NovelToon NovelToon
Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak / Anak Kembar / Iblis
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.

Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.

Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.

Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.

Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genderang Surgawi

Bulan merah masih menggantung rendah ketika retakan di langit melebar seperti luka yang ditarik paksa. Dari celah itu, cahaya putih turun berlapis-lapis, bukan lembut seperti cahaya pagi, melainkan tajam seperti ribuan pisau yang dipoles hingga menyilaukan. Seluruh istana Alam Bawah bergetar. Batu hitam di lantai aula pecah satu demi satu. Api yang biasa menari di tiang-tiang neraka mendadak merendah, seakan ikut mengenali suara yang datang dari jauh.

Genderang surgawi berdentam. Satu kali, seluruh iblis kecil menutup telinga. Dua kali, menara pengawas di sisi timur retak. Tiga kali, kabut darah yang menyelimuti istana terbelah dan memperlihatkan barisan prajurit langit berdiri di balik awan putih.

Yao Tian masih berlutut di sisi Lin Xiurong. Telapak tangannya menekan luka di dada perempuan itu. Darah Lin Xiurong tidak mengalir seperti darah manusia. Warnanya merah gelap dengan percikan api kecil di dalamnya. Setiap tetes yang jatuh ke lantai berubah menjadi bunga api sebelum lenyap.

Qi An berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan pedang terhunus. Ujung pedangnya masih mengarah ke leher Yao Tian. Ia ingin menebas pria itu sekarang juga. Satu tebasan cukup. Dewa, manusia, iblis, semua tetap akan jatuh jika lehernya putus. Namun tangan Song Xiaolian menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat.

“Jangan,” bisik Song Xiaolian.

“Dia menusuk Yang Mulia,” desis Qi An.

“Dan sekarang dia yang menahan roh Yang Mulia agar tidak pecah.”

Qi An menatap telapak tangan Yao Tian. Cahaya biru keperakan mengalir dari tangan pria itu masuk ke luka Lin Xiurong. Cahaya itu bukan penyembuhan biasa. Itu adalah inti tenaga dewa, sesuatu yang tidak boleh diberikan kepada penguasa Alam Bawah. Dalam hukum langit, tindakan itu adalah pengkhianatan.

Yao Tian mendengar genderang itu. Ia tahu artinya. Pasukan langit sudah bergerak. Kaisar Dewa tentu telah melihat Pemutus Roh berhenti bekerja dan menyadari bahwa muridnya memilih jalan yang salah menurut hukum mereka.

Tapi untuk pertama kali sejak ia menjadi dewa, Yao Tian tidak peduli pada hukum langit.

“Rong Er,” panggilnya pelan.

Lin Xiurong membuka mata sedikit. Sorotnya redup, tetapi masih menyimpan sisa api yang tidak mau padam. “Jangan panggil aku begitu jika kau hanya mengingatnya setelah menusukku.”

Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang. Yao Tian menerima tanpa membela diri.

“Aku salah.”

“Kau selalu salah setelah terlambat.”

Qi An menggertakkan gigi. Ia ingin tertawa sinis, tetapi dadanya terasa panas. Sebenarnya ia ingin Lin Xiurong marah. Ia ingin tuannya membakar Yao Tian sampai menjadi abu. Itu akan lebih mudah. Itu akan membuat semua luka tampak sederhana. Tetapi Lin Xiurong justru menatap pria itu dengan kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapan siapa pun.

Di luar aula, terompet surgawi melengking. Suara itu disusul oleh seruan yang mengguncang gerbang utama.

“Atas titah Kaisar Dewa, murid langit Yao Tian dinyatakan melanggar perintah dan bersekutu dengan Raja Iblis Lin Xiurong. Serahkan keduanya, atau Alam Bawah akan dianggap memberontak terhadap tiga alam.”

Lin Xiurong tertawa pendek. Suaranya lemah, tetapi cukup untuk membuat semua orang di aula menoleh.

“Memberontak? Mereka selalu lucu. Aku baru duduk di takhta beberapa hari dan sudah dituduh memberontak. Jika aku benar-benar memberontak, langit mereka tidak akan sempat berpidato.”

Yao Tian hampir tersenyum. Hampir. Namun rasa bersalah menahannya.

Lin Xiurong mencoba bangkit. Song Xiaolian bergegas hendak menahannya, tetapi perempuan itu mengangkat tangan. Perintah tanpa suara itu membuat semua orang mundur.

Dengan luka yang masih terbuka, Lin Xiurong berdiri. Jubah merah hitamnya koyak di bagian dada, tetapi mahkota iblis di kepalanya masih tegak. Tanda phoenix di dahinya menyala redup, lalu perlahan terang kembali. Semakin ia memaksa dirinya berdiri, semakin keras istana bergetar. Seolah seluruh Alam Bawah menolak rajanya jatuh di hadapan langit.

Qi An menahan napas. Ia tahu Lin Xiurong belum pulih. Api Phoenix memang kuat, tetapi Pemutus Roh dirancang khusus untuk memotong ikatan antara jiwa dan tubuh. Jika Lin Xiurong memaksa bertarung sekarang, luka itu bisa menjadi jurang yang menelan kesadarannya.

“Yang Mulia,” kata Qi An. “Serahkan sisanya pada kami.”

Lin Xiurong menatapnya. “Kau akan membunuh Yao Tian jika aku pingsan.”

Qi An tidak menjawab.

“Itu berarti aku tidak bisa pingsan.”

Song Xiaolian menunduk. Ia ingin memohon, tetapi ia mengenal tuannya. Tidak ada yang lebih dibenci Lin Xiurong daripada terlihat lemah di hadapan musuh. Terutama musuh yang datang dari langit.

Pintu aula terbuka oleh dorongan angin putih. Tiga utusan langit melayang turun. Mereka mengenakan zirah perak dan membawa tombak bercahaya. Di belakang mereka, ratusan bayangan prajurit menunggu di atas awan. Salah satu utusan memandang Lin Xiurong dengan jijik yang tidak berusaha disembunyikan.

“Lin Xiurong, Raja Iblis baru. Kau menahan murid Kaisar Dewa dan menghasutnya berkhianat. Bersujudlah dan terima penghakiman.”

Lin Xiurong memiringkan kepala. “Siapa namamu?”

Utusan itu mengerutkan kening. “Aku Jenderal Langit Bai Heng.”

“Baik, Bai Heng. Dengarkan dengan jelas.” Lin Xiurong mengangkat tangan. Api merah berkumpul di telapak tangannya. “Di istanaku, hanya ada dua jenis orang yang boleh memerintahku. Orang mati dan orang yang belum sadar bahwa dia akan mati.”

Bai Heng marah. Tombaknya melesat lebih cepat dari cahaya obor. Namun sebelum ujung tombak menyentuh Lin Xiurong, Yao Tian berdiri di depannya. Pedang putihnya menangkis tombak itu, menciptakan ledakan cahaya yang membuat seluruh aula berubah terang.

Semua orang membeku.

Yao Tian, murid Kaisar Dewa, secara terbuka menahan serangan langit demi melindungi Raja Iblis.

“Yao Tian!” teriak Bai Heng. “Kau tahu apa yang kau lakukan?”

Yao Tian menatapnya tanpa gentar. “Untuk pertama kalinya, aku tahu.”

Kalimat itu membuat Lin Xiurong terdiam. Bukan karena ia tersentuh. Ia sudah terlalu sering tertipu oleh kata-kata indah. Namun ada sesuatu dalam suara Yao Tian yang berbeda. Bukan janji. Bukan rayuan. Hanya penerimaan terhadap hukuman yang akan datang.

Bai Heng mengangkat tangan. “Tangkap mereka.”

Ratusan prajurit langit bergerak turun. Qi An tersenyum dingin. Ia melangkah ke depan, racun hitam mengalir di bilah pedangnya. Song Xiaolian mengangkat kipas putih tulang. Dari belakang aula, para iblis penjaga berlutut, lalu berdiri dengan mata menyala merah.

Lin Xiurong mengangkat telapak tangan, menghentikan semuanya.

“Tidak ada yang keluar dari istana ini tanpa izinku,” katanya.

Api Phoenix meledak dari lantai, membentuk lingkaran merah raksasa yang menutup seluruh aula. Prajurit langit yang sudah masuk terpental. Bai Heng mundur setengah langkah, wajahnya berubah pucat.

Lin Xiurong tersenyum, walau darah masih mengalir dari bibirnya. “Katakan pada Kaisar Dewa. Jika ia menginginkan Yao Tian, datang sendiri. Jangan kirim burung kecil yang hanya pandai berisik.”

Langit berguncang. Bai Heng menatap Yao Tian dengan kemarahan dan kekecewaan, lalu mundur ke balik retakan awan.

Ketika cahaya langit menghilang, Lin Xiurong akhirnya terhuyung. Yao Tian menangkap tubuhnya sebelum jatuh. Qi An hampir menyerang lagi, tetapi Song Xiaolian menahannya.

Dalam pelukan orang yang pernah membunuhnya, Lin Xiurong berbisik, “Jangan merasa menang. Aku belum memaafkanmu.”

Yao Tian menunduk. “Aku tidak berani meminta itu.”

Di luar istana, genderang berhenti. Tetapi semua orang tahu, itu bukan akhir. Itu hanya jeda sebelum perang yang lebih besar.

Setelah Bai Heng mundur, aula tidak langsung kembali aman. Retakan yang ditinggalkan tombak langit masih berpendar di udara, seperti bekas luka yang belum mau menjadi biasa. Para iblis penjaga membersihkan pecahan batu dan darah, tetapi tidak ada yang berani bicara keras. Mereka baru saja melihat sesuatu yang mustahil: seorang dewa mengkhianati perintah langit demi Raja Iblis, dan Raja Iblis yang terluka tetap berani mempermalukan utusan surga.

Lin Xiurong dibawa keluar dari aula, tetapi wibawanya tertinggal di sana. Para panglima iblis yang sebelumnya masih ragu mulai memahami satu hal. Raja baru mereka tidak hanya kuat ketika berdiri di atas mayat musuh. Ia juga kuat ketika darahnya sendiri menetes di lantai. Di Alam Bawah, itu lebih berarti daripada pidato panjang.

Yao Tian berjalan di belakang tandu batu yang membawa Lin Xiurong. Ia bisa merasakan setiap denyut sakitnya melalui tanda kutukan. Rasa itu membuatnya ingin merobek dadanya sendiri, bukan karena nyeri fisik, melainkan karena kesadaran bahwa selama ini Lin Xiurong mungkin menanggung luka yang jauh lebih berat tanpa siapa pun memahami sumbernya.

Qi An tidak membiarkan Yao Tian terlalu dekat. Setiap kali pria itu maju setengah langkah, Qi An langsung mengangkat pedang sedikit. “Jarak aman,” katanya.

“Aku bisa merasakan lukanya dari sini,” jawab Yao Tian.

“Bagus. Anggap saja itu biaya tinggal di istana kami.”

Song Xiaolian menatap keduanya, lalu menggeleng. Dunia hampir perang, tetapi dua pria itu masih sempat saling menusuk dengan kata-kata. Namun diam-diam ia bersyukur. Selama Qi An masih bisa mengejek dan Yao Tian masih bisa menjawab, berarti mereka belum sepenuhnya kalah.

Di atas istana, retakan langit menutup perlahan. Tetapi cahaya putihnya tidak benar-benar hilang. Ia meninggalkan garis tipis di langit merah, seperti mata yang mengintai. Lin Xiurong melihatnya sebelum kehilangan kesadaran.

Dalam gelap pendek yang menyambutnya, ia mendengar suara lama berbisik, “Kau melindunginya lagi, Rong Er.”

Lin Xiurong ingin membuka mata dan membakar pemilik suara itu, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Untuk pertama kali setelah lama sekali, ia takut bukan karena akan mati, melainkan karena tidak tahu siapa yang sudah lebih dulu menulis akhir kisahnya.

1
anggita
ikut kasih like👍, iklan☝aja .
Carina Yuda: Makasih kak🙏
total 1 replies
Carina Yuda
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!