NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Angin malam kembali berhembus pelan.

‎Kali ini, Amane berbicara lebih panjang dari biasanya. Nada suaranya juga berubah—lebih terbuka, lebih jujur.

‎“Tapi ini tetap pendapat pribadi saya,” lanjutnya. “Sebagai pemimpin White Snow, saya tidak bisa hanya mengandalkan perasaan seperti itu.”

‎Ia menunduk sedikit, menatap tangannya sendiri.

‎“Menyelidiki anda lebih dalam… mencari tahu alasan anda mendekati Marina… itu adalah kewajiban saya.”

‎Suaranya tidak keras, tapi penuh keteguhan.

‎“Apapun hasilnya… dan tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang saya…”

‎“Selama keamanan rekan-rekan saya terjamin… itu yang paling saya harapkan.”

‎Hening sejenak.

‎Api unggun berderak pelan.

‎Kai memperhatikan Amane beberapa detik, lalu berjalan mendekat dan ikut duduk di depannya.

‎‘…Begitu ya,’ pikirnya dalam hati.

‎‘Pantas saja dia bersikap keras selama ini…’

‎Ia tersenyum tipis.

‎“…Bagaimana ya, Amane-san,” ucapnya pelan. “Alasan kenapa rekan-rekanmu begitu menyukaimu…”

‎Ia menatap Amane, kali ini tanpa canggung.

‎“…rasanya aku jadi paham.”

Amane tertawa pelan, suara tawanya lembut dan ringan. Matanya ikut menyipit, menciptakan ekspresi hangat yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.

‎“Fufu… saya merasa terhormat anda memujinya,” ucapnya.

‎“Tapi apapun alasannya… izinkan saya meminta maaf sekali lagi.”

‎Ia menggaruk pipinya dengan canggung, sesuatu yang cukup kontras dengan sikap tegasnya selama ini.

‎“Termasuk soal insiden tamparan itu.”

‎Kai sedikit terkejut, lalu mengangkat tangannya santai.

‎“Tolong jangan dipikirkan,” jawabnya. “Walaupun… sejujurnya saya memang sangat panik waktu anda provokasi di guild sih.”

‎Api unggun di depan mereka kembali menyala terang, seolah ikut menghidupkan suasana.

‎Amane menatap api itu dalam diam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata—

‎“Sebenarnya… itu juga ada maksudnya untuk melindungi anda.”

‎Kai menoleh sedikit. “Begitu ya.”

‎Amane mengangguk kecil.

‎“Kalau di tempat itu saya bersikap ramah…” lanjutnya pelan, “anda bisa-bisa jadi sasaran kemarahan orang-orang.”

‎Ia menarik napas ringan.

‎“Karena tampaknya… reputasi nama saya jauh lebih besar dari yang saya kira.”

‎Kai hanya bisa tersenyum tipis mendengar itu.

‎“Ah… tapi tolong jangan salah paham, ya."

‎Amane tiba-tiba tersenyum lagi.

‎Namun kali ini—senyum itu berbeda.

‎Tipis. Tenang.

‎Dan… sedikit menakutkan.

‎“Tapi… terkait masalah anda yang mengintip saya telanjang…” ucapnya dengan nada datar yang justru terasa lebih mengancam.

‎“…itu sama sekali tidak akan saya maafkan, loh.”

‎Kai langsung menelan ludah.

‎“…Ya… kan sudah kubilang berkali-kali itu kecelakaan…”

‎“Biar begitu,” balas Amane tanpa ragu, “tetap tidak saya maafkan.”

‎“Waaah… saya benar-benar minta maaf…”

‎Malam semakin larut.

‎Satu per satu cahaya di sekitar perkemahan meredup. Tenda para gadis kini sunyi—semuanya sudah beristirahat.

‎Kai duduk sendirian di luar, membelakangi tenda. Api unggun tinggal menyisakan bara, cahayanya redup namun masih cukup untuk menemani kesunyian.

‎Angin malam berhembus pelan.

‎‘…Baiklah,’ pikirnya.

‎‘Masih ada waktu sampai giliran jaga malam berganti.’

‎Ia berdiri perlahan.

‎‘Langsung kucoba saja kali ya…’

‎Kai menutup matanya.

‎Ia menarik napas dalam.

‎“Kalau aku pakai indra dari Magic Detection yang diajarkan Marina hari ini…” gumamnya pelan, “kayaknya aku bisa…”

‎Sesaat hening—

‎“~ DETECTION ~”

‎Dalam sekejap—

‎Dunia di sekitarnya berubah.

‎Bukan lagi gelap.

‎Bukan lagi sekadar suara dan bayangan.

‎Namun… sensasi keberadaan.

‎Seperti gelombang tak kasat mata yang menyebar dari tubuhnya, menjalar ke segala arah.

‎Dalam radius sekitar dua kilometer, Kai mulai “melihat”.

‎Bukan dengan mata.

‎Tapi dengan kesadaran.

‎Ia merasakan pergerakan kecil di semak-semak—hewan malam yang berkeliaran, langkah kaki ringan, detak kehidupan yang samar namun jelas.

‎Setiap makhluk hidup… seperti titik cahaya yang muncul dalam kegelapan.

‎“...Aku bisa lihat…”

‎Suaranya lirih, hampir tak percaya.

‎“Meski terbatas… tapi aku masih bisa melihatnya…”

‎Sensasi itu aneh.

‎Seolah-olah ia berdiri di tengah dunia… dan dunia itu membuka dirinya untuknya.

‎“Skill ini juga…” lanjutnya pelan, “aku bisa merasakan sekelilingku… seolah-olah aku melihatnya langsung…”

‎antara titik-titik cahaya itu—

‎Ada satu yang berbeda.

‎Diam.Tegak.

‎Namun… sedikit aneh.

‎Kai memfokuskan kesadarannya ke arah itu.

‎“…Violet…”

‎Ia mengenali kehadirannya.

‎Sosok itu berdiri… namun tidak bergerak.

‎Lebih tepatnya—

‎Tidur.

‎Sambil berdiri.

‎Kai terdiam beberapa saat.

‎“…Serius?”

‎Tapi jauh lebih halus dari yang ia bayangkan.

‎‘Kalau aku membuka penutup mataku…’

‎Pikirannya terhenti di situ.

‎Ia tahu.

‎Dengan kemampuan aslinya… jangkauan ini bukan apa-apa.

‎Bahkan gunung pun bukan penghalang.

1
Zero_R06
Bukan nya beruang ya ?
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!