NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeritan Obsidian dan Hukum Pengungkit

Suara melengking itu tidak terdengar melalui telinga, melainkan mengebor langsung ke dalam tengkorak.

Frekuensi yang dipancarkan oleh detonator sonik paramiliter itu bertabrakan dengan medan energi monolit raksasa. Cahaya emas yang tadinya berdenyut tenang kini berkedip-kedip liar, menyilaukan mata seperti ledakan strobe light di tengah kegelapan purba. Ruangan piramida itu berguncang. Bukan guncangan gempa bumi tektonik, melainkan resonansi getaran yang mengancam akan merobek struktur atom batu andesit di sekeliling mereka.

“Matikan alat itu!” Teriak Jati, menutupi kedua telinganya sambil jatuh berlutut. Darah segar mulai menetes dari hidung sang letnan akibat tekanan udara yang berfluktuasi ekstrem.

Rayyan tidak menutupi telinganya. Mengabaikan paru-parunya yang masih terasa seperti dibakar oleh sisa gas beracun, sang Kolonel memaksakan diri melangkah maju. Sepatu botnya terseret di lantai batu. Tujuannya hanya satu: tabung detonator berkedip merah yang tergeletak lima meter dari bibir kawah piramida terbalik.

“Rayyan, jangan mendekat! Gelombang itu memanipulasi gravitasi lokal!” Lyra menjerit dari balik pilar batu, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.

Peringatan Lyra terbukti dalam hitungan detik.

Saat Rayyan berjarak dua meter dari detonator, monolit emas di tengah kawan bereaksi terhadap ancaman tersebut. Sebuah gelombang kejut kinetik tak kasat mata meledak dari inti monolit.

WUSSSHH!!

Gaya tolak yang masif menghantam dada Rayyan seperti palu godam tak kasat mata. Tubuh besar sang komandan terlempar ke udara, melayang sejauh beberapa meter ke belakang.

Nahasnya, Rayyan terlempar melewati batas aman lantai datar. Tubuhnya menghantam tepian miring kawah piramida terbalik yang mengarah langsung ke dasar jurang tak berdasar di bawah monolit.

“Ugh!” Rayyan menggeram keras saat punggungnya beradu dengan batu obsidian yang tajam. Ia meluncur turun ke dalam kawah.

Dengan refleks tempur murni, Rayyan membalikkan tubuhnya dan menancapkan bilah pisau Ka-Bar keramiknya ke celah di antara balok batu andesit. Bunyi decit mengerikan terdengar saat bilah pisau itu menggores batu, namun berhasil menghentikan luncuran Rayyan.

Pria itu kini menggantung dengan satu tangan di tebing miring bagian dalam kawah, kakinya berayun di atas kegelapan, sementara monolit raksasa berdengung marah hanya belasan meter di bawahnya, memancarkan panas yang memanggang kulit.

“Kolonel!” Dito mencoba berdiri, namun gelombang sonik kedua menghantam, memaksa prajurit muda itu kembali memuntahkan isi perutnya ke lantai akibat vertigo ekstrem. Tidak ada anggota Tim Alpha yang bisa berdiri.

Rayyan menggertakan gigi. Luka tembak di perutnya yang belum sepenuhnya sembuh kini menjerit robek akibat tarikan ototnya. Ia mencoba menarik tubuhnya naik dengan satu tangan yang memegang pisau, namun sisa gas beracun di paru-parunya menagih harga. Rayyan terbatuk hebat, darah kental membasahi bibir dan dagunya. Cengkeramannya pada gagang pisau perlahan mengendur akibat kehabisan oksigen.

Di atas sana, getaran sonik mulai menghancurkan langit-langit piramida. Sebuah balok obsidian raksasa—seberat lebih dari satu ton—tercabut dari susunannya tepat di atas posisi Rayyan bergantung. Batu itu retak, bersiap jatuh untuk meremukkan sang kolonel ke dasar jurang bersama pisau yang menahannya.

Lyra melihat semua itu. Ia melihat darah di bibir Rayyan. Ia melihat batu raksasa di atas sana yang mulai retak.

Dalam sedetik itu, seluruh kecanggungan, rasa takut, dan kelemahan fisik Dr. Lyra Andini menguap ditelan oleh satu kebenaran mutlak; ia tidak akan membiarkan pria itu mati.

Lyra melepaskan cengkeramannya dari pilar. Mengabaikan rasa sakit yang merobek gendang telinganya, gadis mungil itu berlari menembus badai frekuensi. Ia tidak berlari seperti tentara; ia berlari seperti orang gila. Lututnya menghantam batu tajam saat ia tersandung, merobek celana taktis dan kulitnya, namun ia kembali bangkit tanpa memperlambat langkah.

“Lyra! Mundur!” Raung Rayyan dari bibir kawah, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh, matanya membelalak horor melihat Lyra memasuki zona kematian. “Batu itu akan jatuh!”

Lyra mengabaikannya. Otak jeniusnya tidak menghitung probabilitas kematian; otaknya menghitung fisika pengungkit.

Gadis itu tidak berlari langsung ke arah Rayyan. Ia meluncur ke arah tubuh salah satu tentara bayaran yang mati di dekat bibir kawah. Dengan cekatan, Lyra merenggut sabuk taktis berbahan nylon web (tali derek militer) dari pinggang mayat tersebut.

Sambil terus berlari ke arah bibir kawah tempat Rayyan bergantung, Lyra melilitkan satu ujung sabuk taktis itu ke sebuah stalagmit obsidian tebal yang menancap kokoh di lantai atas kawah.

KRAK! Suara retakan batu di langit-langit semakin keras. Balok satu ton itu mulai meluncur turun.

Lyra melemparkan dirinya ke bibir kawah, mengulurkan ujung sabuk taktis yang memiliki pengait karabiner baja tepat ke arah dada Rayyan.

“Raih pengaitnya, Rayyan!” Jerit Lyra, wajahnya pucat pasi, kacamata bulatnya retak di bagian ujung akibat benturan tadi. “Kaitkan ke rompimu! Sekarang!”

Rayyan menatap mata Lyra. Ia melihat tekad yang lebih keras dari batu obsidian mana pun di ruangan itu. Mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya, Rayyan melepaskan gagang pisaunya. Tubuhnya merosot sepersekian detik sebelum tangan kirinya menyambar karabiner baja yang diulurkan Lyra, mengaitkannya ke cincin baja di rompi dadanya secara buta.

“Tarik!”

Lyra tidak menariknya dengan otot lengan. Ototnya tidak akan sanggup mengangkat pria seberat sembilan puluh kilogram tersebut.

Lyra menggunakan hukum Archimedes. Ia menggenggam sisa sabuk taktis itu, menanamkan kedua sepatu botnya ke dinding bibir kawah, lalu melemparkan seluruh berat tubuhnya ke belakang dengan sudut ekstrem, menggunakan stalagmit tadi sebagai titik tumpu.

BAM! Balok obsidian seberat satu ton itu jatuh menghantam bibir kawah tepat di posisi Rayyan bergelantungan sedetik lalu, menghancurkan tepian batu itu menjadi debu, dan meluncur jatuh ke dasar jurang.

Namun Rayyan tidak ada di sana.

Daya ungkit dari berat badan Lyra, ditambah momentum tarikan sabuk, melontarkan tubuh Rayyan ke atas bibir kawah, berguling keras ke atas lantai batu padat hanya beberapa sentimeter dari titik jatuhnya balok raksasa tersebut.

Mereka berdua terlempar ke belakang, dadanya naik turun dengan kasar, menghirup udara berdebu layaknya orang yang baru saja tenggelam. Ia hidup. Ia selamat.

Namun detonator sonik di tengah ruangan itu masih berjerit melengking, dan cahaya emas dari monolit semakin membutakan. Dinding piramida mulai runtuh perlahan.

Lyra merangkak bangkit dari lantai, lututnya berdarah, sikunya lecet. Telinganya berdenging parah. Ia menatap detonator itu, lalu teringat pada barang bawaannya.

“Emas…” gumam Lyra, matanya tertuju pada ranselnya yang tergeletak tak jauh dari sana.

Ia merangkak cepat menuju ranselnya, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan kotak relikui kayu berlapis emas murni tempat ia menyegel kristal Dieng di misi sebelumnya. Ia telah memindahkan kristal itu ke tabung lab di Jakarta, sehingga kotak emas ini sekarang kosong.

“Lyra…” Rayyan berusaha bangkit, menahan perutnya. “Jangan mendekat ke alat itu…”

“Emas adalah konduktor terpadat yang tidak bisa ditembus oleh gelombang elektromagnetik maupun frekuensi sonik!” Lyra berteriak, kembali berlari menembus ruangan yang berguncang menuju letak detonator tersebut.

Medan tolakan gravitasi kembali terasa, menekan tubuh Lyra seolah ia sedang berjalan di dalam air lumpur. Namun, karena Lyra tidak memiliki logam feromagnetik atau senjata besar di tubuhnya, tolakan itu tidak sekuat yang menghantam Rayyan.

Gadis itu tiba di depan detonator yang berkedip merah. Suara melengkingnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kornea matanya.

Lyra membuka kotak kayu berlapis emas itu. Dengan satu gerakan penuh amarah, ia membanting kotak itu ke dalam posisi terbalik, mengurung tabung detonator tersebut sepenuhnya ke dalam ruang kedap berlapis prada emas murni.

Lyra menjatuhkan dirinya, menduduki kotak kayu itu dengan seluruh berat badannya untuk memastikannya tidak bergeser.

Dalam hitungan tiga detik, keajaiban fisika purba terjadi.

Lapisan emas murni memantulkan dan merayap frekuensi sonik perusak itu, menciptakan Faraday Cage akustik dan elektromagnetik seketika. Jeritan frekuensi tinggi itu langsung teredam, menghilang seperti saluran radio yang diputus.

Tanpa adanya gelombang penggangu, monolit raksasa di tengah kawah seketika berhenti berkedip liar. Cahaya emasnya kembali meredup menjadi pendaran hangat yang stabil. Dengungan bass-nya yang menenangkan perlahan kembali menyelimuti piramida, meresonansi struktur batu andesit, menghentikan keruntuhan langit-langit secara instan.

Bumi berhenti berguncang.

Kiamat vulkanik di patahan Bukit Barisan berhasil digagalkan oleh sebuah kotak kayu berlapis logam mulia.

Keheningan yang turun setelahnya terasa memekakkan telinga. Debu tebal perlahan mengendap ke lantai batu.

Lyra masih duduk di atas kotak emas itu, napasnya memburu. Kacamata bulatnya sudah retak parah di sisi kiri, rambutnya acak-acakan penuh debu dan sisa jaring laba-laba. Darah mengalir dari luka lecet di pipi dan lututnya. Ia terlihat sangat berantakan.

Namun di mata Kolonel Rayyan Aksara yang sedang berjalan tertatih menghampirinya, Lyra Andini adalah makhluk paling menakjubkan dan paling indah yang pernah diciptakan Tuhan.

Rayyan tiba dihadapan Lyra. Pria itu menjatuhkan senapannya. Mengabaikan sisa rasa sakit di paru-paru dan perutnya, Rayyan jatuh berlutut di depan gadis itu.

Tangan Rayyan yang kapalan, besar, dan gemetar terjulur. Ia menyentuh wajah Lyra dengan kelembutan yang nyaris religius, mengusap debu dan noda darah dari pipi gadis itu. Matanya yang tajam bak elang kini dipenuhi oleh emosi yang begitu meluap-luap, meluruhkan sisa benteng keangkuhan sang militer sejati.

“Kau,” suara Rayyan sangat serak, pecah di ujungnya. Ia menelan ludah, menatap Lyra seolah memastikan gadis itu benar-benar nyata dan masih bernapas di hadapannya. “Kau baru saja… menyelamatkan nyawaku, Lyra.”

Lyra tersenyum tipis, sebuah senyum lelah namun luar biasa lega. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menumpukkannya di atas tangan Rayyan yang berada di pipinya.

“Sudah kubilang, Komandan,” bisik Lyra, suaranya parau akibat menghirup debu. “Tugasmu adalah menjadi pedangku. Dan tugasku adalah memastikan pedang itu tidak patah di dalam kegelapan.”

Mendengar kalimat itu, pertahanan Rayyan hancur sepenuhnya.

Pria itu menarik Lyra dari atas kotak, merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukan yang begitu erat hingga menyatukan detak jantung mereka. Rayyan membenamkan wajahnya di lekuk leher Lyra, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam, menghela napas panjang yang sarat akan rasa syukur yang tak terhingga.

“Jangan pernah,” Rayyan bergumam di kulit leher Lyra, cengkeramannya pada pinggang dan punggung gadis itu mengerat secara posesif. “Jangan pernah membuatku melihatmu mempertaruhkan nyawa seperti itu lagi, Lyra. Jantungku tidak dilatih untuk menahan ketakutan semacam itu.”

Lyra membalas pelukan pria itu tidak kalah eratnya. Ia melingkarkan lengannya di leher kokoh Rayyan, membelai rambut gelap sang Kolonel yang dipenuhi debu andesit. Air mata hangat menetes dari sudut mata Lyra, membasahi kerah kemeja taktis Rayyan.

“Aku tidak bisa berjanji, Rayyan,” bisik Lyra di sela-sela tangis bahagianya, sebuah senyum tulus merekah di bibirnya. “Karena aku juga tidak akan pernah membiarkan dunia ini melukaimu.”

Di tengah reruntuhan piramida megalitikum yang diterangi pendaran cahaya emas keabadian, sang komandan memundurkan wajahnya sedikit. Ia menatap mata cokelat di balik kacamata retak itu, sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang memabukkan.

Ciuman itu bukan sekedar perayaan selamat dari maut. Itu adalah sebuah ikrar tak terucap. Sebuah janji bahwa mulai detik ini, di atas tanah maupun di bawah tanah, sejarah kehidupan mereka akan selalu tertulis bersama.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!