Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Berita kehamilan Laras sampai juga ketelinga Nyonya Veronica.
"Nyonya besar, nona Laras sudah hamil." lapor asistennya.
"Benarkah, bagus. Kita liat anak itu bertahan sampai lahir atau tidak." ujar nyonya Veronica dengan senyum sinis.
"Lalu apa yang akan anda lakukan, nyonya?" tanya asistennya.
"Untuk saat ini fokus saja dulu sama Mila. Saat Mila sudah ku tendang baru kita pikirkan lagi cara mengusir Laras." jawab nyonya Veronica dingin.
Di awal sepertinya nyonya Veronica mendukung tapi ternyata itu hanya kamuflase. Pernikahan antara Laras dan Dafa hanya sebagi alat untuk menyingkirkan Mila yang juga berasal dari kalangan bawah. Nyonya Veronica maunya bermenantukan wanita yang status sosialnya selevel dengan keluarganya. Baginya status itu sangat penting dan berpengaruh juga untuk bisnis keluarga mereka.
Sementara itu di tempat berbeda Mila juga sudah mendengar berita kehamilan Laras dari mata - mata yang sengaja ia kirim ke
rumah Laras. Mila marah besar dan melempar botol minuman yang terbuat dari kaca hingga berserakan di lantai.
"Apakah mas Dafa senang dengan kehamilan babu itu?" tanya Mila dengan sorot mata penuh kebencian.
"Tuan muda sangat senang nyonya. Bahkan tuan muda yang bisanya dingin dan galak berubah jadi lembut dan memanjakan Laras. Apa yang Laras inginkan akan di turuti oleh tuan muda." lapor pelayan itu membaut emosi Mila makin meradang.
"Sial. Harusnya aku yang berada di posisi itu, bukan babu sialan itu." teriak Mila sambil melempar barang - barang yang di sekitarnya membuat pelayan itu pergi meninggalkan Mila yang emosi. Ia takut jadi sasaran Mila.
Kamar yang tadinya rapi berubah seperti kapal pecah. Mila berteriak seperti orang kerasukan. Tak ada satu pun pelayan yang mendekat padanya.
Setelah emosinya sedikit mereda, Mila yang kelelahan terduduk di sofa. Air matanya juga sudah tak lagi menetes, hanya menyisakan bekas air mata yang sudah mengering.
"Ini ga boleh di biarin, aku harus merebut apa yang seharusnya jadi milikku kembali. Apapun caranya meski dengan melenyapkan dua nyawa sekaligus." lirih Mila yang di sertai tawa yang mengeringkan. Dendam mengusai hatinya, ia tak bisa menerima jika Dafa bahagia dengan wanita lain.
"Hallo, kamu di mana?" tanya Mila saat menghubungi seseorang.
"Di tempat biasa? Ada apa?" jawab orang yang di sebrang.
"Tunggu aku akan kesana." telpon langsung terputus. Mila menganti pakainya dan bersiap hendak pergi ke suatu tempat. Ia memacu kendaraanya menuju sebuah kawasan perumahan yang tidak mencolok. Rumah yang dituju ada di paling ujung.
Susana perumahan nampak sepi, seperti tak ada berpenghuni. Perumahan ini memang hanya di jadikan tempat untuk istirahatlah kebanyakan penghuninya yang tengah bekerja. Makanya kalau di hari siang begini nampak begitu sepi.
Mila sepertinya sudah terbiasa datang ketempat ini. Ia sangat tau seluk beluk kawasan tersebut. Mobil berhenti di sebuah rumah yang berpagar hitam.
Pagar terbuka dengan sendirinya dan itu memudahkan Mila memakirkan mobilnya di jalan rumah. Mila turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Hai cantik, kenapa wajahnya si tekuk gitu?" sapa seorang lelaki yang tengah duduk sambil merokok di sofa. Mila menghempaskan tubuhnya di samping pria itu.
"Dafa berubah." keluh Mila.
"Berubah kenapa, cantik?" lelaki itu merengkuh tubuh Mila masuk kedalam pelukanya dan dengan penuh nafsu menciumi leher jenjang nan putih bersih.
"Hentikan Rio." Mila mendorong tubuh Rio agar berhenti menciuminya.
"Kenapa? Bukanya kamu suka, cantik?" tanya lelaki itu dengan wajah kecewa permainan di hentikan.
"Aku kesini mau menangkan diri."
"Mari kita bersenang - senag seperti biasanya, cantik." kembali lelaki itu melakukan apa yang tadi ia lakukan. Kali ini Mila tak bisa menolak karna terbawa arus permainan Rio.
Cukup lama mereka bermain dengan beragam posisi hingga gelombang itu datang, keduanya saling berteriak menikmati betapa dahsyatnya permainan yang mereka lakukan.
"Kamu memang tau yang aku mau." puji Mila sambil menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.
"Tinggalkan lelaki itu dan menikahlah denganku."
"Kamu tau jawabannya."
"Sampai kapan kamu seperti ini?" Rio memakai bocornya dan menyalahkan sebatang rokok sambil duduk di dekat jendela.
"Sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Apa ini belum cukup, cantik?"
"Belum, tunggu sebentar lagi. Setelah semuanya jatuh ketangan aku, aku akan jadi milikku seutuhnya."
Rio adalah lelaki yang sangat mencintai Mila, ia rela jadi kekasih gelap Mila asalkan wanita itu ada di sisinya. Apapun akan ia lakukan asal wanitanya bahagia. Mila memberinya banyak materi hingga hidupnya bisa enak seperti sekarang, tanpa bekerja pundi - pundi selalu terisi penuh.
Mila akan datang ketempat Rio saat ia membutuhkan penyaluran yang tak bisa ia dapatkan dari suaminya.
...****************...
Assalamualaikum kk, di tunggu saran dan masukannya serat jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏🙏