Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Akhirnya, Yogie sampai tepat di hadapan Salwa.
Salwa sedang berdiri santai namun tegak, ditemani oleh Bunga di sebelahnya. Saat bayangan Yogie dan Sania jatuh di hadapannya, Salwa perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada sedikit pun keraguan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada rasa sedih di matanya. Yang ada hanyalah ketenangan yang dingin, dan sepasang mata yang menatap keduanya Yogie maupun Sania dengan tatapan yang begitu sinis, begitu meremehkan, dan begitu asing.
Tatapan itu... seolah Salwa sedang menatap dua ekor serangga kecil yang mengganggu ketenangannya. Tatapan yang berkata" Kalian masih berani muncul di hadapanku? Kalian pikir kalian siapa?"
Yogie menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya yang tergenggam erat. Ia yang dulu selalu bicara dengan nada tinggi, selalu merendahkan, dan selalu merasa paling benar saat berhadapan dengan Salwa, kini berdiri membungkuk sedikit, gugup, dan terlihat sangat kecil. Ia menatap wajah Salwa yang begitu cantik, begitu bersih, dan begitu berkilau, wajah yang dulu sering kali ia buat menangis dan penuh luka.
"Sa... Salwa..." panggil Yogie pelan, suaranya terdengar bergetar dan hampir tidak terdengar. Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu justru terlihat kaku dan menyedihkan. "Ka... kau... ternyata kaulah putri Pak Ardiansyah... Maafkan aku... aku... aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak pernah menyangka..."
Yogie terdiam, bingung harus melanjutkan kata-katanya ke mana. Ia ingin bilang ia menyesal, ia ingin bilang ia salah, ia ingin bilang ia masih menyimpan rasa, tapi semua kata itu terasa tersangkut di tenggorokannya. Ia sadar betul betapa tidak pantasnya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ia yang dulu membuang, menghina, dan menyakiti wanita hebat ini.
Di sebelah Yogie, Sania mengangkat dagunya tinggi-tinggi, berusaha mempertahankan gengsinya, berusaha terlihat angkuh meski hatinya gemetar hebat. Ia mencoba menatap Salwa dengan pandangan menantang, meski matanya tidak sanggup berlama-lama menatap ke dalam mata kakak tirinya itu.
"Memang, benar sekali..." potong Sania dengan nada suara yang berusaha terdengar tenang dan merendahkan, padahal suaranya jelas terdengar sumbang dan penuh rasa tidak aman.
" CK , sombong sekali kamu salwa , dulu saja kamu selalu memakai bekas pakaianku . sekarang sok-sokan memakai pakaian bagus . jangan pura-pura baik depan semua orang . karena kenyataannya kamu sangat buruk ." ejek Sania percaya diri . Dia menatap Salwa dengan tatapan iri hati . karena Salwa sekarang lebih dari dirinya .
Sehingga ,Sania berusaha memutarbalikkan fakta, berusaha menanamkan pandangan bahwa Salwa sengaja menipu mereka, bahwa mereka adalah korban dari kepura-puraan Salwa. Itu adalah pertahanan diri terakhir Sania, cara untuk merasa sedikit lebih baik dan tidak sepenuhnya kalah.
Namun, Salwa hanya menoleh sedikit ke arah Sania, lalu menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan sinis yang semakin tajam. Bibir Salwa menyunggingkan senyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah, melainkan senyum penghinaan yang paling menyakitkan.
"Berpura-pura?" ucap Salwa pelan, suaranya lembut namun menusuk tepat ke ulu hati. "Apakah menurutmu, Sania... menjadi orang yang dibuang, ditelantarkan, dianiaya, dan diperlakukan seperti sampah itu adalah kepura-puraan? Apakah rasa sakit, kelaparan, dan penghinaan yang kuderita selama bertahun-tahun itu hanya akting belaka di matamu?"
Salwa menjeda ucapannya, lalu menatap Sania dengan tatapan yang semakin tajam dan dingin, sementara Bunga di sebelahnya hanya diam, menatap kedua orang muda itu dengan pandangan kasihan sekaligus jijik.
"Dan soal Barang bekas dan 'memberi tempat' yang kau banggakan itu..." lanjut Salwa dengan nada mengejek. "Coba kau ingat kembali, Sania. Apa yang kau berikan padaku? Tempat tidur di gudang belakang? Sisa makanan yang hampir busuk? Atau sekadar tempat untuk kau dan ibumu lampiaskan kemarahan dan kebencian kalian? Jangan pernah kau berani mengaku sebagai penyelamat, sementara kau sendiri yang memegang pisau untuk menyakiti orang yang kau sebut selamatkan itu. Kau tahu betul kau melakukan semua itu bukan karena kebaikan hati, tapi karena kau benci padaku, karena kau iri padaku, dan karena kau ingin mengambil apa saja yang pernah menjadi milikku. Termasuk..."
Salwa mengalihkan pandangannya kembali ke arah Yogie yang semakin menunduk dalam-dalam, wajahnya merah padam menahan rasa malu yang luar biasa.
"Termasuk laki-laki ini di sebelahmu."
Kalimat itu terucap begitu tenang, begitu sederhana, namun begitu menyayat hati. Yogie merasa tanah di bawah kakinya bergoyang. Ia merasa sangat malu, sangat hina, dan sangat menyesal. Ia ingat betul bagaimana Sania selalu datang padanya, membicarakan keburukan Salwa, memutarbalikkan cerita, dan mendekati dirinya dengan cara yang licik saat ia masih sah menjadi suami Salwa. Ia ingat betul bagaimana Sania selalu memuji-muji dirinya, membuatnya merasa hebat, dan perlahan-lahan meracuni pikirannya agar membenci Salwa. Dan ia sendiri, karena kesombongan dan ketidaktahuannya, dengan mudahnya menelan semua umpan itu.
"Sa... Salwa, aku... aku minta maaf..." gumam Yogie pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Aku... aku tidak tahu apa-apa. Semua yang aku dengar dulu... semua itu salah. Aku... aku bodoh sekali. Aku salah menilai. Aku..."
"Berhenti," potong Salwa dengan tegas dan dingin. Satu kata itu meluncur keluar dengan kekuatan yang seolah menampar wajah Yogie. "Berhenti, Yogie Pratama. Jangan kau kotori lagi udara di dekatku dengan kata-kata maafmu itu. Maaf dari mulutmu sama sekali tidak berarti bagiku. Dulu, saat aku menangis memohon keadilan, saat aku berlutut memohon sedikit saja rasa kemanusiaan darimu, saat aku diusir di tengah hujan deras... di mana kata maafmu saat itu? Dulu kau sangat bangga membuang ku, sangat bangga menghinaku, menalak tiga dimalam pertama kita dan sangat bangga memilih dia ..." Salwa menunjuk sekilas ke arah Sania yang diam terpaku, "...sebagai penggantiku."
Salwa melangkah selangkah mendekat, membuat Yogie mundur selangkah secara refleks karena takut dan rasa bersalah. Tatapan mata Salwa begitu tajam, begitu penuh penghakiman, seolah ia sedang melihat ke dalam lubuk hati terdalam laki-laki itu.
"Dan lihatlah sekarang, Yogie..." ucap Salwa dengan nada mengejek yang halus namun menyakitkan. "Sekarang saat kau tahu siapa aku, sekarang saat kau tahu betapa kayanya aku, betapa berkuasanya aku... kau datang kembali dengan wajah menyesal, dengan wajah memohon. Kau pikir aku ini apa? Mainan yang kau buang lalu kau ambil kembali saat kau butuh? Atau barang yang nilainya baru kau sadari saat sudah terjual mahal?"
Yogie membuka mulutnya hendak membantah, hendak menjelaskan bahwa rasa menyesalnya tulus, bahwa ia benar-benar baru sadar akan kehebatan Salwa dan betapa berharganya wanita itu, namun kata-kata itu tersangkut mati di kerongkongannya. Ia sadar betul, dalam diamnya, bahwa apa yang dikatakan Salwa itu benar adanya. Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri karena ternyata ketertarikannya kembali pada Salwa sangat dipengaruhi oleh kekayaan dan kedudukan wanita itu sekarang. Ia sadar betul betapa rendahnya harga dirinya di mata Salwa saat ini.
Bersambung,,,
Salwa menjadi kuat dan tanggung akan balas dendam yg menyakitinya...
tenang salwa semoga pria itu tidak jahat dan baik...
salwa disebut anak pembawa sial , sabar salwa
salwa merasa kecewa dan sakit hatinya diperlakukan seperti itu, Yogi cari cara lain seharusnya...
pergi yg jauh salwa Yogi masih akan menyesal nantinya dan merasa bersalah....