Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meriam Cahaya dan Sandiwara Samudra
Episode 23
Gemuruh ombak di Samudra Pasifik tidak lagi terdengar seperti suara alam. Air laut yang mengelilingi koordinat pendaratan Benih Inti telah berubah menjadi kental dan berwarna ungu gelap, bergerak dalam pola melingkar yang menentang arus alami samudra. Di tengah pusaran maut itu, piramida hitam milik Architects berdiri tegak, memancarkan dengungan yang sanggup merobek gendang telinga manusia jika tidak menggunakan pelindung khusus.
Di atas dek kapal induk The Absolute, Valerius berdiri dengan zirah emas yang berkilauan di bawah langit yang mendung. Angin laut yang kencang menerpa jubahnya, namun pandangannya tetap terkunci pada instrumen taktis di depannya. Ia baru saja menerima instruksi dari Arthur melalui Silas.
“Distraksi,” gumam Valerius pelan. “Dia memintaku melakukan distraksi pada sesuatu yang bahkan satelit kita tidak berani memotretnya.”
Valerius menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Sebagai pahlawan peringkat satu, ia sering berhadapan dengan monster raksasa, namun kali ini berbeda. Ia tidak sedang menghadapi makhluk hidup, ia sedang menghadapi sebuah mesin biologis penghapus planet. Namun, perintah dari “Bocil Kematian” itu mutlak. Jika ia gagal membuat kegaduhan di sini, Arthur tidak akan bisa bekerja dari bayangan.
“Jenderal Marcus! Aktifkan semua Meriam Fusi tingkat empat!” perintah Valerius, suaranya menggelegar melalui sistem komunikasi seluruh armada. “Arahkan pada puncak piramida! Kita akan memulai Operasi Segel Langit Tahap Dua!”
Jenderal Marcus, yang berada di ruang kendali bawah dek, tampak ragu.
“Tapi Komandan, energi pantulan dari struktur itu bisa menghancurkan kapal kita sendiri! Kita belum tahu material apa yang membentuk piramida itu!”
“Lakukan saja!” bentak Valerius. “Ini adalah perintah langsung dari komando tertinggi pahlawan! Kita akan menunjukkan pada dunia bahwa bumi tidak akan diam saja!”
Di seluruh kapal induk dan kapal perusak yang mengelilingi area tersebut, moncong-moncong meriam raksasa mulai terangkat. Cahaya biru elektrik mulai terkumpul di ujung laras, menciptakan dengungan energi yang sangat kuat hingga membuat air laut di sekitar kapal ikut bergetar.
“Tembak!” teriak Valerius.
BOOM!
Ratusan berkas cahaya fusi melesat secara serentak, membelah udara pagi dan menghantam permukaan piramida hitam tersebut. Ledakan yang dihasilkan begitu dahsyat hingga menciptakan awan jamur cahaya yang bisa dilihat dari benua seberang. Gelombang kejutnya menyapu permukaan laut, menciptakan tsunami kecil yang menghantam lambung kapal-kapal GDC.
Namun, saat asap ledakan menipis, pemandangan yang muncul membuat para tentara terdiam ngeri. Piramida itu tidak tergores sedikit pun. Berkas cahaya fusi yang seharusnya mampu menghancurkan gunung itu seolah-olah hanya diserap oleh permukaan hitam piramida tersebut. Architects tidak hanya menggunakan material yang kuat; mereka menggunakan teknologi Energy Displacement yang mengalihkan setiap benturan fisik menjadi cadangan energi bagi Benih Inti.
Valerius mengepalkan tangannya.
“Sesuai dugaan... serangan kita hanya seperti gigitan nyamuk bagi mereka.”
Namun, serangan itu telah mencapai tujuannya: perhatian. Di dimensi tinggi, para Architects mulai memfokuskan sensor mereka ke arah armada Valerius. Mereka menganggap serangan ini sebagai upaya terakhir yang putus asa dari penghuni bumi. Dua Linkers yang sedang bekerja di dasar laut segera menghentikan aktivitas perbaikan mereka dan mulai memutar tubuh mekanik mereka ke arah kapal-kapal GDC di permukaan.
Sementara itu, ribuan kilometer dari sana, di dalam ruang kelas yang tenang, Arthur sedang menatap buku catatannya. Di tangannya ada sebuah penghapus berbentuk kelinci yang ia putar-putar dengan jari-jarinya. Di permukaan, ia tampak seperti murid yang sedang melamun menunggu jam pulang. Namun, di dalam tasnya, Heart of Gaia sedang bersinar dengan frekuensi yang sangat sinkron dengan denyutan piramida di laut.
Terima kasih, Paman Berbaju Emas. Kau benar-benar berisik, batin Arthur.
Dengan perhatian Architects yang teralihkan pada serangan Valerius, Arthur mulai melakukan pergerakan yang sebenarnya. Ia tidak menyerang piramida itu dengan kekuatan kasar. Ia sedang melakukan “Hacking Realitas”.
Arthur memejamkan matanya sedikit. Ia mengirimkan “kesadarannya” masuk ke dalam aliran energi yang sedang diserap oleh piramida tersebut dari serangan meriam fusi Valerius. Energi fusi itu kini menjadi kuda troya bagi Arthur. Di dalam setiap partikel cahaya yang diserap piramida, Arthur menyisipkan kode perintah kedaulatan yang akan membongkar algoritma pertumbuhan benih tersebut dari dalam.
“Konsep Parasit: Penularan Logika,” bisik Arthur hampir tak terdengar.
Di dalam inti piramida hitam di dasar laut, sebuah kesalahan data mulai menyebar. Benih itu, yang seharusnya menyerap energi kehidupan bumi, kini mulai “bingung”. Ia mulai menganggap energi dari dimensinya sendiri sebagai ancaman dan energi dari bumi sebagai bagian dari dirinya. Proses konversi terraforming Architects mulai berbalik arah di tingkat molekuler.
“Arthur, kau oke?” tanya Mia yang duduk di sampingnya. “Kau terlihat... sangat fokus. Seperti sedang bertarung dengan hantu.”
Arthur membuka matanya, tersenyum kecil ke arah Mia.
“Aku hanya sedang mencoba menghitung berapa banyak butir nasi yang ada di mangkuk kariku nanti sore, Mia. Itu sangat sulit.”
Mia memutar bola matanya.
“Dasar aneh. Di luar sana kiamat mungkin sedang terjadi, dan kau cuma memikirkan nasi kari.”
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah luar sekolah. Bukan dari laut, melainkan dari langit Sektor Tujuh. Sebuah drone pengintai Architects yang berukuran kecil berhasil menembus lapisan pelindung dan kini melayang di atas gedung sekolah. Drone itu berbentuk seperti mata raksasa dengan sayap mekanik yang berputar cepat.
Drone itu sedang mencari “Anomali” yang terus-menerus mengganggu sistem mereka. Architects sadar bahwa distraksi Valerius terlalu rapi. Ada seseorang di daratan yang sedang mengendalikan aliran energi ini.
Arthur menyadari drone itu sedang memindai gedung sekolahnya. Jika ia membiarkan drone itu menyelesaikan pemindaiannya, ia akan tertangkap dalam hitungan detik.
“Anak-anak, tetap di bawah meja!” teriak Bu Hera yang panik saat melihat bayangan drone raksasa itu lewat di jendela kelas.
Arthur menghela napas. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan besar di sini. Ia meraih penghapus kelincinya, meletakkannya di atas meja, lalu menjentikkannya dengan jari telunjuknya ke arah jendela yang terbuka sedikit.
Penghapus itu melesat keluar, terbungkus oleh lapisan energi yang membuatnya tidak terlihat oleh mata telanjang maupun sensor drone. Penghapus itu menghantam salah satu sendi sayap mekanik drone tersebut dengan presisi yang mematikan.
KRAK.
Sayap drone itu patah seketika. Mesin canggih dari dimensi tinggi itu mendadak kehilangan keseimbangan dan meluncur jatuh ke arah hutan kecil di belakang sekolah. Arthur memastikan jatuhnya drone itu tidak menimbulkan ledakan besar, ia hanya mematikan sistem intinya dari jarak jauh menggunakan sisa energi pada penghapusnya.
“Eh? Dronenya jatuh?” Mia mengintip dari balik meja. “Mungkin kena burung?”
“Mungkin burungnya punya otot besi,” jawab Arthur santai sambil mengambil kembali penghapus kelincinya yang memantul kembali ke dalam kelas melalui celah jendela, sebuah trik fisika yang mustahil namun dilakukan Arthur seolah olah itu hanya kebetulan.
Di Samudra Pasifik, Valerius melihat piramida hitam itu mulai mengeluarkan uap hitam yang pekat.
“Jenderal! Lihat itu! Strukturnya mulai tidak stabil!”
“Komandan! Radar menunjukkan energi piramida itu sedang memakan dirinya sendiri!” seru Jenderal Marcus dengan nada tidak percaya. “Sinyal dari dimensi lain terputus! Kita berhasil?”
Valerius tahu mereka belum berhasil sepenuhnya. Ini baru permulaan dari serangan balik Arthur. Namun, ia melihat dua Linkers di bawah sana mulai mengamuk. Mereka menyadari bahwa benih mereka sedang dirusak. Tanpa peringatan, kedua mesin perak itu melesat keluar dari air, terbang langsung menuju kapal induk The Absolute dengan kecepatan yang mengerikan.
“Bersiap untuk pertempuran jarak dekat!” teriak Valerius, menghunus pedang cahayanya. “Jangan biarkan mereka menyentuh dek kapal!”
Valerius tahu ia tidak akan bisa menang sendirian melawan dua teknisi tempur Architects sekaligus. Namun, di dalam hatinya, ia berharap Arthur sedang memperhatikannya. Dan benar saja, di dalam kelasnya, Arthur sedang memegang pensilnya dengan erat, matanya sedikit berpendar keemasan.
“Dua detik lagi, Valerius,” bisik Arthur. “Ayunkan pedangmu ke arah jam dua. Aku akan mengurus sisanya.”
Pertempuran besar di tengah samudra kini memasuki babak yang paling krusial. Valerius harus menjadi pahlawan yang sebenarnya, setidaknya dalam pandangan drone media, sementara Arthur harus memastikan “asistennya” itu tidak mati konyol saat melawan teknologi yang melampaui zaman. Seratus delapan puluh bab perjalanan ini masih jauh dari kata usai, dan Architects baru saja mulai menyadari bahwa bumi memiliki pelindung yang jauh lebih berbahaya dari sekadar pahlawan berbaju emas.
Arthur kembali menulis di buku catatannya, sebuah kalimat sederhana di tengah kekacauan galaksi:
"Nasi kari dengan susu stroberi adalah kombinasi terbaik setelah menyelamatkan dunia."