NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 16

"Kamu cemburu, Zenna."

Rendy memeluk erat pinggang Zenna dari belakang, ketika Zenna sedang meneguk secangkir cokelat panas seraya berdiri di balkon apartemennya dan menatap langit petang berbintang jarang.

"Kenapa harus cemburu?" tanya Zenna pelan. "Istri sahmu akan melahirkan anak kembar untukmu, penerus klan Wangsa berikutnya. Itu bagus."

Rendy mengangkat alisnya. Sejurus kemudian, ia tergelak senang.

"Kamu makin cantik kalau sedang marah," puji Rendy seraya mencium pipi Zenna. "Tapi aku senang kamu marah begini... itu artinya, kamu sangat mencintaiku, hahaha."

Zenna tak mengatakan apa-apa. Percuma.

Ia tahu Rendy memang narsistik gila, jadi tak ada gunanya menjelaskan panjang lebar bahwa ia sungguh tak merasakan apa-apa sekarang. Mau Aurel melahirkan seratus Kurawa, mau dunia mendadak kiamat dan dia masuk neraka, dia tak akan peduli itu semua.

Tumpukan rasa sakit dan pahit itu sudah mengebaskan jiwanya.

Satu-satunya alasan yang membuatnya sedikit waras untuk mempertahankan napas adalah kesehatan ibunya.

Kalau tidak, sudah dari dulu aku memilih mati.

"Kamu sering mengunjungiku akhir-akhir ini... kamu mau istrimu curiga?" tegur Zenna dengan nada datar.

"Aku ini CEO Wangsa Group. Punya segudang kesibukan di luar dan jarang pulang adalah hal wajar," Rendy menyeringai lebar. "Dan salah satu agendaku yang paling penting adalah bersamamu, Zenna Sayang..."

"Kalau begini terus, istri dan keluargamu bisa tahu," Zenna menepis sentuhan Rendy di payudaranya, yang jujur saja membuatnya tak nyaman. "Kamu mau aku jadi bahan olok-olok dan siksaan mereka, atau bagaimana?"

Rendy mengerutkan alis. "Tentu tidak. Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Kenapa kamu jadi berpikiran buruk dan sinis begini?"

"Aku berpikir logis. Bukan sinis," tukas Zenna tak mau kalah. "Segala kemungkinan bisa terjadi. Dan kalau hal-hal terburuk menimpaku, percuma saja aku mempertaruhkan segalanya, kan? Bagaimana kalau kemudian kesehatan ibuku memburuk, gara-gara aibku terbongkar ke seluruh negeri? Untuk apa aku melakukan semua ini, jika pada akhirnya aku kalah dan kehilangan ibuku untuk selamanya?"

Entah bagaimana, Zenna bisa berargumen sekuat itu. Kehampaan dan kebekuannya justru menjelma harmoni baru untuk berani bicara dan bertindak dengan kepala tegak dan dingin.

Rendy terdiam beberapa saat lamanya. Pikirannya sendiri, meski hampir selalu berada di jalur lain, mulai bekerja.

"Aku bisa menjamin kamu--kita, menang," cetus Rendy perlahan, wajah tampan runcingnya merenung dalam.

Giliran Zenna mengangkat alis. "Maksudmu?"

Rendy tersenyum lebar dan mengecup bibir Zenna.

"Ayo punya anak denganku."

Zenna melompat mundur hingga punggungnya membentur pagar balkon.

"Apa katamu?!"

"Aku akan membenihkan anak dalam rahimmu," kata Rendy seraya maju dan kembali memeluk pinggang Zenna. "Kita akan lebih sering bercinta tanpa pengaman sampai kamu positif hamil. Ide bagus, bukan?"

Zenna hampir saja menggampar Rendy, tetapi ia berhasil menahan diri. Untuk pertama kalinya sejak beberapa lama mentalnya hancur hingga hampa, kini ia merasakan gelegak amarah yang luar biasa.

"Kamu gila!" teriak Zenna. "Bagaimana kamu bisa berpikir itu adalah solusi?! Kalau aku hamil dan melahirkan, akan bagaimana jadinya nasib anakku?! Katamu kamu mencintaiku, tapi kenapa kamu justru--"

"Justru karena aku mencintaimu, makanya aku mau punya anak denganmu--itu bukti keseriusan cintaku padamu!" sela Rendy tajam. "Kamu akan punya pewaris sah berdarah klan Wangsa! Aku bisa mengubah segalanya, sesuai keinginanku, melalui anak kita!"

Zenna menggeleng berang. "Tak masuk akal--"

"Justru sangat masuk akal," bantah Rendy tak mau kalah. "Aku sekarang memang masih berstatus pewaris, belum menjadi pemilik resmi seluruh kekayaan keluargaku. Tetapi jika suatu hari ayahku meninggal, dan aku menjadi kepala keluarga Wangsa yang sah, aku berhak mengatur pembagian harta dan status anggota keluarga sesukaku. Jika saat itu aku punya anak darimu, aku bisa menjadikan anak kita sebagai pewaris sah keluarga Wangsa berikutnya. Dan kamu akan menang sebagai ratuku, untuk selamanya..."

"Yang benar saja!" Zenna memandang Rendy tak percaya. "Kamu lupa kamu punya Aurel sebagai istri sahmu, dan juga anak-anak kalian yang lebih berhak sebagai pewaris sah keluargamu? Bagaimana kamu bisa punya gagasan gila dan mengira semudah itu menjadikan anak kita kelak sebagai pewaris sah?"

Rendy tertawa keras.

"Kalau soal itu, kamu tak perlu khawatir. Aurel dan keluarganya tak akan bisa banyak melawan. Aku memegang kartu as mereka. Aku bisa saja menyingkirkan mereka dengan mudah, jika aku mau, apalagi kalau aku sudah memiliki kekuasaan tertinggi sebagai kepala keluarga Wangsa..."

Ekspresi keji dan gila Rendy membuat jantung Zenna seakan berhenti mendetakkan darah. Ia bisa melihat monster itu kembali bangkit.

Apa-apaan dia ini...?

"Kamu tidak akan...," nada suara Zenna merendah, nyaris bergetar. "Mereka istri dan anak-anakmu, Rendy. Kamu tidak akan..."

"Membunuh adalah jalan terakhir," Rendy seakan bisa membaca pikiran Zenna, dan menyela santai seakan sedang membicarakan cuaca esok hari. "Aku tak akan melakukannya, kecuali terpaksa. Tapi kamu tak perlu khawatir. Cara-caraku pasti ampuh untuk menyingkirkan para penghalangku. Aku pasti mendapat yang aku mau. Kamu tenang dan lihat saja."

Zenna merasa sisi hampa dan bekunya nyaris runtuh kali ini, dan dia akan kembali dalam pusaran gelap rasa ngeri dan jeri.

Dia tahu Rendy tak sepenuhnya waras. Bisa sewaktu-waktu menjadi monster. Ia pernah mengancam akan membunuh Amalia, itulah sebabnya Zenna tak pernah bisa melepaskan diri darinya.

Dan sekarang, Rendy dengan tenang mengatakan akan menyingkirkan istri dan anak-anaknya sendiri, jika diperlukan, hanya agar bisa bersama Zenna, seperti yang selalu diinginkannya.

Sebenarnya aku terjebak dengan monster macam apa...? Batin Zenna merintih ngeri.

"Ayo kita lakukan, Sayang," Rendy sudah menarik Zenna dan menurunkan pakaiannya di bahu. "Kita usahakan masa depan itu terwujud... melalui darah daging kita. Kujamin, semua akan indah pada waktunya."

Zenna bisa melihat jelas yang mencumbunya kini adalah iblis, bukan manusia.

Dan lagi-lagi, ia tak berdaya untuk melawannya.

***

"...pagi ini, tepat pukul tujuh pagi, Aurel Sanjaya melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan, buah pernikahannya dengan pewaris Wangsa Group, Rendy Wangsa..."

Suara penyiar wanita menggema lantang di sudut-sudut ruang keluarga apartemen Zenna, sementara adegan di layar kaca menampilkan perempuan cantik berambut merah panjang berbaring di atas brankar dengan wajah sumringah. Ia memeluk sesosok bayi mungil berbalut selimut putih, dan di sisinya, Rendy berdiri dan melambai ke kamera seraya menggendong kembaran bayi itu, wajahnya juga menyiratkan bahagia.

Zenna duduk membisu di atas sofa. Bibirnya mengatup. Jemarinya dengan gemetar membelai perutnya sendiri, seiring rasa mual dan kelindan emosi kembali melanda dirinya.

Ia positif hamil sekarang. Dokter kandungan yang memeriksanya menyatakan janin dalam rahimnya sudah berusia delapan minggu.

"...aku bisa menjadikan anak kita sebagai pewaris sah keluarga Wangsa berikutnya."

"...aku pasti mendapat yang aku mau. Kamu tenang dan lihat saja."

Kata-kata Rendy malam itu kembali mengiang jelas dalam kepala Zenna, seketika membuncahkan berbagai rasa: bersalah, takut, cemas, panik, sekaligus sedih tak terkira.

Apakah setelah ini, semua akan baik-baik saja...?

***

1
Shamira Zee
yaaah akhirnya tamat! happy lihat ze-bra happy ❤️ ditunggu karya selanjutnya ya kak ❤️
Shamira Zee
Huhu manis sekali couple satu ini... bikin irii
Shamira Zee
Yaah ketahuan deh Bram
Shamira Zee
Bram pulih, Zenna pulih, yuk Kenan pulih juga... aku gak mau Kenan jadi korban lho thooor
sryharty
aaah akhirnya happy ending juga mereka,, terimakasih ka udah kasih bacaan bagus
bikin hati bener2 traveling
Shamira Zee
Akhirnya si tua metong /Skull/ tapi bram kritis /Sob/ Kalau zenna sampai tahu gimana...
Shamira Zee
Gak tahu lagi mau bilang apa... jahat banget si tua dan tegangnya itu lho... Bram plis selamat dong
Shamira Zee
Wee bakal dar der dor macam mana lagi inii? Upload semua lah thor sampai ending, jangan bikin tegang dan penasaraaan
Shamira Zee
Whaat seriusan Bram ditangkap? /Scare/
Shamira Zee
Walaahh makin tegaaang
Shamira Zee
Zenna hamil yaa ❤️ Tapi malah jatuh ke tangan Darwin tuh gimana... thor mau bikin ceritanya kayak apa lagi ini /Sweat/
Shamira Zee
Kenan selamat /Scowl/Jangan bikin aku nangis ya thor... trus ini fakta dar der dor apa lagi yang bakal mengguncang Bram? Duh ada aja konfliknyaa
Shamira Zee
Thooor nggak mau aku kalau Kenan meninggal /Sob//Sob//Sob/
Shamira Zee
Semangat nulisnya thor... tapi aku patah hati beneran lho kalau sampai Kenan nggak ada... jangan pliiss /Sob/
Shamira Zee
Ya kamu bisa, Ken, tapi abis itu kamu ketembak... /Sob/
Lord Aaron
Darwin kudunya mati di tangan Kenan atau Bram lah
Lord Aaron
Kan... penulisnya tim medis pasti nih, bisa khatam betul soal obat dan segala macam tes medisnya
Lord Aaron
Jadi PoVnya Kenan... kasihan juga Kenan
Lord Aaron
Kan... runyamm
Lord Aaron
Nekat gak nyelesaiin masalah kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!