Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di bawah kolong jembatan
"Kenapa Om menangis di sini? Om kenal Ibuku?"
Pertanyaan polos itu meluncur dari bibir Ayu. Sepasang mata bulatnya yang jernih berkedip-kedip menatap pria dewasa yang kini bersimpuh di atas tanah berdebu tepat di depan kaki ibunya. Anak perempuan itu terlihat sangat bingung.
Logika kecilnya tidak mampu mencerna mengapa seorang pria asing berpakaian sangat rapi dan mewah tiba-tiba menjatuhkan diri, menangis tersedu-sedu, dan memohon ampun di hadapan ibunya yang kehilangan kewarasan.
Terlebih lagi, ia menyaksikan sendiri bagaimana histerisnya reaksi sang ibu saat pria ini pertama kali mendekat, sebuah reaksi ketakutan yang belum pernah Ayu lihat sebelumnya.
Arkan menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa sesak yang masih menghimpit dadanya. Dengan telapak tangannya yang gemetar, ia menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
Pria itu mencoba sekuat tenaga untuk mengulas senyuman terbaik, sebuah senyuman yang sarat akan rasa bersalah, kerinduan, dan kepedihan, di hadapan gadis kecil yang kini ia yakini dengan seluruh jiwa dan raganya sebagai putri kandungnya.
Putri kecil yang tidak pernah ia ketahui keberadaan dan kehadirannya di dunia ini selama enam tahun penuh penderitaan.
Dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati, Arkan mencoba meraih tangan kecil Ayu yang tampak kotor oleh debu jalanan. Tangan kurus yang selama ini telah berjuang keras menghadapi kejamnya aspal ibu kota.
"Iya Nak, Om kenal Ibu kamu. Om kenal baik dengan Ibu Salsa" Ucap Arkan dengan suara yang parau, matanya menatap Ayu dengan binar kebapakan yang baru pertama kali membuncah di dadanya.
"Kalian ikut Om sekarang, ya? Kita pulang ke rumah yang layak. Om akan merawat kalian"
Ayu langsung menghentakkan tangan kecilnya dengan sentakan yang kuat hingga pegangan tangan Arkan terlepas begitu saja. Anak itu mundur satu langkah, menatap Arkan dengan kilatan permusuhan yang semakin kentara.
"Enggak! Jangan bawa ibuku! Aku tidak mau ikut Om! Om pasti orang jahat yang mau menyakiti Ibu seperti orang-orang dulu!" teriak Ayu dengan lantang.
Sepasang matanya yang tajam memancarkan kewaspadaan tingkat tinggi, tidak hanya menatap Arkan, melainkan juga melirik ke arah asisten pribadi dan beberapa pengawal Arkan yang berdiri tak jauh di belakang mereka dengan raut wajah cemas.
Tangan kecil Ayu kembali terlentang lebar di depan tubuh Salsa, mengunci posisi berdirinya seolah-olah tubuh mungilnya yang ringkih itu sanggup menjadi perisai baja untuk melindungi ibunya dari segala macam mara bahaya di dunia luar.
"Siapa kalian?!"
Sebuah teriakan lantang memecah ketegangan di antara mereka. Dari kejauhan, tampak seorang wanita paruh baya sedang berlari tergesa-gesa mendekat ke arah kolong jembatan layang. Wanita itu mengenakan daster rumahan bermotif sederhana yang sudah agak pudar warnanya, dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
"Siapa kalian?! Jangan ganggu mereka!" Teriak wanita paruh baya itu lagi begitu sampai di lokasi.
Tanpa rasa takut, ia langsung memposisikan tubuhnya di depan Ayu dan Salsa, menyembunyikan kedua pasang ibu dan anak jalanan itu di balik punggungnya yang tegap. Matanya menatap Arkan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot penuh kecurigaan dan amarah.
Arkan segera bangkit berdiri, berusaha bersikap sehormat mungkin meskipun penampilannya kini sudah agak berantakan.
"Maaf Bu, tolong jangan salah paham. Saya sama sekali tidak berniat mengganggu atau menyakiti mereka. Saya..."
"Jangan bawa mereka! Mereka tidak pernah mengganggu siapa pun di sini! Tolong pergi!"
Potong wanita itu dengan nada ketus, menolak mendengarkan penjelasan Arkan yang dianggapnya sebagai ancaman bagi keselamatan dua jiwa yang selama ini ia lindungi.
"Bu, tolong dengarkan saya dulu. Saya memang berniat untuk membawa mereka pergi dari jalanan ini, karena... karena saya adalah suami dari wanita ini" Ucap Arkan lirih. Kalimat itu terasa sangat berat dan perih saat keluar dari tenggorokannya.
Ia terpaksa mengakui status itu, meskipun secara hukum dan lembaran hitam masa lalu, ia telah menceraikan Salsa dengan keji enam tahun yang lalu.
"Suami? Bohong!" Wanita paruh baya itu mendengus sinis, sama sekali tidak memercayai ucapan Arkan.
"Jangan mengarang cerita! Selama beberapa tahun ini, sudah banyak sekali orang-orang berjas rapi seperti Bapak yang datang ke sini mengaku sebagai suaminya, kerabatnya, atau dinas sosial, tapi mereka hanya ingin membawa wanita ini pergi untuk dibuang ke tempat lain atau disakiti! Saya tidak akan membiarkan kalian menyentuh Salsa!"
"Bi Siti, tolong Ayu..." Pinta Ayu dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis, jemarinya mencengkeram ujung daster wanita paruh baya yang dipanggilnya Bi Siti tersebut.
"Iya, Ayu, tenang saja. Bi Siti ada di sini" Sahut Bi Siti menenangkan, lalu menoleh ke belakang sekilas.
"Ayo, Ayu, bawa ibumu pergi dari sini sekarang!"
"Tunggu dulu, Bu! Saya mohon demi Tuhan, saya tidak sedang berbohong kepada Anda!" Arkan dengan cepat melangkah ke samping, menghalangi jalur Bi Siti yang hendak menuntun Salsa dan Ayu untuk menjauh.
Untuk membuktikan kebenaran ucapannya, Arkan dengan terburu-buru merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintarnya.
Jemarinya yang bergetar hebat membuka galeri penyimpanan digital, mencari sebuah dokumen lama yang sudah bertahun-tahun sengaja ia kunci di dalam folder tersembunyi. Ia mengarahkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Bi Siti.
Layar itu menampilkan beberapa potret masa lalu. Foto pernikahan megah yang memperlihatkan Arkan dalam balutan setelan tuksedo hitam, berdiri bersanding dengan seorang wanita cantik, anggun, dengan kulit putih bersih bersinar, dan senyuman menawan yang mengenakan gaun pengantin sutra putih yang sangat mewah.
Itu adalah foto Salsa, sang putri konglomerat di masa jayanya yang dulu sempat Arkan simpan dari media sosial milik Salsa sebelum akun itu lenyap.
"Lihat ini Bu, saya mohon lihat dengan jelas" ujar Arkan dengan suara yang nyaris menangis lagi.
"Wanita di dalam foto ini, dia adalah wanita yang sama dengan wanita yang sedang memeluk boneka di belakang Anda. Namanya Salsa. Dia istri saya. Kami menikah sekitar tujuh tahun yang lalu, dan enam tahun lalu. saya kehilangannya. Saya mencarinya ke mana pun namun tidak bisa menemukannya, sampai detik ini, takdir mempertemukan saya dengannya dalam keadaan seperti ini..."
Bi Siti terdiam sejenak. Sepasang matanya yang mulai berkerut tampak bergerak bergantian, menatap tajam ke arah layar ponsel Arkan, lalu beralih menatap wajah kusut Salsa yang sedang bergumam kosong di belakangnya.
Ia mengulang proses itu berkali-kali, membandingkan struktur tulang, bentuk hidung, dan garis wajah wanita di foto dengan wanita tunawisma di hadapannya.
Meskipun terdapat perbedaan yang sangat kontras, di mana Salsa yang sekarang tampak jauh lebih kurus, kulitnya legam terbakar matahari, dan wajahnya kusam penuh kotoran, Bi Siti yang sudah bertahun-tahun melihat wajah Salsa dari dekat setiap hari masih bisa menangkap dengan jelas persamaan fisik yang mutlak di antara keduanya. Wanita di foto itu memang benar adalah Salsa.
terlebih Arkan tau nama Salsa, Bu Siti sendiri tau nama Salsa karena Salsa sering bergumam menyebut nama Salsa.
Aura permusuhan di wajah Bi Siti perlahan-lahan mengendur, berganti dengan gurat keterkejutan yang mendalam. Ia menatap Arkan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalau begitu, sebaiknya kita bicara di warung saya saja, Pak. Tidak enak menjadi tontonan orang di pinggir jalan seperti ini" Ajak Bi Siti akhirnya, menunjuk ke arah sebuah bangunan warung semi-permanen kecil yang berdiri kokoh di bawah kolong flyover tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Baik, Bu. Terima kasih"
Arkan berniat untuk mengulurkan kedua tangannya, hendak meraih tubuh Salsa dan membantunya berdiri dari lantai semen. Namun, gerakannya langsung ditepis dengan kasar oleh Ayu. Anak perempuan itu memberikan tatapan memperingatkan kepada Arkan.
Dengan kekuatan tubuh kecilnya sendiri, Ayu merangkul lengan ibunya, membantu Salsa bangkit berdiri dengan sangat telaten. Ayu kemudian menuntun langkah Salsa secara perlahan, berjalan menyeberangi sela-sela beton jembatan menuju ke arah warung Bi Siti.
Melihat bagaimana langkah kaki Salsa yang berjalan terseok-seok, pandangan matanya yang kosong tak tentu arah, serta jemarinya yang masih mendekap erat boneka plastik kumal di dadanya seolah itu adalah harta paling berharga di alam semesta, hati Arkan benar-benar remuk tak berbentuk.
Air matanya kembali mengalir deras tanpa bisa dibendung, membasahi wajahnya sepanjang ia melangkah mengekor di belakang langkah kaki istri dan anak kandungnya. Penyesalan itu kembali menghantamnya seperti ombak raksasa yang menenggelamkannya ke dasar samudra terdalam.
Arkan kemudian dibawa masuk ke dalam sebuah warung kecil yang sangat sederhana, bangunan berdinding papan kayu yang ukurannya bahkan hanya muat untuk dimasuki satu atau dua orang dewasa di bagian dalamnya.
Bi Siti mengambil sebuah kursi plastik berwarna hijau yang agak usang dari sudut warung, lalu menyodorkannya kepada Arkan.
"Silakan duduk, Pak" Ucap Bi Siti pelan.
Arkan duduk di kursi plastik tersebut dengan tubuh yang terasa lemas, sementara Salsa memilih untuk duduk berselonjor di atas selembar tikar tipis di dekat pintu masuk warung, masih dengan aktivitas setianya, mengayun-ayunkan dan menimang bayi di dalam gendongan kain jarik lusuhnya.
Di sampingnya, Ayu duduk menempel dengan sangat rapat, memeluk lengan Salsa sembari terus menatap Arkan dengan sepasang mata bulatnya yang penuh kewaspadaan. Gadis kecil itu tampaknya selalu saja memasang badan untuk menjaga dan melindungi ibunya dari dunia luar.
Bi Siti menghela napas panjang, mengambil posisi berdiri di balik meja warung kecilnya, lalu menatap Arkan dengan saksama.
"Jadi, benar Bapak ini adalah suami dari ibunya Ayu?"
"Iya Bu, benar. Nama saya Arkan. Dia adalah Salsa, istri saya yang sah" Jawab Arkan dengan suara yang serak, sepasang matanya sama sekali tidak bisa lepas memandangi setiap jengkal pergerakan Salsa di dekat pintu.
Arkan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bi Siti, mencoba mencari tahu simpul benang merah yang hilang dari takdir hidup istrinya selama enam tahun ini.
"Kalau boleh tahu, sejak kapan Bu Siti mengenal istri saya? Dan bagaimana bisa dia berada di tempat seperti ini?"
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya