"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERULANG KEMBALI
SATU JAM SEBELUMNYA ....
"Mas! Tiara tidak ada di kamar,"
Arthur terkejut dan menyusul Mira untuk memeriksa kamar putri mereka. Kosong, Arthur membelah tirai yang kaca jendelanya sudah pecah berserakan.
"Mira," panggil Arthur. Ia seperti sudah tahu kemana tujuan Tiara, hingga nekat memecah kaca jendela bahkan melarikan diri dari rumah. Arthur mengepalkan kedua tangannya dan bergegas keluar.
"Mas, apa ketakutan kita akan terulang kembali?" tanya Mira membuat langkah Arthur tertahan. Di benak seorang Ayah, Arthur juga memiliki ketakutan yang sama.
"Ayo kita susul ke rumah Fero, Mira." Mira mengangguk dan mengikuti langkah Arthur sembari menelpon pihak Rumah Sakit.
"Baik, kami akan segera datang ke lokasi, Nyonya!"
Tangan Mira bergetar hebat secara bersamaan, ia harus kembali merelakan Tiara untuk di bawa ke rumah sakit jiwa, mungkin kali ini jauh lebih lama ataupun bisa bertahun-tahun lagi.
"Mba Mira!"
Mira menoleh dan mendapati tetangganya berlari mendekati mereka. "Ada apa?"
"Mba, aku kok lihat Tiara kayak orang sinting? Bawa pisau sama cutter lagi!"
"TUTUP MULUT KAMU!" bentak Arthur mengejutkan Mira dan tetangganya. Arthur mendekat dan mengisyaratkan Mira untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu tidak berhak menilai Putri ku, kamu tidak tahu apapun tentang Tiara!"
Ucapan Arthur membuat wanita itu terkesiap. Melihat mobil putih itu keluar dari pekarangan rumah. "Keluarga sialan!" umpatnya dengan menghentakkan kaki kesal.
Menempuh beberapa menit di jalan, mereka akhirnya tiba di kediaman rumah Fero. Wajah Mira memucat saat menyadari banyaknya mobil yang terparkir, termasuk mobil milik Joseph.
"Mas?" Arthur mengepalkan kedua tangannya dan menggenggam tangan Mira dengan erat.
"Kali ini ... Tidak, seharusnya sedari dulu." Arthur menarik napas panjang, "aku akan membunuh Tiara kalau melakukan hal itu lagi."
"ARNOLD!"
DEG ....
Arthur dan Mira keluar dari mobil, bergegas masuk. Kedua mata Arthur seketika melotot melihat Arnold yang bersimpuh dengan bercucuran darah. Kelvin dan Berta sudah menahan tubuh Tiara yang semakin memberontak bahkan tertawa girang melihat Arnold bersimbah darah.
"TIDAK!" teriak Arthur mengejutkan semua orang. Mira mendorong Berta yang mengapit lengan Tiara dengan kuat.
"Lepaskan Putriku!"
Berta berdecih sinis melihat Arthur dan Mira yang baru datang setelah Putri mereka kembali lagi berulah, Arthur tak menghampiri Tiara melainkan mendekati Arnold yang bersimpuh di lantai.
"Helmi! Cepat bawa Arnold ke rumah sakit!" ucap Arthur khawatir. Arnold melirik dan tanpa aba-aba langsung menodongkan Arthur senjata api, pistol.
"Arnold, letakkan itu!"
Fero hendak merampas pistol itu, tapi Arnold menepis lengan Ayahnya. "Seharusnya sedari dulu aku membunuh mu dan Tiara!" hardik Arnold, persetan dengan traumanya, kali ini kesabarannya sudah habis tanpa sisa. Dirinya terlalu menyepelekan Tiara dan Arthur, anak dan ayah yang sama-sama beracun.
Arthur terdiam sejenak, pria itu menghela napas panjang dan menatap Berta serta Kelvin secara bersamaan. "Ikat Tiara,"
"Apa?"
Joseph hanya menatap tajam ke arah Putra angkatnya itu, dirinya memang sangat menyayangi tingkah laku Tiara yang membahayakan keselamatan orang di sini, tapi dirinya juga seorang Kakek yang menyayangi cucunya. Joseph sangat menyayangi Tiara seperti dirinya menyayangi Arnold, semuanya setara tak membedakan.
"IKAT TIARA, NOW!"
Berta mengikat Tiara di pilar rumah dengan tali, membuang pisau dan cutter yang di bawa jauh-jauh. Kelvin menghela napas, ia tak menyangka harus berurusan dengan wanita sakit jiwa lagi setelah sekian lama.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Kak Arthur? Putri mu lagi dan lagi membahayakan kami, Kak!" ucap Ryan dengan sudah berdiri di sebelah Arnold. Pria itu menatap ke arah Kakak angkatnya dengan penuh kebencian.
Jasmine memeluk dan menahan Anjani yang menangis melihat Arnold yang bersimbah darah, menodongkan senjata api ke arah Arthur. Ia takut kalau suaminya menembak dan menghilangkan nyawa Arthur.
"Ma, Arnold ... hentikan dia, aku mohon." lirih Anjani didalam pelukan Jasmine. Wanita itu juga bingung harus melakukan apa, Tiara mengincar Anjani dan Jasmine harus menyelamatkan gadis yang tak tau apa-apa ini.
DOR ....
"ARTHUR!"
Tubuh Anjani seketika lemas, Jasmine terkejut dan jatuh terduduk. "Helmi," panggil Jasmine dengan takut.
"Anjani?" Arnold menjatuhkan pistolnya dan mendekati Anjani yang sudah jatuh pingsan karena syok.
...****************...
"Kamu tahu, kamu gegabah, Arnold!"
BUGH ....
Arya melayangkan pukulan di rahang pria itu, persetan di lihat oleh keluarga pria itu. Anjani harus di bawa ke rumah sakit karena pingsan, Arnold dan Arthur yang terluka, sedangkan Tiara sudah di bawa ke rumah sakit jiwa. Wanita itu harus di periksa kesehatan mentalnya yang semakin memburuk, Arthur tak menahan kali ini.
"Nak. Tenangkan dirimu," kata Guntur menahan lengan Arya yang hendak memukul Arnold lagi. Arya menatap Guntur dengan sinis, menepis lengan pria itu.
"Aku mengizinkannya untuk menikahi Adikku dan aku mempercayainya walaupun kepercayaan ku sudah hancur kepadanya, Paman! Aku tahu niatnya mendekati Anjani hanya untuk memperoleh keuntungan sendiri,"
"Apa maksudmu, Arya?" tanya Jasmine bingung. Arnold berdiri dan memojokkan tubuh Arya agar tak mengatakan apapun.
"Tutup mulut mu, bodoh!"
Arya tertawa sarkas, ia mengetahui semuanya, awal pertemuan Anjani dengan Arnold di taman rumah sakit, dirinya sudah mengetahui kalau Arnold merencanakan itu seakan-akan semuanya adalah sebuah kebetulan.
"Ternyata kamu membohongi keluargamu?" Melihat diamnya Arnold, Arya tertawa keras dan memukul mundur Arnold dari hadapannya. Arya di hubungi oleh Helmi dan merasa kalau Arya harus mengetahui keadaan adiknya sendiri.
"Jangan basa-basi, Arya!"
"Arnold mengajak Anjani menikah hanya untuk mendapatkan keturunan, dengan menawarkan bantuan dan memberikan kesejahteraan. Apakah dia ... Arnold menepati janji itu? Sama sekali tidak,"
Fero menatap Putranya yang tertunduk lesu di dekat Arya. "Arnold, apakah itu benar yang di katakan oleh Arya?"
"Benar, aku menawarkan pernikahan dengan memanfaatkan keadaan Anjani saat itu."
DEG ....
"Kakak," Ryan menahan tubuh Jasmine yang lemas mendengar jawaban Putranya. Fero mengusap wajahnya dengan gusar dan melirik Arya yang masih menatapnya juga.
"Masuk dan temani Adik kamu, Arya. Aku yang akan mengurus pria ini,"
Arya tak tidak mengatakan apapun lagi, dan masuk ke dalam ruang rawat Adiknya. Dirinya tidak memiliki urusan apapun lagi, ia hanya ingin mendapatkan keadilan untuk semua perbuatan Arnold, yang menurutnya salah.
BUGH ....
Fero memukul perut Arnold, membuat Putranya meringis. Fero merasa bersalah kepada menantunya, ia juga tak menyangka kalau Arnold benar-benar pengecut dengan menawarkan pernikahan itu. Ia mengira kalau Arnold benar-benar mencintai Anjani tanpa syarat apapun.
"Fero tenangkan dirimu," ucap Joseph menenangkan menantunya yang terbakar amarah. Dirinya tidak ingin suasana semakin runyam, karena mereka harus fokus pada kesehatan Anjani dan bayi yang dikandungnya.
"Ayah bagaimana aku harus tenang, Putraku ini sangat pengecut dan bodoh. Aku sangat kecewa kepadanya bahkan jauh lebih kecewa."
Jasmine sudah menangis di dalam pelukan Ryan, wanita itu juga memikirkan hal yang sama seperti Fero. Arnold terdiam lama, ia tahu kalau perbuatannya salah tapi ia sudah membenahinya dengan menghapus tawaran tersebut. Karena Arnold benar-benar jatuh cinta kepada Anjani.
"Aku ... Papa, aku sangat mencintai Anjani."
Ungkapkan itu membuat semua orang terdiam, Arnold mendekati Fero dan berlutut di hadapan Ayahnya. Ia itu tertunduk dan menangis dalam diam, menyesali perbuatannya yang sekarang diketahui oleh Keluarganya.
"Yang dikatakan oleh Arya benar semua, aku menawarkan pernikahan dengan menguntungkan diriku dan juga Anjani, aku tidak melewatkan kesempatan yang ada saat itu. Tapi percayalah, aku benar-benar mencintai Anjani dengan sangat tulus. Aku juga berencana untuk menggelar resepsi pernikahan dan mengumumkan tentang pernikahan kita,"
Fero bergeming mendengar ucapan dari Putranya, walaupun bukan pertama kalinya ia melihat Arnold menangis, tetapi ini pertama kalinya Jasmine maupun keluarganya melihat Arnold menangis karena seorang wanita yang ia cintai. Jasmine berdiri dan mendekati Putranya, penampar pipi kanan dan kirinya secara bergilir untuk melampiaskan semua amarahnya.
"Aku juga seorang wanita, Mama ini merasakan apa yang Anjani rasakan saat itu, Arnold. Apakah kamu tidak pernah memikirkan Mama sebelum melakukan hal itu?"
"Maafkan aku, aku terlalu berpikir pendek."
Guntur menggelengkan kepalanya dan mengisyaratkan kepada Agnes untuk duduk di kursi tumbuh. "Percuma kamu minta maaf, karena kamu memiliki kesalahan kepada Anjani, Nak."
Ryan yang dari tadi hanya diam kini menatap malas kepada ponakannya, melirik lengan Arnold yang hanya di balut asal oleh kain kasa. Pria itu bersilang tangan dan menepuk punggung Arnold. "Bangunlah, obati luka kamu dan aku akan mengantarmu ke psikiater."
Ryan takut kalau karena kembali terguncang karena kejadian tadi, kejadian yang hampir sama seperti beberapa tahun silam. Sadari dulu Arnold sudah berlangganan masuk psikiater untuk berkonsultasi langsung, trauma masa lalunya bukanlah sekedar trauma biasa yang bisa disembuhkan dalam jangka waktu singkat.