"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Noctis The Blood Moon Demon
Situasi yang terjadi sekarang ini sangat tidak menguntungkan Ashura. Terlebih Thalindra yang mempercayakan dirinya untuk menghadapi orang-orang dihadapannya.
"Semua orang sama saja! Mereka terlalu berharap besar kepadaku!" Ashura mengepalkan tangannya dan merasakan mana dalam tubuhnya belum stabil.
"Ashura! Hancurkan dinding es ini dan biarkan aku membantumu!" teriak Liorael dari dalam dinding es.
Mendengar Liorael terus mengoceh membuat Ashura menoleh kebelakang dan menatap Liorael.
"Aku tidak bisa menuruti keinginanmu, Pangeran. Kau seorang Putra Raja dan aku akan merasa berdosa jika membiarkan dirimu dan kalian terluka!" ujar Ashura sambil mencoba menjaga jarak dari lawannya.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain!" Ashura membulatkan tekad karena melihat Thalindra yang terlihat kesusahan mengimbangi sihir Tetua Aleazea.
Saat salah satu Dewan Tetua bergerak kedepan, sebuah kilatan petir muncul didepan Ashura dan aura berwarna putih terang memenuhi sekitar Ashura.
"Kau terlalu gegabah, Ashura! Untuk saat ini mereka bukanlah lawanmu! Biarkan kami yang mengatasi ini!" ujar Onyx yang menatap pengawal kerajaan dan memastikan Ashura tidak terluka.
"Kau telah bertahan cukup baik..." Onyx tersenyum tipis dan mengaliri tubuhnya dengan mana dalam jumlah besar, "Sisanya serahkan padaku!"
Melihat Onyx yang tidak bergeming, Ashura pun menyadari bahwa kepercayaan diri Onyx melebihi apa yang selama ini dia kira.
"Ini akan sulit jika aku tidak boleh membunuh mereka..." ucap Onyx sambil menghela nafas karena belum mengetahui cara melepaskan mereka semua dari pengaruh sihir Tetua Aleazea.
Saat Onyx melepaskan kekuatannya, Ashura pun dibuat takjub dengan kemampuan Onyx. Diluar sifatnya yang terkadang membuatnya kesal, Onyx memiliki bakat yang dimiliki penyihir lainnya.
Tanpa merapalkan sebuah mantra, Onyx dapat memanipulasi mana dalam tubuhnya menjadi petir.
Melihat itu, Ashura tanpa sadar bertanya, "Bagaimana kau bisa melakukan semua itu, Onyx?"
Onyx pun menunjukkan senyum khasnya kepada Ashura, "Aku tidak memiliki waktu untuk merapalkan mantra. Aku adalah petir itu sendiri!"
Jawaban yang singkat, sama seperti dirinya yang bergerak secepat kilat dan menghentikan pergerakan lawan dihadapannya dalam waktu yang singkat.
"Tubuh kalian akan kesulitan bergerak setelah terkena sengatan listrik sihirku!" ujar Onyx yang terlihat seperti bercanda saat menghadapi pengawal kerajaan dan Dewan Tetua.
Kekuatan yang ditunjukkan Onyx barusan membuat Ashura tersadar akan perbedaan keduanya. Ashura pun mengepalkan tangannya bukan karena merasa tidak percaya diri, tetapi karena merasa termotivasi untuk lebih belajar dari Onyx.
Saat Ashura hendak bangkit membantu Onyx, Serlin datang bersama Yuna. Keduanya tidak datang berdua saja, melainkan ada Magus Magnus, Thorin dan beberapa pengawal Thalindra.
Beberapa pengawal Thalindra terluka parah dan sebagian ada yang tewas. Ashura menyadari kekuatan Tetua Aleazea sudah berada dilevel yang berbeda.
"Ashura, sebaiknya kau pulihkan tenagamu dan fokus melindungi mereka! Masalah ini biar orang dewasa yang menyelesaikannya!" ujar Serlin sambil memegang kepala Ashura dan mengacak rambutnya dengan gemas.
"Pastikan kau melindungi Cucu Tuan Thranduil dan kedua anak Raja Eldrin!" Serlin melanjutkan dan Ashura menganggukkan kepalanya.
Setelah Ashura menjauh, Serlin bersama Yuna melepaskan mana dalam jumlah besar. Keduanya terlihat mengamati Onyx terlebih dahulu yang mencoba sebelum membantu Onyx untuk mencari solusi menyadarkan mereka semua.
"Onyx, biar aku yang menghentikan pergerakan mereka!" teriak Yuna sambil menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah.
Seketika permukaan bumi di bawah kaki lawannya berubah menjadi lumpur pekat. Kaki pengawal kerajaan dan Dewan Tetua tenggelam hingga lutut mereka, semakin meronta semakin dalam tubuh mereka semua terseret ke dalam kubangan tanah hidup itu.
"Serlin, gunakan kedua elemenmu itu untuk menghasilkan magma!" ujar Onyx yang membuat menghela napas panjang.
"Kita tidak bisa membunuh mereka, karena bagaimanapun mereka dikendalikan oleh sihir Iblis Elf itu!" Serlin menatap orang-orang yang dikendalikan Tetua Aleazea.
Saat mereka terlihat kesulitan untuk bertindak, Thranduil datang dan memberitahu Serlin bahwa dirinya dan Elf yang lain belum menemukan cara untuk mematahkan jurus sihir milik Tetua Aleazea.
"Satu-satunya cara adalah dengan membunuh mereka semua! Jika tidak mereka yang akan membunuh kita!" ujar Thranduil kepada Serlin.
Serlin terdiam, tidak memberikan jawaban. Saat Thranduil berniat melepaskan sebuah sihir, salah satu Dewan Tetua melakukan tindakan paling gila yaitu melepaskan sihir ledakan yang membuat dirinya mati begitu juga dengan orang-orang yang dikendalikan sihir Crimson Cursed Seal.
Ashura refleks melepaskan sihirnya untuk menciptakan dinding es. Ledakan yang terjadi bisa saja membuatnya mati atau terluka parah, sehingga serpihan es bergerak melindungi dirinya dan membentuk dinding es berbentuk sayap naga.
Thranduil yang berada disana terkesima melihat kemampuan Ashura. Bukan Thranduil saja, melainkan semua orang yang berada disana takjub dengan sihir milik Ashura.
Setelah serpihan es itu mencair, pemandangan yang pertama kali mereka lihat sangat mencekam.
Salah satu Dewan Tetua telah menjadikan tubuhnya sendiri sebagai inti ledakan sihir. Sebuah mantra bunuh diri yang menghancurkan dirinya sekaligus menewaskan banyak orang di sekitarnya.
Sementara mereka yang melihat ini mengalami syok melihat kejadian ini, berbeda dengan Tetua Aleazea tertawa lepas diatas sana dan menghempaskan tubuh Thalindra kebawah dengan satu kali pukulannya yang telak.
"Fase kedua dimulai! Malam ini kita akan membuat tempat ini menjadi medan pertempuran!" ujar Tetua Aleazea yang berniat memicu perang saudara setelah berhasil membunuh semua pengawal Vaelor.
Tetua Aleazea mengangkat tangan kanannya keatas dan menciptakan sebuah penghalang, yang membuat semua orang terkurung didalam Pulau Emberwind.
"Sepertinya para Dark Elf telah datang, begitu juga dengan pasukan Wood Elf. Situasi ini jadi semakin menarik!" Tetua Aleazea tersenyum licik sebelum bergerak menuju Liorael dan Elara.
"Aku akan membunuh mereka berdua!"
Tetua Aleazea bergerak dengan kecepatan tinggi dan menembus dinding es yang diciptakan Ashura. Dengan satu serangan yang mematikan, Tetua Aleazea berniat membunuh Liorael dan Elara, namun serangannya itu dihempaskan Thalindra yang berhasil bangkit dan mengecoh dirinya.
"Kukira kau sudah kalah, Senior Thalindra?" Tetua Aleazea menatap Thalindra yang menyembuhkan perutnya menggunakan sihir.
"Kau pikir kenapa aku bisa bertahan hidup sejauh ini?" Thalindra kali ini menciptakan sebuah pedang berwarna hijau yang dipenuhi mana, "Aku bertahan hidup sejauh ini karena orang-orang memanggilku Sang Putri Pedang!"
Tepat setelah Thalindra mengatakan itu, sebuah tebasan pedang yang dipenuhi energi sihir, memotong tangan kanan Tetua Aleazea.
"Sial!" Tetua Aleazea mengumpat dan berdecak kesal karena lengah.
Lengan tangan kanannya terjatuh tepat dihadapan Ashura.
"Meledaklah!" ujar Tetua Aleazea dan tak lama lengan kanannya itu meledak.
BOOOMMM!!!
"Bocah!" Thalindra berteriak kearah Ashura dan bergerak secepat mungkin.
"Ashura!" Serlin dan yang lain juga bergerak melindungi Ashura.
Sementara itu Tetua Aleazea menatap tajam kebawah sana dan memperhatikan Ashura yang tidak terluka sama sekali.
Seperti sebelumnya saat menciptakan sebuah pelindung es, serpihan es dalam tubuhnya bergerak dengan sendirinya untuk melindungi Ashura dari bahaya.
"Malphas Sulfur, aku menemukan yang menarik disini! Tidak akan kubiarkan kau memilikinya!" ujar Tetua Aleazea sambil menyembuhkan lengan kanannya.
Sementara itu yang lainnya mencoba menyadarkan Ashura yang terlihat kelelahan karena mana dalam tubuhnya terkuras.
Diwaktu yang sama pasukan dari Dark Elf dan Wood Elf telah sampai dilokasi dan menyerang satu sama lain.
"Kalian semua akan menjadi budakku!" ujar Tetua Aleazea diatas sana.
Terlihat tubuhnya secara perlahan muncul retakan dan dari retakan itu menjadi hancur.
Kabut hitam perlahan menyelimuti sosok Tetua Aleazea yang melayang diudara. Tubuhnya tinggi dan ramping seperti elf pada umumnya, namun keindahan wajahnya terasa tidak wajar, seolah-olah dipahat oleh tangan dewa yang telah jatuh ke dalam kegelapan.
Rambut peraknya menjuntai hingga pinggang, berkilau seperti cahaya bulan yang tercemar darah. Dari balik rambut itu tampak sepasang telinga runcing khas bangsa elf, tetapi urat-urat hitam menjalar di sepanjang kulit pucatnya seperti akar pohon mati.
Dengan tatapan matanya yang dingin, Tetua Aleazea mengatakan kepada semua orang yang melihat wujudnya.
"Noctis, Iblis Bulan Darah telah kembali!"