Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Angin malam kembali berhembus pelan.
Kali ini, Amane berbicara lebih panjang dari biasanya. Nada suaranya juga berubah—lebih terbuka, lebih jujur.
“Tapi ini tetap pendapat pribadi saya,” lanjutnya. “Sebagai pemimpin White Snow, saya tidak bisa hanya mengandalkan perasaan seperti itu.”
Ia menunduk sedikit, menatap tangannya sendiri.
“Menyelidiki anda lebih dalam… mencari tahu alasan anda mendekati Marina… itu adalah kewajiban saya.”
Suaranya tidak keras, tapi penuh keteguhan.
“Apapun hasilnya… dan tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang saya…”
“Selama keamanan rekan-rekan saya terjamin… itu yang paling saya harapkan.”
Hening sejenak.
Api unggun berderak pelan.
Kai memperhatikan Amane beberapa detik, lalu berjalan mendekat dan ikut duduk di depannya.
‘…Begitu ya,’ pikirnya dalam hati.
‘Pantas saja dia bersikap keras selama ini…’
Ia tersenyum tipis.
“…Bagaimana ya, Amane-san,” ucapnya pelan. “Alasan kenapa rekan-rekanmu begitu menyukaimu…”
Ia menatap Amane, kali ini tanpa canggung.
“…rasanya aku jadi paham.”
Amane tertawa pelan, suara tawanya lembut dan ringan. Matanya ikut menyipit, menciptakan ekspresi hangat yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.
“Fufu… saya merasa terhormat anda memujinya,” ucapnya.
“Tapi apapun alasannya… izinkan saya meminta maaf sekali lagi.”
Ia menggaruk pipinya dengan canggung, sesuatu yang cukup kontras dengan sikap tegasnya selama ini.
“Termasuk soal insiden tamparan itu.”
Kai sedikit terkejut, lalu mengangkat tangannya santai.
“Tolong jangan dipikirkan,” jawabnya. “Walaupun… sejujurnya saya memang sangat panik waktu anda provokasi di guild sih.”
Api unggun di depan mereka kembali menyala terang, seolah ikut menghidupkan suasana.
Amane menatap api itu dalam diam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata—
“Sebenarnya… itu juga ada maksudnya untuk melindungi anda.”
Kai menoleh sedikit. “Begitu ya.”
Amane mengangguk kecil.
“Kalau di tempat itu saya bersikap ramah…” lanjutnya pelan, “anda bisa-bisa jadi sasaran kemarahan orang-orang.”
Ia menarik napas ringan.
“Karena tampaknya… reputasi nama saya jauh lebih besar dari yang saya kira.”
Kai hanya bisa tersenyum tipis mendengar itu.
“Ah… tapi tolong jangan salah paham, ya."
Amane tiba-tiba tersenyum lagi.
Namun kali ini—senyum itu berbeda.
Tipis. Tenang.
Dan… sedikit menakutkan.
“Tapi… terkait masalah anda yang mengintip saya telanjang…” ucapnya dengan nada datar yang justru terasa lebih mengancam.
“…itu sama sekali tidak akan saya maafkan, loh.”
Kai langsung menelan ludah.
“…Ya… kan sudah kubilang berkali-kali itu kecelakaan…”
“Biar begitu,” balas Amane tanpa ragu, “tetap tidak saya maafkan.”
“Waaah… saya benar-benar minta maaf…”
Malam semakin larut.
Satu per satu cahaya di sekitar perkemahan meredup. Tenda para gadis kini sunyi—semuanya sudah beristirahat.
Kai duduk sendirian di luar, membelakangi tenda. Api unggun tinggal menyisakan bara, cahayanya redup namun masih cukup untuk menemani kesunyian.
Angin malam berhembus pelan.
‘…Baiklah,’ pikirnya.
‘Masih ada waktu sampai giliran jaga malam berganti.’
Ia berdiri perlahan.
‘Langsung kucoba saja kali ya…’
Kai menutup matanya.
Ia menarik napas dalam.
“Kalau aku pakai indra dari Magic Detection yang diajarkan Marina hari ini…” gumamnya pelan, “kayaknya aku bisa…”
Sesaat hening—
“~ DETECTION ~”
Dalam sekejap—
Dunia di sekitarnya berubah.
Bukan lagi gelap.
Bukan lagi sekadar suara dan bayangan.
Namun… sensasi keberadaan.
Seperti gelombang tak kasat mata yang menyebar dari tubuhnya, menjalar ke segala arah.
Dalam radius sekitar dua kilometer, Kai mulai “melihat”.
Bukan dengan mata.
Tapi dengan kesadaran.
Ia merasakan pergerakan kecil di semak-semak—hewan malam yang berkeliaran, langkah kaki ringan, detak kehidupan yang samar namun jelas.
Setiap makhluk hidup… seperti titik cahaya yang muncul dalam kegelapan.
“...Aku bisa lihat…”
Suaranya lirih, hampir tak percaya.
“Meski terbatas… tapi aku masih bisa melihatnya…”
Sensasi itu aneh.
Seolah-olah ia berdiri di tengah dunia… dan dunia itu membuka dirinya untuknya.
“Skill ini juga…” lanjutnya pelan, “aku bisa merasakan sekelilingku… seolah-olah aku melihatnya langsung…”
antara titik-titik cahaya itu—
Ada satu yang berbeda.
Diam.Tegak.
Namun… sedikit aneh.
Kai memfokuskan kesadarannya ke arah itu.
“…Violet…”
Ia mengenali kehadirannya.
Sosok itu berdiri… namun tidak bergerak.
Lebih tepatnya—
Tidur.
Sambil berdiri.
Kai terdiam beberapa saat.
“…Serius?”
Tapi jauh lebih halus dari yang ia bayangkan.
‘Kalau aku membuka penutup mataku…’
Pikirannya terhenti di situ.
Ia tahu.
Dengan kemampuan aslinya… jangkauan ini bukan apa-apa.
Bahkan gunung pun bukan penghalang.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin