Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Persiapan Perang
Satu jam setelah utusan Aethelgard diusir, Aula Takhta berubah menjadi pusat komando militer. Peta raksasa Mobelle dan perbatasan selatan digelar di atas meja strategi. Lilin-lilin dinyalakan, menerangi wajah-wajah tegang para jenderal dan penasihat Floren.
Floren berdiri di kepala meja, jari-jarinya menelusuri garis pantai selatan di peta. "Armada Aethelgard akan mendarat di Teluk Merah," katanya, suaranya tenang namun tegas. "Itu adalah titik pendaratan paling dangkal, ideal untuk kapal-kapal perang berat mereka."
Jenderal Mark, komandan angkatan laut Mobelle, mengerutkan kening. Wajahnya yang kasar dan penuh bekas luka menunjukkan pengalaman bertahun-tahun di laut lepas. "Tapi Teluk Merah dijaga oleh benteng batu kami. Mereka tidak bisa menembusnya tanpa kerugian besar."
"Mereka tidak perlu menembus benteng jika mereka mengepungnya dari darat," potong Kaelia, yang berdiri di sisi lain meja dengan lengan disilangkan. "Pasukan darat Isolde akan menyerang dari utara, memaksa kita membagi kekuatan. Itu taktik klasik 'Hammer and Anvil'. Palu di laut, landasan di darat."
Julian, yang tampak lebih pucat dari biasanya karena penggunaan sihir sebelumnya, menunjuk sebuah titik di pedalaman, jauh dari pantai. "Di sinilah kunci kemenangannya. Bukan di garis depan. Tapi di sini: Jembatan Sungai Beku."
Semua mata tertuju pada Julian.
"Jembatan itu adalah satu-satunya jalur logistik utama yang menghubungkan wilayah utara Aethelgard dengan pasukan invasi mereka," jelas Julian. "Jika jembatan itu hancur, pasokan makanan, amunisi, dan bala bantuan mereka akan terputus. Pasukan mereka di garis depan akan kelaparan dalam seminggu."
"Menjembatani sungai selebar itu dengan sihir?" tanya Jenderal Mark skeptis, menyilangkan tangan berototnya di dada. "Itu membutuhkan daya sihir tingkat dewa. Bahkan kau tidak bisa melakukannya sendirian, Julian."
"Aku tidak akan melakukannya sendirian," kata Julian. Dia menoleh pada Floren. "Saya akan memimpin tim penyihir elit. Tapi kami butuh waktu untuk menyiapkan ritual penghancuran terstruktur. Kami butuh alihan perhatian."
Floren mengangguk. "Jenderal Mark, kau akan memimpin pertahanan garis depan di Teluk Merah. Buat mereka percaya bahwa kita akan bertarung habis-habisan di sana. Gunakan meriam sihir, panah api, segala sesuatu yang berisik dan spektakuler. Buat Isolde fokus pada pertempuran frontal."
"Dan Arsen?" tanya Kaelia tiba-tiba.
Hening sejenak. Nama itu membawa beban emosional tersendiri.
"Arsen akan tetap di istana," jawab Floren tegas. "Dia adalah simbol. Jika dia terlihat bebas dan bahagia di Mobelle, moral rakyat Aethelgard yang menentang Isolde akan naik. Jika dia hilang atau ditahan, narasi Isolde tentang 'penculikan' akan kuat. Dia harus menjadi wajah diplomasi kita."
"Tapi..." Kaelia ragu. "Dia ingin bertarung."
"Dia belum siap," kata Floren lembut. "Biarkan dia melatih Caspian. Biarkan dia membantu Julian dengan pengetahuan strategis Aethelgard. Itu kontribusinya."
Kaelia menghela napas, menerima keputusan itu. "Baik. Saya akan siapkan pasukan."
Sementara rapat strategi berlangsung di aula, di ruang latihan pribadi istana, Arsen sedang berlatih pedang dengan keras.
Clang! Clang!
Suaranya bergema di dinding batu. Keringat membasahi dahinya, napasnya tersengal-sengal.
Dia tahu apa yang terjadi di luar. Dia mendengar gemuruh persiapan pasukan. Dan dia merasa tidak berdaya.
Pintu ruang latihan terbuka. Caspian masuk, membawa nampan berisi air dan handuk. Wajahnya cemas.
"Kakak, berhenti," kata Caspian pelan. "Kau akan melukai dirimu sendiri."
Arsen menurunkan pedangnya, dadanya naik turun. "Aku tidak bisa duduk diam, Cas. Sementara orang-orang bersiap mati demi kita, aku di sini... bermain pedang dengan bayangan."
Caspian meletakkan nampan dan mendekati kakaknya. "Floren punya rencana. Julian bilang rencananya brilian. Kita harus percaya padanya."
"Aku percaya pada Floren," kata Arsen, suaranya rendah. "Tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku lari dari Aethelgard. Aku meninggalkan tanggung jawabku. Dan sekarang, karena kelakuanku, perang akan pecah."
Caspian menggelengkan kepala. "Bukan karena kelakuanmu, Kakak. Tapi karena kekejaman Ibu. Perang ini sudah lama datang. Kau hanya menjadi pemicunya, bukan penyebabnya."
Arsen menatap adiknya. Ada kedewasaan baru di mata Caspian. Lari dari istana telah mengubahnya dari anak yang penakut menjadi pemuda yang tangguh.
"Aku ingin melakukan sesuatu," desah Arsen. "Sesuatu yang nyata."
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi. Julian masuk, wajahnya serius.
"Arsen," panggilnya. " ratu Floren membutuhkanmu. Bukan untuk bertarung. Tapi untuk berpikir."
Arsen menegakkan tubuh. "Apa yang bisa kubantu?"
"Kami perlu mengetahui pola pikir komandan tertinggi Isolde," kata Julian. "Siapa yang dia percayai? Siapa yang dia benci? Di mana titik buta strateginya? Hanya kau yang tumbuh bersamanya yang tahu."
Arsen mengernyit, berpikir cepat. "Komandan tertingginya adalah Lord Valerius. Dia ambisius, tapi ceroboh. Dia membenci dikritik di depan umum. Dan dia memiliki kebiasaan buruk: dia selalu menempatkan tenda komandonya di dataran tinggi, dekat dengan sumber air, tapi jauh dari pasukan utamanya karena dia paranoid terhadap pembunuh."
Mata Julian berbinar. "Jauh dari pasukan utamanya... Artinya, jika kita bisa menyelinap ke tendanya..."
"...kita bisa menculik dia," lanjut Arsen, menyelesaikan kalimat itu. "Atau lebih baik lagi, membunuhnya. Tanpa komandan, pasukan Aethelgard akan kacau balau."
Julian tersenyum tipis. "Itu ide yang berbahaya. Dan mungkin gila. Tapi... itu mungkin justru kegilaan yang kita butuhkan."
Dia menatap Arsen. "Kau bersedia membantu merancang operasi ini? Bukan sebagai prajurit. Tapi sebagai otak di balik layar?"
Arsen merasakan adrenalin mengalir di nadinya. Ini bukan pertarungan fisik. Ini pertarungan intelektual. Dan di sinilah kekuatannya sebenarnya.
"Aku siap," kata Arsen tegas.
Julian mengangguk. "Bagus. Karena kita hanya punya 48 jam sebelum armada Isolde tiba. Mari kita buat sejarah."
Di luar, langit semakin gelap. Angin bertiup kencang, membawa aroma garam laut dan besi. Perang sudah di ambang pintu. Tapi di dalam ruangan itu, tiga pria—seorang penyihir, seorang pangeran buangan, dan seorang botanis—sedang merajut jaring kematian untuk musuh mereka.
Persiapan perang bukan hanya tentang pedang dan perisai. Tapi tentang informasi, strategi, dan keberanian untuk mengambil risiko yang mustahil, kehilangan nyawa.