Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Keputusan Final
"Nyonya Thalia."
Thalia tersentak ringan saat suara Miranda menggema sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Ia menoleh, menemukan wajah Miranda tengah menatapnya khawatir.
"Anda baik-baik saja?" tanya Miranda.
Thalia menghembuskan napas pelan, berusaha mengusir pikirannya yang sempat tertahan pada senyum samar Arkana yang ia lihat beberapa saat lalu. Senyuman yang membuat ia teringat ciuman Arkana malam itu.
"Fokus, Thalia. Jangan memikirkan hal memalukan," batin Thalia mensugesti dirinya sendiri.
Saat ini, mereka sudah duduk di kursi kafe yang berada tepat di samping gedung Dirgantara Group dengan meja sebagai pembatas di antara mereka dan secangkir kopi di depan masing-masing.
"Saya baik-baik saja," jawab Thalia senormal mungkin. "Maaf, pikiran saya teralihkan sebentar."
Miranda tersenyum. "Apakah Anda bertemu suami Anda saat menunggu saya?" tebaknya.
"Ya," jawab Thalia jujur.
"Begitu." Miranda mengangguk, kemudian mengeluarkan tablet miliknya dari tas yang ia bawa.
"Sebelumnya, saya minta maaf sudah membuat Anda datang ke Dirgantara Group untuk menemui saya. Jadwal saya hari ini berbenturan dengan pertemuan bersama Pak Arkana," sesal Miranda tulus.
"Tidak apa-apa, saya mengerti kesibukan Anda," sahut Thalia ramah.
"Terima kasih atas pengertiannya, Nyonya Thalia," ucap Miranda lega. "Kalau begitu, kita langsung saja. Saya tidak akan membuang waktu Anda terlalu banyak."
Miranda memulai, ia menggulir layar tablet miliknya sebentar sebelum meletakan tab itu ke meja, lalu mendorongnya pelan untuk memperlihatkan layar pada Thalia.
"Ada usaha milik kenalan saya. Mereka memiliki produk bagus, tapi cara mereka membaca pasar buruk. Saya ingin tahu bagaimana Anda melihat masalahnya."
Thalia mengulurkan tangan, mengambil alih tab dan menatap layar.
Ada ringkasan data penjualan, target pasar, dan beberapa catatan penting yang tidak asing baginya. Meski sudah sekian lama ia tidak berada dalam percakapan seperti itu, namun setelah beberapa menit ia membaca, angka-angka yang tertera pada layar tablet mulai berbicara dalam bahasa yang ia kenali.
Masalah dan jalan keluar seketika masuk ke dalam otaknya.
Thalia menggeser tablet, menunjuk salah satu bagian layar. "Masalahnya bukan pada produk, tapi cara mereka menempatkan target."
Alis Miranda terangkat. "Jelaskan."
"Mereka menjual seolah produk ini untuk pasar premium, tapi cara komunikasinya masih seperti produk massal. Jika ingin masuk segmen premium, mereka harus berhenti menjual manfaat umum dan mulai menjual pengalaman."
Miranda tidak menyela, seskali mengangguk pelan mendengar setiap kata yang Thalia ucapkan.
Thalia menggeser layar. "Lalu ini. Mereka terlalu terburu-buru memperluas kanal penjualan. Padahal brand-nya belum cukup kuat. Kalau itu saya, pembatasan kanal adalah jalan yang akan saya ambil. Perkuat cerita produk, dan menggunakan testimoni pelanggan pertama sebagai daya tarik."
Miranda tersenyum kagum. "Menarik."
Thalia berhenti. "Apakan saya terlalu frontal?"
Miranda menggeleng. "Tidak sama sekali. Justru saya mencari seseorang yang bisa berbicara seperti Anda."
Miranda menyandarkan punggungnya di kursi. "Anda mengatakan sudah lama berhenti bekerja. Tapi cara berpikir Anda masih sangat segar."
"Saya hanya perlu mengingat apa yang sudah saya pelajari."
"Kalau begitu." Miranda kembali menegakkan punggung. "Saya ingin Anda membuat catatan pendek. Tidak perlu terlalu formal, cukup tiga halaman yang mencakup masalah utama, solusi dan langkah tiga puluh hari pertama. Bagaimana?"
Thalia terdiam. Apa yang diminta Miranda sangatlah mudah ia lakukan.
"Kalau memberikan hasil yang memuaskan," Miranda melanjutkan. "Saya akan bayar sebagai konsultasi pertama. Setelah itu saya bisa mengenalkan Anda pada dua klien lain."
Thalia menatap manik Miranda lama. Sesuatu di dalam dirinya yang telah tertidur sekian lama terbangun. Rasa percaya diri, keinginan kuat untuk meraih sesuatu, dan rasa ingin menaklukan tantangan. Dan saat ia mengingat akan apa yang suaminya lakukan, keinginan untuk memberontak itu semakin besar.
Ia masih bisa bertahan jika hanya menghadapi sikap suaminya dengan pemikiran kesabaran dan cintanya bisa membuat Rendra kembali menjadi sosok penuh cinta seperti dulu. Tapi, saat ia mengingat perselingkuhan yang sudah ia saksikan sendiri, keinginan bertahan itu lenyap tanpa bekas.
"Akan saya kerjakan," putus Thalia pada akhirnya.
"Berapa lama waktu yang Anda butuhkan?" tanya Miranda.
"Dua hari," jawab Thalia yakin.
"Kalau begitu, kita bertemu dua hari lagi di sini," ucap Miranda.
Thalia mengangguk, lalu bangun dari duduknya diikuti Miranda. Saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan, kemudian berpamitan pulang.
.
.
.
Hari sudah berubah gelap saat Thalia tiba di rumah. Setelah pertemuannya dengan Miranda pagi ini, ia menghabiskan waktunya dengan memanjakan dirinya sendiri tanpa bayang-bayang Renda-suaminya. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan berendam di air hangat setelah berada di dalam kamar. Namun, langkahnya menuju kamar terhenti saat netranya menemukan sosok Rendra duduk di sofa.
"Pergi ke mana saja kamu seharian ini, Lia?" tanya Rendra seraya berdiri.
"Kamu sudah tahu ke mana aku pergi." jawab Thalia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan.
"Thalia, berhanti! Aku sedang bicara!" suara Rendra naik satu oktaf, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Thalia berhenti melangkah, tetapi tidak berbalik.
"Apakah kamu sadar jika sikapmu semakin kurang ajar? Apa menurutmu sikapmu ini pantas dilakukan oleh seorang istri?" ucap Rendra lagi.
Thalia hanya diam.
"Hanya karena satu orang memujimu, sekarang kau berani melawan suamimu sendiri? Kau bahkan berani tetap pergi meski tidak kuizinkan."
Hening. Thalia tidak bereaksi, seolah menunggu Rendra benar-benar selesai berbicara dan akan pergi setelahnya.
Diamnya Thalia membuat kekesalan Rendra memuncak. "Apakah ini karena Miranda?" pancingnya. "Atau karena Arkana?"
"Atau karena Clara?" sambung Thalia tersenyum sinis.
"Jangan bawa-bawa Clara, dia hanya rekan kerja," sentak Rendra kembali meninggikan suaranya.
"Lucu." Thalia berbalik. "Kamu marah saat aku menyebut nama Clara, tapi terus menuduhku dengan membawa nama Pak Arkana di saat kamulah yang terus mendorongku pada Pak Arkana."
Kalimat itu mengenai Rendra telak di hati Rendra. Ia menatap tajam istrinya yang semakin hari semakin berani melawan.
"Kamu bermain drama sampai sejauh ini. Apa maumu sebenarnya, Lia? Kau ingin aku minta maaf?" tanya Rendra dingin.
"Kau ingin tahu apa yang aku inginkan, Ren? Akan kukatakan." Thalia menatap mata suaminya lurus. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka, keinginan untuk membujuk suaminya agar tidak marah lenyap sepenuhnya.
"Mari kita bercerai."
DEG!
. . .
. . . .
To be continued...