NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Didih

Suara guntur di luar kluster perumahan Jakarta Timur itu bersahutan dengan deru napas Tasya yang kian memburu. Rangga masih berdiri mematung di tengah ruang tamu modern yang estetik itu, merasakan cengkeraman tangan Tasya di kerah kemejanya perlahan mengendur, namun tekanan psikologis yang ditinggalkan kalimat ancamannya justru kian mencekik.

Tasya tidak lagi menangis terisak seperti wanita lemah. Dia berdiri tegak, menyeka air matanya dengan punggung tangan, menampilkan sisa-sisa ketegasan seorang wanita karier yang biasa memegang kendali atas puluhan montir dan ratusan berkas diler. Namun, binar matanya kosong—terkunci pada obsesi bahwa seluruh hidupnya akan runtuh jika Rangga melangkah keluar dari pintu rumah itu.

"Sya, lu sadar gak sama apa yang baru lu ucapin?" suara Rangga terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Lu mau ngehapus seluruh data enkripsi sistem distribusi yang kita bangun berdarah-darah? Lu mau ngebakar rumah yang kita bangun bareng-bareng cuma karena ego lu?"

"Ini bukan soal ego, Rangga!" potong Tasya cepat, suaranya meninggi, menggema di dinding-dinding ruangan yang minimalis. "Ini soal keadilan! Lu pikir adil buat gue? Tiga tahun gue investasi waktu, pikiran, bahkan menolak semua cowok yang mendekat karena gue tahu gue lagi nungguin masa depan kita. Sekarang, diler itu sukses, lu jadi ekspatriat terhormat, dan dengan gampangnya lu mau bawa seluruh keberhasilan ini buat modal nikah sama Cinta di London? Di mana posisi gue, Ngga?! Gue bukan keset yang bisa lu injak setelah lu sampai di puncak!"

Rangga mengepalkan tinjunya di dalam saku celana. *Guilt-tripping* dan ancaman sabotase digital dari Tasya benar-benar mengunci pergerakannya. Sebagai seorang eksekutif, dia tahu betul kalau Tasya memegang kunci enkripsi utama server lokal Jakarta. Jika Tasya nekat menghapusnya malam ini, peluncuran kendaraan listrik akhir pekan ini akan gagal total, dan reputasi Rangga di mata dewan komisaris London akan hancur seketika.

Rangga terperangkap. Bukan oleh jeruji besi, melainkan oleh utang budi dan kepintaran wanita di hadapannya yang kini berbalik menjadi senjata makan tuan.

Di saat yang sama, sebuah taksi eksekutif membelah genangan air di jalanan boulevard utama kompleks perumahan tersebut. Di dalam kabin belakang yang sunyi, Cinta Alisya menatap tajam ke arah layar ponselnya. Titik GPS dari pelacakan unduhan data server diler kini sudah berhenti tepat di sebuah rumah dua lantai dengan arsitektur modern tropis di ujung jalan komersial.

"Kita sudah sampai, Mbak. Ini Blok C nomor 12," ucap sopir taksi sambil memperlambat laju mobil.

"Terima kasih, Pak. Tolong tunggu saya di sini, jangan matikan mesin," jawab Cinta tenang.

Cinta merapikan mantel kremnya, mengambil payung lipat hitam, lalu membuka pintu taksi. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi berbunyi konstan di atas aspal basah. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Pengalaman menghadapi intrik politik korporasi di London selama tiga tahun terakhir telah menempa mentalnya dari seorang putri konglomerat yang manja menjadi seorang wanita dengan ketenangan baja.

Dia berjalan melewati pagar besi hitam yang terbuka setengah, melihat mobil kota milik Tasya terparkir di garasi, dan di sebelahnya, ada motor matik yang sangat dia kenali—motor yang selalu dipakai Rangga selama di Jakarta.

Cinta berdiri di depan pintu kayu jati utama rumah tersebut. Dia tidak menggedornya dengan histeris. Dia hanya mengetuknya tiga kali dengan ketukan yang keras, tegas, dan berirama konstan. Sebuah ketukan yang menuntut jawaban.

Di dalam rumah, ketukan itu seketika memutus ketegangan antara Rangga dan Tasya. Rangga menoleh dengan cepat ke arah pintu, sementara Tasya mengernyitkan dahi. Di kompleks kluster eksklusif seperti ini, tidak ada bertamu tengah malam tanpa pemberitahuan di pos sekuriti depan.

Sebelum Tasya sempat bergerak, pintu kayu jati itu perlahan terbuka karena slot elektroniknya memang belum terkunci sempurna sejak Tasya masuk dengan panik sore tadi.

Sosok yang berdiri di ambang pintu membuat seluruh oksigen di dalam ruangan itu seolah tersedot habis.

Cinta Alisya melangkah masuk. Mantel kremnya sedikit basah di bagian bahu oleh rintik air, payung hitamnya sudah terlipat rapi di tangan kanan, dan sebuah koper kabin kecil diletakkan dengan anggun di samping pintu. Di bawah pendar lampu gantung ruang tamu yang mewah, aura berkelas dunia yang dibawa Cinta seketika mendominasi atmosfer ruangan, membuat dekorasi rumah modern Tasya mendadak terasa sempit.

"Cinta?!" suara Rangga tercekat di tenggorokan. Dia melangkah maju dua tindak, matanya membelalak tidak percaya. "Lu... kok bisa di sini? Bukannya lu di London?"

Cinta menatap Rangga, sebuah senyuman tipis yang menenangkan terukir di wajahnya. "Penerbangan langsung dari Heathrow, Ngga. Aku sampai satu jam yang lalu."

Pandangan Cinta kemudian beralih, bergeser perlahan dan mengunci langsung ke arah Tasya yang kini berdiri kaku di depan meja bar dapur bersihnya. Rasa minder, terkejut, dan amarah seketika berkecamuk di wajah Tasya melihat rival utamanya tiba-tiba muncul di pusat kendalinya.

"Ngapain lu ke sini, Cinta?!" Tasya langsung memasang mode defensif, suaranya bergetar menahan lonjakan emosi. "Ini rumah gue! Properti pribadi gue! Lu gak punya hak, bahkan dengan uang kasta tinggi lu, buat masuk ke sini tanpa izin!"

Cinta tidak terpancing. Dia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya dengan gerakan yang teramat elegan, meletakkannya di atas meja kaca, lalu berjalan mendekati posisi Tasya dengan langkah yang tenang. Rangga mencoba bergerak untuk menengahi, namun Cinta mengangkat tangan kirinya ke udara, memberikan kode visual yang tegas agar Rangga tidak ikut campur. Ini adalah urusan antara dua wanita yang berdiri di dua kutub kehidupan Rangga.

"Saya ke sini bukan untuk merusak rumah kamu, Tasya," ucap Cinta, suaranya terdengar sangat lembut, namun setiap suku katanya membawa bobot wibawa yang tidak bisa dibantah. "Saya ke sini karena sistem keamanan server diler kita di London mendeteksi ada *forced download* data enkripsi dari IP rumah ini. Sebagai *partner* bisnis dan pemilik saham utama, saya punya kewajiban hukum untuk memeriksa potensi kebocoran aset."

Tasya tertawa renyah, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa gugupnya yang kian memuncak. "Oh, jadi lu ke sini mau mengintimidasi gue pakai pasal hukum perusahaan? Mau pamer kalau lu punya kuasa atas diler ini? Hapus aja, Cinta! Biar lu tahu, kalau gue hapus kunci enkripsi ini sekarang lewat laptop gue, diler baru lu di Jakarta besok pagi cuma bakal jadi rongsokan digital!"

Cinta menatap laptop premium Tasya yang masih menyala di atas meja, lalu kembali menatap mata Tasya dengan pandangan yang teramat dewasa—pandangan yang tidak mengandung kebencian, melainkan sebuah empati yang jujur.

"Kamu tidak akan melakukan itu, Tasya," kata Cinta lirih namun mantap.

"Lu jangan sok tahu tentang gue!"

"Saya tahu, karena kamu adalah Tasya Amelia," lanjut Cinta, melangkah satu babak lagi hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter. "Wanita jenius yang selama tiga tahun ini membesarkan Bina Karya dengan tangannya sendiri. Wanita mandiri yang bisa beli rumah kluster ini dan mobil di luar sana dari hasil otak dan keringatnya sendiri. Kamu terlalu mencintai bisnis ini, dan kamu terlalu menghormati kerja keras kamu sendiri untuk menghancurkannya dalam satu malam hanya demi memuaskan amarah."

Kata-kata Cinta menghantam dada Tasya seperti godam tak kasat mata. Tasya tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar. Dia mengira Cinta akan datang dengan makian, tuduhan pencurian data, atau ancaman penjara—hal-hal yang sudah siap dia lawan dengan segala argumen defensifnya. Tapi Cinta justru datang dengan pengakuan atas martabat dan kesuksesannya.

Cinta perlahan mengulurkan kedua tangannya, meraih jemari Tasya yang dingin dan kaku, lalu menggenggamnya erat.

"Rangga menceritakan semua hal tentang kamu selama kami di London, Tasya. Tidak ada satu pun yang dia tutupi. Dia bangga punya rekan kerja, sahabat, dan wanita sehebat kamu di Jakarta," ucap Cinta, matanya menatap tulus, tanpa ada kepalsuan. "Tapi malam ini, dengan melakukan manipulasi data pajak palsu dan mengancam akan menghancurkan karier Rangga... kamu sedang merendahkan nilai diri kamu sendiri. Kamu sedang merusak martabat wanita sukses yang sudah kamu bangun dengan susah payah selama tiga tahun."

Air mata yang sejak tadi ditahan Tasya kini mendadak jatuh, mengalir deras membasahi pipinya yang dipoles riasan tipis. Bahunya yang tegap perlahan melorot, runtuh bersama seluruh ego dan obsesi yang sempat membakarnya.

"Rangga sangat berutang budi pada kamu, dan saya pun begitu," bisik Cinta lembut, sambil menghapus air mata di pipi Tasya dengan jemarinya. "Tapi rasa utang budi dan perlindungan seorang sahabat tidak akan pernah bisa dipaksa berubah menjadi cinta murni seorang pria. Kamu pantas mendapatkan pria yang mencintai kamu seutuhnya, Tasya. Bukan pria yang tinggal di samping kamu hanya karena rasa bersalah atau ketakutan akan ancaman."

Ruang tamu mewah itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Tasya yang perlahan melunak. Tasya menarik tangannya dari genggaman Cinta, lalu terduduk di sofa kulitnya, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kamar tidur yang megah, mobil di garasi, dan karier yang mapan—dia tersadar bahwa dia sudah memiliki segalanya untuk menjadi wanita terhormat, dan malam ini dia hampir menghancurkan itu semua hanya demi mengejar hati yang memang tidak pernah ditakdirkan untuknya.

Rangga menarik napas lepas yang luar biasa dalam, menatap Cinta dengan pandangan yang dipenuhi rasa kagum yang tak terbatas. Konflik asmara yang hampir menghancurkan fondasi bisnis dan masa depan mereka di Jakarta, malam itu diselesaikan oleh Cinta bukan dengan kekuatan kasta tingginya, melainkan dengan kebesaran jiwa yang berhasil mengembalikan martabat seorang wanita yang terluka.

1
Kam1la
kabur, Rangga!
Kam1la
berjiwa besar. si Tasya ya...
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!