Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
.
Amanda baru saja selesai mandi setelah memastikan hidangan makan malam untuk ayahnya, adiknya, serta anak-anak asuhnya sudah tersedia di atas meja makan besar yang ada di pavilun. Wanita itu menikat asal rambut panjangnya menggunakan handuk kecil, sementara tubuhnya dibalut kaos oversized berwarna putih bersih dan kulot panjang santai.
Baru saja ia duduk untuk mengelap kakinya yang masih basah, suara dering ponsel terdengar nyaring dari atas kasur.
Amanda berjalan mendekat dan mengambil ponsel itu. Layar menyala, menampilkan nama Putri sebagai pemanggil.
Dahi Amanda sedikit berkerut, namun ia segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Halo, Put?" sapa Amanda sambil untuk duduk di atas kasur. Sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel niat gunakan untuk mengeringkan kakinya.
"Halo, Bu Manda! Assalamualaikum!" terdengar suara Putri yang sangat bersemangat dan ceria dari seberang sana.
"Waalaikumsalam, Put? Ada apa, kenapa jam segini Ibu lihat kamu belum pulang?" tanya Amanda sambil melepas handuk yang membungkus kepalanya. Rambutnya yang masih basah bergerak ke kiri dan ke kanan seiring gerakan kepalanya yang ia kibas-kibaskan.
"Iya, Bu. Putri memang belum pulang. Putri mau jalan-jalan terus lanjut makan malam di luar sama Ayah. Nanti Ibu nyusul kita, ya?” Suara Putri terdengar sangat antusias.
"Hah? Ikut sama kalian?” tanya Amanda terkejut mendengar ajakan itu.
"Iya, Bu. Pokoknya Ibu harus ikut, tidak boleh tidak. Nanti Putri share lokasinya!”
“Eh, tapi… “
Tut!
Panggilan diputus sepihak sebelum Amanda sempat menolak, dan sesaat kemudian denting pesan masuk. Amanda membukanya, dan ada sebuah lokasi yang di share oleh Putri.
Amanda menghela napas pelan sambil menurunkan ponselnya. “Makan malam sama Putri dan Tuan Dirga?” batinnya bertanya-tanya. Tiba-tiba saja ia merasa jantungnya berdebar kencang. Wajahnya memanas hingga kulit berwarna putih itu berubah kemerahan.
Sementara itu, di dalam mobil yang masih melaju, Putri tersenyum senang setelah menekan tombol kirim lokasi.
"Sudah ditelepon, Yah. Bu Manda mau datang kok!" lapor Putri dengan mata berbinar.
Dirga yang fokus dengan kemudian di tangannya mengangguk dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman.
*
Kembali ke kamar Amanda. Wanita itu masih memegang ponsel di tangannya, berdiri mematung di depan lemari pakaian dengan perasaan campur aduk.
“Aku pakai baju apa, ya?” tanyanya pada diri sendiri. Biasanya Amanda tidak pernah terlalu memikirkan penampilan. Tapi kali ini entah kenapa ia berpikir harus berbeda. Apa karena ada Tuan Dirga?
Tangannya mulai memikih baju di dalam lemari, mengeluarkan satu persatu dan mencobanya.
“Ini terlalu ketat, tidak sopan,” ucapnya melempar baju itu ke atas ranjang.
“Ini terlalu lusuh, nanti dikira tidak tidak punya baju.” satu baju lagi dilempar menumpuk dibatasi baju sebelumnya.
“Ini warnanya terlalu mencolok. Ah tidak, terlalu heboh. Pasti dia bilang norak!” lempar lagi.
“Yang ini? Terlalu formal kayak mau pergi sekolah.”
Amanda masih sibuk menggeledah isi lemari, mencoba satu per satu di hadapan cermin. Memutar tubuh ke kiri dan ke kanan. Pakai satu, menggeleng, lepas, ganti yang lain. Hingga akhirnya, ia menemukan setelan yang pas di hati.
Sebuah dress midi berwarna soft sage green dengan potongan yang simpel namun elegan, bahannya jatuh dan nyaman. Di luarannya ia memakai cardigan warna krem tipis agar terlihat lebih sopan dan hangat. Rambut panjangnya ia biarkan terurai rapi, sedikit disisir ke belakang, hanya menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya. Tidak banyak aksesoris, hanya kalung kecil dan sepasang flatshoes warna putih.
Penampilannya kini terlihat sangat anggun, santai namun tetap memikat.
Amanda menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat segar, sedikit bedak tipis dan lipstik warna alami sudah cukup membuatnya terlihat cantik.
“Ibu mau ke mana?”
Sebuah suara mengagetkan membuatnya menoleh. Yona melangkah masuk dengan kening berkerut. Lalu berjalan dan merapikan baju-baju amanda yang berserakan di atas kasur.
“Kok bajunya dikeluarkan semua?” pertanyaan kedua menyusul. Mata gadis itu memindai penampilan Amanda dari atas sampai bawah.
Amanda tertegun. Pertanyaan Yona membuatnya tersadar. Ingin rasanya ia memukul jidatnya sendiri keras-keras.
"Ya Tuhan… kenapa aku jadi gila begini?!" gumamnya, mulai sadar akan kebodohannya sendiri.
"Ini hanya makan malam biasa, bukan kencan.” Amanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang entah karena apa.
"Amanda, sadar diri! Dia itu Tuan Dirga Wijaya! Bos besar! Hubungan di antara kalian hanya arena Putri! Jangan baperan!" ucapnya menegur diri sendiri, menghapus harapan-harapan tak masuk akal yang tiba-tiba muncul.
“Ibu… ?” Suara Yona kembali terdengar. “Ibu kenapa sih?” Yona mendekat mengamati wajah Amanda yang terlihat semakin merah. “Ibu sakit?”
“Ah… itu, ti tidak apa-apa,” jawab Amanda tergarap. “Itu, nanti kalian makan sama-sama gak usah nunggu Ibu, ya? Ibu lagi ada acara sama Kak Putri di luar.”
Amanda bergegas keluar setelah menyambar tas yang ada di atas meja belajar Yona.
*
Di sebuah ruang privat restoran mewah, mereka bertiga duduk berhadapan di meja bundar yang ditata apik. Amanda duduk di antara Putri dan Dirga, tepat berhadapan dengan Dirga.
Suasana cukup cair dengan obrolan ringan yang dipimpin Putri.
“Putri senang deh kita bisa makan bertiga,” ucap gadis itu. Amanda yang berada di sampingnya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyum canggung.
Hingga tiba-tiba, Dirga mengambil sepotong daging steak menggunakan garpu dan pisau makanannya, lalu meletakkannya di atas piring Amanda.
"Ini... untukmu," ucapnya pelan, suaranya terdengar serak namun lembut.
Mata Putri langsung membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka. Garpu yang tadi ia pegang terhenti di udara.
'Ya Ampun... Ini serius, Ayah ngasih makanan ke Bu Manda?!' batin Putri berteriak histeris. Pemandangan itu terlihat sangat mustahil.
Amanda sendiri juga terkejut. Wanita itu menatap potongan daging di piringnya, lalu mendongak menatap Dirga.
"Te-terima kasih, Tuan..." jawabnya terbata-bata. Tiba-tiba ia merasa wajahnya bagai terbakar. Panas, panas yang tak bisa ia jelaskan.
Namun, saat tatapan mereka bertemu, Amanda menyadari sesuatu. Di balik tatapan lembut dan senyum tipis Dirga, ada isyarat tersembunyi. Kedipan mata yang sangat cepat, dan alis yang terangkat sedikit seolah berkata, 'Mainkan peranmu.'
Seketika itu juga otak Amanda tersambung. Apa yang dilakukan oleh Dirga adalah bagian dari kesepakatan di antara mereka. Berpura-pura saling jatuh cinta di hadapan Putri.
“Ya Tuhan, apa yang kamu pikirkan, Amanda? Dasar bodoh!”
“Right, Amanda,” bisiknya dalam hati lalu tersenyum manis. Wanita itu mengambil garpunya, memotong sedikit daging yang diberikan Dirga, lalu memakannya dengan anggun.
"Ini sangat enak,” puji Amanda sambil menatap seperti terpesona ke arah Dirga, memainkan perannya dengan sangat baik. "Terima kasih sudah memberikannya untuk saya."
Dirga tersenyum tipis, kali ini lebih santai. "Makan yang banyak,” ujarnya lalu mengambil lagi daging di piringnya dan meletakkan di atas piring Amanda.
“Anda juga harus makan.” Amanda menusuk daging yang sudah dipotong dengan garpu lalu mengulurkan tangannya ke depan mulut Dirga. " Kamu pikir kamu saja yang bisa akting? Aku juga bisa," batinnya tersenyum manis.
Putri semakin terbelalak saat melihat ayahnya menerima suapan itu tanpa drama.
“Oh, my God!” serunya dalam hati.
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.