NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Pagi itu, lobi utama kantor Adiputra Group masih terhitung sepi, hanya ada beberapa staf keamanan dan resepsionis yang bertugas. Thomas dan Arunika berjalan berdampingan menuju deretan lift eksekutif. Arunika tampak sibuk merapikan catatan jadwal di ponselnya, sementara Thomas, seperti biasa, menggenggam satu tangan istrinya dengan protektif.

Namun, saat mereka baru saja sampai di depan pintu lift logam yang mengkilap, sebuah bayangan muncul dengan cepat dari balik pilar besar.

BUGH!

Suara hantaman keras itu menggema di lobi yang sunyi. Kepala Thomas tersentak ke samping. Pukulan mentah itu mendarat telak di tulang pipi kiri Thomas. Tubuh Thomas sedikit terhuyung, namun ia segera menyeimbangkan diri.

"MARCELL! Kamu apa-apaan sih?!" teriak Arunika histeris.

Tanpa pikir panjang, Arunika langsung melompat ke depan Thomas. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup tepat di hadapan Marcell yang napasnya memburu dan matanya merah karena amarah.

"Jangan pernah sentuh suami aku! Pergi nggak kamu! Pergi!" bentak Arunika dengan suara melengking yang penuh kemarahan.

Marcell mengepalkan tangannya kembali, namun ia berhenti saat melihat Arunika melindung kakaknya dengan begitu berani. "Minggir, Nik! Jangan halangi gue! Kakak lo ini bajingan! Dia manfaatin lo demi posisi di perusahaan! Dia cuma mau pamer ke gue kalau dia bisa dapetin apa yang dia mau!"

"Jaga bicara kamu, Marcell!" suara Thomas terdengar rendah dan dingin, meski sudut bibirnya mulai mengeluarkan sedikit darah. Ia mencoba menarik bahu Arunika agar berlindung di belakangnya, namun Arunika justru semakin kokoh berdiri di depan Thomas.

"Nggak, Mas! Biar Nika yang selesain sama bocah ini!" Arunika menatap tajam ke arah Marcell. "Kamu bilang apa tadi? Mas Thomas manfaatin aku? Kamu nggak sadar siapa yang sebenarnya manipulatif di sini?"

"Gue mau nyelamatin lo, Nik!" sahut Marcell frustrasi. "Lo itu nggak tahu siapa dia sebenarnya! Dia licik! Dia pake kontrak buat ngiket lo!"

Arunika tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan rasa muak. "Nyelamatin aku? Marcell, kamu lupa ya? Bertahun-tahun aku ngejar kamu, bertahun-tahun aku nungguin kamu di depan gerbang rumah sampai kehujanan cuma buat kamu cuekin. Bertahun-tahun aku cuma jadi bayangan yang kamu injak-injak kalau kamu lagi bosen sama cewek lain. Ke mana kamu waktu itu? Kenapa kamu nggak pernah 'nyelamatin' aku dari rasa sakit yang kamu kasih sendiri?"

"Itu... itu beda, Nik. Gue waktu itu cuma—"

"Cuma apa? Cuma anggap aku sampah? Cuma anggap aku penggemar fanatik yang nggak punya harga diri?" potong Arunika dengan mata berkaca-kaca namun tetap tajam. "Dan sekarang, setelah aku jadi istri sah Mas Thomas, setelah aku dapet kebahagiaan yang nggak pernah kamu kasih, kamu tiba-tiba dateng jadi pahlawan? Telat, Marcell! Telat banget!"

Marcell menatap Arunika dengan tatapan terluka. "Nik, lo nggak beneran cinta sama dia, kan? Ini semua cuma karena lo mau bales dendam sama gue, kan?"

Thomas yang tadinya hanya diam, kini melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di bahu Arunika, lalu menarik istrinya itu lembut ke sampingnya agar ia bisa berhadapan langsung dengan adiknya.

"Dengarkan aku baik-baik, Marcellino," Thomas bicara dengan nada yang sangat tenang, namun auranya begitu menekan. "Pukulan tadi... aku anggap itu sebagai tanda kekalahanmu. Kamu memukul karena kamu tidak punya cara lain untuk menang. Kamu kehilangan Arunika bukan karena aku licik, tapi karena kamu terlalu bodoh untuk menyadari nilai seorang wanita yang pernah tulus padamu."

"Diem lo, Kak! Lo cuma beruntung karena lo punya segalanya!"

"Aku punya segalanya karena aku tahu cara menjaganya," balas Thomas telak. "Sedangkan kamu? Kamu membuang emas demi mendapatkan perunggu, dan sekarang kamu marah saat emas itu berada di tangan orang lain?"

Arunika kembali bersuara, kali ini suaranya lebih tenang namun sangat menusuk. "Marcell, dengerin aku. Dulu, mungkin bener aku nggak ada harganya di mata kamu. Aku cuma cewek yang sibuk cari perhatian kamu. Tapi sekarang? Aku adalah istri Thomas Adiputra. Dan aku nggak akan biarin satu orang pun, termasuk kamu, ngerusak kebahagiaan rumah tangga kami. Kalau kamu sekali lagi berani angkat tangan sama Mas Thomas, aku sendiri yang bakal pastiin kamu nggak punya tempat lagi di keluarga ini."

Marcell tertegun. Ia melihat bagaimana Arunika menatap Thomas—ada rasa hormat, ada rasa sayang, dan ada perlindungan yang dulu selalu ia dambakan namun ia sia-siakan.

"Pergi, Marcell. Sebelum aku panggil tim keamanan dan berita ini sampai ke telinga Papa," ancam Thomas dingin.

Marcell menatap mereka berdua bergantian dengan napas yang masih tidak stabil. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu berbalik dan pergi dengan langkah yang goyah, meninggalkan lobi dengan perasaan hancur yang berkeping-keping.

Setelah Marcell menghilang di balik pintu kaca, Arunika segera berbalik ke arah Thomas. Wajah sangar dan beraninya tadi langsung berganti menjadi wajah penuh kekhawatiran.

"Mas... Mas nggak apa-apa?" Arunika meraih wajah Thomas dengan kedua tangannya, memeriksa pipi Thomas yang mulai membiru. "Duh, berdarah dikit. Sakit banget ya, Mas? Maafin Nika ya, gara-gara Nika Mas jadi dipukul..."

Thomas menangkap jemari Arunika di pipinya, lalu mencium telapak tangan istrinya itu dengan lembut. "Aku nggak apa-apa, Arunika. Pukulan itu nggak sebanding sama gimana beraninya kamu belain aku tadi."

Arunika mendengus sambil menahan tangis. "Ya lagian dia sok jagoan banget! Dia pikir dia siapa mau pukul suami aku! Nggak bakal aku kasih ampun pokoknya."

Thomas tersenyum miring, lalu menarik Arunika ke dalam pelukannya di depan lift yang kini sudah terbuka. "Terima kasih, Sayang. Ternyata punya istri yang galak ada untungnya juga."

"Mas Thomas! Sempat-sempatnya becanda!" Arunika memukul dada Thomas pelan. "Ayo ke atas, aku obatin di ruangan. Aku nggak mau asisten Mas liat Mas babak belur gini, nanti wibawa Mas turun!"

"Siap, Nyonya Adiputra," sahut Thomas sambil merangkul pinggang Arunika masuk ke dalam lift.

***

Di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara, suasana mendadak hening dan intens. Thomas duduk di kursi kebesarannya, sementara Arunika berdiri di antara kedua kaki pria itu, sibuk dengan kotak P3K di tangannya.

"Duh, diem dulu, Mas! Ini perlu diobatin. Jangan gerak-gerak!" omel Arunika sambil menekan kapas yang sudah dibasahi cairan antiseptik ke sudut bibir Thomas yang pecah.

Thomas meringis sedikit, namun matanya tidak lepas dari wajah Arunika yang sangat dekat dengannya. Ia bisa melihat kerutan kecil di dahi istrinya yang menandakan kekhawatiran nyata.

"Pelan-pelan, Nika. Kamu seperti sedang mengobati singa yang luka," gumam Thomas rendah.

"Habisnya Mas Thomas keras kepala! Tadi kalau aku nggak berdiri di depan Mas, mungkin Marcell sudah mukul lagi," sahut Arunika ketus, namun tangannya sangat lembut saat mengoleskan salep.

Setelah selesai, Arunika menutup kotak obatnya dan menatap Thomas dengan tatapan menyelidik. Ia merasa suasana mulai menjadi canggung karena jarak mereka yang terlalu intim.

"Mas... tadi itu aku cuma akting. Bagus nggak akting aku?" tanya Arunika tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana.

Alis Thomas terangkat sebelah. "Bagian mana yang akting?"

"Ya... yang tadi, Mas. Yang bilang 'Jangan sentuh suami aku' terus yang bilang Mas suamiku yang paling hebat... ya pokoknya semua itu biar Marcell makin panas aja. Bagus, kan?" Arunika tertawa canggung, meskipun hatinya berdegup kencang menanti jawaban Thomas.

Thomas tidak tertawa. Ia justru meraih pinggang Arunika dan menariknya hingga tubuh gadis itu menempel pada dadanya. Thomas mendongak, menatap langsung ke dalam mata Arunika dengan tatapan yang membuat keberanian Arunika menciut.

"Jadi, membela suamimu mati-matian itu cuma akting?" tanya Thomas, suaranya kini terdengar berbahaya—sebuah nada yang jauh lebih intens daripada biasanya.

"I-iya... kan biar dia sadar kalau posisiku kuat di sini," jawab Arunika gagap.

"Kalau begitu," Thomas mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan, "Bagaimana kalau kita lanjut aktingnya di sini? Biar aktingmu makin natural ke depannya."

Thomas tidak memberikan kesempatan bagi Arunika untuk memprotes. Ia menekan tengkuk Arunika dan mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Kali ini bukan kecupan singkat seperti di koridor, melainkan sebuah ciuman yang menuntut, penuh dengan luapan perasaan yang selama ini ia tahan di balik kata "kontrak".

Arunika terkesiap, tangannya yang tadi memegang kotak obat terkulai lemas di bahu Thomas. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan sisa rasa besi dari luka Thomas, namun itu justru membuat ciuman ini terasa semakin nyata dan mendalam. Arunika perlahan memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi Thomas yang memabukkan.

Thomas memutar kursi kerjanya sedikit, menarik Arunika untuk duduk di pangkuannya tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Tangan Thomas merayap ke pinggang Arunika, mendekapnya erat seolah takut gadis itu akan menghilang. Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi panas dan berat oleh gairah yang meluap.

Napas mereka mulai memburu. Thomas melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang rahang dan leher jenjang Arunika.

"Mas... Mas Thomas..." desis Arunika lirih, tangannya meremas kemeja Thomas hingga kusut.

"Masih mau bilang ini akting, Nyonya Adiputra?" bisik Thomas di telinga Arunika, suaranya serak dan penuh godaan.

Tangan Thomas mulai bergerak nakal, perlahan menyingkap sedikit rok kerja Arunika, membuat jantung gadis itu hampir melompat keluar dari dadanya. Arunika merasa dunia luar benar-benar lenyap; yang ada hanya dia, Thomas, dan debaran jantung yang gila.

Tepat saat Thomas kembali akan mencium bibir Arunika dengan lebih dalam...

BRAK!

Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.

"WOI THOM! Gila ya, gue denger si Marcell—"

Ardi mematung di ambang pintu. Mulutnya terbuka lebar, matanya hampir keluar saat melihat posisi "mesra" antara bosnya dan asistennya (sekaligus istrinya) di atas kursi CEO.

Arunika secepat kilat melompat turun dari pangkuan Thomas, hampir saja tersandung karpet. Ia buru-buru merapikan rok dan rambutnya dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke telinga. Sementara Thomas, ia hanya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah yang terlihat ingin sekali melempar Ardi keluar dari gedung melalui jendela lantai 30.

"ARDI!" bentak Thomas dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan. "Berapa kali aku bilang, KETUK PINTU!"

Ardi mengerjap, lalu menutup matanya dengan tangan, meskipun jarinya sengaja direnggangkan sedikit. "Aduh! Aduh! Mata gue ternoda! Ya Tuhan, gue nggak liat apa-apa! Gue suci! Gue polos!"

"Keluar. Sekarang." Perintah Thomas singkat, tajam, dan tidak terbantahkan.

"Iya, iya! Gue keluar! Tapi Thom, sumpah, gue tadi cuma mau lapor kalau Marcell udah pergi dari kantor pake mobil kayak orang kesetanan! Nggak tahu kalau lo lagi... ehem, 'lanjutin' akting!" seru Ardi sambil buru-buru mundur dan menutup pintu dengan bunyi bam! yang keras.

Kesunyian kembali menyelimuti ruangan, namun suasananya sudah berubah total. Keromantisan yang tadi meluap kini berganti dengan rasa malu yang luar biasa dari sisi Arunika.

Arunika tidak berani menatap Thomas. Ia sibuk merapikan meja kerjanya sendiri seolah-olah hidupnya bergantung pada kerapian kertas-kertas itu. "A-aku... aku lanjut kerja ya, Mas. Banyak berkas yang harus diinput."

Thomas menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang belum stabil. Ia menatap punggung Arunika, lalu tersenyum tipis—kali ini sebuah senyum yang penuh kemenangan.

"Lari saja, Arunika," gumam Thomas pelan agar hanya ia yang dengar. "Tapi kamu lupa satu hal. Kita pulang ke apartemen yang sama. Dan Ardi tidak akan ada di sana nanti malam."

Arunika yang mendengar gumaman itu seketika menjatuhkan pulpennya ke lantai. Ia tahu, setelah gangguan dari Mami dan Ardi, tantangan terbesar sebenarnya adalah menahan hatinya sendiri agar tidak benar-benar jatuh cinta pada suaminya itu.

"Sialan kamu, Kak Ardi!" rutuk Arunika dalam hati, meski sebagian kecil dari dirinya merasa berterima kasih karena ia belum siap jika "akting" itu benar-benar menjadi kenyataan yang tak bisa ia kendalikan.

Sementara di luar ruangan, Ardi sedang bersandar di pintu sambil mengelus dadanya. "Gila, hampir aja gue jadi saksi sejarah. Kayaknya gue harus pasang bel di pintu ruangan Thomas biar nggak trauma tiap kali mau masuk."

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!