Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Mencari Buku
"Sayang, kita mau ke lantai 6?" pria bule itu mengikuti langkah sang kekasihnya.
"Ya, benar" jawab Cellsyia.
Lalu berjalan seraya bergandengan tangan, dan memasuki lift tepat di lantai 4.
Ting
"Ayo, kita masuk" wanita itu menarik lengan Aren, pria itu menurut saja ketika ditarik demikian.
Di dalam lift hanya ada mereka berdua, tanpa suara, dan saling terdiam membisu.
"Sayang" kekasihnya memanggil wanita itu.
"Ya?" Cellsyia menoleh ke samping.
"Apakah kamu mau membeli buku juga?" tanyanya Aren.
"Betul" menganggukkan kepala barengan sambil mengangkat ibu jari.
"Buku tentang bunga?" celetuk Aren dengan polos, mendengar hal itu seketika Cellsyia tertawa.
"Hahahaha..." wanita itu tertawa pelan.
"Hah? Ada apa dengan kekasih hatiku? Kenapa dirinya tertawa? Apakah ada yang salah ketika ia bertanya barusan?" pikirnya pria bule itu
"Sayang mengapa kamu tiba-tiba tertawa?" Aren bingung lantas dirinya tanpa ragu langsung menanyakannya.
"Tidak ada" jawab Cellsyia setelah meredakan kegiatan tertawa.
Wanita itu melepaskan tautan gandengan tangan tersebut, kini wanita itu bersidekap dada dengan pandangannya lurus ke depan. Sedangkan pria bule itu menatap sendu ke arah kekasihnya setelah menyadari gandengan itu lepas.
***
Kini sepasang kekasih itu sudah sampai di tempat tujuan yaitu lantai 6, meskipun tadi dalam lift gandengan lepas dan sekarang pria bule itu menautkan kembali tangannya pada tangan sang kekasihnya.
"Oh iya, lupa maaf, tadi aku belum menjawab pertanyaanmu, Sayang" wanita itu berkata.
"Nah di lantai ini, aku akan membeli beberapa buku novel" diangguki oleh Aren setelah mengetahui jawabannya.
"Buku novel tentang apa, Sayang?" pria bule itu sangat penasaran buku apa yang akan dibeli oleh kekasih hatinya.
"Bisa dikatakan random sih, yang aku beli sekarang itu adalah novel romance, fantasy, fiksi remaja, dan terakhir horor"
"Ayo ikut aku" Cellsyia menarik kekasihnya dimana langkah mereka agak lebar.
2 Menit Telah Berlalu.....
"Disini tempatnya, Sayang?" Aren bertanya padanya.
"Yap" ucap Cellsyia sambil mengedipkan satu matanya dengan genit.
"....." pria bule itu tersenyum tipis setelah mendapat kedipan dari kekasihnya.
"Waw, luar biasa!" decak kagum Aren seraya mengelus rambut wanita itu.
"Sayang, kamu mau duduk disitu atau ikut aku?" tanya Cellsyia, langkah mereka terhenti.
"Ikut bersamamu saja, Sayang. Aku takut jika ditinggal duduk sendirian" pria bule itu berbisik ke telinganya.
"Baiklah" kemudian melanjutkan berjalannya.
***
"Hm, bukunya kira-kira bakalan ada tidak, ya?" pikirnya Aleix, remaja lelaki itu terus menelusuri rak berjajaran buku yang tersusun rapi.
"Aku perlukan buku bahasa, kimia, dan sejarah" batin remaja lelaki itu.
1 Jam Kemudian.....
"Hm, tidak ada ternyata.." celetuk Aleix dengan menggelengkan kepala.
Lamanya ia berdiri lantas dirinya pun duduk di kursi empuk, remaja lelaki itu berpikir sejenak.
"Astaga! Aduh aku lupa! Harusnya aku membeli buku itu disana bukan di Indonesia!" batinnya Aleix berkata seraya menjerit.
Wajahnya terlihat frustasi, lesu, dan punggungnya ia sandarkan ke dinding telat di belakang dirinya.
"Kenapa aku bisa sampai lupa sih!? Bahkan tidak ingat sama sekali!" kata remaja lelaki itu dengan suara lirih.
"Aku langsung ke lantai 7 saja, daripada disini!" Aleix segera pergi dari sana.
***
"Apakah Aleix sudah menemukan buku diperlukannya itu?" pikirnya Cellsyia seraya memilih novel yang akan dibelinya.
"Sayang, sudah ketemu buku novelnya?"
"Oh, belum nih"