Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 Utang yang Disembunyikan
Sore itu, langit Desa Sekar berwarna jingga keemasan. Kegiatan belajar baru saja selesai. Anak-anak berlarian meninggalkan sekolah dengan wajah ceria sambil membawa buku dan hasil gambar mereka.
Kael sedang mengunci lemari buku sederhana di dalam kelas ketika sebuah tepukan pelan terasa di pinggangnya.
"Pu... lang."
Rani mendongak patah-patah, menatap Kael sambil memeluk erat buku gambar kesayangannya di dada.
"Ya. Kita pulang," balas Kael.
Ia berlutut sejenak di depan Rani, lalu mengusap puncak kepala gadis kecil itu dengan senyum tipis yang hangat. Mata Rani langsung berbinar. Wajahnya selalu menyiratkan rasa bangga yang luar biasa setiap kali ia berhasil mengucapkan kata baru dengan jelas. Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Ratih.
Di saat yang sama, suasana di rumah panggung Bu Ratih jauh dari kata tenang. Wanita tua itu baru saja selesai menjemur pakaian ketika suara langkah kaki berat terdengar kasar dari depan pagar bambu. Jumlahnya lebih dari satu.
Bu Ratih langsung menegang di tempatnya, menjatuhkan jepitan baju yang dipegangnya ke atas tanah. Ia mengenali langkah kaki itu. Terlalu mengenalinya.
Beberapa detik kemudian, tiga pria memasuki halaman rumah tanpa permisi setelah mendorong pagar bambu hingga berderit nyaring. Pria yang berada paling depan bertubuh besar dengan perut buncit dan wajah sangar. Dialah Pak Jono, rentenir yang selama ini mengejar-ngejar utangnya.
"Bu Ratih! Sudah waktunya bayar!" seru Pak Jono. Suaranya menggelegar, memutus kesunyian sore di halaman rumah itu.
"P-Pak Jono..."
Bu Ratih menyahut dengan suara yang bergetar hebat. Wajah wanita tua itu seketika memucat pasi, kehilangan seluruh rona darahnya.
"Aku sudah terlalu lama menunggu. Jangan bilang kau mau pakai alasan belum punya uang lagi sekarang!" ucap Pak Jono lagi.
Ia melangkah maju dua kali, mengikis jarak hingga berdiri sangat dekat dan menatap Bu Ratih dengan pandangan mengintimidasi.
Beberapa tahun lalu, saat suaminya mengalami sakit berat dan harus menjalani pengobatan ke kota, Bu Ratih tidak memiliki pilihan. Ia meminjam uang. Awalnya jumlahnya tidak terlalu besar, namun bunga sepihak yang terus mencekik membuat utang itu berubah menjadi beban yang hampir mustahil dilunasi.
"Saya... saya masih berusaha mengumpulkan uangnya, Pak Jono. Tolong..."
Bu Ratih memohon dengan suara parau. Ia menggenggam ujung bajunya erat-erat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Berusaha? Kau sudah bilang begitu berkali-kali! Yang saya dengar dari mulutmu itu cuma alasan!" bentak Pak Jono kasar.
"Tolong beri saya sedikit waktu lagi..."
"Waktu?" Pak Jono tertawa sinis, lalu menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang bertubuh kerempeng. "Dia minta waktu lagi, katanya!"
Anak buah Pak Jono ikut tertawa meremehkan, lalu mulai berjalan keliling halaman sambil menendang tiang rumah panggung, seolah sedang menilai berapa harga bangunan kayu tua tersebut. Bu Ratih hanya bisa meremas tangannya sendiri dengan tubuh yang mulai gemetar.
"Bos lumayan jika rumah ini di jual bisa dua kali lipat dari harga yang di pinjamnya," ucap anak buah pak Joko dengan wajah sangarnya tertawa keras.
Tak jauh dari sana, Kael dan Rani berjalan pulang. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai mereka melihat beberapa warga berdiri bergerombol di pinggir jalan sambil berbisik-bisik dan menunjuk ke arah rumah Bu Ratih.
Kael mempersempit pandangannya. Telinganya menajam, menangkap suara bentakan dari arah halaman rumah. Raun wajahnya langsung berubah tegang.
"I-Ibu..." cicit Rani.
Jantung gadis kecil itu langsung berdegup cepat. Menyadari neneknya sedang dalam bahaya, Rani langsung melepaskan tangan Kael dan berlari sekencang-kencangnya menuju rumah.
"Rani! Jangan ke sana!" panggil Kael.
Ia langsung melesat cepat, mengejar langkah kaki kecil itu dengan gerakan yang sangat terlatih.
Di Poskesdes, Hana baru saja selesai memeriksa seorang balita yang demam. Saat melangkah keluar ke beranda, ia melihat kerumunan warga bergerak gelisah mengarah ke rumah Bu Ratih.
"Ada apa di sana, Bu?" tanya Hana, menahan salah satu warga yang lewat.
"Rentenir datang lagi, Dok! Pak Jono bawa anak buahnya ke rumah Bu Ratih!" jawab ibu itu dengan wajah cemas.
"Astaga..."
Wajah Hana langsung berubah panik. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera berlari sekuat tenaga membelah jalanan desa menuju lokasi.
Ketika Rani tiba di halaman rumah, suasana sudah semakin memanas. Pak Jono sedang menunjuk-nunjuk wajah Bu Ratih dengan jari telunjuknya yang besar.
"Saya tidak mau dengar alasan lagi! Kalau tidak bisa bayar sekarang, jual rumah ini!" bentak Pak Jono.
"Tapi... tapi ini rumah satu-satunya peninggalan keluarga saya, Pak..."
Bu Ratih menangis terisak, menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Rumah ini adalah tempat peninggalan suaminya dan untuk membesarkan Rani.
"Ibu!"
Suara lengkingan kecil Rani memecah ketegangan. Gadis kecil itu berlari menembus pagar dan langsung memeluk pinggang Bu Ratih erat-erat. Tubuhnya menggigil ketakutan.
"Rani! Tidak apa-apa, Nak... tidak apa-apa," ucap Bu Ratih buru-buru, sambil menghapus air matanya dengan tangan gemetar agar anak semata wayangnya tidak semakin panik.
"Oh, anak yang cacat ini sudah pulang?" Pak Jono mendecakkan lidah, melirik Rani dengan pandangan jijik. "Kau malah membuat anak mu ikut melihat semua ini karena kebodohanmu tidak bisa bayar utang!"
Rani semakin merapat ke tubuh ibunya, menyembunyikan wajahnya yang ketakutan sambil menangis tanpa suara.
Melihat pemandangan itu, sesuatu yang mengerikan dalam diri Kael yang selama ini terkunci rapat, mendadak bangkit dan bergejolak hebat.
Kael melangkah maju menembus kerumunan warga. Gerakannya tidak terburu-buru, namun aura di sekitar halaman mendadak berubah menjadi sangat berat dan mencekam, seolah pasokan oksigen di tempat itu tiba-tiba menipis.
"Dan kau siapa? Jangan ikut campur!" gertak Pak Jono saat menyadari ada seorang pria asing yang tiba-tiba berdiri kokoh di depan Bu Ratih dan Rani.
Kael tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak, menjadi perisai hidup bagi wanita tua dan anak kecil di belakangnya. Tatapan matanya lurus, dingin, dan sehitam jurang terdalam.
"Berapa utangnya?" tanya Kael. Suaranya sangat rendah dan datar, namun gema suaranya sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar meremang.
"Itu bukan urusanmu, Anak Muda! Minggir!" sahut anak buah Pak Jono yang bertubuh kerempeng, mencoba menggertak balik.
"Aku bertanya berapa jumlahnya. Sebutkan," ulang Kael lagi.
Nada tanyanya tetap datar tanpa emosi, namun kali ini ada tekanan intimidasi yang sangat nyata. Pak Jono yang entah kenapa merasa tenggorokannya mendadak kering, terpaksa menelan ludah sebelum akhirnya menyebutkan sebuah nominal yang sangat besar.
Begitu mendengar angka fantastis itu, beberapa warga yang menonton di luar pagar langsung tersentak dan saling pandang.
"Astaga, banyak sekali?" bisik salah satu warga.
"Itu tidak masuk akal! Pak Jono pasti memerasnya!" sahut warga yang lain dengan berbisik ngeri.
Kael terdiam beberapa saat, lalu melirik sedikit ke belakang. Bu Ratih langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan bahu berguncang, didera rasa malu yang amat besar di hadapan Kael.
"Maafkan Ibu, Kael... Ibu tidak ingin merepotkan siapa pun... Ibu benar-benar minta maaf," bisik Bu Ratih dengan suara yang pecah karena frustrasi.
Kael memejamkan matanya sejenak. Sekarang ia paham semuanya. Alasan kenapa beberapa hari terakhir Bu Ratih sering melamun, kenapa wanita tua itu menolak makan makanan yang layak, dan kenapa ia selalu memaksakan diri bekerja sampai larut malam. Ternyata, rahasia kelam ini yang disembunyikannya sendirian.
Pak Jono yang merasa posisinya di atas angin, kembali mengumbar senyum liciknya. Ia mengibas-ngibaskan kertas catatan utang di depan wajah Kael.
"Kau sudah dengar jumlahnya, kan? Nah, sekarang minggir! Ini urusan internal saya dan wanita sialan itu!" seru Pak Jono dengan nada sombong.
Kael tidak bergerak satu milimeter pun. Tatapannya perlahan turun, mengunci tangan Pak Jono yang memegang kertas, lalu perlahan naik kembali ke arah bola mata sang rentenir.
Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Desa Sekar, topeng 'Pak Guru yang ramah' runtuh sepenuhnya dari wajah Kael. Ada kilat kepunahan yang sangat dingin terpancar dari matanya tatapan murni seorang komandan pasukan elit yang terbiasa mencabut nyawa di medan perang.
Pak Jono yang hendak membuka mulutnya lagi, mendadak membeku. Kata-katanya tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup dengan ritme yang salah dan tidak nyaman.
Seluruh bulu kuduknya berdiri. Pria bertubuh besar itu tanpa sadar mengambil satu langkah mundur karena rasa takut yang mendadak menyerang insting bawah sadarnya.
Hana yang baru saja tiba di tepi halaman langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia terengah-engah, menatap Kael dengan tubuh yang merinding hebat.
"Aura apa ini? Dia... sangat berbahaya.
Itu... bukan tatapan seorang guru," batin Hana menjerit ketakutan melihat perubahan drastis pada pria itu.
Suasana halaman rumah panggung itu mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Angin sore yang berembus pelan bahkan terasa mendingin. Puluhan warga yang menonton menahan napas, tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara atau berbisik lagi. Semua mata kini tertuju pada Kael.
Kael menarik napas pendek melalui hidungnya, lalu membuka mulutnya sedikit. Suara yang keluar dari bibirnya terdengar sangat tenang, namun bergema begitu tajam dan menusuk di telinga semua orang yang hadir di sana.
"Satu minggu," ucap Kael, tatapannya mengunci mati bola mata Pak Jono yang mulai berkeringat dingin.
Kael mengambil satu langkah maju, membuat Pak Jono kembali tersentak mundur.
"Datanglah lagi ke sini tepat satu minggu dari sekarang," lanjut Kael, suaranya naik satu oktav, dingin dan mutlak. "Aku sendiri yang akan melunasi seluruh uang itu dengan tangan ini. Tapi..."
Kael menggantung kalimatnya, matanya melirik tajam ke arah anak buah Pak Jono yang tadi menendang ember hingga hancur, sebelum kembali menatap Pak Jono dengan seringai tipis yang mengerikan.
"Jika dalam satu minggu ini kau atau anak buahmu berani menginjakkan kaki di halaman ini lagi, atau membuat anak ini menangis sekali lagi..."
Kael menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan mencekam merayapi mental para rentenir itu. Seluruh warga menahan napas, menanti kelanjutan kata-kata yang terasa seperti vonis mati tersebut.
"Maka taruhannya bukan lagi rumah ini..." bisik Kael dengan nada rendah yang sangat berwibawa, namun mematikan. "...melainkan nyawa kalian semua."
Mendengar gertakan yang sama sekali tidak terdengar seperti bualan itu, Pak Jono dan dua anak buahnya langsung pucat pasi, sementara seluruh warga Desa Sekar terbelalak tidak percaya mendengarnya.
Bersambung....