu seolah-olah ia sedang memeluk seluruh alam semesta yang paling berharga yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Ia membenamkan wajahnya di leher Naura, menciumi kulit leher dan pipi istrinya berulang kali dengan intensitas emosi cinta yang meluap-luap tak terbendung.
"Terima kasih, Naura ... Terima kasih banyak, Istriku," bisik Arka tepat di telinga Naura dengan nada suara yang serak dan parau karena menahan tangis haru yang bahagia. "Aku bersumpah ... aku akan mencintaimu, menjaga anak kita, dan menyerahkan seluruh sisa hidup dan ragaku hanya untuk kebahagiaan kalian berdua. Kamu adalah berkah terindah yang pernah ada dalam hidupku."
Naura memejamkan sepasang matanya di dalam dekapan dada hangat suaminya, membalas pelukan erat Arka dengan seluruh kekuatan cinta yang ia miliki seutuhnya. Di dalam kamar tidur yang bermandikan pendar lampu kuning keemasan yang temaram, di balik sisa rintik hujan malam Jakarta, kisah perjalanan dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh selembar wasiat terpaksa itu kini telah resmi mencapai puncak pembuktian tertingginya.
Bayang-bayang masa lalu telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh fajar masa depan yang cerah, kokoh, dan abadi dalam lingkaran cinta sejati yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh apa pun lagi di dunia ini.