Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya Adistira, seorang pelayan hotel Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Clarissa
Arkan melangkah lemas memasuki ruang kerjanya.
Tubuhnya terasa remuk, namun hatinya jauh lebih hancur.
Kegagalan menemukan Zevanya di kontrakan nya tadi seolah menjadi tamparan keras bahwa wanita malam itu memang menghilang dari hidupnya.
Ia menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya,
memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Mungkin ini pertanda," batin Arkan.
"Seharusnya aku melupakan malam itu sejak awal.
Kenapa aku harus terobsesi mencari jejak aromanya?"
Keheningan Arkan pecah saat pintu ruangannya terbuka kasar.
Clarissa Wijaya melangkah masuk dengan gaya angkuh, tanpa mengetuk pintu sedikit pun.
"Arkan! Dari mana saja kamu? Aku mencarimu ke mana-mana!"
seru Clarissa tanpa basa-basi.
Arkan terdiam, tatapannya tetap dingin ke arah jendela.
"Bukan urusanmu, Clarissa. Bisa tidak kamu bersikap sopan sedikit saat masuk ke ruanganku?"
Clarissa tertawa, sebuah tawa yang terdengar merendahkan.
"Sopan? Kamu ini calon suamiku, Arkan. Jangan samakan aku dengan karyawanmu yang harus tunduk dan mengetuk pintu hanya untuk menyapamu."
Arkan memutar kursinya, menatap Clarissa dengan kemarahan yang tertahan.
"Berhenti menyebut dirimu sebagai calon istriku. Aku sudah mengatakannya berulang kali dan aku menolak perjodohan dengan mu"
Wajah Clarissa memucat sebelum berubah menjadi marah.
"Kamu tidak bisa membatalkan ini secara sepihak, Arkan!"
"Kenapa tidak bisa?" balas Arkan.
"Kenapa kamu begitu terobsesi menjadi istriku, Clarissa? Bukankah kamu tahu aku tidak punya rasa sedikit pun padamu?"
"Orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak lama arkan!" teriak Clarissa.
"Apa yang membuatmu berubah, Arkan? Dulu kamu setuju,
kenapa sekarang kamu terus mengulur waktu dan menolakku?"
Arkan berdiri, memberikan tekanan pada setiap kata-katanya.
"Aku memang pernah setuju, tapi itu sebelum aku tau sikapmu.
Aku tidak bisa hidup dengan wanita yang semena-mena.
Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran."
"Arkan, kamu tidak bisa—"
"KELUAR, CLARISSA! Sebelum aku membentakmu lebih keras lagi!" gertak Arkan.
Clarissa tersentak. Dengan perasaan kesal, ia melangkah keluar dan membanting pintu.
Di lorong kantor, ia berteriak tak tertahan, meluapkan kemarahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba berubah? Apa Arkan sudah mencintai wanita lain?"
pikir Clarissa dengan mata penuh kebencian.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan posisiku digantikan siapa pun!"
Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya, Siska Wijaya.
"Mah, kita harus ke rumah Om Baskara lagi sore ini,"
ucap Clarissa dengan suara bergetar karena emosi.
"Arkan benar-benar menolak perjodohan ini secara terang-terangan di kantor tadi. Kita harus bicara dengan Om Baskara mah!"
Setelah mematikan telepon,
Clarissa menatap gedung kantor Arkan dengan tatapan tajam.
"Aku tidak akan membiarkan usahaku sia-sia selama berbulan bulan menunggumu, Arkan.
Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada wanita lain yang boleh memilikimu!"
Akhirnya clarissa siska dan hendra wijaya pergi ke rumah baskara,
Suasana di kediaman rumah mewah keluarga Mahendra sore itu terasa mencekam.
Aroma kopi mahal dan parfum bermerek tidak mampu menutupi ketegangan di ruang tamu yang luas itu.
Baskara Mahendra duduk di kursi kebesarannya,
wajahnya tampak kaku saat menghadapi kedatangan Siska , hendra Wijaya dan Clarissa yang datang dengan raut wajah penuh tuntutan.
Baskara menghela napas panjang,
menatap sahabat lamanya, hendra, yang tampak tidak tenang.
Di sampingnya, Clarissa duduk dengan mata sembab yang dipaksakan.
"Baskara,"
Siska memulai pembicaraan dengan nada bicara yang ditekan.
"Aku datang ke sini karena merasa ada yang tidak beres.
Clarissa bercerita bahwa Arkan baru saja mengusirnya dari kantor.
Bahkan, dia secara terang-terangan menolak perjodohan ini. Apa maksudnya semua ini?"
Baskara terdiam sejenak,
ia tahu betul tabiat putranya yang keras kepala.
"Siska, Arkan memang sedang dalam tekanan pekerjaan yang tinggi. Mungkin dia sedang lelah,"
jawab Baskara mencoba menetralkan suasana.
Namun, Clarissa tidak membiarkan kesempatan itu hilang.
Ia menangis , menundukkan kepalanya.
"Bukan hanya lelah, Om. Arkan berubah drastis. Dia memintaku pergi seolah aku ini orang asing. Dia bahkan bilang tidak sudi dijodohkan denganku lagi. Om... apa Arkan sudah memiliki wanita lain di luar sana?"
Mendengar kata "wanita lain", rahang Baskara mengeras.
Ia teringat janji Arkan tempo hari tentang wanita yang ia cintai—wanita yang dicarinya berdasarkan aroma tubuh.
"Jangan bicara sembarangan, Clarissa," sahut Baskara.
"Arkan tidak pernah membawa wanita mana pun ke rumah ini."