Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DURI DIBALIK BAJU
Balai desa mendadak riuh. Ibu-ibu yang tadinya duduk merapat kini saling berbisik, menatap Kirana dengan pandangan tajam—campuran antara tidak percaya dan menghakimi. Suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa sesak dan panas.
Namun, di tengah kegaduhan itu, perhatian Kirana langsung terancam runtuh saat melihat sudut ruangan. Di sana, Ibu Sumi—ibunya sendiri—berdiri mematung. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, matanya bergetar menatap lembaran foto yang berceceran di lantai balai desa.
Ibu Sumi melangkah gemetar, memungut salah satu foto. Di foto itu, Kirana mengenakan gaun sutra marun yang terbuka di bagian bahu, tersenyum di balik riasan tebal sambil memegang gelas minuman di klub malam.
"Kirana..." Suara Ibu Sumi lirih, hampir tenggelam di antara bisikan warga, namun terdengar begitu memukul di telinga Kirana. "I-ini... ini kamu, Nduk?"
Kirana tercekat. Dadanya mendadak sesak. Ia bisa menahan makian seluruh warga desa, tapi melihat guratan kecewa dan syok di wajah ibunya sendiri membuat pertahanannya goyah.
Baskara yang melihat celah itu langsung tertawa puas. Ia melangkah mendekati Ibu Sumi dengan senyum licik. "Nah, Ibu lihat sendiri, kan? Anak kebanggaan Ibu yang katanya kerja kantoran di kota, ternyata kerjanya begini. Menjual diri di klub malam paling kotor di Valerion demi uang!"
"Baskara, tutup mulutmu!" bentak Kirana, suaranya naik satu oktav. Matanya menyalang penuh amarah, melangkah cepat melindungi ibunya.
Ibu Sumi menatap Kirana dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tangannya yang memegang foto itu bergetar hebat. "Kirana... jawab Ibu, Nduk. Uang yang kamu kirim tiap bulan untuk berobat Ibu... uang untuk tebus utang almarhum bapakmu... apa benar dari tempat seperti ini?"
Kirana menelan ludah yang terasa kesat. Ia menatap mata ibunya yang dipenuhi rasa sakit. Tidak ada gunanya berbohong sekarang.
"Iya, Bu," jawab Kirana, suaranya melunak namun terdengar tegas di tengah keheningan balai desa yang mendadak senyap. "Itu memang Kirana. Di tempat itu."
Warga desa langsung riuh, saling berbisik lebih keras. Beberapa orang menatap sinis, sementara Ibu Sumi selangkah mundur, air matanya luruh. Hatinya hancur bukan karena marah, melainkan karena tidak menyangka anak gadisnya harus menanggung beban seberat itu di kota sendirian.
Kirana menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik menghadap Baskara dan seluruh warga.
"Saya memang bekerja di sana," ujar Kirana lantang, menatap warga satu per satu tanpa rasa takut lagi. "Saya tidak pernah bilang saya pulang sebagai malaikat yang suci. Tapi tolong ingat satu hal. Saat keluarga kami diusir, saat bapak sakit sakratulmaut dan tidak ada satu pun orang yang berani meminjamkan uang karena takut pada keluarga Jaya... ke mana saya harus mencari bantuan?"
Kirana menunjuk Baskara. "Uang yang saya dapat dari tempat itu, saya pakai untuk bertahan hidup dan menebus kembali tanah desa ini yang dirampas oleh ayahmu! Saya tidak pernah merugikan warga di sini. Saya kotor di kota, tapi saya pulang untuk menyelamatkan sisa harga diri keluarga saya dan desa ini!"
Baskara yang merasa posisinya mulai goyah akibat argumen Kirana, langsung memberi kode ke pengacaranya. "Sudah, jangan dengarkan dia! Pengacara, bacakan dokumen sitanya. Eksekusi gilingan padi ini sekarang!"
Si pengacara buru-buru maju dan membuka dokumen. "Ehem, berdasarkan surat jaminan ini, lahan gilingan padi desa resmi dialihkan ke PT Jaya Megah Sentosa..."
"Tunggu dulu," potong Kirana dingin. Ia maju dan langsung menyambar dokumen itu dari tangan sang pengacara. Matanya membaca dengan cepat. "Dokumen ini ditandatangani tanggal 14 Maret?"
"I-iya," jawab pengacara itu gugup.
Kirana tersenyum sinis, melempar kembali dokumen itu ke meja. "Baskara, kamu bodoh atau mengira saya tidak tahu hukum? Dua minggu sebelum tanggal ini, ayahmu sudah resmi ditangkap Kejaksaan Agung karena kasus korupsi dan seluruh asetnya dibekukan oleh negara."
Kirana maju selangkah, membuat Baskara refleks mundur. "Secara hukum, semua dokumen jaminan atau pemindahtanganan aset yang dibuat setelah masa pembekuan itu statusnya batal demi hukum. Dokumen yang kamu bawa ini cuma kertas sampah tidak laku!"
Wajah Baskara langsung pucat pasi. Ia menatap pengacaranya yang kini tertunduk panik, tidak bisa berkutik karena celah hukum mereka dibongkar habis oleh Kirana.
"Coba saja sentuh gilingan padi desa ini," tantang Kirana, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Besok pagi, saya sendiri yang akan pastikan nama kamu masuk ke laporan Kejaksaan karena mencoba menyita aset negara secara ilegal."
Pak RT yang sejak tadi menyimak langsung berdiri, memukul meja. "Sudah jelas, kan? Baskara, bawa kertas-kertas palsumu ini dan pergi dari desa kami! Mau bagaimana pun masa lalu Kirana, dia yang sudah menyelamatkan tanah kami. Kamu tidak punya hak di sini!"
Warga yang menyadari mereka hampir ditipu lagi oleh Baskara langsung ikut emosi.
"Pergi kamu! Penipu!" teriakan warga mulai bersahutan.
Baskara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah, ia terpaksa berbalik dan melangkah cepat keluar dari balai desa, diikuti pengacaranya yang panik.
Setelah rombongan Baskara pergi, suasana balai desa mendadak canggung. Warga menatap Kirana dengan tatapan campur aduk—ada rasa bersalah, namun juga rasa hormat yang baru.
Kirana tidak memedulikan mereka. Ia langsung berbalik dan berjalan mendekati ibunya. Ibu Sumi masih berdiri di sana, air matanya mengalir deras. Tanpa sepatah kata pun, Ibu Sumi maju dan langsung memeluk erat tubuh Kirana. Tangannya mendekap punggung putrinya dengan begitu rapuh namun hangat.
"Maafkan Ibu, Nduk... Ibu tidak tahu kamu harus menderita sejauh itu di kota demi Ibu," bisik Ibu Sumi di sela tangisnya.
Mendengar ucapan ibunya, pertahanan sedingin es milik Kirana runtuh. Air matanya ikut menetes, namun ia segera menguatkan hati. Ia membalas pelukan ibunya, tahu bahwa malam ini salah satu badai terbesarnya telah lewat, dan perjalanan mereka masih panjang.