NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:776
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Adik ku

Siang yang begitu terik dengan paparan sinar matahari terasa di ubun-ubun Nur pulang sekolah dengan jalan kaki melewati jalan setapak. Suara gaduh dan tangisan anak kecil begitu mengganggu telinganya. Kedua mata nya mencari asal dari suara tangisan itu. 

"Tangisan itu seperti suara Antoni, tapi di mana?"

Masih sibuk mencari asal suara adiknya, Nur melangkahkan kakinya lebih cepat lagi. 

Hingga Dia tiba di tempat yang terdapat kerumunan anak laki-laki sedang sorak sorai menertawakan sosok Antoni. 

"Hei... berhenti!"

Nur berlari ke arah kerumunan itu, Dia melihat Antoni yang menangis sambil terduduk di kerumuni anak-anak yang lain. 

Seperti barisan yang dibubarkan komandannya anak-anak itu berlari berhamburan meninggalkan Antoni. 

"Ayo cepat lari, lari... itu Nur kakak nya!"

Nur menghampiri Antoni dan membantunya berdiri. 

"Dek..kamu kenapa nangis lagi, bukannya kakak sudah pernah bilang kalau ada yang jahil, kamu harus berani melawannya!"

"Hiks... tapi mereka banyak kak, mana mungkin aku bisa melawan mereka semua."

"Ya paling tidak kamu bisa membela diri, jangan terus nangis, malu dong!"

Nur membawa Antoni pulang dengan wajah yang terlihat marah dan jengkel. 

(Kenapa ini anak cengeng banget, dikit-dikit nangis, Huh... ) 

Tiba di rumah Haya sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. 

"Eeh... anak-anak Bunda sudah pada pulang? Loh.. baju mu kenapa Ant?"

Haya mulai melepaskan baju Antoni yang terlihat kotor karena terkena tanah. Sambil membersihkan badan anak lakinya, Haya meminta Nur untuk menceritakan apa yang terjadi pada mereka. 

"Oh... Kenapa mereka mengejekmu Nak?"

Antoni hanya diam sambil melirik ke arah Nur. Melihat sikap Antoni Haya menjadi curiga. Dia pun menyuruh Nur untuk masuk dan makan. 

Begitu Nur tidak terlihat, Haya kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada Antoni. Merasa cuma berdua saja, Antoni mulai menceritakan awal kejadian pertengkaran antara Dia dan teman-temannya. Meskipun terdengar lirih tapi Haya bisa menerima dengan jelas apa yang Antoni ceritakan. 

Mendengar cerita Antoni yang begitu diluar dugaan, Haya dengan cepat meraih dan memeluk erat tubuh anak nya. 

"Bunda tahu Nak, kalian saling menyayangi sebagai saudara. Bunda juga tahu kamu selalu ingin melindungi kakak mu. Bunda bangga pada kalian."

"Tapi Bun, apa benar Nur bukan kakak kandung Antoni? Karena mereka bilang Nur adalah anak pungut yang Bunda ambil karena di buang ayah nya."

"Hust... siapa yang bilang seperti itu? Apa pun yang mereka katakan itu tidak benar, kalian berdua anak ayah dan bunda."

Selama drama melo antara Haya dan Antoni, ternyata Nur mendengar dari balik tirai ruang tengah. Meskipun raut wajah nya berusaha untuk terlihat tenang tapi dalam hati nya Dia membenarkan apa yang di ceritakan Antoni. 

(Mungkinkah benar aku bukan anak kandung ayah dan Bunda, jika benar kenapa orang tuaku begitu tega melakukan itu pada ku? Siapa aku sebenarnya?) 

Air mata Nur jatuh tanpa mendapat ijin terlebih dulu. Dan agar keberadaannya tidak diketahui Ibu serta adiknya, Dia bergegas masuk ke kamar. 

Di dalam kamar Nur tidur tengkurap sambil memeluk guling. Di pikirannya masih teringat dengan cerita Antoni. Rasa gelisah, cemas, takut semua bercampur menjadi satu. Air mata yang jatuh sudah tidak bisa ditahan lagi. 

(Ya Allah, benarkah itu? Siapa sebenarnya aku? Bantu aku ya Allah...) 

Begitu terhanyut nya dalam kesedihan , keberadaan Nur di kamar yang tidak kunjung keluar membuat Haya bertanya-tanya. Dia mulai mendekat ke pintu kamar Nur dan mencoba menempelkan daun telinganya. 

(Tidak ada suara, apa Nur ketiduran di dalam? tapi makanan di meja masih utuh apa Dia terlalu capek dan tidak sempat makan?) 

Dengan berpikiran seperti itu Haya kembali ke warung dan tidak berani membangunkan Nur. 

Hari pun sudah mulai petang, langit sudah berubah menjadi gelap. Indro dengan motor kesayangannya kembali dengan menenteng kantong plastik. Melihat warung sudah tertutup rapat, Indro langsung menuju ruang makan. 

"Kok sepi, anak-anak kemana?"

Indro duduk di kursi yang sudah disiapkan istrinya. 

"Mas, dari tadi sepulang sekolah Nur belum juga keluar dari kamar nya."

Indro menghentikan tegukan secangkir teh yang di buat kan untuknya. Dia menoleh ke arah kamar Nur yang masih tertutup rapat. 

"Apa tadi disekolah Dia ada masalah?"

Dengan suara lirih dan duduk mendekati suaminya, Haya menceritakan kejadian tadi siang. Indro pun terdiam sambil memikirkan sesuatu. 

"Apa Nur sempat mendengar cerita kalian?"

"Harusnya tidak Mas, karena waktu Antoni cerita Nur ada di dalam dan tidak bersama kami."

"Biar aku yang datang ke Nur nanti, apa kalian sudah makan?"

"Antoni sudah dan Dia sekarang sedang belajar di kamar."

Setelah meletakkan kantong plastik di meja makan, Indro berjalan menuju kamar Nur. Dia mengetuk pintu kamar dengan pelan sambil memanggil nama Nur. 

Tidak lama Nur membuka pintu dengan kedua mata yang masih belum terbuka lebar dan terlihat sembab. 

"Kenapa Ayah?"

"Boleh Ayah masuk, sayang?"

Nur berbalik arah dan kembali duduk ditempat tidurnya. Indro pun mengikuti dari belakang dan duduk didekatnya. 

"Kamu kenapa Nur, apa ada masalah disekolah? Cerita dong ke ayah, setahu ayah Nur itu anak yang ceria, pemberani, kuat, tegar..... "

"Sudahlah Ayah... Nur tidak seperti itu!"

Indro menjadi curiga dengan ucapan Nur, Dia memalingkan tubuh Nur agar menghadapnya. 

"Kenapa Nur ngomong seperti itu? Katakan pada Ayah."

Dengan malas nya Nur melepas kedua tangan Indro yang memegang bahunya. 

"Nur saat ini ingin sendiri Ayah, bisa kan tinggalkan Nur sendiri di kamar?"

Semakin aneh melihat sikap Nur, Indro meminta istrinya untuk membawakan makan ke dalam kamar Nur. 

"Baiklah, Ayah tinggalkan Nur sendiri tapi kamu harus tetap makan dan ingat jangan membuat kami sedih dengan sikap kamu yang tidak jelas ini."

Tidak mau bersuara Nur hanya membaringkan tubuhnya ditempat tidur dan menutupi nya dengan selimut. Indro pun mengajak Haya keluar dari kamar Nur. 

"Kita keluar sekarang, biarkan Dia sendiri."

Bagaimanapun hati seorang Ibu pastilah tidak merasa tenang melihat anak nya bersikap seperti itu. Di dalam kamar Haya hanya bisa membolak-balikan posisi tidurnya. Tidurnya merasa tidak tenang karena terus memikirkan Nur. 

(Ada apa dengan anak itu, apa Dia memang mendengar cerita kami tadi, Ya Allah... kenapa begitu cepat waktu harus mengungkap kebenaran ini) 

Melihat istrinya yang gelimpungan tidak tenang, Indro membuka kedua matanya yang sudah sempat terpejam. Dia meraih tubuh istrinya dan memeluknya. 

"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Aku juga merasakan apa yang ada dalam diri kamu. Bukannya kita sudah berjanji akan melalui semua bersama? Tidurlah, Aku yakin Nur bisa melewatinya, Dia terlahir untuk menjadi wanita kuat seperti kamu."

Dengan ciuman di kening Haya dan senyum termanisnya, Indro semakin merengkuh kuat tubuh istrinya agar tidur nyenyak dipelukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!