Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Belum Punya Pacar
"Eh! Kapten Gavin!" pekik Hazel tertahan karena terkejut.
Spontan saja kedua tangan Hazel mencengkeram bahu tegap Gavin agar tidak terjatuh, wajah mereka sempat berjarak sangat dekat selama beberapa detik dan membuat Hazel bisa melihat dengan jelas guratan lelah namun tegas di wajah pria itu.
"Terima kasih, Kapten," bisik Hazel.
Hazel pun segera menggeser posisi duduknya masuk ke dalam bak truk, mencari tempat di sudut dekat kepala truk agar tidak terlalu mencolok di antara belasan prajurit pria yang kini mendadak terdiam canggung.
Setelah memastikan Hazel duduk dengan nyaman, Gavin menyusul lompat naik ke atas bak truk dengan gerakan cepat, lalu menutup pintu besi bak dengan bunyi dentangan yang keras.
Brak!
Suasana di dalam bak truk mendadak menjadi agak canggung. Para prajurit yang tadinya sibuk mengobrol dan tertawa, kini mendadak duduk dengan posisi tegap dan rapi. Kehadiran Gavin di antara mereka seperti membawa aura disiplin militer yang kental ke dalam bak truk tersebut.
Gavin duduk tepat di samping Hazel, menutup ruang kosong di antara mereka sehingga tubuh mereka hampir menempel.
"Jalan!" teriak Gavin memberikan instruksi kepada prajurit di luar untuk menggedor kabin depan.
Truk militer itu pun perlahan mulai bergerak, roda-roda besarnya berputar meninggalkan area parkir rumah sakit dan mulai membelah jalanan kota yang masih lengang menuju jalur perbatasan utara.
Guncangan di dalam bak truk militer jauh lebih kasar dibandingkan dengan helikopter semalam. Setiap kali roda truk menghantam lubang atau melewati aspal yang tidak rata, tubuh Hazel ikut terguncang ke atas dan ke bawah. Ditambah lagi, embun pagi yang dingin perlahan mulai berubah menjadi angin kencang yang menyusup masuk melalui celah-celah terpal pembungkus bak.
Hazel mengeratkan pelukan pada tas medis di pangkuannya, ia berusaha keras menatap lurus ke depan dan menghindari kontak mata dengan Gavin yang berada tepat di sisi kanannya. Rasa sesak di dadanya akibat kejadian dengan Tika semalam sebenarnya belum sepenuhnya hilang, namun ia memaksa otaknya untuk tetap fokus pada pemandangan jalanan di luar.
Gavin yang menyadari tubuh Hazel perlahan mulai menggigil karena embusan angin, mengalihkan pandangannya dari dokumen logistik yang dipegangnya, ia memperhatikan jaket tipis Hazel yang sedikit basah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gavin melepas jaket tebal yang dipakainya.
"Pakai ini," ucap Gavin sambil menyampirkan jaket besar itu ke atas bahu Hazel.
Hazel tersentak, menoleh dengan cepat. "Tidak usah, Kapten. Saya tidak apa-apa," tolak Hazel sambil mencoba melepas jaket tersebut dari bahunya.
Rasa gengsi dan sakit hatinya membuat ia tidak ingin terlihat lemah di depan Gavin, apalagi setelah tahu ada wanita lain dalam hidup pria itu.
Namun, tangan Gavin dengan cepat menahan pergerakan tangan Hazel dan mencengkeramnya dengan lembut namun tidak bisa dibantah.
"Jangan keras kepala, Hazel. Tugasmu di perbatasan masih panjang. Kalau kamu sakit, siapa yang mau mengurus klinik darurat? Pakai," ucap Gavin.
Mendengar nada suara Gavin yang tegas namun terselip perhatian tersembunyi, Hazel akhirnya menyerah dan membiarkan jaket tebal yang kebesaran itu membungkus tubuh mungilnya.
Seketika, rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membawa serta aroma parfum maskulin khas Gavin yang sangat familier, aroma yang entah mengapa selalu berhasil membuatnya merasa aman sejak belasan tahun lalu.
Para prajurit yang duduk di seberang mereka kompak memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat interaksi manis sekaligus tegang antara komandan mereka dan sang dokter relawan. Mereka semua tahu betul betapa menakutkannya Kapten Gavin jika sedang marah, jadi mencari aman adalah pilihan terbaik.
Untuk mencairkan suasana yang kaku, salah satu prajurit di pojok depan mencoba membuka obrolan.
"Dokter, namanya Dokter Hazel kan?" tanya salah satu prajurit.
"I-iya," jawab Hazel.
"Dokter punya pacar belum?" tanya prajurit lainnya.
Pertanyaan dari prajurit muda itu seketika membuat suasana di dalam bak truk yang tadinya hening berubah riuh, beberapa prajurit langsung menyikut lengan temannya yang bertanya. Sementara yang lain tertawa kecil, mencoba menggoda rekan mereka yang dianggap terlalu berani.
"Wah, nyali kamu gede juga ya, Jon! Baru juga kenal sudah langsung nanya status," celetuk prajurit di sebelahnya sambil tertawa.
Hazel sempat tersentak kaget, ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan sefrontal itu di depan belasan pria berseragam, terutama di sebelah Gavin. Hazel tersenyum canggung, wajahnya agak memerah bukan karena baper, melainkan karena merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada.
"Saya belum punya pacar, saya masih fokus dengan pekerjaan saya," jawab Hazel jujur dengan suara yang agak pelan namun cukup jelas terdengar.
Mendengar jawaban Hazel, prajurit bernama Jono itu langsung tersenyum lebar sampai matanya menyipit. "Wah, serius, Dok? Waduh, berarti peluang buat para prajurit jomblo di pos masih terbuka lebar dong, ya?" godanya lagi, yang langsung disambut sorakan dari teman-temannya.
Namun, kesenangan para prajurit itu tidak berlangsung lama. Detik berikutnya, hawa di dalam bak truk mendadak drop sampai ke titik beku. Gavin yang sejak tadi diam, perlahan memalingkan wajahnya dan melemparkan tatapan mata yang luar biasa tajam kepada Jono dan prajurit lainnya.
Sorot mata Gavin seolah mengisyaratkan bahwa mereka baru saja melewati batas aman, tatapan dingin sang Kapten langsung membuat tawa para prajurit terhenti di tenggorokan. Jono yang tadi senyum-senyum sendiri, seketika menelan ludah dengan susah payah dan buru-buru memperbaiki posisi duduknya menjadi siap.
"Kalian ini kekurangan latihan ya sampai-sampai punya banyak energi buat mengurus kehidupan pribadi orang lain?" tanya Gavin dengan suara baritonnya yang berat, dingin dan penuh penekanan.
Bak truk langsung sunyi senyap, tidak ada satu pun prajurit yang berani bernapas terlalu keras, apalagi menjawab pertanyaan sang komandan. Mereka semua kompak menunduk, pura-pura sibuk merapikan tali sepatu atau memeriksa barang bawaan masing-masing.
Gavin kembali membuang muka ke arah luar terpal, rahangnya tampak mengeras dan aa rasa tidak nyaman yang bergejolak di dadanya mendengar fakta bahwa Hazel belum memiliki pasangan. Namun di sisi lain, ia juga merasa kesal melihat bagaimana pria-pria lain mencoba mendekati wanita itu.
Hazel sendiri hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan merasa semakin canggung, ia merapatkan jaket tebal milik Gavin yang membungkus tubuhnya dan menenggelamkan sebagian wajahnya ke dalam kerah jaket yang aromanya sangat menenangkan itu.
Diam-diam, Hazel mencuri pandang ke arah Gavin. Wajah tegas itu terlihat lelah, namun tetap memancarkan pesona yang dulu sempat membuatnya jatuh hati setengah mati saat masa-masa SMA.
Perjalanan berlanjut melewati medan yang semakin berat, truk militer itu mulai menanjak membelah perbukitan, bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan ekstrem saat melewati jalur bekas longsoran yang berlumpur tebal. Di beberapa titik, roda truk terdengar slip dan berputar di tempat sebelum akhirnya berhasil mencengkeram tanah berbatu.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak