Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
023
Roseo baru saja hendak mencari Mary, namun pria itu mengurungkan niatnya karena melihat Mary yang akhirnya pulang.
Ingin rasanya Roseo bersujud syukur karena Mary kembali pulang ke rumahnya dan melihat wanita itu tampak baik-baik saja meski tidak ada senyum yang menghiasi wajah cantik wanita itu.
“Kenapa kau kembali? Bukankah kau bilang mau mencari buaya yang butuh lubang?!’ Tukas Roseo dengan ketusnya.
Hah? Apa yang baru saja kukatakan?! Batin Roseo memberontak.
Mary menarik senyumnya ke arah Roseo.
“Ya, tadinya aku berpikir seperti itu. Tapi masalahnya, di kampung ini semua buayanya kampungan!” Kata Mary.
Syukurlah semua pria di kampung ini bukan tipemu, batin Roseo kegirangan.
“Bukan buayanya yang kampungan! Kau saja yang salah tempat!” Sindir Roseo.
Hah?! Mulutmu! Mulutmu! Batin Roseo menjerit histeris.
“Ya, kau benar. Aku jadi makin tak sabar untuk pergi ke tempat lain. Lagipula daripada aku mencari buaya, sekalian saja kudapatkan pangeran berkuda putih!” Jawab Mary sambil tersenyum sumringah.
“Pangeran berkuda putih?! Omong kosong macam apa itu?! Wanita sepertimu, memang lebih cocok bersama buaya!” Roseo kembali menyindir sengit.
Tutup mulutmu! Tutup mulutmu! Kau benar-benar cari mati, Roseo! Lagi-lagi batin Roseo menjerit.
Ingin rasanya ia menggigit lidahnya sampai putus agar mulutnya ini berhenti bicara.
Mary tersenyum makin sumringah.
“Ya, kau benar sekali. Makanya aku mau menikah dengan kau yang mirip sekali dengan buaya! Besar, lebar, dan tidak bisa menutup mulutmu dengan benar,” balas Mary sambil tersenyum genit.
“Buaya besarku! Muachh,” Mary berucap manja sambil melayangkan ciuman jarak jauh ke arah Roseo.
“Hah?! Apa-apaan itu! Menjijikan!” Tukas Roseo dengan sengitnya.
Namun dalam hati pria itu bersorak senang.
“Sudahlah, sayang, aku lelah dan aku perlu mandi air hangat yang nyaman!” Kata Mary.
Sayang?! Dia memanggilku sayang?!
Ingin rasanya Roseo melakukan selebrasi bak pemain bola yang baru saja mencetak gol.
Mary melewati Roseo seakan pria itu hanyalah sebuah gapura kabupaten.
“Akan kusiapkan air hangatmu!” Kata Roseo.
***
Usai mandi, Mary pun bergegas kembali ke kamarnya. Namun ia melihat Roseo yang duduk di bale bale sambil menyantap jagung rebus.
Mata Roseo tanpa sadar langsung melebar melihat Mary yang hanya memakai handuk kimono berwarna merah muda cerah. Handuk kimono dengan belahan dada yang rendah itu jelas membuat Roseo gagal fokus.
“Ehem, apakah kita bisa bicara sebentar,” kata Roseo berdeham.
Mary menghampiri Roseo, Roseo segera mengalihkan matanya dari belahan dada Mary yang isinya jelas lebih menggoda birahinya.
“Apa yang mau kau bicarakan?” Tanya Mary.
Mary duduk di bale bale lalu mengambil satu jagung rebus dan mengupasnya dengan susah payah.
Roseo mengambil jagung dari tangan Mary, menukarnya dengan jagung yang sudah dikupasnya.
“Terima kasih,” kata Mary dengan senyum.
Roseo melihat Mary yang mencungkil-cungkil biji jagung dengan tangannya lalu memakan biji jagung itu satu persatu seperti seekor burung kecil.
Terlihat begitu menggemaskan membuat Roseo membayangkan sedang membaringkan kepalanya dipangkuan Mary sambil menyuapi Roseo buliran jagung.
Roseo memejamkan matanya, membuyarkan lamunannya itu.
“Apa kau itu tidak tahu cara makan jagung?! Kenapa kau makan seperti burung begitu?” Tanya Roseo.
“Aku tentu tidak mau merusak veneer gigiku hanya gara-gara jagung rebus,” jawab Mary.
“Veneer gigi?” Alis Roseo berkerut.
“Sudahlah, orang yang tidak tahu esensi estetika sepertimu tidak akan akan paham meski kujelaskan panjang lebar,” sahut Mary.
Roseo kembali menatap Mary yang masih mencungkil-cungkil biji jagung.
“Oh ya, mengenai kau yang tidak berhasil hamil,” kata Roseo.
Pria itu terlihat gusar, ia berusaha memilih ucapan yang lebih baik agar ia dan Mary bisa bicara baik-baik.
“Aku memberimu benihku, bukan biji labu ataupun mentimun”.
Mary melirik sekilas ke arah Roseo.
Astaga, apa dia sungguh pria yang begitu polos? Manis sekali! Batin Mary.
“Aku sudah berusaha, tapi kalau memang gagal, harusnya perceraian bukanlah kesimpulannya! Itu sungguh tidak sesuai dengan kesepakatan yang telah kita sepakati bersama,” kata Roseo.
Mary melemparkan tatapan skeptisnya pada Roseo.
“Huh, kau bahkan tidak mau membantuku mencari pembalut spesialku. Bukankah itu artinya kau sudah tidak peduli padaku? Kau bahkan merasa tidak perlu memberi perawatan karena kau hanya menggunakanku sekali!” Ketus Mary.
“Bu-bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kita hanya perlu melakukannya sekali?!” Tanya Roseo tergagap.
“Ya, aku meminta seperti itu karena aku berpikir akan langsung hamil! Tapi kalau belum hamil, bukankah itu artinya kita harus mencoba lagi sampai berhasil?"
“Tapi dari sikapmu itu, kau tidak merasa perlu untuk meniduriku lagi!” Tukas Mary.
Roseo terperangah mendengar ucapan Mary.
Wanita itu mau aku menidurinya lagi?
“Siapa bilang aku tidak mau menidurimu lagi! Kau jangan asal menyimpulkan seperti itu,” tukas Roseo.
“Hmm, tapi kenapa kau bersikap acuh dan tak peduli padaku?” Tanya Mary.
“Aku memang seperti ini. Memangnya ada masalah dengan itu?” Roseo balik bertanya.
“Oh, begitu ya, hmm, maaf ya, sepertinya aku yang terlalu sensitif karena sedang datang bulan,” kata Mary.
Roseo tertegun memandangi Mary, wanita itu kembali tersenyum dan membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Mereka berdua saling berpandangan. Dalam benak Roseo, saat ini ia ingin sekali memanggul Mary dan membawa wanita itu ke dalam kamarnya.
Namun hal itu tidak mungkin dilakukannya. Meski ingin, ia harus berusaha menahan dirinya. Jangan sampai Mary kabur karena ketakutan.
“Baiklah, kalau begitu, terima kasih atas jagungnya”.
Mary berpamitan menuju ke kamarnya. Seketika Roseo langsung ambruk di atas bale bale dengan mata menatap langit malam yang gelap.
***
Keesokan paginya, Mary terkejut saat membuka pintu kamarnya dan mendapati sebuah kardus besar berisi pembalut spesial yang kemarin begitu susah payah dicarinya hingga ke kampung sebelah.
Mary mengulas senyumnya, ia pun semakin menyadari bahwa pria itu sungguh tipe pria yang lain di mulut lain di hati.
Mary harus berterima kasih pada Roseo. Mary segera bergegas ke depan kamar Roseo.
Tiba-tiba mata Mary terpana melihat sosok pria tampan yang keluar dari kamar Roseo.
Mary mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
Bagaimana bisa Roseo terlihat tampan dengan potongan rambut rapi, memakai kemeja dan celana yang rapi khas eksekutif muda. Penampilan pria itu seketika mengingatkan Mary pada Luke, mantan kekasihnya.
“Roseo?!” Mary terperangah.
Mary masih tak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu.
Mary menghampiri pria berkulit cerah itu dan langsung memegangi wajah pria itu.
“Roseo! Apa yang terjadi padamu? Kemana perginya gigimu yang seperti gigi buaya itu?!”
Mary begitu heboh saat menguyel-uyel wajah pria di hadapannya.
Pria itu hanya bisa diam dan tersenyum.
“Oh Roseo! Bagaimana kau bisa berubah begitu tampan hanya dalam semalam? Apa tiba-tiba kau berubah karena semalam ada wanita yang memberimu ciuman cinta sejati yang mana pada akhirnya berhasil menghapus kutukanmu?” Tanya Mary.
Mary dengan mata berbinar-binar masih terlalu takjub melihat penampilan Roseo.
“Sepertinya kita harus mengadakan syukuran ah, tidak, pesta atas penampilanmu yang berubah dari tuan buruk rupa menjadi pangeran tampan!” Cerocos Mary penuh antusias.
Mary masih tetap menguyel-uyel wajah pria tampan itu. Namun Mary segera menyadari bahwa pria tampan itu tidaklah setinggi dan berbadan besar nan kekar macam Roseo yang biasanya.
“Ehem, mau sampai kapan kau dipegang-pegang seperti itu, Leo?!”
Mary mendengar suara Roseo yang berdehem dari arah belakangnya.
Mary terkejut mendapati Roseo yang melotot hingga bola mata pria itu nyaris keluar.
Jadi, siapakah pria tampan yang sedang diuyel-uyel oleh Mary?
***
Pembaca setia..
Terima kasih sudah membaca sampai bab ini.
Ikuti terus ya, sampai bab terakhir.
Silahkan tinggalkan jejak komen, like, support, biar author makin semangat :)
Sampai jumpa di bab selanjutnya..