AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 20
Shena tersentak. "Jangan kurang ajar ya! Berani lo ngejelek-jelekin nyokap gue, hah ?!" Shena maju selangkah, matanya nyalang seperti hendak menerkam Audrey hidup-hidup. Tapi Audrey tidak gentar, bahkan dia tidak bergerak satu inci pun.
"Eh..eh...I-ini ada apa.? Kenapa jadi berantem gini ?!" Pak RT dan istri nya buru-buru keluar ketika mendengar suara keributan dari teras rumah mereka.
"Neng Audrey, ada apa ?" Bu RT memegang lengan Audrey, bertanya dengan nada lembut.
"Maaf, Pak..Bu, Tolong suruh orang asing ini pergi dari desa kita. Dia membawa energi negatif, jangan sampai desa kita tercemar!" Nada Audrey terdengar ringan tapi tajam.
Shena mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam, campuran marah, kesal dan malu.
"Saya pamit dulu ya, Pak, Bu...Takut lontong sayur saya keburu dingin. Permisi."
Audrey pergi tanpa melihat ke arah Shena lagi. Dia melenggang santai meninggalkan kediaman Pak RT.
"Sebenernya neng ini siapa ? Katanya temennya Neng Audrey tapi kok malah berantem ?" Tanya Pak RT setelah Audrey pergi.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Pak RT, dengan tidak sopannya.Shena justru pergi tanpa pamit. Gadis angkuh itu masuk ke dalam mobilnya kembali sambil membanting pintu mobil.
Pak RT dan istrinya terlonjak kaget, mereka menatap kepergian Shena dengan hati dongkol.
"Apa orang kota begitu semua ya, Pak ?" tanya Bu Rt pada sang suami.
"Atuh heunteu, Ibu. Buktina eta Neng Audrey jeung babaturanna aralus budi. Mun ceuk budak ayeuna mah eta ngarana Oknum.."
(Tentu tidak, Bu. Buktinya itu Neng Audrey sama teman-temannya berperilaku sopan santun. Kalau kata anak sekarang itu namanya Oknum.)
Bu RT manggut-manggut setelah itu keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu.
🏵️
Di persimpangan jalan sebelum keluar dari desa Shena menghentikan kendaraannya demgan nafas yang memburu.
"BRENGSEK!! SIALAN!!" Shena berteriak memuntahkan kemarahan sambil memukul setir berkali-kali. Dadanya masih naik turun menahan emosi yang belum benar-benar reda.
"Kurang ajar! Lihat saja nanti, aku akan memberinya pelajaran karena sudah mempermalukan ku hari ini!!"
🏵️
Sore hari nya sekitar pukul 5 saat Audrey dan teman-temannya kembali ke posko, mereka melihat sebuah mobil besar yang tampak sangat gahar dan mewah terparkir di halaman posko.
Mobil petualang itu berwarna hitam legam dengan ban besarnya yang masih mengkilas. Memancarkan kesan gagah sekaligus mahal.
"eh, mobil siapa tuh ?!" Tanya salah seorang mahasiswa.
"nggak tau." Jawab James di sambut gelengan kepala para mahasiswa lain.
Audrey, Lula dan Yasmin berjalan di paling belakang.
"Wow. Keren banget mobilnya." Lula yang menyadari pertama langsung takjub ketika melihat mobil itu. Di susul Yasmin yang juga sama takjubnya. Sedangkan Audrey, dia biasa saja karena sudah pernah melihat mobil yang seperti itu di showroom mansion milik Ayah mertuanya.
"Ih kalian ngapain malah diem di tempat begini ?! Minggir! Minggir!" Audrey menerobos barisan teman-teman nya. "Lul, Yas.. Gue duluan yang mandi, ya ?!" Ucap Audrey sambil berjalan melewati mobil mewah itu.
Klik!
Suara pintu mobil terbuka.
"Audrey!" Suara bariton yang sangat Audrey kenali membuatnya membeku sejenak.
Teman-teman Audrey yang melihat siapa yang datang bergegas masuk ke dalam rumah, mereka tidak mau terlibat dalam urusan rumah tangga Audrey dan Si Monster Es Wira.
Audrey diam di tempat tanpa membalikkan badannya.
Wira maju mendekat ke Audrey.
"Kamu baru pulang ?" tanya Wira.
"Kelihatannya ?!" Jawab Audrey ketus. Sesungguhnya ada rasa menggelitik yang aneh yang mulai menjalar di dadanya. "Ngapain kesini ?"
Air mata Audrey sudah menggenang, entah kenapa dia jadi ingin sekali menangis. Mengingat Wira yang tidak pernah mengunjunginya kecuali saat sebelum mulai KKN waktu itu. Setelah itu Wira tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi sampai hari ini.
Audrey bahkan sengaja tidak pulang di hari libur, berharap Wira peka setidaknya menghubungi atau apapun, tapi ternyata tidak sama sekali. Hanya kedua orang tua serta Kak Vincent lah yang selalu membuat panggilan Video setiap hari demi memastikan keadaan anak kesayangan dikeluarga Adiwangsa baik-baik saja.
"Langsung saja ke inti nya. Ada apa Kakak datang keseini lagi ?"
Wira melangkah maju menghampiri Audrey, berdiri tepat di hadapan istri kecilnya.
"Shena bicara apa padamu ?"
Audrey terdiam sejenak. Hatinya berkecamuk.
"Jauh-jauh datang kesini hanya untuk bertanya soal Shena ?! Gila! Bukankah seharusnya dia bertanya kabarku dulu, atau apa aku sudah makan atau belum ?! Manusia ini benar-benar mengiris habis stok kesabaranku!!" batin Audrey sambil menatap Wira dengan serius.
"Seharusnya Kak Wira layangkan pertanyaan itu pada adik kesayangan mu! Bicara apa dia padaku sampai bela-belain datang sejauh ini ?!" desis Audrey tajam
"Lagian darimana dia tau Shena datang kesini ? Apa jangan-jangan dia punya mata-mata ?!" Lagi. Audrey bergumam dalam hati.
Wira tak langsung menjawab. Tatapannya tak lepas menatap iris mata Audrey yang memerah.
"Apa Shena menyakitimu ?"
Audrey mencondongkan tubuh ke depan, "Menyakitiku, huh, yang benar saja ?!" Audrey tersenyum miring, senyum yang dingin dan mematikan. "Sebelum dia sempat menyentuhku akan kupastikan kuku-kuku panjangku ini menancap sempurna di kulitnya!"
Wira tiba-tiba menyunggingkan senyumnya, meski tipis tapi mampu membuat Audrey membeku.
"Astaga! Lancang sekali dia ?! Kenapa senyumnya manis banget begitu..." Batin Audrey terpaku menatap garis senyum yang terukir di wajah tampan sang suami.
"Bagus!" Tangan Wira terangkat, mengacak-acak rambut Audrey yang sedikit lepek karena keringat.
"Pertahankan keberanianmu ini! Kelak, aku tidak perlu merasa khawatir lagi saat kita kembali ke Mansion dan harus meninggalkan mu disana ketika bekerja."
Audrey terbelalak, reaksinya sungguh lucu. Campuran bingung dan...entahlah, seperti kaget sekaligus juga tak percaya.
Wira melirik jam di tangannya, "Cepat mandi, kita makan malam diluar. Oh ya, panggilkan James atau siapapun, aku membawakan makanan untuk mereka."
Audrey terdiam dengan binar yang sulit diartikan. Sementara itu, Wira malah berjalan menuju mobilnya meninggalkan Audrey yang masih terpaku di tempat. Barulah ketika suara klakson yang sengaja di bunyikan Wira membuat Audrey terlonjak kaget hingga membuyarkan lamunan gadis berlesung pipi tersebut.
"James, dipanggil Kak Wira." Ucap Audrey membuat teman-teman yang lain kompak memberikan tatapan aneh.
"Ngapain ?" tanya James
"Samperin aja! Gue mau mandi dulu." Setelah mengatakan itu Audrey langsung masuk ke dalam kamar.
Wajah James berubah tegang. Pikirnya, mungkin Audrey sudah mengadu yang tidak-tidak tentang kehidupan di tempat KKN mereka pada Wira hingga suaminya itu marah dan ingin memberi pelajaran.
"Mau gue temenin ?" Tanya Dean menawarkan diri tapi langsung dibalas gelengan kepala oleh James. Bukan tanpa alasan, James sudah membangun citra yang berani dan berwibawa, tak mungkin hanya untuk bertemu suami Audrey dia minta ditemani.
Akhirnya James bangun dari duduknya. Tanpa mengatakan apapun tapi dengan perasaan sedikit cemas yang coba dia sembunyikan, James keluar untuk menemui Wira.
Sampai di ambang pintu Wira langsung melambaikan tangan agar James cepat menghampiri.
"Ada apa, Bang ?" tanya James memanggil Wira dengan sebutan Abang. Sepertinya Wira tak keberatan sebab dia tak mempermasalahkan nya.
"Ini untuk kalian makan malam." Ucap Wira memberikan beberapa plastik berisi makanan cepat saji.
"Banyak sekali, Bang ?" Raut James yang tadinya tegang berubah drastis, senyumnya merekah dengan mata yang berbinar.
"Tidak perlu sisakan untuk Audrey karena dia akan makan malam diluar." Tambah Wira yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh James.
"Kalau begitu saya masuk, Bang. Terimakasih banyak untuk makanannya."