NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pengadilan Sang Ratu

Ruang interogasi bawah tanah mansion Vassiliev tidak memiliki jendela, hanya diterangi oleh lampu neon putih yang berkedip pelan. Udara di dalam ruangan itu terasa sedingin es dan berbau anyir darah yang mengakar di pori-pori dinding betonnya.

​Xavier berdiri membelakangi pintu, menggulung kemeja hitamnya hingga sebatas siku. Di depannya, di atas sebuah meja besi berkarat, berjejer rapi berbagai macam pisau bedah dan alat penyiksaan logam.

​Aletta duduk dengan tenang di sebuah kursi kebesaran berlapis beludru merah di sudut ruangan. Gaunnya yang bernoda darah telah diganti dengan setelan serba hitam yang elegan. Di pangkuannya, tergeletak santai pistol Browning 1911 berukir mawar yang kini menjadi lambang kekuasaannya. Ia menatap suaminya dalam diam, membiarkan detak jantungnya menyesuaikan diri dengan ritme neraka yang akan segera dimulai.

​Brak!

​Pintu besi berat itu ditendang terbuka. Diego masuk bersama dua penjaga, menyeret sesosok tubuh pria yang sudah tidak berdaya. Mereka melemparkan pria itu ke tengah ruangan hingga terdengar bunyi berdebum keras.

​Pria itu adalah Alexei. Wajah sang Capo Divisi Logistik itu babak belur, darah segar mengalir dari pelipis dan hidungnya. Sesuai perintah Xavier, kedua lutut Alexei telah dihancurkan. Tulang kakinya patah dengan posisi yang tidak wajar, membuat pria paruh baya itu mengerang kesakitan setiap kali ia mencoba bergerak.

​"Bos," Diego menunduk hormat. "Tikus ini mencoba kabur melalui dermaga selatan menggunakan kapal speedboat yang sudah disiapkan Volkov. Pasukan kami mencegatnya sebelum ia sempat menyalakan mesin."

​Xavier menoleh perlahan. Mata kelabunya menatap Alexei bagaikan menatap seekor serangga kotor yang mengotori lantainya. Tanpa terburu-buru, Xavier mengambil sebilah belati berburu dari atas meja dan memutar-mutarnya di sela jari.

​Langkah kaki Xavier bergema di ruangan yang sunyi itu saat ia berjalan mendekati Alexei. Pria itu berjongkok, lalu menjambak kasar rambut Alexei, memaksa pria pengkhianat itu mendongak menatapnya.

​"Aku memungutmu dari jalanan Moskow saat kau hanya seorang penyelundup rendahan, Alexei," desis Xavier, suaranya mengalun sangat rendah dan mematikan. "Aku memberimu kursi di mejaku. Aku memberimu kekayaan. Dan kau membalasku dengan menjual denah rumahku pada Volkov?"

​Alexei meludah ke lantai, darah kental bercampur liur menetes dari bibirnya yang pecah. Ia tertawa sumbang, sebuah tawa putus asa dari pria yang tahu bahwa kematiannya sudah pasti.

​"Kau bukan lagi Xavier Vassiliev yang dulu!" serak Alexei, napasnya terputus-putus. Matanya beralih menatap Aletta dengan penuh kebencian. "Semenjak kau menikahi jalang kecil itu, kau menjadi lemah! Ayahnya membunuh ibumu, tapi kau malah menjadikannya Ratu? Sindikat Volkov menawarkan kepemimpinan murni, bukan klan yang dipimpin oleh seorang pria yang diperbudak oleh selangkangan anak musuhnya!"

​Jleb!

​Sebelum Alexei sempat menyelesaikan tawanya, Xavier menancapkan belati di tangannya tepat ke telapak tangan kanan Alexei, menembus daging dan otot, memaku tangan pria itu ke lantai beton.

​Jeritan melengking yang mengerikan meledak dari tenggorokan Alexei, bergema memantul di dinding ruang interogasi.

​"Jaga mulutmu," geram Xavier, matanya menggelap oleh amarah yang murni. Pria itu memutar gagang belati yang masih menancap, memicu erangan kesakitan yang lebih keras dari Alexei. "Itu adalah tangan yang kau gunakan untuk menyerahkan cetak biru itu pada Volkov. Dan lidahmu... akan kupotong jika kau berani menyebut istriku dengan kata kotor itu lagi."

​Di sudut ruangan, Aletta bangkit berdiri.

​Langkah sepatunya berdentak pelan namun mengintimidasi, menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Aletta berjalan mendekati suaminya, lalu dengan lembut menyentuh pundak Xavier yang tegang.

​"Biar aku yang bicara dengannya, Suamiku," ucap Aletta tenang.

​Xavier menoleh, menatap mata Aletta. Sesaat, kemarahan di mata pria itu mereda digantikan oleh tatapan posesif dan tunduk pada permintaan istrinya. Xavier melepaskan cengkeramannya dari rambut Alexei, mundur satu langkah, namun tetap berdiri menjulang di belakang Aletta layaknya bayangan pencabut nyawa.

​Aletta menunduk, menatap Alexei yang menggelepar menahan sakit di lantai.

​"Kau menyebut suamiku lemah, Alexei?" suara Aletta terdengar jernih, memotong jeritan pria itu. "Kau berpikir Volkov menghargaimu lebih dari suamiku? Kau hanyalah pion yang bodoh."

​Alexei menatap Aletta dengan pandangan nanar. "A-apa yang kau tahu, wanita jalang..."

​Aletta sama sekali tidak tersinggung. Ia justru tersenyum miring—senyuman dingin yang sangat mirip dengan milik Xavier.

​"Aku tahu bahwa Volkov tidak pernah berencana menjadikanmu pemimpin," desis Aletta tajam. "Mereka menjebakmu. Mereka menyuruhmu menggunakan perusahaan cangkangmu untuk membeli arsip ayahku. Mereka menyuruhmu menjadi orang yang menyelundupkan senjata ke Pelabuhan Timur. Mengapa? Agar jika rencana ini gagal, semua jejak akan mengarah padamu, bukan pada mereka."

​Mata Alexei melebar, napasnya tersendat saat realitas dari ucapan Aletta menghantamnya.

​"Kau tidak dijanjikan takhta, Alexei. Kau dijanjikan kematian," lanjut Aletta. "Katakan padaku di mana Volkov menyembunyikan pasukan utamanya di kota ini. Jika kau mengatakannya, suamiku mungkin akan memberimu kematian yang cepat. Jika tidak... kau akan tetap hidup di ruangan ini selama berminggu-minggu dengan kulit yang dikelupas perlahan."

​Tubuh Alexei bergetar. Keangkuhannya hancur lebur di bawah tatapan intimidasi dari sang Ratu Mafia. Pria itu akhirnya menelan ludah, suaranya bergetar hebat.

​"P-pabrik baja yang terbengkalai... di ujung Distrik Utara," bisik Alexei terbata-bata. "Ivan Volkov... dia sendiri yang datang ke kota ini. Dia menunggu di sana dengan seratus tentara bayaran elit..."

​Aletta menegakkan tubuhnya, menatap Xavier yang langsung menangkap informasi tersebut. Distrik Utara. Mereka akhirnya tahu di mana jantung pertahanan musuh berada.

​Aletta mundur selangkah. Ia menatap Alexei untuk yang terakhir kalinya. Rasa kasihan tidak pernah lagi memiliki tempat di hatinya untuk orang yang mencoba membunuh suaminya.

​"Kau sudah mendengar jawabannya, Xavier," ucap Aletta datar, membalikkan badannya untuk kembali ke kursi.

​Xavier menyeringai mematikan. Pria itu mencabut pistol dari balik pinggangnya, mengarahkannya tepat ke dahi Alexei.

​"Pengkhianatan dibayar dengan darah," bisik Xavier mutlak.

​DOR!

​Suara tembakan mengakhiri napas Alexei seketika. Tubuhnya ambruk ke lantai bersimbah darah. Diego dan anak buahnya segera bergerak tanpa perintah untuk membersihkan kekacauan tersebut.

​Xavier menghampiri Aletta, merengkuh pinggang istrinya erat-erat, dan mendaratkan ciuman dalam di bibir Aletta yang memabukkan. Ciuman kemenangan.

​"Siapkan seluruh armada tempur kita," perintah Xavier di sela-sela ciumannya, matanya menatap tajam ke arah Diego, sementara tangannya mengusap perut Aletta posesif. "Malam ini, kita membumihanguskan Distrik Utara. Tidak akan ada satu pun anjing Volkov yang melihat matahari terbit besok pagi."

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!