Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Satu tahun.
Waktu yang cukup untuk mengubah beberapa hal, meski tidak semuanya.
Di sebuah sudut jalan yang asri di kawasan, Berlin, sebuah toko roti kecil dengan papan kayu bertuliskan Pearl's Bloom mulai dikenal oleh warga sekitar. Bukan karena iklan atau nama besar di belakangnya, hanya karena aroma mentega, kayu manis, dan roti yang baru matang selalu mengalir keluar dari pintu kecilnya sejak pukul tujuh pagi, dan aroma itu tidak pernah berbohong.
Pearl berdiri di balik konter, mengenakan apron brown dengan tepung di siku kanannya yang tidak ia sadari.
Rambutnya sehat sekarang, diikat simpul longgar, tidak lagi kusam seperti bulan-bulan pertama di Berlin. Matanya tidak lagi menyimpan ketakutan yang dulu selalu ada di balik permukaannya. Ada sesuatu yang berbeda di sana sekarang, ketenangan yang bukan berarti tidak ada lagi luka, tapi luka itu sudah tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang bisa dilihat.
"Pearl, pesanan untuk acara korporat di sudah siap," lapor Greta, asisten muda yang Pearl rekrut tiga bulan lalu, warga lokal yang bicara dengan campuran Jerman dan Inggris yang membuat Pearl tersenyum setiap kali mendengarnya.
"Pastikan kemasannya rapi," jawab Pearl. "Ini klien besar pertama kita bulan ini. Kita tidak boleh mengecewakan."
Kehidupannya sudah jauh lebih stabil dari yang Pearl berani bayangkan saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Ibunya sudah pulih sepenuhnya meski tetap harus kontrol rutin dan mereka tinggal di apartemen yang terasa seperti rumah, bukan seperti tempat persembunyian.
Dana yang dulu dikirim Lorcan, akhirnya Pearl terima bukan sebagai hadiah tapi sebagai modal yang suatu hari nanti akan ia kembalikan. Itu kompromi yang bisa ia hidup bersamanya.
Ketenangan itu sedang mengalir dengan baiknya ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan toko.
Jantung Pearl berdegup kencang secara refleks, reaksi tubuh yang tidak lagi bisa ia kendalikan sepenuhnya meski sudah setahun berlalu. Ia menahan napas, matanya tidak bisa tidak menatap pintu mobil itu.
Yang keluar adalah seorang pria paruh baya dengan tas kerja dan penampilan yang sangat profesional.
Pearl menghembuskan napasnya pelan.
"Nona Pearl Rowan? Saya utusan dari penyelenggara European Business Summit. Kami ingin memesan katering khusus untuk tamu VIP besok malam."
Pearl mengembuskan sisa ketegangan dari bahunya. "Tentu. Mari kita bicara."
**
Malam acara summit tiba lebih cepat dari yang Pearl antisipasi.
Ia harus mengantarkan sendiri beberapa paket pastry premium ke ruang VIP di pusat konvensi besar di jantung kota. Pearl mengenakan gaun midi hitam yang elegan tapi tetap memungkinkan ia bergerak, fungsional dulu, baru indah.
Langkahnya mantap saat ia memasuki ruangan itu.
Tapi sesuatu di dalam dadanya tidak sepenuhnya mantap, ruangan penuh jas mahal dan aroma parfum mewah ini terlalu mirip dengan tempat-tempat yang dulu ia masuki bukan atas kemauannya sendiri.
Pearl fokus. Nampan terakhir diletakkan di meja saji. Ia berbalik untuk pergi.
Dan mendengarnya.
Suara rendah itu. Intonasi yang sama. Otoritas yang sama dalam cara kalimat-kalimatnya dibentuk.
"Darragh Group sangat tertarik untuk memperluas kemitraan di sektor energi terbarukan tahun depan..."
Pearl membeku.
Perlahan, sangat perlahan, ia menoleh.
Di sudut ruangan, dikelilingi beberapa petinggi bisnis yang mendengarkan dengan penuh perhatian, Lorcan Darragh berdiri. Jas gelapnya pas sempurna di bahunya. Rambutnya tertata rapi. Dari luar ia terlihat persis seperti yang selalu ia terlihat, pria yang menguasai ruangan hanya dengan berdiri di dalamnya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ketajaman di matanya, yang dulu selalu terasa seperti senjata, sekarang lebih terlihat seperti beban yang sudah terlalu lama dibawa.
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓