Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jantung Mila berdetak semakin kencang ketika kedua kakinya mulai memasuki area kamar pribadi Bagas.
Tampaklah Lelaki itu sedang tiduran santai di atas kasurnya sedang memandangi langit-langit kamar.
Jantung Bagas diam-diam mulai berdesir tajam saat melihat kehadiran Mila sudah berada kamarnya. Keduanya saling menatap kaku dan bingung harus berbicara apa.
Mila berusaha menguasai dirinya sambil berkata;
"A..aku mau buang air kecil dulu," langkah kakinya mengayun cepat memasuki kamar mandi yang tidak jauh dari posisinya berdiri.
Mila berbohong, ia bukan sedang buang air kecil, melainkan histeris mencak-mencak di dalam kamar mandi dan sedang berjuang keras menguasai diri. Mila merasa dirinya hampir gila dengan drama kehidupan itu.
Pukul 22.45 WIB.
Sudah hampir 7 menit. Mila tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Ngapain dia lama banget di kamar mandi?" keluh Bagas mulai resah.
Akhirnya Mila keluar dari kamar mandi. Wajahnya tertunduk malu yang luar biasa karena sudah mengenakan pakaian lingerie atau dinas malam seorang istri.
Tentu saja hal itu membuat kedua bola mata Bagas tak berkedip memandangi penampilan menggoda Mila dari atas sampai bawah. Gelora hasrat Bagas mulai merasuki jiwanya.
Sedangkan Mila tak mampu menatap Bagas. Ia berjalan tertunduk menepi mendekati kasur pria itu.
Kini gantian pula. Bagas yang bingung menguasai diri. Kejantanannya mulai tak tenang. Salah tingkah itu memaksa Bagas harus memasuki kamar mandi lagi untuk menstabilkan dirinya.
Dengan cepat Mila naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya bersama selimut tebal, kemudian berbaring membelakangi arah Bagas. Malam itu Mila cukup gugup dan merasa tidak nyaman menjadi istri Bagas. Ia tidak mengerti bagaimana untuk memulainya.
Ditambah Ada rasa trauma dalam pikiran Mila ketika masa lalunya sering mendapatkan perlakukan kasar saat melakukan hubungan intim bersama sang mantan suami.
"Apakah nanti Bagas melakukannya dengan sangat kasar, aku takut sekali!" ujar khawatir Mila memejamkan paksa matanya.
Saat Bagas keluar dari kamar mandi, pandangan pria itu langsung tertuju kepada Mila yang tengah bersembunyi di balik selimut.
Keduanya sama-sama kaku dan bingung bagaimana untuk memulai malam yang indah itu.
Bagas sempat duduk termenung bersandar dalam perasaan maju mundur. Ia berharap Mila beraksi lebih dulu kepadanya. Namun setelah menunggu 5 menit, Mila tak kunjung keluar dari selimut.
Bagas teringat dengan kata-kata Yoga.
"...kamu hanya berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan cepat, bukan untuk mencari istri sejati dulu!"
"Ok Baiklah, Gas kan!" gumamnya membuka dan membuang kaos dan celananya.
Bagas yang sudah sangat menginginkan kebutuhan biologis, akhirnya menarik paksa tangan Mila dan langi mengecup manis bibir perempuan yang sudah ia nikahi itu.
Mila terkejut hebat, kedua matanya melotot tajam menatap Bagas. Jantung wanita itu berdetak kencang karena masih dalam balutan perasaan, takut dan ragu.
Tak perlu mengajari ikan berenang. Keduanya larut dalam hubungan suami istri. Sama-sama mengerti apa yang mereka kerjakan.
Bagas yang terlihat buas. Menyebabkan dinas malam Mila sobek dan terbang ibarat layang-layang yang putus. keduanya polos tanpa benang sehelai pun.
"Ah!"
"Iii!"
"uh!"
Suara-suara desahan itu bagaikan nyanyian penghibur malam pertama antara Bagas dan Mila. Keduanya bermandikan keringat walau ruangan terasa cukup sejuk. Bagas sangat lihai memimpin permainan ranjang itu sehingga Mila tidak takut melaluinya.
Malam semakin larut. 2 ronde percintaan mereka telah berlalu. Bagas akhirnya selesai berbuka dengan yang manis setelah puasa berbulan-bulan dengan kebutuhan biologisnya.
"Aah!" seru Bagas sudah cukup puas dan merasa lega. Tubuhnya kembali bugar dan fit. Segala yang tersumbat di dalam kejantanannya kini lancar kembali.
Bagas memeluk Mila sambil berkata;
"Jangan pernah berpikir jika pernikahan ini akan menjadi selamanya. Kau tidak akan pernah bisa menguasai diriku. Kalau saja bukan karena Emma dan keadaanku yang mendesak, mustahil aku akan menikahi kamu!"
Bukannya mengucapkan terima kasih kepada Mila. Bagas masih dibaluri rasa ego yang sangat tinggi. Pria itu tetap menaruh prasangka jelek kepada Mila. Bagas mengganggap pernikahan mereka adalah rencana dan jebakan dari Mila kepada dirinya. Bagas juga merasa bahwa wanita itu sangat terobsesi dengan dirinya yang sekarang dan berniat untuk menggantikan posisi Tyas.
Mila terdiam merenung. Ia tidak bisa menjelaskan apapun tentang semua itu.
Bagas memiringkan tubuhnya membelakangi Mila lalu memilih tidur.
Keduanya sama-sama terlihat sangat kelelahan hingga tertidur pulas.
Pagi kembali menghadirkan hari yang baru.
Waktu menunjukkan pukul 04.12 WIB. Meskipun tidur lebih larut. Mila sudah biasa terbangun di jam itu.
Mila merasa asing dan sedikit terkejut ketika melihat sosok Bagas yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Pandangan wanita itu jauh mengingatkan semua yang terjadi tadi malam. Tak lama kemudian dua bola matanya serentak mengeluarkan lelehan airmata kesedihan.
Di dalam hati kecil Mila. Ia sungguh menginginkan kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama pria yang benar-benar mencintainya.
Airmata itu juga mengungkap kesedihan, rasa tidak terima tentang pernikahannya yang tersembunyi baik di mata hukum maupun dimata keluarga sendiri. Tapi semua itu harus Mila lalui demi keadaan yang mendesak.
Beberapa menit merenung. Terdengar sayup-sayup suara azan subuh. Mila memaksa tubuhnya untuk bangkit. Wajah itu terlihat meringis merasakan perih di area keintimannya.
"Ukurannya yang cukup besar atau milik ku yang terlalu sempit, kenapa perih sekali!" keluh Mila berjalan tertatih menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah mengenakan pakaian utuh. Wanita itu keluar dari kamar Bagas dan memilih membersihkan tubuhnya di kamar ibu pengasuh.
Dalam jatuhan air, Mila tampak menangis meratapi keadaan. Ia sangat ingin mengadu kepada ibu dan kakaknya tentang semua yang terjadi pada dirinya. Tetapi Mila lebih menahan kan beban itu sendiri. Ia paham masalah itu hanya menambah beban berat di pundak Ibu dan Kakaknya.
"Hiks!"
"Hiks!"
Air mata Mila tertelan oleh derasnya air shower yang mengguyur seluruh tubuhnya.
Mila kembali menguatkan dirinya dan memilih tetap bertahan. Hanya diatas sajadah lah ia bisa mengadukan segala kisah pahitnya kepada sang pencipta, Tuhan semesta alam.
"Jika semua ini adalah takdir yang memang harus hamba lalui dan bisa membahagiakan keluarga. Hamba ikhlas Yah Allah. Namun berikanlah hamba hati yang luas, seluas samudra untuk menjalaninya." lantunan Doa yang setiap hari Mila ucapkan diatas sajadahnya. Lanjut membaca Alqur'an, hatinya kembali terasa tenang.
"Pagi itu ku hapus air mataku, ku hirup segarnya udara pagi. Aku percaya, di dunia ini tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. seperti kata ibu, senjatanya hanya dua, sabar dan ikhlas menerima, bergantung lah kepada Allah saja, bukan kepada manusia yang lemah."
Mila tersenyum ketika ponselnya berdering, panggilan video datang dari Wita yang tengah berada di kandang ayam.
"Mil! Ayam Mba bertelur banyak loh?" celoteh polos dan senang Wita. Mila tertawa manis, hal sederhana itu ternyata cukup menghapus beban hidupnya.
Kedua kakak itu pun berceloteh dalam cerita mereka.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂