Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara & Iblis
Keesokan paginya di kantor, Yudha masuk ke ruangan Bara dengan wajah cerah.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu, Yud?" selidik Bara.
"Kamu ingat gadis yang kuceritakan semalam, Bara? Wajahnya terus terbayang, dia sangat cantik!"
"Jangan membayangkan yang tidak-tidak." sahut Bara menyeringai.
"Aku belum sempat kenalan, tapi aku sudah dapat nomor teleponnya!" Yudha segera menekan nomor ponsel Kiara dan menyalakan loudspeaker.
Seketika, ponsel di saku Bara berdering. Nama 'Kiara' muncul di layar.
"Om! Tadi lupa memberiku uang jajan, ya? Dompetku ketinggalan pula di rumah. Aku kesal!" suara nyaring Kiara menggema di ruangan tersebut.
Yudha ternganga, sementara Bara menjawab tak kalah sengit. "Makanya, kalau berangkat jangan terburu-buru!"
"Terus bagaimana? Motorku mogok karena kehabisan bensin! Mau diisi pakai apa kalau tidak ada uang?" suara Kiara terdengar seperti hampir menangis. Rupanya Pak Komar lupa mengisi bensin motor yang baru saja dijemputnya.
"Kamu di mana? Kirim lokasi, aku ke sana!" Bara segera berdiri, meninggalkan pekerjaannya demi sang istri kecil.
Yudha tertawa mengejek. "Itu bukan istri Bos, tapi penyakit. Kambuh terus setiap hari!"
Bara berbalik dan menjitak kepala sahabatnya dengan keras. "Pergi ke HRD sekarang! Ajukan resign dan minta uang pesangonmu!"
Yudha langsung pucat pasi.
**
Malam harinya, Bara masuk ke kamar Kiara dan menemukan gadis itu sudah terlelap. Di tangannya, terdapat buku tulis penuh coretan. Kiara menggambar sosok gadis kecil bersayap bidadari bersanding dengan makhluk bertanduk menyerupai iblis. Di bawahnya tertulis: Kiara dan Om Bara.
Bara tersenyum tipis sambil menggeleng. Ia tahu Kiara bukan malaikat manis dan ia pun sadar dirinya bukan iblis menyeramkan seperti di gambar itu. Dengan lembut, ia membelai rambut Kiara dan mengecup keningnya.
"Sleep tight, little wife..." bisiknya sebelum mematikan lampu.
**
Kiara melangkah kembali ke dalam ruang kelas dengan rongga perut yang mulai berontak. Rasa dahaga yang sempat menyiksa memang telah tuntas terbasuh oleh segelas es the yang ia dapatkan dengan cara sedikit nekat tadi, namun rasa lapar bukanlah sesuatu yang bisa diredam hanya dengan seulas senyum.
Ada keinginan untuk menghubungi suaminya, namun jemarinya ragu. Ia enggan mengusik ketenangan Abraham Wijaya. Kiara sadar betul, posisinya seringkali merepotkan pria itu dan ia tak ingin menambah daftar panjang masalah akibat ulahnya sendiri.
Langkah Kiara terhenti seketika saat netranya menangkap pemandangan tak biasa di atas mejanya. Beberapa kotak makanan premium, deretan dessert cantik dan minuman segar telah tersaji di sana. Ia sempat menoleh ke kanan dan kiri dengan cemas, khawatir jika semua makanan enak ini adalah milik rekan kelasnya yang salah sasaran. Namun, saat jemarinya menyentuh kartu ucapan yang tertulis khusus untuk namanya, haru biru langsung menyerbu dadanya. Rasanya seperti menemukan oase di tengah gersangnya padang gurun.
"Om Bara... kenapa bisa sebaik ini sampai mengirimkan makanan sebanyak ini? Dia tahu saja kalau aku sedang kelaparan." bisik Kiara lirih.
Bulir bening tak terasa meluncur di pipinya. Ada rasa sesal yang menyelinap di sela-sela kunyahannya. Ia menangis tersedu, meratapi betapa kasarnya ia memperlakukan suaminya selama ini. Di tengah isak tangis yang belum reda, ia meraih ponselnya. "Aku harus berterima kasih pada Om Bara.” gumamnya.
Pada nada dering ketiga, suara berat yang berwibawa menyahut di seberang sana.
"Om... Ma..."
"Saya sedang rapat, telepon lagi nanti." potong Bara dingin.
"Sebentar saja, Om. Aku hanya ingin bilang terima kasih."
Mendengar suara Kiara yang bergetar seperti habis menangis, Bara segera menginstruksikan asistennya untuk menjeda rapat. Ia melangkah keluar ruangan, mencari sudut yang lebih privat untuk bicara.
"Aku mau terima kasih karena Om sudah membelikan makanan sebanyak ini. Ada burger, kentang, mie lidi... banyak sekali. Om tahu saja kalau aku lapar karena tadi pagi Om tidak memberiku uang saku." ucap Kiara diselingi suara isakan dan hembusan napas yang sesak.
"Makanan?" dahi Bara berkerut di balik meja kerjanya di kantor miliknya. Ia memang sempat merasa bersalah karena lupa memberikan uang saku, tapi ia belum sempat memesankan apa pun.
"Kiara, kau sudah menerima kiriman makanan dariku?"
Suara seorang pemuda yang baru saja memasuki kelas Kiara terdengar sangat jelas di telinga Bara melalui sambungan telepon. Kiara tersentak. Ia baru menyadari ada nama lain yang tertera di bungkusan paling bawah. Bukan Bara, melainkan Sean, kapten basket SMA Pertiwi yang selama ini menjalin hubungan dengannya.
"Tadi aku tidak melihatmu di kantin, jadi aku pikir kau pasti belum makan. Makanya aku pesankan semua ini." ujar Sean sambil mendekat dan duduk di hadapan Kiara.
“Ya Tuhan, Sean... kenapa kamu baik sekali? Padahal aku sudah berniat untuk mengakhiri hubungan ini.”batin Kiara perih.
"Jadi, kau menelepon saya hanya untuk pamer? Ingin menyindir suami yang lupa memberi uang saku dengan menunjukkan bahwa ada laki-laki lain yang lebih perhatian?" Suara Bara meninggi, sarat akan otoritas dan kecemburuan yang tertahan. Jika saja ponsel memiliki fitur peredam suara otomatis, Kiara pasti sudah menekannya sekarang juga.
"Bukan, bukan begitu Om..." Kiara mulai panik. Ia tahu betul jika Bara meradang, maka izinnya untuk pergi menemui Yudha besok siang akan hangus seketika.
Baru saja Kiara hendak merangkai kata-kata manis untuk merayu, Bara sudah memutuskan sambungan sepihak. Bahkan, pria yang kini terbakar api cemburu itu mencabut kartu SIM dari ponselnya. Jika saja bisa, mungkin ia akan menutup perusahaan provider itu sekalian karena rasa kesalnya yang meluap.
"Sean, terima kasih ya. Kamu sudah repot-repot memesankan ini." ujar Kiara, merasa menjadi wanita paling jahat karena menerima perhatian dari Sean di saat statusnya sudah menjadi istri orang.
"Santai saja, Kiara. Aku kan pacarmu." Sean mengusap lembut rambut Kiara sebelum berpamitan menuju lapangan basket.
Kiara terpaku menatap punggung Sean yang menjauh, hingga sebuah keriuhan dari luar kelas memecah lamunannya.
"Kiara! Kamu ulang tahun ya? Kok tidak bilang-bilang!" seru Melati yang langsung melompat girang ke arahnya.
Teman-teman sekelasnya masuk dengan tangan penuh tentengan ayam goreng favorit mereka.
"Terima kasih ya, Kiara!"
"Semoga panjang umur, Nad!"
Bingung dengan apa yang terjadi, Kiara melangkah menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria bertubuh besar dengan kostum badut hidung tomat merangsek masuk ke ruangan.
"Hai! Saya Mimo, mari kita berdansa!"
Kelas itu seketika berubah menjadi arena pesta. Meja Kiara kini penuh dengan berbagai hidangan mewah, dari daging domba hingga spaghetti keju. Seorang kurir kemudian menyerahkan selembar nota kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
Hanya karena suamimu lupa memberi uang saku, bukan berarti laki-laki lain bebas mengirimimu makanan. Ini kiriman dariku untukmu dan seluruh teman sekelasmu, lengkap dengan hiburannya.
-Abraham Wijaya- Suamimu.
Kiara menyunggingkan senyum kecil. Ia bisa membayangkan betapa murkanya wajah tampan suaminya saat menulis pesan ini. Namun, ini adalah kesempatan. Ia sudah tidak sabar ingin mempraktikkan tips yang ia baca di media sosial untuk merayu pria sekaku Bara.
semangat💪 crazyup